
Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
Bab 2
Malam itu, Adara duduk di sisi ranjang Garen, memandangi suaminya yang terbaring tak berdaya. Detik jam dinding terasa seperti pukulan palu di kepalanya. Setiap desahan napas Garen yang tertahan adalah pengingat akan kerapuhan hidup dan urgensi situasi. Dokter telah menjelaskan berulang kali mengenai kondisi kritis Garen dan biaya pengobatan yang membengkak, angka yang terasa seperti tembok raksasa yang tak mungkin ia daki sendirian.
Ponselnya bergetar di genggamannya. Sebuah nomor tak dikenal. Adara tahu, ini Rian Kusuma. Tangan Adara bergetar saat ia menekan tombol jawab.
"Halo?" suaranya nyaris berbisik.
"Nyonya Wijaya? Ini Rian. Saya berasumsi Anda sudah mempertimbangkan tawaran saya," suara Rian terdengar tenang, tanpa emosi, seolah sedang membahas transaksi bisnis biasa.
"Tuan Rian, saya..." Adara memulai, mencari kata-kata yang tepat. "Saya tidak tahu harus berkata apa. Bantuan Anda sangat berarti, tapi..."
"Tidak ada 'tapi', Nyonya Wijaya," Rian memotong dengan tegas. "Saya tidak suka membuang waktu. Saya sudah mengatur pertemuan di restoran 'The Summit' pukul delapan malam ini. Meja reservasi atas nama saya. Sendirian."
Adara terkesiap. Sendirian? Ia ingin menolak, berteriak bahwa ia tidak bisa meninggalkan Garen, tidak bisa pergi menemui pria asing di tengah malam. Namun, bayangan Garen yang terbaring tak bergerak kembali menghantuinya. Ini satu-satunya harapan.
"Baik," Adara akhirnya menjawab, suaranya tercekat. "Saya akan datang."
Sambungan telepon terputus. Adara menatap ponselnya, merasa seperti boneka yang digerakkan oleh benang takdir. Ia kembali menatap Garen, mengusap pipi suaminya yang dingin. "Maafkan aku, Mas," bisiknya, air mata kembali mengalir. "Aku akan menyelamatkanmu. Apapun yang terjadi."
Ia bergegas pulang untuk berganti pakaian. Ia memilih gaun sederhana berwarna gelap, mencoba terlihat seprofesional mungkin, namun hatinya terasa berat, dipenuhi kecemasan dan ketakutan akan apa yang menunggunya.
Restoran 'The Summit' benar-benar berada di puncak salah satu gedung pencakar langit, menawarkan pemandangan malam kota yang gemerlap. Adara merasa kecil dan tidak nyaman di tengah kemewahan yang asing itu. Ia melangkah ragu-ragu menuju meja yang ditunjukkan oleh pelayan, di sudut ruangan dengan pemandangan terbaik.
Rian Kusuma sudah menunggu. Ia duduk tegak, dengan setelan jas mahal yang pas di tubuhnya yang atletis. Wajahnya yang tampan terlihat dingin di bawah cahaya temaram, matanya yang tajam menatap Adara saat ia mendekat. Ia tidak tersenyum.
"Nyonya Wijaya," Rian menyapa, tanpa beranjak dari kursinya. "Silakan duduk."
Adara duduk di hadapan Rian, merasakan aura dominan pria itu. Ruangan itu terasa hening, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu dari meja lain yang jauh.
"Terima kasih sudah datang," kata Rian, menuangkan air ke gelas Adara. "Langsung saja. Saya tidak suka berbasa-basi."
Adara mengangguk, tangannya sedikit gemetar saat meraih gelas.
"Saya sudah berbicara dengan tim medis. Kondisi suami Anda memang kritis, dan pengobatan yang dibutuhkan sangat mahal, juga kompleks," Rian menjelaskan. "Saya sudah mengeluarkan perintah untuk mentransfer sejumlah dana ke rekening rumah sakit atas nama suami Anda. Semua biaya akan saya tanggung."
Hati Adara mencelos. Jumlah yang fantastis itu, kini sudah dibayarkan. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa, namun juga ketakutan. Jika Rian sudah bertindak sejauh ini, apa yang akan ia minta sebagai imbalan?
"Tu-tuan Rian, saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih," Adara berkata, suaranya tercekat. "Tapi... Anda bilang ada hal lain yang ingin Anda bicarakan. Syarat apa yang Anda inginkan?"
Rian menatap Adara intens, tatapannya seolah menelanjangi jiwanya. Adara merasa tidak nyaman, namun ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Saya ingin Anda menjadi istri saya."
Kata-kata itu menghantam Adara seperti sambaran petir. Ia terkesiap, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "A-apa? Apa maksud Anda? Saya... saya sudah bersuami! Saya mencintai suami saya!"
