
Bukan Wanita Kedua
Bab 3
Melihat wajah Rina yang sebenarnya sedang marah tersebut, justru membuat Aulia malah sedikit tertawa dan mau mengeluarkan seluruh rasa leganya. Hanya saja dirinya tahan dengan segera, karena tahu kalau temannya ini tidak suka ditertawakan saat serius.
“Tapi…, kalau kamu sudah disuruh keluar dari rumah, bukannya berarti kamu secara tidak langsung mau diceraikan?” tanya Rina.
Bayang-bayang ketakutan akan hal tersebut yang tadinya sangat mengganggu pikiran Aulia, sekarang sudah tidak terasa demikian. Dirinya akhirnya bisa tersenyum tipis dan tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh sang sahabat. Sekarang dia sudah bisa setidaknya menerka apa yang mungkin akan terjadi.
“Mungkin…, tampaknya Dimas lebih bahagia dengan pilihannya yang sekarang. Dia bahkan mengadakan pesta besar-besaran dan juga mengundang banyak tamu. Berbeda jauh saat hari pernikahanku,” jelas Aulia.
“Ya makanya! Coba saja kamu mendengarkanku dari dulu, mungkin sekarang kamu sudah jadi direktur perusahaan ternama. Atau mungkin saja sekarang kamu sedang berkeliling dunia!” gusar dari Rina yang benar-benar menyayangkan kesempatan Aulia.
Aulia tersenyum mendengar bagaimana pandangan Rina terhadap dirinya dengan mengandai-andaikan saja. Bahkan air matanya seolah kering setelah Rina secara tidak langsung mencoba meghiburnya. Rina yang melihatnya sudah bisa tersenyum pun kini menurunkan emosinya sendiri.
Dia mendekat ke arah dirinya kembali, duduk dan kembali memakan roti yang masih tersisa di atas piringnya tersebut. Badannya yang sangat kecil tersebut dilempar ke atas sofa dengan sangat ringan sekali.
“Lalu? Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kalau kamu sampai mau datang ke rumah si Dimas atau keluarganya lagi, jangan muncul di depanku. Aku sudah muak memberitahumu yang buta dan tuli akan cinta si brengsek itu,” ketus dari Rina.
Meski pikirannya belum sepenuhnya terima dengan apa yang dikatakan oleh Rina, tapi ada benarnya juga. Sekarang, yang bisa dirinya datangi untuk menampung dirinya hanya lah Rina seorang. Dirinya ini yatim piatu, siapa lagi yang bisa dimintai tolong, kan?
Diam sejenak Aulia setelah mendengar kalimat dari Rina. Ada banyak pikiran dan juga sebenarnya tidak terlalu banyak pilihan yang bisa ia ambil. Dan ia mencoba, untuk mengutarakan isi pikiran kecilnya dulu.
“Sekarang, aku harus survive untuk hidupku dulu. Dari dulu Dimas hanya memberikan uang dapur dengan cash semata, sekarang aku tidak punya uang sama sekali. Dan aku yakin, Dimas tidak akan memberikan uang padaku,” jelas Aulia.
“Jadi, sekarang uang yang paling kamu butuhkan?” tanya Rina.
Aulia mengangguk. Demi keberlangsungan hidupnya yang dulu bergantung kepada Dimas, dan sekarang dipaksa keluar, membuatnya tidak memiliki bekal meski hanya sedikit pun. Mau meminjam ke bank saja dirinya tidak punya aset yang bisa dipakai sebagai jaminan.
Namun, ada satu kendala yang membuat dirinya sedikit ragu akan pilihan ini.
“Tapi, perusahaan mana yang mau memperkerjakan orang yang bahkan sejak lulus tidak pernah bekerja sama sekali? Terhitung lagi sudah cukup lama sekali dari waktu magang dulu,” ucap dari Aulia.
Rina mulai menyeringai mendengar ucapan dari Aulia. Dia menepuk punggung Aulia dan sesekali memberikan tawa kecil seolah sudah tahu apa yang direncanakan. Matanya melirik ke arah dirinya, dan melihat dengan sangat senang.
“Tenang, aku tahu ada perusahaan yang bisa menerimamu. Tapi, kamu harus ikut dulu denganku besok,” jawab Rina.
