Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Catatan Harian Jo

Catatan Harian Jo

Jo adalah sosok makhluk tak kasatmata yang memendam kerinduan mendalam akan hadirnya cinta sejati di dalam hidupnya. Namun, meski ia memiliki keinginan yang begitu tulus, perjalanan Jo untuk menemukan pasangan yang mampu menerima keberadaannya tidaklah mudah. Ia terus menghadapi berbagai rintangan sulit dan kegagalan yang menyakitkan. Inilah kisah perjuangan Jo dalam mencari kasih sayang di tengah nasibnya yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari Jumat dan Selasa adalah hari di mana mata kuliah dosen muda cantik yang membuat Jo bersemangat itu pun tiba. Entah pesona apa yang di pancarkan oleh dosen muda itu yang pasti mampu membuat Jo semakin rajin mengikuti perkuliahaan.

“Wedeh ada  angin puting apa neh lu berangkat pagi-pagi?” tanya Alex yang melihat Jo sedang memakai sepatu di ruang tengah.

“Gue harus berubah lek, demi menemukan jawaban dari kegeliasahan gue selama dua hari ini,” ujar Jo.

“Wuihhh, lu kena sawan dari mana Sujono,” Alex memegeng dahi Jo.

“Gue gak yakin sih, tapi sosok itu tuh kebayang mulu di pikiran gue, sampe gue gak bisa tidur gak bisa mikir pokoknya bikin cenut-cenut deh,” ujar Jo sembari menalikan sepatunya.

“Lu lagi kasmaran? Wwwhhhuuaattt? Otoke,” ledek Alex.

“Gue gak yakin sih, tapi masa iya gue suka sama dosen gue?,” ucap Jo menggaruk kepala.

“Wanjir lu depresi ga dapet-dapet cewek tapi jangan dosen juga lah yang lu embat Sujono, mau di bawa kemana citra geng ABJ ini, masa membernya ada yang suka sama dosen,” Alex terkejut.

“Wah makasih loh, gue jadi malu,” ucap Jo tersipu malu.

“Itu bukan pujian aaahh pentil bajai,” Alex menempeleng kepala Jo.

“Dah lah salah mulu gue, berangkat dulu dah, bhaiiii,” Jo beranjak pergi.

Pagi itu Jo datang lebih awal dan ternyata di kelasnya belum ada satu pun mahasiswa yang datang.

"Ohh gini ternyata rasanya menjadi mahasiswa membanggakan," gumam Jo yang merasa dirinya adalah mahasiswa teladan karena datang paling awal, padahal itu adalah kali pertamanya datang awal selama enam semester ini.

Sekitar sepuluh menit Jo terduduk di tengah kelas seorang diri, akhirnya satu persatu temannya datang. Mereka terlihat bengon saat melihat dan melewati Jo seolah tengah melihat penampakan. Jo yang hanya cengar-cengir justru merasa sangat bangga karena bisa datang paling awal pagi itu.

Pukul 7.00 perkuliahaan pagi itu di mulai, masuk lah dosen muda cantik yang mengajar.

“Good morning class?” Bu Intan berjalan memasuki kelas.

"Morning Miss,"

“Okay, let I check your attandance first,” Bu Intan mengabsen satu persatu mahasiswa hingga tiba pada nama Jo di panggil.

“Sujono!,” panggil bu Intan.

“Present,” Jo mengangkat tangan.

Bu Intan yang melirik Jo hanya tersenyum tipis melihat Jo.

“Okay, please collect your exercisse on last week class, then we start next chapter,” ujar bu Intan.

“Hah tugas yang mana? Sstt tugas yang mana?” Jo panik bertanya pada teman kanan kirinya.

“Lu gak nge cek grup wa kelas ya? Ada tugas minggu kemaren,” ujar Siti teman sebelah Jo.

"Mampuss gue," gumam Jo dalam hati.

“Ada yang belum mengumpulkan?” tanya bu Intan.

Jo pun mengangkat tangannya.

“You have to come to my room after this class,” perintah bu Intan Jo hanya mengangguk menyadari keteledorannya tidak mengerjakan tugas.

Satu setengah jam kemudian kelas pun berakhir. Jo pun sadar bahwa dosennya itu akan memberikan hukuman yang baginya sangat sulit. Apalagi jika ia di suruh berfikir lagi sepeti minggu lalu. Bagi Jo itu adalah hukuman yang lebih berat dari pada hukuman tugas tambahan yang sudah biasa ia dapatkan dari dosen lain.

Setibanya di ruangan bu Intan, Jo pun duduk dengan menundukan kepalanya.

“Bu tolong hukumannya jangan yang buat mikir kaya kemaren ya, kasih tugas aja gak papa bu, serius bu,” Jo memulai percakapan.

“Apakah hukuman yang kemarin ada efek nya buat kamu?" tanya bu Intan menatap Jo.

“Ada bu, saya gak bisa tidur ber hari-hari karena mikirin hukuman dari ibu,” wajah Jo berubas memelas.

