
Cahaya Kirana
Bab 2
"Ini Jam berapa Jane?" Tanyaku pada Jane. Aku terbangun dan mendapati diriku tertidur dikamarku. Iya aku sadar tadi aku digendong oleh Arden seperti biasa atas perintah Mama dari mobil ke kamar. Aku malam menjelang pagi malah bangun. Yah, kebiasaanku manja dan tak mandiri sehingga harus digendong ke kamar. Aku cukup letih membuat iklan jaringan komunikasi hari ini.
"Jam 2 pagi, Kiran. Aku mengantuk. Ah, kenapa tadi tak ku kunci kamarku." Racau Jane masih dengan mata terpejam.
"Mama tak ada, Jane? Kau tahu dimana Mama? Aku sudah mencarinya ke mana-mana bahkan ke kolam renang." Gumam Kirana santai. Tak peduli Jane terganggu.
"Kiran, bukankah sebaiknya kau tidur untuk fashion show pagi ini." Jawab Jane seenaknya.
"Ah jangan mengalihkan pertanyaanku. Mama dimana? Atau aku besok tak mau berangkat.” Ancam Kirana pada Jane.
"Ooh ... aku benar-benar mengantuk dan kau membuat masalah untukku." Keluh Jane menutup kupingnya dengan bantal.
"Aku jamin kau aman. Beritahu aku, aku ingin bicara dari hati ke hati pada Mama." Dalam keadaan sadarpun Jane selalu jujur apalagi setengah sadar seperti ini. Jane akan selalu jujur padaku karena hubungan kami lebih ke kakak adik yang rukun dari pada asisten dan artis.
"Mama ada di apartemen Gading. Sana tidur lagi. Besok Fashion show" usir Jane memeluk guling.
Aku berbalik tersenyum simpul karena baru saja mengikat jempol kaki Jane dengan kursi. Pasti pagi nanti dia akan mengadu pada Mama. "Hihihi ... oke aku tidur lagi" aku tertawa sambil menutup mulutku takut membangunkan Jane lagi.
Aku kembali ke kamar. Ke ruang tengah. Menonton drakor tapi semua tak menarik minatku. Aku ingin bicara pada Mama. Aku ingin mama mengatur cutiku aku ingin ke Belanda menemui Papa. 5 tahun lalu aku bertemu Papa. Itu sangat lama sekali. Suka tidak suka mama harus memberi ijin.
Kepalaku yang selalu punya ide pembangkangan ini memang terlalu cerdas. Aku mau menemui Mama di Apartemen Gading. Kenapa ya Mama kesana? Mama selalu bilang kalau Mama pergi ke Apatemen Gading adalah untuk Menghitung pembukuan pemasukan hasil kerjaku dan jangan diganggu. Pembukuan adalah hal yang rumit. Mama harus mengatur semua pemasukan ke tabungan, investasi dan lain-lain. Aku ingat semua pesan Mama. Tapi malam ini aku benar-benar akan mengganggu mama tampaknya.
Ini sudah menjelang pagi. Harusnya mama pulang. Mungkin Mama terlalu letih hingga memutuskan menginap disana. Kan’ bisa minta jemput Jono supir kami sih.
Jadi ide dikepalaku yang ingin mengganggu kembali hadir. Rencananya adalah mengendarai mobil sendiri ke Apartemen Gading kami. Aku juga punya kok kunci apartemen Gading. Kadang kalau lelah sekali tempat pemotretan di daerah timur Jakarta aku istirahat di sana. Mama marah tapi surprise hebat untuknya bahwa aku sudah besar dan tak perlu terlalu khawatir menyetir tanpa sopir. Ide yang patut dilaksanakan.
Keamanan? Aku pakai mobil matic. Kuncinya sensor tanganku. Spray cabe buat orang jahat dan jangan keluar mobil. Gawai tak ketinggalan. Baju orang biasa. Aku suka sekali sendal jepit karet, kaos oblong dan celana jeans robek lutut. Ah sangat biasa. Ordinary people. Alakadarnya. aku suka gaya ini. Aku tidak merias diri. Cukup konde cepol sederhana. Aku melihat pantulan diriku di cermin. Kirana yang ceria sederhana dan cerdas.
Yes its me. Bukan si lenggak lenggok genit. Entahlah aku makin tidak nyaman dengan pekerjaan modelling. Entah apa yang salah pada diriku.
Mobil sport ku membelah pagi yang menjelang. Sebentar lagi subuh. Aku asik dengan kemudi. Aku suka kebebasanku. Diiin ... mobilku mendadak harus mengerem sambil ku klakson orang di depanku. "Aih gantengnya pakai peci dan baju koko. Sayang, menyeberang ke masjid ngga hati-hati. Eh apa aku yang terlalu ngebut?” tanyaku sendiri.
Ehm ... aku gigit bibirku mengusir kepanikan. Aku yang salah terlalu ngebut rupanya. Ia dokter Randy tetangga didepan Rumah yang hampir kutabrak Aku baru tahu dia rajin kemasjid diujung komplek.
Dr Randy tersenyum padaku. Ih padahal aku hampir menabraknya. Aku membuka jendela mobilku. Sekedar meminta maaf padanya. "Hey, tetangga depan rumah kan? Maaf ya aku ngebut."
