Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Salesman Biasa

Bukan Salesman Biasa

Hidup Ardhan Aji Pradiptio berubah total setelah menolong kakek misterius dan menerima benda ajaib sebagai imbalan. Sebelumnya, ia selalu dirundung malang, mulai dari karier yang mandek, hinaan atasan, hingga batalnya pernikahan. Kini, ia memiliki kemampuan unik untuk melihat kadar kebaikan atau kejahatan seseorang melalui matanya. Namun, sebuah pertemuan dengan pria bermata ganjil membuatnya bimbang. Mampukah Ardhan mengungkap identitas sosok misterius tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Ingin apa, Pak?”

"Klien kita ternyata ingin bertemu sekarang juga," ujar Pak Bobby kepada Ardhan dengan panik. "Ini berkas yang harus kamu pelajari."

Ardhan memundurkan langkahnya, ia tak menduga jika harus menunaikan tugasnya secepat ini. Bahkan ia belum tahu apa yang harus disampaikan mengenai kerjasama perusahaan mereka.

"Pelajarilah secepat mungkin," imbuh lelaki itu seraya menyerahkan setumpuk berkas. Ardhan terdiam sembari menatap berkas-berkas itu. Otaknya sedang mencari cara bagaimana bisa mempelajari berkas sebanyak itu dalam waktu yang singkat. "Tunggu apalagi Ardhan? Cepat pergi dengan mobil kantor. Kamu pelajari berkas itu di mobil.”

"Ba –baik Pak.”

Ardhan bergegas menuju lift, tangan kekarnya menekan tombol dengan tak sabaran. Begitu pintu terbuka, kaki panjangnya segera masuk ke dalam. Dalam hitungan detik, ia sudah tiba di lobby perusahaannya. Ternyata supir kantor sudah menunggunya, mereka pun berangkat menuju tempat tujuan.

Selama perjalanan Ardhan fokus pada kertas yang ada di tangannya. Banyak hal yang harus ia ingat dan disampaikan di hadapan para klien nanti. Lelaki itu berharap, dirinya bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Satu jam perjalanan sudah terlewat, akhirnya Ardhan sampai di tempat yang sudah disepakati oleh klien mereka. Ardhan masih memakai kacamatanya karena ia ingin tahu apa warna bola mata orang yang akan ditemuinya.Waktu terus berjalan terhitung sudah setengah jam Ardhan menunggu klien datang. Perasaan cemas, gugup dan bingung bercampur menjadi satu.

“Apa aku salah tempat atau meetingnya dibatalkan ya? Tetapi aku tidak dapat pemberitahuannya,” cerocos lelaki itu, ia menatap layar ponselnya berulang kali. Ardhan yang bingung kemudian berinisiatif untuk bertanya kepada atasannya.

Begitu ia menekan nomor telepon milik Pak Bobby, tak lama kemudian sebuah suara lelaki paruh baya menyahut. "Sore Pak, apakah klien kita mengganti tempat meeting atau ada informasi jika meeting dibatalkan?”

"[Apa maksudmu, Dhan? Tidak ada pemberitahuan resmi tentang dua hal itu.]”

"Begini Pak, saya sudah menunggu hampir 45 menit tetapi klien kita tidak kunjung datang," adunya kepada sang atasan.

Pak Bobby tentu saja terkejut mengetahui hal tersebut, pasalnya klien yang mereka temui itu adalah orang penting dan sangat menjaga reputasinya, bagaimana bisa sekarang beliau berbuat seperti itu. "[Kamu yakin pergi ke tempat yang benar, Dhan? Kamu tidak salah restoran 'kan?]”

"Benar Pak, saya sudah berada di restoran yang kita sepakati," jawab Ardhan. Sang atasan menyuruh lelaki itu untuk menunggu lima menit lagi, memang klien tak datang juga maka ia boleh kembali ke kantor.

Sembari menunggu waktu untuk kembali ke kantor, Ardhan melihat kembali proposal dan presentasi yang sudah disiapkan oleh staff perusahaannya. Lelaki itu tak menyadari jika ada seorang pria berjalan cepat ke arahnya.

"Pak Ardhan ya?” tanya orang itu. Ardhan seketika menengadahkan kepalanya. "Maaf ya Pak, saya terlambat karena tadi mendadak ada urusan kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Maaf sudah membuat Bapak menunggu lama.”

