Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Salah Jodoh (Si Kembar)

Bukan Salah Jodoh (Si Kembar)

Claire terpaksa menghadapi kenyataan pahit saat ditinggalkan di hari pernikahannya. Demi menjaga martabat, ia akhirnya menyetujui pernikahan kontrak dengan saudara kembar calon suaminya. Di tengah upaya menumbuhkan benih cinta dalam rumah tangga barunya, Claire harus menghadapi berbagai ujian berat. Gangguan terus datang dari mantan calon suaminya yang berkhianat, serta kehadiran mantan kekasih sang suami yang berusaha merusak hubungan mereka berdua.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Claire, Edward, ayo keluar, ayo kita sarapan sama-sama," ucap Sonya seraya mengetuk pintu.

Penghuni di dalam sana rupanya juga telah siap, mereka akan keluar dan ikut sarapan bersama orang tuanya.

"Keluar sekarang?" tanya Edward.

"Ayo."

Claire sesaat menatap wajahnya di kaca, matanya sedikit sembab karena sempat menangis semalam, tapi itu bukan masalah mereka pasti bisa mengerti.

Keduanya keluar dan berjalan ke ruang makan bersama dengan Sonya, Edward tersenyum melihat Sonya yang begitu hangat memperlakukan Claire.

"Kalian datang juga, apa saja yang dilakukan, lama sekali," ucap Arya

Ketiganya duduk di kursi masing-masing, tanpa banyak bicara, mereka mulai menikmati sarapan paginya itu.

Satu hari, satu minggu, sampai satu bulan, kehidupan Claire terasa semakin hangat berada di tengah keluarga Edward.

Banyak hal manis yang terjadi diantara mereka, utamanya antara Claire dan Edward sendiri, banyak kejadian yang justru membuat mereka semakin dekat dan dekat lagi.

Keberadaan Claire di rumah itu, telah membuat Claire lebih memahami seperti apa keadaan rumah, dan seperti apa orang-orang di dalam rumah tersebut.

Hari demi hari yang Claire lewati di sana, dengan berbagai kegiatan dan kebiasaan yang biasa dilakukan penghuni rumah itu, telah memberikan kenyamanan tersendiri bagi perasaan Claire, Edward yang selalu bersikap baik padanya dan tak pernah kurang ajar meski mereka tidur di satu ruang kamar yang sama.

Sampai satu bulan terlewat, Ethan tak kunjung kembali, begitu juga dengan Clarha, entah dimana dua orang itu sekarang, karena kontak mereka pun tidak bisa dihubungi sampai detik ini.

30 hari sudah Claire ada di ruang makan bersama dengan Edward dan keluarganya, Claire bahkan tak pernah sekali pun datang ke rumah orang tuanya sendiri, Claire hanya berhubungan dengan keluarganya lewat sambungan telepon saja.

"Papih, sudah selesaikan semuanya, jadi kalian bisa mulai fikirkan kapan kalian akan menikah."

Perkataan Arya tentu saja membuat ketiganya terdiam bersamaan, Arya dan Sonya memang begitu berusaha untuk bisa melangsungkan pernikahan mereka berdua, dan sepertinya tidak lama lagi, pernikahan itu akan terjadi.

"Papih, bicarakan dulu saja sama keluarga, Claire," ucap Edward.

"Tentu saja, sebelum bicara saat ini, Papih, sudah lebih dulu bicara kepada mereka, dan mereka menyerahkan keputusannya pada kalian berdua."

Mendengar penjelasan Arya, Claire dan Edward saling lirik.

"Lebih cepat lebih baik, kalian pasti akan bahagia," ucap Sonya.

"Kamu maunya gimana?" tanya Edward.

"Gimana bagusnya saja, aku ikut," jawab Claire.

Edward mengangguk, ia berpaling dan meneguk minumnya, Edward memang telah memikirkan semuanya, tapi jujur sampai detik ini perasaannya masih sangat kuat untuk Clarha.

"Edward, kenapa kamu diam?" tanya Sonya.

Edward menoleh dan menggeleng, rasanya akan menyinggung perasaan mereka jika Edward bicara jujur, utamanya perasaan Claire sendiri.

"Gak apa-apa kok, Mamih."

"Lalu, bagaimana?"

"Ya sudah, lanjutkan saja, nanti aku bicara dulu sama, Claire."

