
Buy One Get You
Bab 2
Setahun sebelumnya.
Audia Melodita–lengkap dari gadis berkulit kuning langsat dengan gigi ginsul dan sepasang mata besar berbulu lentik yang sedang menanti keputusan penting di dalam hidupnya. Ia mengenakan blus berwarna hijau pastel dengan motif bunga-bunga mungil berwarna putih. Kulot panjangnya berwarna senada, begitu juga dengan hijabnya. Secara keseluruhan penampilannya menarik. Senyumnya mengembang dan gesturnya menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi.
“Mbak Audia lulus setahun lalu?’’ Seorang lelaki berusia awal lima puluhan dengan kumis tipis menatap portfolio yang dipegangnya. Namanya Wirawan–Manajer HRD perusahaan tempat Audia melamar, PT Puri Sasra Property, salah satu perusahaan milik Raharja Group yang fokus di pembangunan mal, hotel, dan apartemen.
“Benar, Pak.” Audia mengangguk. Setahun menganggur bukan tanpa alasan. Ia merupakan salah satu lulusan terbaik di Jurusan Arsitektur sebuah universitas ternama di Jakarta. Ia juga pernah menjadi juara dalam sayembara desain yang diadakan oleh perusahaan telekomunikasi terbesar di masa kuliah dulu.
“Ini desain-desain yang Mbak kerjakan?’’ tanya Pak Wirawan sambil membolak-balik lembaran kertas di dalam map.
“Iya, Pak. Masih ada beberapa desain proyek pribadi bila menurut Bapak itu masih kurang meyakinkan,’’ jawab Audia. Jantungnya berdegup. Saat ini ia membutuhkan pekerjaan dengan gaji tetap.
Sejak ibunya meninggal, usaha sang ayah mengalami penurunan. Sebuah pukulan berat di saat seorang Sapto Hadi sedang berjaya dengan usaha kulinernya selama lima tahun terakhir. Setahun sebelumnya banyak peristiwa tak masuk akan terjadi, dari mulai bahan-bahan makanan yang membusuk, sampai pegawai yang sakit tiba-tiba. Cabang-cabang di luar kota terpaksa ditutup dan hal ini berimbas kepada Audia.
Putri tunggal Sapto Hadi itu awalnya berencana mendirikan perusahaan kecil di bidang desain. Menjadi pegawai di perusahaan orang lain tidak ada di dalam kamus keluarga besarnya. Namun, terkadang kenyataan tak sejalan dengan keinginan. Roda kehidupan berputar dengan cepat. Di sinilah kedewasaan Audia diuji. Ia yang sejak kecil tak pernah kekurangan harus menerima kenyataan bahwa sudah saatnya berdiri di atas kaki sendiri.
Pak Wirawan manggut-manggut. “Sebenarnya Mbak Audia sudah diterima di sini. Hasil tes dan wawancara tempo hari sudah memenuhi standar kami. Hari ini saya memberitahukan tentang aturan di perusahaan ini,’’ ujarnya.
Wajah tegang Audia perlahan mencair. Kedua matanya berbinar bahagia. “Alhamdulillah. Terima kasih, Pak ….”
“Wirawan.” Manajer HRD itu menyebutkan namanya.
“Terima kasih, Pak Wiarwan. Saya senang sekali bisa bergabung di perusahaan ini,’’ timpal Audia dengan senyum merekah.
“Training selama tiga bulan. Setelahnya ada evaluasi untuk menentukan apakah nanti layak menjadi pegawai tetap atau tidak. Untuk gaji, pegawai training berbeda dengan tetap, ya. Tunjukkan yang terbaik di sini, karena itu akan menentukan berapa besar kami akan menggaji Mbak Audi. Sekali lagi saya ucapkan selamat bergabung dengan Puri Sasra,’’ jelas Pak Wirawan.
Audia mengangguk mantap. “Terima kasih, Pak. Insyaallah saya akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan.”
***
Audia diangkat sebagai Arsitek Junior di Divisi Manajemen Properti setelah berhasil melewati tiga bulan masa training dengan hasil yang memuaskan. Divisi itu dipimpin oleh Santi Atmaja, seorang arsitek senior yang mumpuni. Selain orangnya low profile, ia juga pemimpin yang andal dan ramah.
Hanya dalam tempo setahun, Audia bisa menyesuaikan dengan ritme kerja di Puri Sasra. Sifatnya yang supel dan ceria membuat ia cepat membaur dengan rekan-rekan kerjanya. Salah satu yang dekat dengannya adalah Hernina Luisa yang biasa dipanggil Nina.
“Bu Santi dapat promosi, Di,’’ ujar Nina yang meja kerjanya di samping Audia. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang memperhatikan.
