
Bukan Wanita Kedua
Bab 2
Rina membuatkannya segelas the hangat dan juga memberikannya beberapa roti yang sama seperti yang tadi dia makan. Dengan gayanya yang cukup tomboi, Rina duduk sambil menaikkan sebelah kakinya tersebut, dan masih tetap mengunyah roti yang ia bawa.
“Makan lah, kamu bisa mati kelaparan kalau hanya menangisi pria brengsek itu,” ucap dari Rina.
Dengan tangan gemetar, Aulia mengambil roti tersebut. Entah karena lapar atau masih karena tidak bisa menerima kenyataan yang dirinya miliki ini, membuat tangan Aulia yang mencoba membuat roti masuk ke mulutnya terus geemtar. Bahkan air mata juga menimpali dirinya pada saat itu. Rasanya masih bingung dirinya harus tersenyum atau bagaimana dengan ini semua.
Rina mengubah posisi duduknya, lalu berpindah ke sebelah Aulia. Dia menepuk berkali-kali punggung Aulia dengan pelan dan sesekali mengelus memintanya untuk tenang.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan, sekarang kamu sudah bisa merasa aman di sini,” ucapnya.
Aulia menelan roti bersama dengan tangisannya tersebut. Tangannya menghapus air mata yang ada di pipinya dan mencoba untuk lebih tenang lagi.
“T- Tapi…, Rina, aku sangat mencintainya…, bagaimana mungkin aku bisa jauh dari Dimas?” ungkap dari Aulia.
“Astaga ya Tuhan,” Rina sudah tidak habis pikir lagi, “setelah kamu lihat bagaimana tingkahnya kamu masih bilang cinta?” ucap Rina.
Aulia menoleh ke arah Rina yang sudah kesal setengah mampus kepada Aulia ini, “K- Kamu tahu apa yang diperbuat oleh Dimas?” Aulia mencoba memastikan, karena tampaknya Rina berbicara seolah dia sudah tahu sekali dengan apa yang terjadi antara dirinya dan juga Dimas.
“Aku memang tak tahu secara jelas, tapi, yang pasti ini berkaitan dengan wanita, kan? Kamu pasti melihat di depan mata kepalamu sendiri kalau dia bersama wanita lain, makanya kamu bisa menangis seperti ini, kan?” terka dari Rina.
Tidak meleset sama sekali, meski tidak secara detail Rina tahu. Rasanya masih sesak sekali. Kenyataan ini terlalu pahit meski dirinya tahu dari mulut Dimas langsung. Ia masih tidak mengerti kenapa ini semua justru terjadi kepada dirinya ini. benar-benar tidak habis pikir.
“Dia…, Dia menikah dengan wanita lain..,” ucap Aulia.
Rina, yang mendengarnya sangat dan amat kaget sekali. Matanya yang sudah besar itu makin membesar seolah dia tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Dimas. Mulutnya bahkan ternganga karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aulia.
Dirinya masih mencobamengunyah roti yang dirinya bawa ini, dan sesekali menghapus air mata dan juga mencoba untuk menenangkan diri. Meski saat menelannya rasanya sakit sekali.
“Aku bahkan diminta untuk pergi dari rumah karena katanya dia mau tinggal di sana dengan wanita itu,” sambung Aulia dengan suara yang tersedu.
“ARGHHH,” Rina berteriak dengan sangat keras dan langsung bangun dari duduknya, “Brengsek! Dasar pria pengecut!” teriak dari Rina.
Aulia tahu bahwa Rina benar-benar kecewa dan juga marah sekaligus. Walau mereka sudah lama tidak bertemu, pastinya baginya ini adalah sebuah penghinaan yang sangat besar sekali, makanya dia bisa sangat dan amat marah sekali. Rina berbalik badan dan menuju ke arah dari Aulia.
“Kalian sudah berpisah? Sejak kapan kamu tahu?” introgasinya dengan sangat segera.
Dirinya segera menggelengkan kepala sambil menghapis air matanya, “Dimas baru mengatakannya dua hari yang lalu. Aku merasa tak bisa melepaskannya, aku benar-benar cinta padanya…, Rina,” balas Aulia.
