
Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
Bab 3
Mentari pagi di Jakarta menyinari sebuah babak baru dalam hidup Adara. Tidak ada lagi kehangatan pelukan Garen, hanya kekosongan yang menyesakkan di ranjang. Ia telah menghabiskan malam tanpa tidur di rumah sakit, menyaksikan jarum jam berputar, menghitung detik-detik sebelum hidupnya berubah drastis. Sebuah perjanjian tersembunyi kini mengikatnya pada Rian Kusuma, dan jiwanya terasa terbelah.
Pukul delapan pagi, seorang pengacara datang ke rumah sakit, membawa tumpukan dokumen. Wajahnya ramah, namun tatapannya profesional dan tanpa emosi. "Nyonya Adara Paramitha? Saya Dion, pengacara Tuan Rian Kusuma."
Adara mengangguk kaku. Ia duduk di ruang tunggu rumah sakit, jantungnya berdebar kencang. Ia hanya ingin ini semua cepat selesai.
"Dokumen ini adalah perjanjian pernikahan Anda dengan Tuan Rian Kusuma," jelas Dion, meletakkan berkas di meja. "Dan ini adalah surat kuasa untuk pemindahan Tuan Garen Wijaya ke rumah sakit lain."
Adara membaca sekilas dokumen pernikahan itu. Semua klausulnya mengikat, tegas, dan dingin. Ia akan menjadi istri kedua Rian, dengan segala hak dan kewajiban yang telah ditentukan. Sebuah pernikahan yang hanya di atas kertas, sebuah transaksi tanpa cinta. Air mata nyaris kembali menggenang di matanya, namun ia menahannya. Ia harus kuat. Demi Garen.
Dengan tangan gemetar, Adara membubuhkan tanda tangannya di setiap lembar yang ditunjuk Dion. Setiap goresan pena terasa seperti goresan di hatinya. Setelah selesai, Dion menyerahkan salinan kepadanya.
"Selamat, Nyonya Kusuma," kata Dion datar, tanpa ekspresi. "Sekarang, izinkan saya mengurus pemindahan Tuan Garen."
Adara hanya bisa mengangguk. Beberapa saat kemudian, Garen dipindahkan dari UGD ke ambulans mewah yang sudah menunggu. Ambulans itu akan membawanya ke rumah sakit swasta terbaik di Jakarta, sebuah tempat yang jauh lebih canggih dan mahal. Adara naik bersamanya, matanya tak lepas dari wajah Garen. Ia tahu, inilah harga yang harus ia bayar.
Rumah sakit baru itu jauh berbeda. Bangunannya megah, interiornya mewah, dan setiap perawat serta dokter tampak sangat profesional. Garen langsung dibawa ke ruang operasi khusus yang sudah disiapkan. Adara menunggu di luar, didampingi Dion yang sesekali menjelaskan prosesnya.
"Operasi ini akan memakan waktu lama, Nyonya Kusuma," kata Dion. "Tuan Rian sudah memesan suite pribadi untuk Anda di rumah sakit ini, untuk sementara. Setelah kondisi Tuan Garen stabil, Anda akan tinggal di salah satu properti Tuan Rian."
Adara tidak menjawab. Ia hanya ingin operasi ini berjalan lancar. Ia ingin Garen selamat.
Berjam-jam berlalu dalam ketegangan. Akhirnya, dokter keluar dari ruang operasi, wajahnya terlihat lelah namun ada senyum tipis.
"Operasinya berhasil, Nyonya Kusuma," kata dokter. "Tuan Garen sudah melewati masa kritis. Pendarahan di otaknya sudah teratasi, dan tulang-tulang yang patah sudah kami pasang pen. Kondisinya kini stabil, namun ia masih akan dalam kondisi koma untuk beberapa waktu."
Adara merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia nyaris tumbang. "Syukurlah... syukurlah..."
"Untuk cedera sumsum tulang belakangnya, kita harus melihat perkembangannya setelah ini," tambah dokter. "Ada kemungkinan ia masih akan membutuhkan terapi jangka panjang, dan ada risiko kelumpuhan. Tapi setidaknya, nyawanya sudah tertolong."
Nyawa Garen tertolong. Itu yang terpenting. Adara kini tahu, ia harus memenuhi bagian dari perjanjian itu.
Beberapa hari kemudian, Garen dipindahkan ke ruang perawatan intensif dengan peralatan canggih. Kondisinya stabil, meskipun ia masih terbaring tak sadarkan diri. Adara selalu ada di sisinya, membisikkan kata-kata cinta, memegang tangannya, berharap Garen akan merasakan kehadirannya.