"Jadi ini orangnya,”batin Ardhan, mereka semua kemudian berdiri menyambut orang penting tersebut. "Ah tidak masalah, Pak," ucapnya seraya mengulurkan tangan.

Sembari menjabat tangan Ardhan, pria itu berkata "Sepertinya kita pernah bertemu, tetapi di mana ya?”

"Oh begitu, tetapi maaf Pak, rasanya kita baru bertemu hari ini," timpal Ardhan. Ia sama sekali tak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.

"Mungkin saya pernah bertemu orang yang mirip kamu atau lupakan saja hal tadi," ujar lelaki itu sembari tersenyum. "Perkenalkan nama saya Prama Danureja," katanya sembari tersenyum.

Ardhan membalas dengan memperkenalkan namanya serta jabatannya di kantor, setelah itu mereka duduk kembali. Lelaki bertubuh jangkung itu mempresentasi tentang perusahaannya. "Bagaimana Bapak, apakah perusahaan kita bekerjasama?”

"Tentu saja Pak Ardhan, prospek ke depannya sangat menjanjikan," sahut Prama mantap. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan kerjasama antara perusahaan Ardhan dengan perusahaan Prama.

Ardhan segera kembali ke kantor untuk mengabarkan berita baik tersebut. Sesampinya di kantor, ia bergegas menemui atasannya yang sudah menunggunya sedari tadi. "Bagaimana Dhan, kita berhasil mendapatkan kerjasama dengan perusahaan bonafit itu?”

"Tentu saja Pak, mereka menyukai program kerja kita dan setuju untuk bekerja sama," jawab Ardhan seraya tersenyum cerah.

Seketika bibir tebal lelaki yang ada di depan Ardhan juga ikut tersungging, akhirnya perusahaannya bisa bekerja sama dengan perusahaan paling besar dan terkenal di seluruh negeri. "Kerja bagus Ardhan, untuk bonus dan kenaikan jabatan kamu akan kita bicarakan setelah kerjasama ini berjalan.”

"Terima kasih, Pak. Saya permisi kembali ke ruangan saya dulu,” ujar Ardhan setelah menyerahkan berkas-berkas penting di meja Pak Bobby.

Pintu ruangan atasannya sudah tertutup, Ardhan kemudian melangkah menuju ruangannya. Apa yang baru saja ia lakukan jelas menjadi topik pembicaraan rekan-rekan kerjanya. Ada yang menatapnya sinis, ada yang ikut berbahagia atas pencapaiannya. Ada pula yang memasang dua muka.

"Selamat ya Dhan, aku senang kamu bisa menyelesaikan tugas berat itu dengan baik," ujar salah satu staff kantor sembari menjulurkan tangannya. Ardhan tak langsung membalas uluran tangan tersebut, ia fokus pada bola mata lawan bicaranya itu.

Seandainya Ardhan tak memakai kacamata itu, dirinya tentu saja tidak akan tahu bahwa tak semua orang baik padanya. Contohnya seperti wanita di depannya itu, ia tersenyum ceria, mengatakan hal baik namun nyatanya bola matanya berwarna merah pekat.

"Dhan? Kamu kenapa?”

"Oh tidak, terima kasih Kak. Akhirnya tugas berat itu selesai juga ya," balas Ardhan. Ia lantas kembali meneruskan langkahnya menuju ruang kerjanya. Lelaki itu teringat akan sosok Prama, baru kali ini ia berjumpa dengan orang seperti itu.

Sejak pertama kali melihat Prama, Ardhan merasa ada yang berbeda dengan orang tersebut. Warna auranya serta kedua bola matanya yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Lelaki berpenampilan borjouis itu memiliki bola mata berwarna jingga.

"Kenapa bola matanya berbeda? Apa arti warna jingga ya?" gumam Ardhan. Saat ini di benak Ardhan hanya ada pertanyaan tersebut, Ardhan tak tahu harus bertanya kepada siapa. Ia mencari di dunia maya pun tak ada jawabannya. "Apa yang harus kulakukan dengan orang seperti Pak Prama?”

Jelas saja Ardhan merasa penasaran dan bingung, pasalnya selama kerjasama kedua perusahaan itu berlangsung, Ardhan akan sering bertemu dengan Prama. Ia tak ingin kembali menjadi target penipuan oleh orang tersebut.