“Tapi kenapa kamu masih saja ngga berubah?” tanya bu Intan.

“Saya berubah bu, dari saya mengucapkan janji pada diri sendiri bahwa saya akan berubah saya sekarang makin disiplin dengan waktu, saya masuk kelas ibu paling awal juga pagi ini,” jelas Jo.

“Hanya kelas saya?” tanya bu Intan lagi.

“Yaaa saya mulai dari kelas ibu, besok saya mulai di kelas lain juga, janji saya bu beneran, tapi tolong jangan hukuman kaya kemarin,” Jo semakin memelas.

“Oke saya akan ganti hukuman kamu, tapi tetap tugas yang tidak kamu kerjakan segera kumpulkan besok maksimal jam dua siang,” ujar bu Intan.

“Baik bu, saya akan kerjakan hari ini, lalu untuk hukumannya?" tanya Jo.

“Hukumannya adalah kamu harus mencatat perbuatan baik apa yang telah kamu lakukan selama seminggu, dan berikan ke saya pas kelas saya minggu depan, ingat perbuatan baik,” ujar bu Intan.

Jo sejenak terdiam dan menggaruk kepalanya meski tak terasa gatal. Dalam pikirannya mana mungkin ia mencatat perbuatannya sehari-hari sudah seperti malaikat pencatat amal baik pikirnya.

“Kenapa? Tidak sanggup?" pertanyaan bu Intan megejutkan Jo yang masih bengong.

“Ehh, mm nggak gitu bu, tapi saya cuman lagi mikir aja kalo saya nyatet perbuatan sehari-hari saya takut mendahului malaikat gimana bu? hehe,” tanya balik Jo.

“It’s just a punisment, lagian kamu gak ambil jobdesk malaikat kan cuma seminggu,” ujar bu Intan.

“Ohhh iya iya, oke lah kalo begittu bu saya permisi dulu mau mencatat perbuatan saya abis ini,” ujar Jo pamit.

“Emang apa yang kamu mau catat abis ini?" tanya bu Intan.

“Solat jumat bu, kan ini hari jumat ehe,” Jo nyengir.

“Itu bukan termasuk yang di catat, itu kan udah kewajiban aduh Jo, maksud saya perbuatan baik yang kamu lakukan bukan kewajiban, kalo itu kamu ambil alih tugas malaikat dong,” jelas bu Intan.

“Duh, ya ya udah deh bu nanti saya cari yang lain, misi bu,” Jo berjalan pergi.

Siang itu setelah Jo melaksanakan solat jumat di kampusnya, ia pun berjalan pulang menuju kosan nya. Namun, sepanjang jalan ia masih mencoba berpikir hal baik aa yang perlu ia catat selama seminggu ini. Jika kebaikan seperti seorang dokter yang menyelamatkan nyawa orang lain yang di maksud maka Jo tidak punya keahlian itu, yang ada malah menambah korban jiwa jika ia menjadi bak dokter.

Di tengah kebingungan Jo memikirkan perbuatan baik apa yang harus ia catat, ia mendapat pesan whatsapp dari grup geng ABJ.

WOY JO POSISI?

Sujono, lu gak lupa kan sore skrg ada futsal

Iya gue otw abis ashar tar

Ashar jam berapa lex?

Jam 3 kali

Lah lu ga tau

Gue kan kristen dudul

Ya santuy kristen ngegas

Gue tampol lu mbud

Sudah jangan beribut

Bacot Jo

Iya sok bacot lu

😒

Setibanya Jo di kosan, ia berbaring di atas kasur sambil overthinking. Entah kenapa otak nya berhenti bekerja jika mengingat hukuman dari bu Intan. Pasalnyabukan hanya hukumannya yang membuat Jo selalu berhenti berpikir, tapi dosen muda cantik itu membuat jantungnya pun berdegub setiap mengingat wajahnya. Ya, sepertinya makhluk yang tidak halus ini sedang jatuh cinta pada dosen muda itu.

Jo pun tertidur pulas setelah selesai cengar-cengir membayangkan wajah cantik dosen mudanya itu.

*Ddrrttt ddrrtt ddrrtt

‘Halo, siapa nih? Telpon tengah malam buta gini,” teriak Jo yang masih memejamkan matanya.

“Woooii Sujono, lu di mana? Ampun deh lu ketiduran? Ini dah mau mulai futsalnya, kita gak ada pemain cadangan lagi, cepet kesini ato lu kita keluarin secara tidak terhormat dari geng ABJ,” Alex menutup teleponnya.

*"Oottookkeee ketiduran hyung,"

Jo secepat kilat mengambil sepatu dan kaos futsalnya, ia berlari bak the flash menuju tempat futsal di belakang kampusnya.

“Haaahh hhaahhh hhaaahhh aaahh aahh,” Jo ngos-ngosan sampai di pinggir lapang.

“Ih dasar cabul, *ppllaakkkkk*,” seorang wanita menampar Jo yang tepat berada di samping nya karena terengah-engah dengan suara bak pemain b*kep.

