Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cemburu yang Tak Pernah Reda

Cemburu yang Tak Pernah Reda

Alisha Mariska menyerah pada tekanan keluarga dan menerima perjodohan di usia 31 tahun. Namun, ia justru terjebak skandal saat mengetahui suaminya telah beristri. Alisha memilih kabur dan bekerja sebagai pengasuh anak di rumah seorang duda dingin yang masih berduka atas kematian istrinya. Di tengah misteri masa lalu sang pria, Alisha harus berjuang menyembuhkan luka hatinya sendiri sambil belajar tentang arti pengorbanan dan keberanian dalam mencintai kembali.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, udara di kota terasa berat. Langit berwarna abu-abu, dan angin membawa aroma hujan semalam yang membasahi tanah. Alisha menatap halaman rumah Nadia, merasakan ketenangan yang aneh meski hatinya masih penuh kegelisahan. Beberapa hari terakhir terasa seperti ujian-antara kepercayaan yang perlahan ia bangun pada Rafli, dan bayangan masa lalunya yang kembali mencoba mengusik kedamaiannya.

Alisha memutuskan untuk memulai hari lebih awal. Ia menyiapkan sarapan untuk Aidan, menyapu halaman, dan menata beberapa tanaman yang tumbuh liar setelah hujan semalam. Sementara itu, Rafli belum muncul. Biasanya, ia sudah ada di halaman sejak pagi untuk memastikan Aidan dan rumah dalam keadaan aman. Ketidakhadirannya membuat Alisha bertanya-tanya, tapi ia menepis rasa cemas itu.

Namun, ketenangan itu hanya sebentar. Sekitar pukul sembilan, pintu depan diketuk keras. Alisha menoleh dan terkejut melihat seorang pria setengah baya berdiri di depan pintu. Rambutnya beruban, wajahnya serius, dan matanya tajam menatap ke arahnya.

"Apakah ini rumah Nadia?" tanyanya dengan suara berat.

Alisha mengangguk. "Ya, saya tinggal di sini sementara. Ada yang bisa saya bantu?"

Pria itu menatap lurus ke matanya. "Aku datang untuk berbicara tentang Aidan."

Alisha terkejut. "Tentang Aidan? Apa maksudmu?"

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Bapak Reza, tetangga lama yang ternyata adalah kerabat dekat keluarga Rafli. "Aku baru pindah kembali ke lingkungan ini. Aku dengar bocah itu tinggal dengan seorang babysitter baru. Aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja," katanya, menatap Alisha dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Alisha tersenyum kaku. "Aku menjaganya dengan baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Namun, Bapak Reza tampak tidak puas. "Baik. Aku hanya ingin memastikan."

Tidak lama setelah itu, Rafli muncul, wajahnya serius. Ia menatap Alisha sebentar sebelum menatap Bapak Reza. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Bapak Reza menunduk sebentar. "Aku hanya ingin memastikan semuanya aman. Tidak lebih."

Rafli menghela napas panjang. Ada ketegangan halus di udara. Alisha merasa hatinya berdebar. Kehadiran orang baru ini membuat suasana berbeda-ia belum tahu apakah harus merasa lega atau cemas.

Setelah percakapan singkat, Bapak Reza meninggalkan rumah, meninggalkan aura misterius yang tidak mudah hilang. Alisha menatap Rafli. "Siapa dia sebenarnya?"

Rafli mengangkat bahu, wajahnya datar. "Hanya seseorang yang peduli pada Aidan. Kau tidak perlu terlalu memikirkannya."

Alisha menelan ludah. Tapi rasa ingin tahunya semakin besar. Ia merasa bahwa kehadiran orang itu bukan kebetulan, dan mungkin akan membawa perubahan besar dalam kehidupan mereka.

Hari itu, Alisha mencoba menenangkan diri dengan mengajak Aidan bermain di taman kecil belakang rumah. Mereka membuat miniatur rumah dari batu dan kayu, sambil tertawa dan bercanda. Suasana hangat itu membuat Alisha merasa lega. Namun, pikirannya tetap tertuju pada Rafli dan Bapak Reza. Ia menyadari bahwa kehidupan mereka perlahan mulai melibatkan orang lain, dan hal itu bisa menjadi ujian baru bagi hubungannya dengan Rafli.

Saat matahari mulai condong ke barat, Rafli duduk di bangku taman, memperhatikan mereka bermain. Ia membawa secangkir kopi hangat untuk Alisha. Tanpa banyak bicara, ia duduk di sampingnya, menatap Aidan yang tertawa riang. Ada ketenangan yang aneh dalam kehadirannya-meski jarang bicara, Rafli selalu berhasil menghadirkan rasa aman yang sulit dijelaskan.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, ponsel Alisha berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar. Dengan ragu, ia mengangkat telepon.