Setelah berpikir dengan keras, Ardhan berniat untuk mencari kakek misterius yang memberinya kacamata tersebut. Ia pun membereskan barang-barangnya dengan cepat. "Akan kucari di manapun Kakek itu berada. Aku harus meminta penjelasan darinya.”

"Kakek siapa, Dhan?”

Ardhan menoleh ke arah sumber suara, ternyata temannya yang sekarang menjadi orang paling dibencinya berada di ambang pintu.

"Kamu pakai dukun ya, Dhan?”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LMG" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LMG
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Broken Vessel
7.9
Di dunia di mana setiap orang memiliki kekuatan spesial bernama Arte, Trystan yang berusia 21 tahun justru terjebak dalam bahaya besar. Kekuatan langka miliknya memicu perburuan mematikan; banyak pihak ingin menghabisinya atau memanfaatkan kemampuannya. Hidup Trystan kini dipenuhi pengkhianatan, dendam, dan rasa kehilangan yang mendalam. Di tengah paksaan serta tanggung jawab besar, ia harus berjuang melindungi hal berharga sambil menghadapi musuh yang terus mengincar.
Sampul Novel Cinta Rahasia Dibalik Identitas Tersembunyi
9.3
Keinginan Putri Daniella untuk menikah dengan Pangeran Philip mulai goyah sejak kehadiran Erik Sebastian. Meski hanya seorang sopir dari desa, Erik menyimpan rasa cinta mendalam pada sang putri sejak mereka masih kecil. Namun, sebuah rahasia besar perlahan terkuak dan mengubah segalanya. Ternyata, identitas Erik yang sebenarnya bukanlah pemuda biasa, melainkan sang putra mahkota yang asli. Kini, takdir dan cinta mereka terjebak dalam misteri identitas.
Sampul Novel Gue Bukan P*****
9.0
Dana terjebak dalam dilema moral yang berat akibat tuntutan sistem aneh yang mengikatnya. Ia sangat murka dan mengutuk perintah sistem yang menargetkan seorang gadis di bawah umur untuk misi tertentu. Meski merasa sangat muak dan menolak keras tuduhan sebagai pedofil, Dana merasa tidak berdaya untuk melawan otoritas sistem tersebut. Sambil meratapi nasibnya yang tragis, ia terpaksa mengikuti alur permainan gila ini tanpa bisa mengelak sedikit pun.
Sampul Novel Istri Dari Masa Depan
8.2
Pasca terjatuh dari tangga, Li Mei terbangun di rumah reyot yang asing. Alih-alih di rumah sakit, ia justru mendapati Bai Changyi, pria tampan yang mengaku sebagai suaminya, bersiap menceraikannya karena menyangka Li Mei mencoba bunuh diri. Meski bingung, Li Mei menolak berpisah dan memilih bertahan demi ambisinya. Di era kuno ini, mampukah ia mengubah nasib dan mewujudkan impian menjadi pengusaha kaya raya bersama suaminya yang penuh rahasia?
Sampul Novel Jodoh Palsu Sang Alfa, Perang Diam Sang Omega
9.2
Sebagai Omega, aku percaya saat Dewi Bulan menakdirkanku bagi Alpha Baskara. Namun, janin yang kukandung ternyata dianggap aib. Baskara telah mandul demi wanita lain dan menjadikanku bahan taruhan keji. Setelah disiksa oleh Kirana dan dikhianati prajuritnya, hatiku membeku. Di ambang kehancuran, aku menelan ramuan terlarang untuk mematikan benih di rahimku. Ini bukan sekadar rasa putus asa, melainkan awal perang dingin untuk membalas dendam.
Sampul Novel Pawang Hati
9.6
Dalam sebuah kisah romansa fantasi yang memikat, sosok pangeran yang dikenal memiliki kepribadian sedingin es ini menyimpan rahasia tak terduga. Di balik sikapnya yang kaku dan tidak tersentuh, ia secara perlahan mulai menunjukkan sisi hangat yang mampu meluluhkan perasaan siapa pun di sekitarnya. Kehadirannya yang misterius membawa keajaiban tersendiri, mengubah suasana dingin menjadi penuh kehangatan saat ia diam-diam menaklukkan hati.