Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cemburu yang Tak Pernah Reda

Cemburu yang Tak Pernah Reda

Alisha Mariska menyerah pada tekanan keluarga dan menerima perjodohan di usia 31 tahun. Namun, ia justru terjebak skandal saat mengetahui suaminya telah beristri. Alisha memilih kabur dan bekerja sebagai pengasuh anak di rumah seorang duda dingin yang masih berduka atas kematian istrinya. Di tengah misteri masa lalu sang pria, Alisha harus berjuang menyembuhkan luka hatinya sendiri sambil belajar tentang arti pengorbanan dan keberanian dalam mencintai kembali.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alisha menghirup udara pagi yang segar di halaman rumah Nadia. Embun masih menempel di dedaunan, dan aroma tanah basah menyelimuti taman kecil yang baru ia rapikan. Hari ini terasa berbeda. Ada ketegangan halus yang menempel di bahunya, bukan karena pekerjaan, tapi karena perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.

Sejak beberapa minggu terakhir, Alisha mulai menyadari bahwa hidup barunya tidak hanya soal menjaga Aidan atau menyesuaikan diri dengan ritme rumah. Ada satu sosok yang selalu muncul dalam pikirannya, meski tidak pernah ia undang secara sengaja: Rafli Ardiansyah.

Pria itu tetap misterius. Kadang, ia muncul di halaman, berdiri diam di bawah pohon, atau memperhatikan mereka bermain dari jauh. Alisha tidak tahu apakah ia merasa terganggu atau sekadar menilai kemampuan Alisha sebagai pengasuh. Namun ada sesuatu di sorot matanya yang membuat jantung Alisha berdetak lebih cepat-sebuah kesedihan yang tidak bisa disembunyikan, dan aura dingin yang justru membuatnya penasaran.

Hari itu, Alisha mendapat tantangan baru. Nadia harus keluar kota untuk urusan pekerjaan, meninggalkan Alisha sendirian menjaga rumah dan Aidan. Tugas yang terlihat mudah menjadi rumit begitu Aidan menolak sekolah online dan mengunci dirinya di kamar.

"Lisha, aku tidak mau belajar hari ini!" teriak Aidan, suaranya menembus dinding.

Alisha mengetuk pintu perlahan. "Aidan, aku tidak akan memaksa. Tapi kalau kau menolak belajar, aku janji akan membuat kegiatan lain yang menyenangkan. Ayo, kita bicarakan bersama."

Tidak ada jawaban. Alisha menarik napas, lalu mencoba membuka pintu. Ternyata, Aidan mengunci sendiri dari dalam. Alisha tersenyum tipis. "Anak ini memang punya caranya sendiri untuk menantang kesabaran," gumamnya.

Dia menatap jendela kamar, lalu ide muncul. Alisha mengambil papan tulis kecil dan spidol. Ia menulis pesan untuk Aidan, mengajak anak itu membuat permainan belajar. Setelah beberapa menit, Aidan akhirnya membuka pintu, dan mereka memulai "permainan matematika" yang menggabungkan angka dan warna.

Melihat Aidan tersenyum, Alisha merasa hatinya hangat. Anak itu bukan hanya mengajarkannya kesabaran, tapi juga membuatnya menyadari bahwa cinta dan pengertian bisa muncul dari hal-hal sederhana.

Di saat yang sama, Rafli muncul di pagar, mengamati dari jauh. Kali ini, ia tidak seperti biasanya-tatapannya tidak dingin, tetapi penuh perhatian. Alisha merasa canggung, sekaligus tergugah. Rafli mengangguk singkat, kemudian berlalu tanpa sepatah kata. Alisha menyadari satu hal: meski pria itu jarang bicara, setiap tindakannya selalu memiliki makna.

Hari itu, setelah Aidan tidur siang, Alisha duduk di teras sambil menulis catatan harian. Ia menuliskan perasaan yang tidak pernah ia bagi pada siapa pun, tentang ketakutan, harapan, dan rasa penasaran terhadap Rafli. Ia merasa dirinya sedang belajar kembali mempercayai orang, meski langkah itu terasa lambat.