Bingung pastinya Aulia mendengarnya. Namun, tak menolak sama sekali, dirinya menerima tawaran karena Rina mengatakan dia tahu ada perusahaan yang bisa menerimanya ini.
Esok harinya. Aulia tidak menduga sama sekali kalau Rina berpikiran untuk mengajaknya ke sini. Ya, Mall. Sudah lebih dari 2 tahun dirinya datang kemari. Terakhir waktu Dimas yang mengajak karena katanya permintaan dari mama. Dan sekarang, sekali lagi dirinya datang kemari.
Mata Aulia tidak bisa melepaskan pandangan dari seluruh pakaian yang ada. Entah kapan terakhir ia sempat membelikan baju untuk dirinya sendiri. Hingga mereka berdua berhenti si store yang menjual berbagai pakaian untuk kerja.
“K- kenapa kita ke sini?” tanya Aulia.
“Katanya mau kerja. Memang kamu mau bekerja dengan pakaian bagaimana kalau bukan pakaian kantor? Kamu mau pakai daster?” balik tanya Rina yang kesal dengan pertanyaan Aulia.
“Tapi, aku tak punya uang.”
“Sudah, tenang saja, sekarang aku yang akan membayarnya dahulu. Cepat…, pilih,” ajak dari Rina yang sangat senang.
“Tidak, aku akan membeli-“
“Hei. Terserah kamu mau menerima ini sebagai hadiah atau mau kamu anggap hutang sekali pun aku tidak peduli. Sekarang, pilih saja, nanti biar aku yang urus pembayarannya,” ucap dari Rina segera menyela.
Tampak sangat senang sekali Rina memilih beberapa kemeja putih dan biru muda yang dicocokkan kepadanya. Rina juga memilihkan rok yang pantas untuk bisa dipakai untuk dirinya bisa melamar pekerjaan pastinya. Rasanya tidak enak sekali kepada Rina. Sahabatnya yang sangat tulus ini pernah ia abaikan begitu saja.
Ketika sedang melihat-lihat rok yang cocok untuknya, tak sengaja Aulia melihat dengan mata kepalanya sendiri, mama, mama Dimas berada di mall yang sama. Tanpa memikirkan dahulu dengan akal sehatnya, Aulia spontan bergerak dan mencoba menghampiri mama.
“Mama…,” ucapnya pelan. “Mama.” Sekarang dirinya langsung melangkah menuju ke arah sang mama.
“H- Hei, Aulia!” panggil Rina yang kaget akan pergerakan dari Aulia yang secara tiba-tiba sekali.
Langkah Aulia melesat dengan sangat cepat, dan ia tidak memikirkan kondisi sekitar saat hendak menghampiri sang mama tersebut. Di depan matanya, ia melihat bahwa mama datang bersama dengan adik ipar dan sedang memilih baju di depan sana.
Matanya terasa gelap kembali, karena Aulia mendatangi tanpa melihat ke sekitar dan juga seperti tergerak oleh hatinya untuk menanyakan perihal pilihan Dimas tersebut.
“Mama,” panggil Aulia sembari berada di dekatnya.
Mama menoleh beserta dengan adik iparnya. Tak jauh dari sana, muncul sesosok psangan dari belakang rak baju menuju ke samping mama. Jantung Aulia berdegup kencang, dan bahkan seluruh badannya terasa kehilangan keseimbangan saat melihat orang tersebut.
Muncul Melia dan juga Dimas yang sedang berpegangan tangan. Bola mata Aulia gemetar melihat pasangan tersebut muncul dari sana. Dia tidak tahu kalau ternyata mereka berdua juga ikut.
“Apa? Mama?? Kamu punya saudara lagi sayang?” tanya wanita bernama Melia, sambil melihat ke arah Dimas.
Dimas sempat memberikan kode kesal akan Aulia yang muncul, dan membuatnya langsung membuang muka dengan seketika. Benar-benar di luar dugaan sekali, kan? Dimas secara tidak langsung menunjukkan ekspresi marah, namun langsung berubah saat Melia bertanya.
“Ohh, bukan sayang, dia ini sepupu jauhku. Kebetulan dekat dengan mama, makanya dia memanggil mama dengan sebutan mama, bukan bibi,” jawab dari Dimas.
Itu membuat dirinya makin sakit ketika mendengar langsung dari suaminya.
Anda Mungkin Juga Suka