"Alisha?" suara pria itu terdengar jelas.

Alisha membeku. "Ya... siapa ini?"

"Ini Daniel," suara itu terdengar dingin tapi lembut. "Aku harus bicara. Aku tidak akan menyakitimu, tapi kau harus mendengarkan."

Hati Alisha berdegup kencang. Ia menatap Rafli yang berdiri di sampingnya, diam tapi waspada. Rafli menatapnya dengan sorot mata yang penuh peringatan.

"Kau tidak perlu menjawabnya," ucap Rafli singkat.

Namun, Alisha merasa dirinya tidak bisa menolak. Ada rasa penasaran yang sulit ia abaikan. Ia menutup mata sejenak, menenangkan diri, lalu berkata pelan: "Baiklah, aku mendengarkan. Tapi hanya sebentar."

Percakapan itu membawa kembali ingatan pahit tentang pengkhianatan Daniel. Alisha merasa amarah dan kekecewaan muncul kembali, namun kali ini ia lebih kuat. Ia tidak akan menyerah atau merasa tak berdaya. Rafli menatapnya dengan tenang, dan kehadirannya memberikan kekuatan yang aneh tapi nyata.

Beberapa hari kemudian, kehidupan mereka kembali normal, tapi dengan dinamika baru. Rafli mulai lebih sering membuka diri, menceritakan detail kehidupannya dengan Aidan dan istrinya yang meninggal. Alisha mendengarkan dengan penuh empati, memahami bahwa luka yang tersembunyi di hati Rafli tidak bisa disembuhkan dalam semalam.

Suatu malam, mereka duduk di balkon, menatap langit malam yang penuh bintang. Rafli menatap Alisha, matanya serius. "Aku tidak pernah membayangkan bisa merasa nyaman dengan seseorang lagi," katanya pelan.

Alisha menunduk, hatinya bergetar. "Aku juga tidak pernah membayangkan bisa merasakan ini. Tapi rasanya berbeda ketika kita mencoba memahami satu sama lain, bukan hanya dari kata-kata, tapi dari tindakan."

Rafli tersenyum tipis, dan untuk pertama kalinya, ada kehangatan yang terlihat di matanya. Alisha menyadari bahwa hubungan mereka perlahan mulai berkembang, meski melalui tantangan dan rintangan yang tidak mudah.

Keesokan harinya, Rafli menghadapi ujian lain. Bapak Reza kembali, kali ini dengan ekspresi lebih serius. Ia membawa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Aidan-surat sekolah, catatan kesehatan, dan dokumen administrasi lainnya.

"Kami harus memastikan semuanya tertata dengan baik," ucap Bapak Reza, menatap Rafli.

Rafli mengangguk. "Baik. Aku akan urus semuanya."

Alisha menatap dari jauh, menyadari bahwa hidup mereka perlahan mulai diatur ulang oleh orang-orang di sekitar. Rafli tetap tenang, tapi ia bisa merasakan ketegangan yang tidak terlihat. Ia menyadari bahwa untuk menjaga Aidan dan kehidupan baru mereka, ia harus menghadapi berbagai tantangan yang datang dari luar.

Malam itu, Alisha menulis di catatan harian:

"Hari ini aku belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada orang baru, tantangan baru, dan masa lalu yang kadang mencoba mengusik kedamaian. Tapi aku juga belajar bahwa keberanian bukan hanya tentang menghadapi masa lalu, tapi juga tentang menjaga hati yang perlahan mulai percaya lagi. Rafli mungkin misterius, tapi kehadirannya memberiku kekuatan yang selama ini hilang."

Pagi itu, matahari tampak enggan menembus tirai kota. Udara terasa lembap, dan suara burung yang biasanya riang kini terdengar samar, seolah ikut merasakan ketegangan yang membayangi rumah Nadia. Alisha duduk di tepi sofa, tangan memegang cangkir teh hangat yang baru ia seduh. Ia mencoba menenangkan diri, namun pikirannya terus berputar, memikirkan pesan tak terduga yang datang semalam dari nomor asing.

“Aku tahu di mana kau. Hati-hati dengan pilihanmu.”

Pesan itu membuat Alisha merinding. Tidak ada nama, hanya peringatan yang samar. Ia mencoba menepis rasa takut itu, berusaha fokus pada Aidan yang sedang asyik bermain di taman belakang. Namun, sesuatu dalam kata-kata itu terasa seperti bayangan gelap yang mengintai di sudut pikirannya.