Tiba-tiba, Rafli muncul di halaman dengan membawa tas belanjaan. "Aku tahu kau sibuk, jadi kubawa beberapa bahan makanan untukmu," katanya singkat.

Alisha terkejut. "Kau... membawa ini untukku?"

Rafli mengangguk. "Kau melakukan banyak hal untuk Aidan. Aku menghargainya."

Alisha tersenyum, hatinya hangat oleh perhatian sederhana itu. Namun, ia juga menyadari bahwa Rafli tetap menutup sebagian hatinya. Ada jarak yang tidak bisa ditembus, meski niat baiknya jelas.

Malam itu, Alisha duduk di balkon, menatap langit berbintang. Pikiran tentang Rafli terus menghantuinya. Ia tidak bisa memungkiri rasa tertarik yang mulai tumbuh, meski tahu bahwa pria itu menyimpan luka mendalam. Rafli bukan pria yang mudah dicapai, dan Alisha sadar, setiap langkah yang ia ambil harus hati-hati.

Namun hidup tidak selalu memberi waktu untuk berpikir panjang. Beberapa hari kemudian, konflik baru muncul ketika Daniel-pria yang pernah mengkhianatinya-muncul kembali di kota. Alisha menerima pesan singkat dari pengacara keluarga Daniel: "Ada urusan yang harus dibicarakan. Ini penting."

Hatinya bergejolak. Apakah ia harus menghadapi masa lalu yang penuh rasa malu dan sakit hati, atau tetap menutup diri dan fokus pada hidup barunya? Ia tahu keputusan itu tidak mudah, karena menghadapi Daniel berarti membuka luka lama yang masih terasa segar.

Sementara itu, Rafli juga mulai menunjukkan sisi lain dari dirinya. Ia mengundang Alisha untuk membantu Aidan di proyek kecil: membangun kebun mini di halaman belakang. Proyek itu membutuhkan kerjasama, kesabaran, dan kreativitas. Selama beberapa hari, mereka bekerja berdampingan-Alisha menanam bunga, Rafli menata tanah, dan Aidan ikut menanam bibit kecil.

Selama proyek itu, Alisha menyadari bahwa Rafli bukan hanya pria dingin dan misterius. Ia juga peduli, penuh perhatian, dan memiliki sisi hangat yang jarang terlihat orang lain. Tatapannya lembut saat melihat Aidan tersenyum, dan ia selalu memastikan bahwa Alisha merasa nyaman selama bekerja.

Namun, ada satu hal yang selalu membuat Alisha ragu: Rafli tidak pernah membicarakan masa lalunya secara lengkap. Ia selalu mengalihkan pembicaraan saat topik tentang istrinya muncul. Alisha tahu, ada sesuatu yang masih tersembunyi, sesuatu yang mungkin bisa mengubah cara pandangnya terhadap Rafli.

Suatu sore, ketika hujan turun dengan deras, Rafli dan Alisha terjebak di dalam gazebo kecil sambil menunggu hujan reda. Suasana hening, hanya suara rintik hujan yang menenangkan. Rafli menatap Alisha, lalu berkata dengan suara rendah:

"Kau tahu... hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua. Tapi kadang, kita harus memberikannya pada diri sendiri."

Alisha menatapnya, mencoba menangkap makna di balik kata-kata itu. "Kesempatan kedua untuk apa?" tanyanya lembut.

Rafli tersenyum tipis, mata hitamnya menyiratkan kesedihan yang dalam. "Untuk percaya lagi. Untuk membuka hati, meski sebelumnya kita pernah terluka."

Alisha merasakan sesuatu di dadanya bergetar. Kata-kata itu bukan hanya untuk Rafli, tapi juga untuknya sendiri. Ia sadar bahwa selama ini ia menutup hatinya karena takut terluka, tapi mungkin, dengan orang yang tepat, ia bisa belajar lagi untuk percaya dan mencintai.