Rian tetap tenang, tidak sedikit pun tergoyahkan oleh reaksi Adara. "Saya tahu Anda bersuami, Nyonya Wijaya. Dan saya juga tahu Anda mencintai suami Anda. Tapi Anda berada dalam posisi di mana Anda tidak punya pilihan lain."
Ia mengeluarkan selembar dokumen dari tas kulitnya dan meletakkannya di atas meja. Sebuah perjanjian pranikah dan beberapa surat lainnya.
"Ini adalah kontrak pernikahan," Rian menjelaskan. "Anda akan menjadi istri kedua saya. Anda akan tinggal di salah satu properti saya. Status Anda akan terjamin, dan semua kebutuhan Anda dan suami Anda akan terpenuhi. Tentu saja, termasuk biaya pengobatan Garen seumur hidupnya."
Adara menatap dokumen itu, lalu kembali menatap Rian. Pria ini gila. Atau dia iblis. Ini adalah sebuah lelucon, bukan?
"Anda tidak bisa melakukan ini! Ini tidak masuk akal!" Adara berteriak, suaranya sedikit meninggi. "Saya tidak akan pernah menikahi Anda! Saya tidak akan mengkhianati suami saya!"
Rian menyilangkan tangannya di dada, tatapannya semakin dingin. "Anda bisa menolak, Nyonya Wijaya. Tidak ada yang memaksa. Tapi jika Anda menolak, saya akan menarik semua bantuan finansial saya. Dan suami Anda..." Ia berhenti sejenak, membiarkan ancaman itu menggantung di udara. "Maka Garen Wijaya tidak akan mendapatkan pengobatan yang layak. Anda tahu apa artinya itu."
Ancaman itu menghantam Adara. Garen. Nyawa Garen. Paralisis seumur hidup. Atau yang lebih buruk. Ketakutan itu mencengkeramnya begitu kuat hingga ia hampir tidak bisa bernapas.
"Ini... ini pemerasan!" Adara membantah, air mata mulai menggenang di matanya.
"Anggap saja itu sebagai harga dari bantuan saya," Rian berkata acuh tak acuh. "Saya tidak melakukan amal, Nyonya Wijaya. Saya melakukan investasi. Dan investasi ini, saya menginginkan Anda sebagai imbalannya."
Adara merasa jijik. Ia benci Rian. Ia benci dirinya sendiri karena terjebak dalam situasi mengerikan ini. Ia harus memilih antara cintanya pada Garen dan nyawa Garen.
"Mengapa saya? Kenapa harus saya?!" Adara bertanya, suaranya frustrasi. "Anda bisa mendapatkan wanita mana pun yang Anda inginkan dengan kekayaan Anda!"
Rian tersenyum tipis, senyum pertama yang ia tunjukkan malam itu, namun senyum itu sama sekali tidak menghibur. Itu adalah senyum predator. "Anda menarik, Nyonya Wijaya. Anda memiliki sesuatu yang tidak dimiliki wanita lain yang pernah saya temui. Dan saya terbiasa mendapatkan apa yang saya inginkan. Lagipula, Anda tidak perlu khawatir. Pernikahan ini hanya formalitas. Saya tidak akan meminta apa pun dari Anda selain keberadaan Anda sebagai istri saya. Anda akan memiliki hidup yang nyaman, dan suami Anda akan mendapatkan perawatan terbaik."
Pernikahan hanya formalitas? Adara tahu itu bohong. Tidak ada pernikahan yang hanya sebuah formalitas, terutama jika itu dilakukan dengan pria seperti Rian.
Air mata Adara akhirnya pecah. Ia terisak pelan, bahunya bergetar. Hati kecilnya menjerit. Ia tidak ingin melakukan ini. Ia tidak bisa melakukannya. Tapi bagaimana dengan Garen? Bagaimana dengan suaminya yang terbaring tak berdaya, bergantung padanya?
Ia menatap Rian, mata penuh kebencian dan keputusasaan. "Anda... Anda benar-benar tidak punya hati nurani."
Rian mengangkat bahu. "Saya hanya seorang pengusaha, Nyonya Wijaya. Saya tahu bagaimana cara mendapatkan apa yang saya mau. Pikirkan baik-baik. Suami Anda tidak punya banyak waktu. Saya butuh jawaban Anda sebelum tengah malam."
Rian bangkit dari kursinya. "Saya akan menunggu jawaban Anda di sini. Atau Anda bisa menelepon saya." Ia meletakkan kartu namanya di samping dokumen kontrak. "Pikirkan baik-baik masa depan suami Anda."
Rian berbalik dan pergi, meninggalkan Adara sendirian di meja mewah itu, dikelilingi oleh penderitaan dan pilihan yang mengerikan.
Adara kembali ke rumah sakit, hatinya terasa kosong. Ia duduk di samping Garen, menggenggam tangan suaminya yang masih terpasang infus. Ia menatap wajah damai Garen yang terlelap, dan air matanya kembali mengalir.