Saat Alisha menata mainan Aidan, Rafli muncul dari garasi, wajahnya lebih tegang dari biasanya. Matanya menatap lurus ke arah Alisha, seolah membaca ketakutannya tanpa kata-kata.

“Kau menerima pesan itu?” tanyanya pelan.

Alisha mengangguk, menatap lantai. “Ya. Tapi aku tidak tahu siapa yang mengirimnya atau maksudnya.”

Rafli menarik napas panjang. “Kau harus berhati-hati. Ada orang yang mungkin ingin mengganggu kedamaian kita, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Kehadiran Rafli selalu membawa rasa aman, tapi kali ini ia merasakan sesuatu yang lebih berat—ada ancaman nyata yang menghampiri mereka. Alisha merasakan ketegangan yang sama, tapi juga rasa percaya pada Rafli yang membuat hatinya berani untuk menghadapi situasi ini.

Hari itu, Alisha mencoba tetap tenang dan fokus pada rutinitas. Ia menyiapkan sarapan, membantu Aidan belajar menulis, dan merapikan rumah. Namun bayangan pesan misterius itu terus menghantuinya. Setiap dering ponsel membuatnya menegang, setiap suara di halaman terasa mencurigakan.

Di tengah kesibukan itu, Rafli mengajaknya berbicara di balkon, jauh dari telinga Aidan. Ia menatap Alisha, matanya serius.

“Aku akan memastikan tidak ada yang mengganggu kita,” katanya tegas. “Tapi kau juga harus siap. Ada kemungkinan masalah ini datang dari masa laluku, dan itu berarti kau harus tahu bahwa hidup kita tidak akan selalu tenang.”

Alisha menelan ludah. “Aku siap,” ujarnya pelan, meski hatinya bergetar.

Rafli mengangguk, seolah memberi penghargaan atas keberanian itu. “Bagus. Karena kita harus menghadapi ini bersama, bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk Aidan.”

Beberapa jam kemudian, sebuah paket misterius tiba di rumah. Alisha merasa jantungnya berhenti sejenak saat melihat nama pengirim yang tidak dikenal. Rafli segera mengambil paket itu dan membukanya di ruang tamu.

Di dalamnya terdapat sebuah album foto—foto-foto lama Rafli dengan istrinya, beberapa surat yang terlihat pribadi, dan catatan tangan yang samar bertuliskan:

“Jangan biarkan rahasia ini kembali ke permukaan. Ada yang selalu mengawasi.”

Alisha menatap Rafli. Wajahnya menunjukkan campuran marah, takut, dan bingung. Rafli menutup album itu dengan cepat, menaruhnya di meja. “Ini... masa laluku. Beberapa orang ingin memanfaatkannya untuk menghancurkan hidupku, dan mungkin juga hidupmu,” ujarnya dengan suara serak.

Alisha menahan napas. Ia merasa hatinya sakit melihat Rafli terluka, tapi juga merasa semakin dekat dengan pria itu. Ia menyadari bahwa menghadapi masa lalu tidak akan mudah, tapi Rafli memberinya alasan untuk tetap kuat.

Malam itu, hujan turun deras. Alisha dan Rafli duduk di teras, menatap rintik hujan yang menempel di kaca. Aidan tidur nyenyak di kamar. Suasana sunyi, hanya suara hujan yang menemani mereka.

“Aku takut,” ucap Alisha tiba-tiba, suaranya bergetar. “Aku takut semua ini akan menghancurkan kita.”

Rafli menatapnya, kemudian menggenggam tangannya. “Aku juga takut. Tapi kita tidak bisa membiarkan ketakutan menguasai kita. Kita harus berdiri bersama, menghadapi setiap ancaman yang datang.”

Alisha menunduk, menahan air mata. Rasa takutnya perlahan berubah menjadi keberanian, karena kehadiran Rafli memberinya kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Hari berikutnya, ketegangan meningkat. Bapak Reza kembali, kali ini membawa berita mengejutkan. Ia menemukan seseorang yang mencoba memata-matai rumah Nadia, mengambil gambar Aidan dan Rafli tanpa izin. Rafli segera menindaklanjuti, memasang kamera pengawas tambahan dan memastikan rumah mereka aman.

Alisha menyaksikan semua itu dengan perasaan campur aduk—takut, cemas, tapi juga bangga pada Rafli. Pria itu tidak hanya misterius dan tegas, tapi juga penuh perhatian dan protektif. Hatinya mulai tumbuh rasa kagum yang tidak bisa diabaikan.

Di sore hari, Rafli mengajaknya berjalan-jalan di taman kota. Mereka butuh udara segar, jauh dari ancaman yang mengintai rumah. Saat berjalan, Rafli menatap Alisha dengan serius.