Hujan berhenti, dan langit kembali cerah. Rafli membantu Alisha membawa alat dan bibit kembali ke rumah. Saat itu, ada momen canggung namun hangat: tangan mereka sesaat bersentuhan, dan keduanya menatap mata masing-masing. Tidak ada kata-kata, hanya perasaan yang mengalir perlahan-rasa penasaran, ketertarikan, dan harapan yang belum bisa diungkapkan.

Alisha tahu, hubungan ini tidak akan mudah. Rafli tetap misterius, dan masa lalunya masih menghantuinya. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, Alisha merasa ada harapan. Ada kemungkinan bahwa ia bisa menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari, meski harus melalui perjalanan panjang dan penuh rintangan.

Malam itu, Alisha menulis di catatan hariannya:

"Hidup ini penuh luka, tapi juga penuh harapan. Aku belajar bahwa hati yang pernah patah bisa sembuh, meski perlahan. Rafli mungkin adalah tantangan terbesar, tapi juga alasan pertama aku merasa hidup ini layak diperjuangkan lagi. Dan aku siap menghadapi apa pun, selama aku bisa tetap jujur pada diriku sendiri."

Hujan pagi mengguyur kota dengan ritme yang monoton, menciptakan suasana mendung di seluruh sudut rumah Nadia. Alisha menatap jendela, melihat tetesan air menuruni kaca, membentuk pola abstrak yang tak bisa ia artikan. Hatinya tidak sepenuh perhatian pada hujan. Ada kegelisahan yang membayangi pikirannya—perasaan campur aduk yang sulit ia ungkapkan.

Sejak beberapa hari terakhir, telepon genggamnya berdering tanpa henti. Pesan singkat dari nomor tak dikenal terus berdatangan, memberi petunjuk samar bahwa masa lalunya tidak akan tinggal diam. Alisha menggigit bibir, menatap layar ponsel. Tanpa sadar, ia menahan napas sebelum membaca salah satu pesan:

“Kita perlu bicara. Jangan hindari aku.”

Alisha menutup mata, merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tahu siapa pengirimnya. Nama itu selalu menghadirkan rasa sakit dan malu—Daniel Pratama.

Hari itu, Alisha memutuskan untuk keluar rumah sebentar, meski cuaca hujan. Ia menutupi kepalanya dengan payung besar dan melangkah ke toko bahan makanan terdekat. Jalanan licin dan becek, tapi ia tidak peduli. Pikiran tentang pesan dari Daniel terus menghantui, menimbulkan ketegangan yang sulit dijelaskan.

Di tengah perjalanan, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Alisha menoleh, dan terkejut melihat Rafli berdiri di sana, payung hitam di tangannya. Matanya menatap lurus ke arah Alisha, wajahnya serius.

“Kau sebaiknya tidak berjalan sendiri di hujan deras ini,” ucapnya singkat.

Alisha tersenyum canggung. “Aku bisa kok. Tidak perlu repot-repot...”

Rafli mengangkat alis, menatap tajam. “Aku tidak repot-repot. Aku hanya ingin memastikan kau aman.”

Alisha merasakan sesuatu hangat menjalar di dadanya. Meskipun pria itu tetap misterius, ada rasa perhatian yang nyata dalam kata-katanya. Ia menunduk, menahan senyum yang hampir terlepas.

Di toko, Alisha sibuk memilih sayuran dan bahan makanan. Rafli tetap diam, berdiri di sampingnya sambil mengawasi. Ada ketegangan halus yang terasa di udara. Alisha merasa gugup, tidak tahu harus memulai percakapan dengan pria yang selama ini sulit dijangkau hatinya.

“Aidan suka wortel?” tanya Rafli tiba-tiba, suaranya rendah.

Alisha menatapnya. “Ya, dia suka. Tapi hanya kalau aku memotongnya kecil-kecil.”

Rafli tersenyum tipis. “Aku akan pastikan kau tidak kesulitan.”

Seketika, Alisha merasa ada koneksi yang lebih nyata antara mereka. Rafli tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya menunjukkan kepedulian yang tulus. Hatinya mulai terbuka, meski ia masih ragu untuk sepenuhnya mempercayai pria itu.