Di sore hari, Rian Kusuma datang mengunjungi. Ia masuk ke ruangan Garen, di mana Adara duduk di samping ranjang suaminya. Rian terlihat sangat berkuasa dengan setelan jas mahalnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rian datar, tatapannya menyapu Garen, lalu beralih ke Adara.
"Stabil, Dokter bilang operasinya berhasil," jawab Adara, suaranya dingin. Ia tidak ingin melihat Rian, namun ia terpaksa.
Rian mengangguk. "Bagus. Saya sudah mengatakan pada Anda, saya akan memastikan dia mendapat yang terbaik." Ia kemudian menatap Adara dengan tajam. "Sekarang, giliran Anda memenuhi janji Anda. Saya sudah menyiapkan kediaman baru Anda."
Hati Adara mencelos. Saatnya telah tiba.
"Saya ingin memastikan suami saya mendapat perawatan terbaik, Nyonya Kusuma. Dan Anda akan menjalankan peran Anda sebagai istri saya. Ingat, pernikahan ini rahasia. Tidak ada yang boleh tahu." Rian mengingatkan dengan suara penuh ancaman.
Adara hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak punya pilihan lain.
Malam itu, Adara pindah ke rumah baru yang telah disiapkan Rian. Sebuah rumah mewah bergaya modern minimalis, terletak di kawasan elite Jakarta. Rumah itu besar, megah, dan terasa dingin. Tidak ada kehangatan yang ia rasakan di apartemen kecilnya bersama Garen. Di sini, ia hanyalah bagian dari properti Rian.
Rian tidak tinggal di sana. Ia tinggal di penthouse-nya sendiri bersama Kirana. Rumah ini murni disiapkan untuk Adara, sebagai tempat ia tinggal sebagai 'istri kedua' yang rahasia.
Hidup Adara berubah total. Setiap pagi, ia akan bangun, mandi, dan berganti pakaian yang sudah disiapkan oleh asisten pribadi yang ditugaskan Rian kepadanya. Asisten itu, seorang wanita paruh baya bernama Bu Ida, sangat profesional namun juga menjaga jarak. Semua kebutuhannya terpenuhi, kartu kredit tanpa batas diberikan kepadanya, namun ia merasa seperti burung dalam sangkar emas.
Setiap hari, ia akan pergi ke rumah sakit, menghabiskan waktu berjam-jam di sisi Garen. Ia akan membacakan buku, memijat kakinya, berbicara tentang kenangan indah mereka. Ia akan menangis dalam diam, berharap Garen akan terbangun dan semua mimpi buruk ini akan berakhir.
Rian sesekali datang mengunjunginya, bukan karena cinta atau perhatian, melainkan untuk memastikan Adara mematuhi perjanjian. Ia akan datang ke rumah sakit, memeriksa kondisi Garen, berbicara singkat dengan dokter, lalu melirik Adara dengan tatapan pemilik.
"Anda sudah makan?" Rian akan bertanya, nada suaranya tanpa emosi.
"Sudah," Adara akan menjawab singkat.
"Ada keluhan tentang perawatan suami Anda?"
"Tidak."
Pertemuan mereka selalu formal dan kaku. Tidak ada sentuhan, tidak ada kehangatan. Adara merasa seperti robot, menjalani hidupnya tanpa jiwa. Ia selalu mengenakan cincin pernikahannya dengan Garen di jari manis kirinya, sebuah pengingat akan cintanya yang tak pernah pudar, meskipun ia kini terikat pada pria lain.
Sementara itu, di penthouse Rian, kehidupan Kirana terus berjalan dalam balutan kebahagiaan yang semu. Rian semakin sering mengajaknya mencari rumah di pedesaan, membahas detail pernikahan impian mereka. Kirana sangat bahagia. Ia tidak tahu apa pun tentang sisi gelap kehidupan Rian, tentang pernikahan rahasianya dengan Adara, atau tentang Garen yang terbaring koma di rumah sakit mewah.
Kirana melihat Rian sebagai pahlawan, pria yang telah menyelamatkannya dari kehidupan sederhana di desa, pria yang akan memberinya masa depan yang cerah. Ia mencintai Rian dengan tulus, dengan kepolosan yang naif.
Suatu siang, Kirana sedang membaca majalah arsitektur di penthouse Rian. Sebuah artikel tentang proyek Menara Kencana menarik perhatiannya. Ia melihat foto arsitek utamanya, seorang pria muda yang tampak familiar.
"Bang Rian, bukankah ini arsitek yang abang sebutkan bermasalah waktu itu?" tanya Kirana polos. "Yang kata abang keras kepala itu?"