“Kau tahu, menghadapi masa lalu itu sulit. Tapi aku melihat keberanianmu, dan itu membuatku ingin lebih terbuka padamu,” ucapnya.

Alisha tersenyum tipis. “Aku belajar dari dirimu. Kau mengajarkanku bahwa menghadapi ketakutan bukan berarti lemah, tapi justru menunjukkan kekuatan.”

Rafli menatapnya lama, seolah membaca setiap kata yang keluar dari bibir Alisha. Ada momen hening, di mana dunia di sekitar mereka seakan berhenti. Alisha merasakan getaran halus di hatinya—rasa percaya dan tertarik yang perlahan tumbuh.

Malam itu, Alisha menulis di catatan harian:

“Hari ini aku belajar bahwa ketakutan bisa diubah menjadi keberanian, dan bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tapi juga tentang kepercayaan. Rafli mengajarkanku arti kesabaran, perlindungan, dan bagaimana menghadapi masa lalu tanpa menyerah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi untuk pertama kalinya aku merasa siap menghadapi dunia, selama kita bersama.”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Azalea
7.8
Hubungan Amar dan Azalea yang semula indah berubah menjadi luka pahit. Kenangan mereka kini hanyalah beban yang memicu amarah, terutama setelah perpisahan yang menghancurkan segalanya. Namun, waktu membawa perubahan saat Arhan hadir di hidup Azalea. Bersama Arhan, ia mulai memahami makna baru tentang cinta dan takdir. Akankah masa lalu yang kelam terhapuskan oleh kehadiran Arhan? Inilah perjalanan emosional Azalea dalam menemukan arti ketulusan sejati.
Sampul Novel Beautiful Secret
8.0
Liam Andreas Ville, miliarder berusia 30 tahun, terjebak dalam pernikahan hambar dengan Rose yang hanya peduli pada kemewahan. Di sisi lain, Emily Alexandra bekerja keras secara sembunyi-sembunyi demi uang, berbeda jauh dari kakaknya yang manja. Suatu malam, rahasia Emily selama dua tahun terendus oleh Liam. Demi melindungi reputasinya dari Rose dan keluarga yang sangat pemilih, Emily terpaksa menjalin kesepakatan rahasia dengan sang kakak ipar agar pekerjaannya tetap tersembunyi.
Sampul Novel Cintaku Tersesat di CEO Gila
9.5
Ziana Hauwel terjebak dalam obsesi mendalam Andreas Johnson, seorang CEO yang bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Meski merasa tertekan oleh cinta yang posesif, Zia tak mampu membohongi tubuh dan hatinya yang haus akan sentuhan pria itu. Di tengah kegilaan sang miliarder, Zia bergelut dengan batinnya yang perlahan mulai luluh. Akankah hubungan penuh gairah ini berakhir dengan kebahagiaan sejati atau justru kehancuran? Simak kisah romansa dewasa yang intens ini.
Sampul Novel Jebakan Sang Mantan Istri
8.2
Calista Anindya nyaris tewas akibat sabotase mobil yang dirancang untuk membunuhnya. Demi melindungi bayinya, ia menghilang dan memendam trauma mendalam. Enam tahun kemudian, Calista muncul kembali sebagai sosok tangguh bersama sepasang anak kembar yang cerdas. Ia pulang membawa misi besar untuk menuntut balas pada mantan suaminya yang telah berkhianat. Di tengah kembalinya Calista, akankah dendam tersebut tuntas atau justru masa lalu kelam kembali menghancurkan hidupnya?
Sampul Novel Ketagihan dengan anak tiri
8.2
Steiner Limson memulai lembaran baru dengan menikahi seorang ibu tunggal. Komitmennya diuji saat ia dituntut memberikan kasih sayang tulus bagi istri dan putri tirinya. Namun, biduk rumah tangga mereka justru menghadapi badai tak terduga yang mengubah segalanya. Di tengah kemelut pernikahan yang mulai retak, Steiner malah terjerat perasaan terlarang. Ia jatuh cinta pada anak tirinya sendiri, menciptakan konflik batin yang menghancurkan batasan moral keluarga.
Sampul Novel Pelakor XXL
9.7
Reya Yasmitha merasa tidak percaya diri dengan penampilan fisiknya. Ia merasa hanya Juniar Adi Pranaja, pria matang berusia 42 tahun, yang bersedia mencintainya. Meski sadar keputusannya salah, Reya tetap memilih menjadi simpanan Juniar demi segala fasilitas mewah yang diberikan. Kini, Reya bertekad mengubah hidup dan melepaskan status pelakor demi kemandirian. Namun, Juniar justru merasa terusik. Mampukah Reya keluar dari jerat hubungan gelap ini?