Kembali ke rumah, Alisha mulai menata bahan makanan. Tiba-tiba, pintu depan diketuk keras. Ia menoleh, dan merasa tubuhnya membeku. Di depan pintu, berdiri Daniel. Mata Alisha melebar, napasnya tercekat.

“Kau di sini?” ucap Daniel, nada suaranya dingin namun tegas.

Alisha menelan ludah. “Apa maksudmu datang ke sini? Apa yang kau inginkan?”

Daniel melangkah masuk tanpa menunggu jawaban. “Aku hanya ingin bicara. Ada beberapa hal yang harus dijelaskan.”

Alisha menatapnya dengan campuran kemarahan dan ketakutan. Ia tahu, menghadapi Daniel berarti membuka kembali luka lama. “Aku tidak ingin bicara denganmu,” ujarnya tegas.

Daniel mendekat, menatap mata Alisha. “Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin kau tahu...”

Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Rafli muncul dari belakang, wajahnya dingin dan tegang. “Apa yang terjadi di sini?” suaranya rendah.

Alisha menoleh, lega sekaligus cemas. Rafli menatap Daniel dengan tajam. Ada aura protektif yang membuat Daniel menahan langkah. Rafli tidak berbicara banyak, hanya berdiri di depan Alisha, menandakan bahwa ia siap menghadapi apa pun.

Daniel menghela napas. “Aku hanya ingin memberitahumu yang sebenarnya,” ucapnya, suaranya lebih tenang.

Rafli melangkah maju, menempatkan dirinya di antara Alisha dan Daniel. “Kalau maksudmu menyakiti dia lagi, kau salah orang,” katanya singkat.

Alisha menatap Rafli, terkejut oleh keberanian pria itu. Hatinya bergetar, meski ia tidak ingin mengakuinya. Ia merasa ada rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Setelah Daniel pergi, suasana rumah tetap tegang. Alisha duduk di sofa, menatap lantai dengan hati yang campur aduk. Rafli duduk di sebelahnya, diam. Tidak ada kata-kata, hanya keheningan yang terasa berat namun menenangkan.

Alisha akhirnya berbicara, suaranya lembut. “Terima kasih sudah datang. Aku... aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini.”

Rafli menatapnya. “Kau tidak sendirian. Aku di sini. Kau tidak perlu menghadapi masa lalumu sendiri.”

Alisha menunduk, menahan air mata. Kata-kata itu seperti obat yang menenangkan luka lama, meski ia tahu rasa sakit itu tidak akan hilang begitu saja.

Hari-hari berikutnya, kehidupan baru Alisha dan Rafli mulai terbentuk. Mereka bekerja sama lebih erat dalam mengasuh Aidan, menata rumah, dan menghadapi masalah sehari-hari. Rafli mulai membuka sedikit demi sedikit masa lalunya. Ia bercerita tentang istrinya yang meninggal karena kecelakaan, tentang rasa bersalah yang terus menghantuinya, dan tentang bagaimana ia menutup diri dari dunia setelah kehilangan yang begitu besar.

Alisha mendengarkan dengan sabar, tanpa menghakimi. Hatinya mulai memahami bahwa cinta bukan hanya tentang rasa suka, tapi juga tentang empati, kesabaran, dan keberanian untuk menghadapi luka orang lain.

Suatu sore, saat mereka duduk di teras sambil minum teh, Rafli menatap Alisha dengan serius. “Aku tahu kau punya masa lalu yang sulit juga,” katanya pelan.

Alisha mengangguk, menatap ke kejauhan. “Ya. Tapi aku belajar bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan. Kita bisa memilih untuk tetap melangkah, meski hati pernah terluka.”

Rafli tersenyum tipis, mata hitamnya menyiratkan rasa kagum dan haru. “Kau benar. Dan mungkin, kita bisa belajar bersama-sama untuk percaya lagi.”

Alisha menunduk, merasakan getaran halus di hatinya. Ia sadar, perjalanan ini tidak mudah. Rafli tetap misterius, dan masa lalunya terus menghantuinya. Tapi untuk pertama kalinya, Alisha merasa ada harapan nyata—harapan bahwa cinta yang tulus bisa tumbuh perlahan, meski melalui luka dan ketidakpastian.