“Aaawww,” Jo mengaduh memegangi pipinya.

“Ahahaha belum aoa-apa dah kena tabok lu, lu dari mana aja sih Sujono,” tanya Alex.

“Gue ketiduran tadi, belum mulai kan? Gue pake sepatu dulu,” ujar Jo yang langsung mengeluarkan seoatunya dari dalam tas.

“Eh ini kesempatan lu buat caper Jo, liat tuh banyak cewek di pinggir lapang, lu ntar maen yang cool, pasti lu di sorakin deh, makin ganteng lu 2%,” Alex merayu Jo.

“Ah mereka kan nonton futsal cuman mau liat si Budi, gue mah dapetnya tabokan kek tadi,” gerutu Jo.

“Ya kan namanya juga usaha, dari pada jones terus lu,” ledek Alex.

“Gue udah nemuin cewek yang cocok buat gue sih,” ucap Jo.

“Hah? Siapa?" tanya Alex terkejut.

“Gue kasih tau kalo lu udah gak col* pake sabun batang di bolongin tengahnya,” Jo berlari secepat kilat menuju lapang.

“Woi anjir lu Sujono!!” teriak Alex.

 "Aaaaaa oppa sarange oppaaaaaa,"

Teriakan para wanita di pinggir lapang memanggil-manggil Budi yang menjadi pusat perhatian.

"Hhhhuuuuuu hhhuuuu,"

Teriakan para wanita ketika Jo beraksi menangkap bola. Berbeda dengan Budi sang penyerang yang mendapat pujian dan teriakan histeris para wanita, Jo pun sebaliknya karena pesonanya sebagai kipper belum bisa mengalahkan Budi.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antagonist Girl
8.2
Arlan memenuhi setiap sudut apartemennya dengan foto seorang wanita demi menjaga ingatan agar tidak pudar barang sejenak pun. Tindakan ini bukan sekadar obsesi, melainkan bentuk ketakutan mendalam akan kehilangan memori tentang sosok tersebut. Sementara itu, Vellice hadir sebagai manusia dari dimensi berbeda yang justru sangat menikmati perannya sebagai antagonis. Kisah ini mengikuti ikatan unik mereka di tengah benturan dunia modern dan fantasi.
Sampul Novel Bukan Rahim Istriku
7.9
Aryo terjebak dalam perselingkuhan dengan seorang wanita hingga berujung pada kehamilan. Karena dihantui rasa takut akan kehilangan sang istri tercinta, ia nekat melakukan tindakan di luar nalar dengan memindahkan janin selingkuhannya ke dalam rahim istrinya sendiri. Keputusan fatal ini memicu berbagai komplikasi dan konflik batin yang hebat, yang mengancam keutuhan rumah tangga mereka serta menghadirkan penderitaan panjang dalam kehidupan pernikahan mereka.
Sampul Novel Chasing Vampire
9.1
Julian Donyoung, vampir berusia dua abad, mengembara demi membalas dendam atas kematian ibunya sejak perang klan tahun 1822. Meski enggan berurusan dengan manusia, ia justru jatuh hati pada Elena Karenina yang ceroboh. Namun, situasi berubah mencekam saat identitas Elena terungkap sebagai keturunan musuh bebuyutannya, klan Oyster. Akankah cinta mereka bertahan, ataukah dendam masa lalu memicu pertumpahan darah baru di antara kedua kekasih ini?
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris, saat dunia persilatan dan hal mistis masih mendominasi, Wisaka bertekad membongkar misteri kematian tragis para pengantin baru. Para pria tewas usai malam pertama, sementara mempelai wanita diperkosa hingga membisu. Demi mengungkap kebenaran, Wisaka mempelajari ilmu kanuragan. Namun, perjalanannya penuh rintangan dari bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar jadi manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel JARAN GOYANG PENARI JAIPONG
8.3
Terbakar api cemburu melihat Abimanyu memadu kasih dengan sahabatnya sendiri, Kamila nekat menempuh jalan hitam. Ia mengamalkan Ajian Jaran Goyang pemberian Nyai Winarsih, sosok tua yang secara misterius tetap berparas jelita. Kamila tidak menyadari bahwa tindakannya menyeretnya ke dalam pusaran sumpah masa lalu sang nyai. Obsesi buta ini membangkitkan petaka kuno yang telah terkubur puluhan tahun, mengancam nyawa demi sebuah cinta yang dipaksakan.
Sampul Novel Kaum Terakhir (Pembalasan Dendam)
8.8
Dunia menuntut pemusnahan total kaum kegelapan demi kedamaian abadi. Di tengah kerumunan yang haus darah, seorang gadis terbelenggu rantai menghadapi kebencian massa yang menginginkan kematiannya segera. Sorak-sorai penuh amarah terus mendesak agar nyawanya dilenyapkan tanpa sisa. Namun, saat eksekusi tampak tak terelakkan, sebuah teriakan tegas memecah suasana. Sosok penyelamat muncul membela sang ratu, mengubah takdir tragis yang semula sudah di depan mata.