Rian yang sedang menyeruput kopi, mengangkat pandangannya. Ia melihat foto Garen Wijaya di majalah itu. Ekspresinya sedikit berubah, namun dengan cepat ia menyembunyikannya.
"Ah, ya," Rian berkata acuh tak acuh. "Dia memang sedikit bermasalah. Ada kecelakaan kecil di lokasi proyek, dan dia salah satu korbannya. Tapi semuanya sudah beres sekarang."
"Kecelakaan? Oh, kasihan sekali," Kirana berkomentar. "Semoga dia baik-baik saja."
Rian hanya mengangguk, kembali pada korannya. Ia tidak akan membiarkan Kirana tahu apa pun tentang Garen atau Adara. Dunia itu, dunia yang kotor dan penuh rahasia, harus tetap terpisah dari Kirana, bunga lugunya.
Minggu-minggu berubah menjadi bulan. Garen masih belum sadarkan diri, meskipun kondisinya stabil. Adara tetap setia di sisinya, berharap pada sebuah keajaiban. Ia telah kehilangan semua berat badannya, wajahnya terlihat pucat, namun matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
Rian terus memenuhi janjinya. Biaya rumah sakit selalu terbayar lunas. Terapi fisik dan perawatan terbaik diberikan untuk Garen. Namun, setiap kali Rian datang, Adara merasakan jiwanya menciut. Ia adalah istrinya, namun tanpa cinta, tanpa ikatan. Hanya sebuah transaksi.
Suatu hari, saat Rian datang berkunjung, ia membawa sebuah dokumen lain.
"Anda sudah tinggal di rumah itu selama beberapa bulan, Nyonya Kusuma," kata Rian, sambil berdiri di samping ranjang Garen. "Sekarang, saya ingin Anda sesekali datang ke penthouse saya. Sebagai istri saya, Anda juga harus terlihat di sana, sesekali."
Adara terkesiap. Datang ke penthouse Rian? Itu berarti ia akan bertemu Kirana. Ia tidak siap untuk itu. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam kebohongan ini.
"Tidak bisa," Adara menolak tegas. "Saya tidak ingin bertemu siapa pun. Saya hanya ingin di sini, di samping suami saya."
Rian menatapnya dingin. "Anda tidak punya pilihan, Nyonya Kusuma. Anda sudah menandatangani kontrak. Anda adalah istri saya. Dan ada hal-hal tertentu yang harus Anda penuhi. Ini bukan permintaan, ini perintah."
"Tapi... ada Kirana di sana," Adara mencoba membantah. "Dia tidak tahu apa-apa."
"Dan dia tidak perlu tahu," Rian memotong. "Anda akan datang sebagai rekan bisnis saya, atau teman lama. Saya akan mengurusnya. Anda hanya perlu tampil, bersikap ramah, dan kemudian Anda bisa kembali ke sini. Itu hanya sesekali. Jangan buat ini menjadi sulit."
Ancaman itu jelas. Jika ia menolak, nasib Garen akan dipertaruhkan. Adara menghela napas pasrah. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan.
"Baiklah," Adara berkata, suaranya nyaris tak terdengar. "Tapi hanya sesekali."
Rian tersenyum puas. Ia menyukai kepatuhan Adara. Ia menyukai tantangan yang perlahan-lahan ia menangkan.
"Bagus," kata Rian. "Saya akan memberi tahu Anda jadwalnya. Dan pastikan Anda terlihat segar. Anda sekarang adalah istri saya. Anda harus menjaga penampilan."
Rian meninggalkan ruangan, meninggalkan Adara sendirian lagi. Adara menatap pantulan dirinya di jendela. Wanita yang dulu penuh semangat, penari balet yang anggun, kini hanyalah bayangan dirinya. Ia merasa kotor, tercemar oleh rahasia dan kebohongan yang harus ia jalani.
Ia kembali menggenggam tangan Garen, air mata menetes membasahi punggung tangan suaminya. "Maafkan aku, Mas," bisiknya. "Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Tapi aku akan terus bertahan demi dirimu."
Adara tahu, setiap langkah yang ia ambil, setiap keputusan yang ia buat, kini didikte oleh Rian Kusuma. Ia terperangkap dalam jerat takdir yang kejam, sebuah rahasia yang tersembunyi dari dunia, yang mengancam untuk menghancurkan semua yang tersisa dari dirinya. Ia hanya bisa berharap, suatu hari nanti, keajaiban akan terjadi, dan ia bisa kembali ke kehidupan yang ia impikan bersama Garen. Namun, harapan itu terasa sangat jauh, terkubur di bawah tumpukan kebohongan dan keputusasaan.
Anda Mungkin Juga Suka