Audia yang sedang menggambar detail fasad proyek mal baru langsung menoleh. “Bu Santi diangkat jadi direktur?’’ Dahinya mengernyit. Sudah seminggu lamanya Audia belum berjumpa dengan atasannya.
“Sssttt … jangan keras-keras. Aku dengar Bu Santi bakal dipindah ke Surabaya. Beliau pegang proyek di sana. Kata Pak Wirawan gantinya belum ada, jadi bakal di-handle langsung sama putra Husein Sasra yang baru pulang dari Jerman,’’ bisik Nina.
“Yaaah padahal aku cocok banget dengan Bu Santi, Nin. Banyak ilmu yang kudapat pula. Kenapa arsitek senior di sini enggak dipromosiin aja buat gantiin? Ada Mas Banu dan Mbak Ayas yang sudah lamaan di sini,’’ timpal Audia.
Nina hanya mengangkat bahu. Ia mencari tahu profil putra sulung Husein Sasra pemilik Puri Sasra yang merupakan generasi ketiga keluarga Sasra Raharja. Keluarga itu jarang diberitakan di media. Kecuali soal perusahaan yang muncul di media bisnis, kehidupan pribadi setiap anggota keluarganya benar-benar tertutup dari publik.
Saat ulang tahun perusahaan tiga tahun lalu, ia pernah berjumpa dengan putra sulung Husein Sasra, Affangga Sasra Raharja. Kabar bahwa ia akan menikah membuat banyak hati di Puri Sasra patah. Cinderella hanya ada di dalam dongeng. Seorang pangeran tentunya menikahnya dengan seorang putri juga.
“Namanya Affangga Sasra Raharja, Di. Ini aku nemu profilnya. Barangkali kamu mau tahu. Nanti pas orangnya datang, jangan sampai enggak tahu.’’ Nina menyikut lengan Audia.
Audia menoleh. “Bikin kaget aja, sih. Lihat, nih, sampai salah ngasih simbol, deh,’’ ujarnya kesal. Gadis bergigi ginsul itu melirik sekilas ke layar laptop Nina. Wajah putra pemilik Puri Sasra di matanya biasa saja–datar dan terlihat kaku. Mungkin karena itu foto formal untuk keperluan perusahaan.
“Mas-mas dan nona-nona tolong hentikan sejenak aktivitasnya. Ada pengumuman penting. Segera merapat ke ruang rapat sekarang. Sekian terima gaji.” Bu Tika, asisten Pak Wirawan menepuk tangannya tiga kali. Ciri khasnya saat memberitahukan bila ada rapat dadakan.
Nina dan Audia bangkit dari kursi lalu berjalan mengikuti rekan-rekannya yang lain menuju ruang rapat. Kedua gadis itu memilih duduk di sisi samping pintu ruang rapat agar lebih cepat keluar bila pengumuman penting selesai disampaikan.
Ruang rapat telah terisi, ada satu kursi kosong yang biasa diisi oleh Direktur Utama yang juga menjabat sebagai CEO. Pada sisi samping berderet pimpinan masing-masing divisi.
“Pak Husein yang mana?’’ bisik Audia.
Nina menggeleng. “Katanya Pak Husein kembali ke kantor pusat Sasra Raharja, makanya anaknya yang gantiin. Jangan-jangan hari ini juga bos baru kita masuk,’’ lirihnya.
Lima menit kemudian datanglah seorang lelaki mengenakan setelan jas lengkap diikuti oleh Pak Wirawan dan salah satu direksi. Aura bos memang berbeda. Setiap langkahnya begitu mantap, pandangannya lurus ke depan dengan bahu tegap yang membuat siapa pun serentak bangkit dari duduk lalu menunduk sebagai tanda hormat.
Audia satu-satunya yang tetap menatap. Ia lupa menunduk seperti yang lain. Rasa penasarannya lebih besar, karena sosok itu berbeda dengan foto yang diperlihatkan oleh Nina. Tingginya sekitar 180 cm dengan berat badan seimbang. Rambutnya hitam tebal dan tampak rapi seperti diolesi minyak rambut sejenis Pomade. Kulitnya kuning langsat cenderung gelap. Ia memiliki sepasang mata sipit yang dinaungi sepasang alis tebal. Bagi sebagian orang wajahnya good looking, tetapi bagi Audia tidak, karena gadis itu tak menyukai lelaki berjambang.
Affangga tersenyum formal saat Pak Wirawan mengarahkannya ke ruang rapat. Sudah hampir tiga tahun ia tak masuk ke Kantor Puri Sasra. Semua mengira ia pergi ke Jerman untuk melanjutkan S-3. Padahal dia hanya menyingkir jauh dari tempat yang meninggalkan jejak menyakitkan. Saat ini, hatinya telah tenang dan siap bekerja kembali membesarkan Puri Sasra.