Malam itu, Alisha menulis di catatan harian:

“Hari ini aku belajar satu hal: keberanian bukan hanya tentang menghadapi dunia, tapi juga tentang membuka hati meski takut terluka. Rafli adalah tantangan, tapi juga alasan aku merasa hidup ini layak diperjuangkan. Dan meski masa lalu terus menghantuiku, aku siap melangkah ke depan, bersama rasa percaya yang perlahan tumbuh.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Azalea
7.8
Hubungan Amar dan Azalea yang semula indah berubah menjadi luka pahit. Kenangan mereka kini hanyalah beban yang memicu amarah, terutama setelah perpisahan yang menghancurkan segalanya. Namun, waktu membawa perubahan saat Arhan hadir di hidup Azalea. Bersama Arhan, ia mulai memahami makna baru tentang cinta dan takdir. Akankah masa lalu yang kelam terhapuskan oleh kehadiran Arhan? Inilah perjalanan emosional Azalea dalam menemukan arti ketulusan sejati.
Sampul Novel Beautiful Secret
8.0
Liam Andreas Ville, miliarder berusia 30 tahun, terjebak dalam pernikahan hambar dengan Rose yang hanya peduli pada kemewahan. Di sisi lain, Emily Alexandra bekerja keras secara sembunyi-sembunyi demi uang, berbeda jauh dari kakaknya yang manja. Suatu malam, rahasia Emily selama dua tahun terendus oleh Liam. Demi melindungi reputasinya dari Rose dan keluarga yang sangat pemilih, Emily terpaksa menjalin kesepakatan rahasia dengan sang kakak ipar agar pekerjaannya tetap tersembunyi.
Sampul Novel Cintaku Tersesat di CEO Gila
9.5
Ziana Hauwel terjebak dalam obsesi mendalam Andreas Johnson, seorang CEO yang bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Meski merasa tertekan oleh cinta yang posesif, Zia tak mampu membohongi tubuh dan hatinya yang haus akan sentuhan pria itu. Di tengah kegilaan sang miliarder, Zia bergelut dengan batinnya yang perlahan mulai luluh. Akankah hubungan penuh gairah ini berakhir dengan kebahagiaan sejati atau justru kehancuran? Simak kisah romansa dewasa yang intens ini.
Sampul Novel Jebakan Sang Mantan Istri
8.2
Calista Anindya nyaris tewas akibat sabotase mobil yang dirancang untuk membunuhnya. Demi melindungi bayinya, ia menghilang dan memendam trauma mendalam. Enam tahun kemudian, Calista muncul kembali sebagai sosok tangguh bersama sepasang anak kembar yang cerdas. Ia pulang membawa misi besar untuk menuntut balas pada mantan suaminya yang telah berkhianat. Di tengah kembalinya Calista, akankah dendam tersebut tuntas atau justru masa lalu kelam kembali menghancurkan hidupnya?
Sampul Novel Ketagihan dengan anak tiri
8.2
Steiner Limson memulai lembaran baru dengan menikahi seorang ibu tunggal. Komitmennya diuji saat ia dituntut memberikan kasih sayang tulus bagi istri dan putri tirinya. Namun, biduk rumah tangga mereka justru menghadapi badai tak terduga yang mengubah segalanya. Di tengah kemelut pernikahan yang mulai retak, Steiner malah terjerat perasaan terlarang. Ia jatuh cinta pada anak tirinya sendiri, menciptakan konflik batin yang menghancurkan batasan moral keluarga.
Sampul Novel Pelakor XXL
9.7
Reya Yasmitha merasa tidak percaya diri dengan penampilan fisiknya. Ia merasa hanya Juniar Adi Pranaja, pria matang berusia 42 tahun, yang bersedia mencintainya. Meski sadar keputusannya salah, Reya tetap memilih menjadi simpanan Juniar demi segala fasilitas mewah yang diberikan. Kini, Reya bertekad mengubah hidup dan melepaskan status pelakor demi kemandirian. Namun, Juniar justru merasa terusik. Mampukah Reya keluar dari jerat hubungan gelap ini?