"Mas... apa yang harus aku lakukan?" bisiknya. "Aku tidak bisa kehilanganmu. Tapi aku juga tidak bisa mengkhianatimu."
Ia teringat janji pernikahan mereka, sumpah suci di hadapan Tuhan. Janji untuk setia, dalam suka dan duka. Sekarang, ia dihadapkan pada pilihan untuk melanggar janji itu demi menyelamatkan Garen. Apakah ini takdir? Takdir yang begitu kejam?
Waktu terus berjalan. Jarum jam berdetak menuju tengah malam. Adara mencoba mencari solusi lain, menghubungi setiap kenalan yang ia punya, memohon bantuan. Namun, tak ada satu pun yang bisa menolongnya dengan jumlah uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat ini. Mereka hanya bisa memberikan kata-kata semangat, yang tidak bisa menyembuhkan Garen.
Bayangan wajah Rian, tatapan dinginnya, dan senyum predatornya terus menghantuinya. Rian benar. Ia tidak punya pilihan.
Pukul sebelas malam, Adara meraih ponselnya. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak ingin menelepon nomor itu, namun ia harus. Demi Garen.
Ia menekan nomor Rian. Panggilan itu langsung terjawab.
"Nyonya Wijaya? Saya menunggu jawaban Anda." Suara Rian terduma tenang, seolah ia sudah tahu apa yang akan Adara katakan.
"Saya... saya menerimanya," Adara berbisik, suaranya pecah. "Saya akan menikahi Anda."
Ada keheningan sesaat di ujung telepon. Lalu, Rian berkata, "Pilihan yang bijak. Pengacara saya akan mengurus semua dokumen. Besok pagi, Anda akan menikah dengan saya secara hukum. Setelah itu, suami Anda akan dipindahkan ke rumah sakit swasta terbaik, dan saya akan memastikan dia mendapat perawatan kelas satu."
Adara merasakan jiwanya tercabik-cabik. "Tapi... saya minta satu syarat," kata Adara, suaranya mencoba terdengar tegas, meskipun ia tahu ia tidak punya kekuatan untuk mengajukan syarat. "Pernikahan ini tidak boleh diketahui siapa pun. Terutama suami saya. Dia tidak boleh tahu."
Rian tertawa pelan, sebuah tawa tanpa kehangatan. "Baiklah. Sebuah pernikahan rahasia. Saya tidak keberatan. Tapi ingat, Nyonya Wijaya, Anda sekarang adalah milik saya. Jangan coba-coba melarikan diri."
Sambungan telepon terputus. Adara menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia telah menjual jiwanya. Ia telah mengkhianati cinta sucinya demi nyawa suaminya. Ia telah menjadi istri bagi pria yang ia benci, demi pria yang ia cintai.
Ia menatap Garen, air mata membanjiri wajahnya. "Maafkan aku, Mas," bisiknya lagi, meremas tangan Garen. "Ini demi dirimu. Aku janji, aku akan menemukan cara untuk kembali padamu."
Sementara itu, di penthouse mewahnya, Rian Kusuma tersenyum puas. Ia berhasil. Wanita anggun itu, yang telah menarik perhatiannya sejak pertama kali melihatnya di sebuah acara seni, kini akan menjadi miliknya. Ia suka tantangan, dan Adara adalah tantangan terbesar yang pernah ia hadapi.
Ia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Kirana.
"Halo, sayang?" suara Kirana terdengar ceria. "Sudah pulang?"
"Sudah, Kirana," Rian menjawab, nada suaranya lembut, tanpa sedikit pun bayangan dari percakapan yang baru saja ia lakukan dengan Adara. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Bang. Abang baik-baik saja, kan? Proyeknya sudah beres?"
"Sudah beres. Ada sedikit kendala, tapi sudah kuatasi," Rian berkata, pandangannya menerawang ke arah kota. "Sekarang, aku bisa lebih fokus padamu. Bagaimana kalau besok kita mulai mencari rumah di desa impianmu?"
Kirana bersorak gembira di ujung telepon. "Benarkah, Bang Rian?! Aku senang sekali!"
Rian tersenyum. Ia punya rencana besar. Rencana yang akan melibatkan Adara dan Kirana, dua wanita yang kini menjadi bagian dari hidupnya. Ia tahu Kirana adalah wanita lugu yang akan percaya padanya. Dan Adara, wanita yang terpaksa menikahinya, akan berada di bawah kendalinya.
Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Sebuah investasi yang sempurna, dalam pandangannya. Namun ia tidak tahu, bahwa takdir memiliki rencana lain. Rencana yang jauh lebih rumit dan menyakitkan dari yang bisa ia bayangkan. Sebuah jerat takdir yang akan melibatkan mereka semua dalam pusaran rahasia, pengorbanan, dan kebohongan.
Anda Mungkin Juga Suka