Langkah Affangga terhenti ketika pandangannya sampai kepada seraut wajah tak asing. “Ashayla …,’’ lirihnya dengan jantung berdegup kencang saat menatap Audia.
Pak Wirawan yang menyadari Audia tak memberi hormat segera memberi kode dengan jarinya kepada gadis itu. “Mbak Audi,’’ bisiknya.
Audia terkejut lalu buru-buru menunduk.
“Maaf, Pak Affa, ini pegawai baru stafnya Bu Santi,’’ jelas Pak Wirawan. “Namanya Mbak Audi, Arstitek Junior.”
Affangga hanya mengangguk lalu kembali memasang ekspresi seperti semula. Wajah pegawai baru itu mirip sekali dengan mantan tunangannya. Kenapa bisa ada kebetulan seperti itu? Tiga tahun meninggalkan segala kenangan pahit, kembali lagi malah berjumpa dengan gadis yang begitu mirip.
Setelah Affangga duduk, yang lain mengikuti.
“Assalamu’alaikum, selamat pagi menjelang siang rekan-rekan Puri Sasra. Kami memanggil tiba-tiba, karena ada pengumuman penting yang akan mengubah wajah perusahaan kita ke depannya. Seperti kita ketahui bersama, Pak Husein telah kembali ke Sasra Raharja Group dan hari ini, Dewan Direksi akan memperkenalkan pengganti beliau. Kepada Pak Affangga, kami persilakan,’’ jelas Pak Wirawan.
Audia merasa pandangan bos barunya kurang bersahabat saat menatap dirinya. Apa sikapnya tadi membuat sang bos marah?
***
“Di, dipanggil Pak Affa!’’ Nina menepuk bahu Audia.
Audia mengernyitkan dahi. Apa ada kesalahan yang ia lakukan sampai seorang pimpinan perusahaan memanggilnya?
“Kira-kira ada apa, ya, Nin?’’ tanya Audia. Apa mungkin gara-gara ia lupa memberi hormat saat perkenalan seminggu lalu?
Nina mengangkat bahu. “Tanyain proyek yang dipegang sama Bu Santi kali. Penggantinya, kan, belum ada, makanya tanya ke timnya,’’ jawab Santi menebak.
Audia baru saja menyelesaikan desain mal baru milik Puri Sasra di daerah Sawangan. Mal yang terintregrasi dengan apartemen yang telah dibangun sebelumnya. Gadis itu lalu bergegas menuju ruangan Affangga. Kenapa bukan arsitek senior yang dipanggil?
“Bapak ada?’’ Audia menyapa Bu Linda, sekretaris Pak Husein yang usianya menjelang kepala lima. Sekarang ia menjadi sekretaris Affangga.
Bu Linda mengangguk. “Masuk saja, Mbak,’’ jawabnya ramah.
Setelah mengetuk pintu, Audia melangkah perlahan. Baru kali ini ia masuk ke ruangan pimpinan tertinggi Puri Sasra. Biasanya yang dipanggil setidaknya sekelas jabatan Bu Santi.
“Maaf, Bapak memanggil saya?’’ sapa Audia hati-hati.
Affangga yang sedang serius dengan dokumen di mejanya terlonjak. Akibat melamun, ia sampai tak mendengar ada suara langkah kaki mendekat. “Kalau masuk ke ruangan saya, tolong ketuk pintu dan baru masuk setelah saya bilang masuk,’’ ujarnya untuk menutupi keterkejutannya.
“Sudah, kok, Pak. Saya ketuk tiga kali, salam juga, kok,’’ timpal Audia.
“Saya enggak dengar. Tolong kamu keluar dulu, lalu ulangi lagi seperti yang saya minta,’’ perintah Affangga.
What? Audia melongo.
“Jangan membuat saya mengulang kembali apa yang saya perintahkan.” Affangga berkata dingin.
Audia menghela napas lalu berkata. “Baik, Pak.”
Bu Linda mengernyitkan dahi saat melihat Audia keluar lalu membalikkan badan dan mengetuk pintu.
“Kenapa, Mbak?’’ Wanita yang mengenakan setelah abu-abu itu menatap heran.
“Replay, Bu,’’ jawab Audia sambil nyengir. Apa ada pimpinan yang seaneh Affangga? Ia yang melamun, kenapa stafnya yang disalahin.
“Masuk!’’ seru Affangga sesaat setelah mendengar suara salam dari Audia.
“Saya, Pak.” Audia melangkah perlahan lalu menyunggingnya senyum formal.
“Ketuk pintu tiga kali oke, salam oke, tapi tanpa ngobrol dengan sekretaris saya. Tolong ulang lagi!’’
Eitdah! Si bos satu ini!
Anda Mungkin Juga Suka