Tentu saja ucapan dari Aulia membuat Rina makin kesal dan juga tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh dirinya. Kepalanya langsung ditoyor. “Bodoh, kamu sudah dimadu secara tidak langsung, dan kamu masih mencintainya? Pakai otakmu! Jangan pakai hatimu saja! Pria itu tidak puas denganmu dan mungkin dia tidak akan pernah puas soal wanita,” nasihat dari Rina.
“Tapi…”
“Tapa tapi tapa tapi, memang ya, cinta itu bikin orang yang dulu jadi juara kampus dan juga juara internasional bodoh sampai ke ubun-ubun?! Memang kamu tidak lihat apa saja kesempatan yang hilang semenjak bersamanya hah?! Kamu bahkan tidak bisa keluar rumah karena tidak menghasilkan uang!” sela Rina dengan galak.
Terdiam Aulia mendengarnya. Selama ini dirinya lebih sering dikurung bak binatang di dalam rumahnya. Hanya uang bulanan yang dirinya cukupkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan pribadi sembari memotong uang makannya sendiri. Aulia juga dilarang bekerja, atau bahkan hang out bersama Rina sekali pun.
‘Tapi itu pasti demi kebaikanku, kan? Dimas pasti tahu apa yang baik untukku dan juga dia melakukan itu bertujuan untuk melindungiku, kan?’ batinnya mencoba berpikir positif atas apa yang semua telah dilakukan oleh Dimas kepadanya.
Ya…, selama ini Dimas sudah sangat baik padanya, kenapa dirinya harus bertindak seolah Dimas adalah orang jahat? Bukannya harusnya dirinya merasa bersyukur karena Dimas selalu berada di sisinya?
“Bodoh kamu namanya tidak pernah curiga padanya. Seharusnya kamu berpikir dengan logikamu. Dia bisa punya wanita lain sampai dinikahi hari ini pasti karena dia tidak pernah menunjukkanmu sebagai sebagai seorang istrinya! Harusnya dari dulu kamu dengarkan aku, kalau dia hanya tidak suka ada yang lebih dari yang dia bisa.”
DEGGGHHHH. Pikiran Aulia yang tadinya termenung memikirkan betapa baiknya Dimas selama ini dan juga memikirkan arah positif kepada sang suami, mendadak saja membeku dalam pikirannya. Kalimat ketus tersebut seolah membawanya ke dalam masa lalu yang cukup cerah. Bahkan sangat cerah sampai banyak orang sudah iri kepadanya.
‘Hebat ya Aulia, nanti kerja bisa langsung di periusahaan besar.’
‘Dia kalau cari investor untuk usahanya juga pasti lancar.’
‘Aulia kalau susah juga ada saja yang akan membantu. Dia kan pintar mambuat pertemanan dengan orang-orang hebat.’
Bayang-bayang ucapan banyak orang yang selalu mengaguminya mendadak muncul di kepalanya. Air mata yang semula menunjukkan betapa terpukulnya Aulia langsung tiada sama sekali. Begitu pun sesak dadanya. Rasa sakit hatinya seolah sirna setelah sahabatnya berkata dengan cukup kasar kepadanya, menyadarkan Aulia akan kenyataan yang ada.
Apalagi, perkataan soal Dimas tersebut…., Ya.
“A.. apa katamu?” Aulia meminta diperjelas.
“Kamu tidak tahu? Dimas pasti sengaja mengurungmu selama 3 tahun tanpa membiarkanmu bekerja itu, pasti karena dia ingin membuat kamu jauh di bawahnya! Sehingga dia akan tetap dipandang sebagai orang hebat lainnya!” tegas Rina.
Seolah masih tidak bisa percaya dengan sepenuhnya, tapi akal sehatnya juga tidak bisa menolak sama sekali apa yang dikatakan oleh Rina. Selama ini Aulia tidak melakukan apa-apa, tentu saja ia jadi kekurangan pengalaman di bidang apa pun yang dirinya miliki.
Bodoh…, kenapa dirinya bisa baru menyadarinya sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja kalau tahu akan jadi seperti ini?
“Aku bodoh!”
“Ya! Kamu bodohhhhhhhhh sekali.”
Anda Mungkin Juga Suka