"Tidak perlu ngebut sepagi ini, ngga turun ke masjid ?" Tanya Dokter tampan itu sopan.
"Ngga ah buru-buru, sekali lagi maaf ya" Kirana menutup kaca jendela mobilnya siap mengemudikan mobilnya lagi.
Hff ... baru mau keluar komplek rumah udah mau tabrak orang ganteng. Lagian tuh orang aneh, belum adzan subuh juga udah ke masjid mau azan, kali ya? Mau tahajud? Aduh kok jadi kepo hati begindang? Tersenyum-senyum sendiri Kirana di dalam mobilnya.
"Hati-hati, Kirana" seru Dokter bermata teduh, halus dengan senyum yang membuat Kirana berdetak riang.
"aih dia kenal aku? Ah ya Aku model tak salah kalau dia kenal. Setahuku Mama Dr. Radit dulu teman Mama juga. Sayangnya hubungan mereka tak seakrab dulu karena Mamanya Dr. Radith pindah ke kota lain sementara Mamaku asik mengantarku kegiatan modelling setiap hari.
Mobil sudah sampai di parkir Apartemennya. Resepsionis apartemen sudah mengenaliku. Jadi aku ke lantai atas kamar 376 kamarnya tanpa ada kendala. Kamar tertutup. Apa Mama masih disini? Tanya Kirana di hati. Kirana menggesek kartu disisi pintu. Pintu terbuka otomatis.
Kirana agak kaget dengan bisingnya musik di dalam. Musik techno. "Dua gelas ehm ... ini minuman memabukkan." Kirana kenal baunya walau tak pernah meminumnya. Pesta-pesta para model selalu menyajikan minuman itu tapi Mama melarang Kirana untuk mendekati apalagi untuk meminumnya.
Hem ... Kirana setuju pada Mama dalam hal minuman itu. Yang tak dapat Kirana mengerti kenapa di apartemen ada dua gelas minuman memabukkan yang tinggal setengah dan satunya telah tandas. Mama meminumnya? Dua gelas? dengan siapa? Dengan siapa Mama meminumnya?
Mata Kirana menyusuri apartemen itu. Musik keras dan lampu temaram. Pintu salah satu kamar terbuka. Ada suara berdesis. Lirih. Kirana takut melihat ke dalam. Kirana menduga apa yang terjadi dikamar itu. Suara-suara itu semakin jelas ketika Kirana mendekat. Kirana takut sekali dugaannya benar.
"Oh Ronald ... " Suara itu ... suara Mama. “Ronald, siapa Ronald?” Kirana memberanikan diri mengintip ke kamar yang pintunya terbuka itu. Mata Kirana nanar tak percaya melihat pergumulan dua manusia diatas ranjang tanpa busana. Keduanya tak menyadari sepasang mata Kirana menunduk, kecewa dan jijik melihat keadaan mereka.
"Mama ... kenapa Mama berbuat menjijikan seperti itu. Laki-laki bernama Ronald itu tampak lebih muda dibanding Mama. Mungkin seusiaku." Kirana mengigit bibirnya. Kesal. Kirana berbalik menuju pintu semua jelas bagi Kirana. Setelah rasa terkejut, tak percaya kini rasa jijik yang menguasai perasaan Kirana. Jadi Mama tidak menghitung pembukuan keuangan kami. Mama selalu bilang ke apartemen tidak mau diganggu karena ia punya simpanan laki-laki muda.
Ah ... Ma, aku malu melihat perilakumu tadi. Engkau melarangku berdekatan dengan pria atau berpacaran untuk menjaga prestasi dan karirku. Nyatanya kau tak menjaga sama sekali kehormatanmu sebagai ibu dimataku. Seandainya kau menikah lagi itu lebih pantas dari pada .... Kirana mencoba menghapus bayangan yang masih jelas diingatannya.
Pada saat kecewa begini ingin rasanya Kirana lari memeluk Papa. Sungguh makin sedih menghadapi kenyataan Papa Kirana cuma ada dalam jaringan komunikasi gawai. Bukan Papa yang bisa dipeluk.
Bulir air mata Kirana mengalir begitu saja? Untuk apa Kirana bersedih? Mama seorang janda tak punya suami? Harusnya Kirana sedikit mengerti. Ah ... siapa yang sanggup melihat mamanya seperti itu? Mama yang Kirana kenal adalah wanita baik-baik terpelajar sopan dan anggun. Ternyata itu topeng. Mama Elisa larasati adalah penyuka daun muda. Brondong. Gigolo. Apapun nama pekerjaan terhina laki-laki busuk itu Kirana akan menyumpahi laki-laki itu segera mati. Karena bàw5wwerani menggoda Mamanya. Jelas sekali laki-laki itu masih muda dan melakukan dengan mamaku di apartemen. Pasti dia bukan orang baik. Bukan orang berduit pula. Jadi pasti ia gigolo. Laki-laki muda Pemuas nafsu tante-tante kaya. Kirana bergidik membayangkan prasangkanya.
5
Anda Mungkin Juga Suka