"Bicara apa?" tanya Claire.

"Bicara baiknya harus gimana, hari baik kita berdua."

Claire tersenyum dan mengangguk, mungkin itu seharusnya juga, jadi Claire akan ikut saja.

"Ya sudah, nanti malam, kami tunggu jawaban pastinya ya," ucap Sonya

Edward mengangguk pasti, itu bisa saja, dan semoga apa yang akan jadi keputusan mereka adalah yang terbaik, dan akan bisa mendatangkan kebahagiaan untuk semuanya.

"Kamu ke Kantor hari ini?" tanya Arya.

"Mungkin besok, hari ini sepertinya masih bisa kerja di rumah," ucap Edward.

"Baik, bagus kalau seperti itu, berarti kalian bisa bicarakan saat ini juga."

Edward tersenyum dan mengangguk, itu juga yang difikirkannya, dan sebaiknya memang lebih cepat.

Claire berjalan memasuki kamar lebih dulu, diikuti Edward kemudian, sarapan mereka telah usai, sehingga mereka bisa memulai kegiatannya masing-masing.

"Kamu tidak perlu memaksakan, kalau memang tidak mau, maka tidak perlu, biarkan saja orang mau bergunjing apa pun."

Claire duduk dan melirik Edward yang turut duduk, kalimat Edward memang benar adanya, tapi Claire merasa tidak lagi memiliki pilihan sekarang, jadi biarkan saja Claire akan ikuti seperti apa keharusannya.

"Kamu bisa pulang ke rumah kamu, dan bebas dari pernikahan palsu ini, kamu juga tidak perlu menjebak diri kamu sendiri dalam pernikahan yang tidak kamu inginkan."

Claire mengangguk, kalimat Edward memang benar, tapi Claire merasa semua akan sama saja hasilnya, sama-sama membuat mereka semua kecewa.

"Claire."

"Kamu, masih menunggu kembalinya, Clarha?" tanya Claire.

Edward berpaling, mungkin itu benar, tapi mungkin juga tidak, Edward memang masih menyayangi Clarha, tapi waktu kebersamaan dengan Claire selama 1 bulan ini, cukup membuat Edward sadar tentang tidak baiknya hubungannya dengan Clarha selama ini.

"Mungkin kamu yang harus memikirkan semuanya dengan benar, berulang kali, dan yakinkan diri sendiri, karena mungkin kamu yang akan merasa terjebak jika pernikahan kita terjadi."

Edward diam, sepertinya perasaan dan pemikiran mereka sama untuk saat ini, tapi bukankah untuk mendapatkan kebahagiaan itu butuh pengorbanan.

"Kalau kita menikah, bagaimana kalau mungkin tiba-tiba Ethan kembali lagi, dan meminta kembali sama kamu?"

"Itu pertanyaan untuk kamu juga."

Keduanya tersenyum bersamaan, Claire berpaling dan bangkit berjalan menjauhi Edward.

"Kalau kita menikah, aku akan fokuskan diri untuk pernikahan kita saja, untuk rumah tangga kita, kalau pernikahan kita terjadi, itu artinya aku sudah siap menjalani hidup baru dan melupakan hidup aku yang lama."

Edward bersandar, terdiam menatap tubuh yang membelakanginya itu.

"Aku tidak tahu siapa jodoh aku, dan seperti apa proses aku untuk bisa bertemu jodoh aku, aku hanya bisa mengikuti alurnya saja, termasuk juga kalau harus menikah sama kamu."

Edward mengusap wajahnya, 1 bulan Clarha tidak sedikit pun memberi kabar padanya, dan begitu juga dengan Ethan yang seperti sudah melupakan Claire sepenuhnya.

Jika cinta bisa datang karena terbiasa, mungkin saja Edward akan bisa mencintai Claire setelah kebersamaan mereka dalam pernikahan nanti.

"Lalu, kapan kamu siap menikah sama aku?"

Claire berbalik, dengan senyuman yang terlihat di bibirnya, Claire kembali duduk di samping Edward.

"Apa aku yang harus melamar mu?"

Edward mengernyit, pertanyaan macam apa itu, bisa sekali Claire bertanya seperti itu.

"Aku akan menunggu sampai kamu mau melamar aku, dan aku akan menerimanya, jadi kalau singkatnya malam ini kamu lamar aku, maka meski pernikahan harus terjadi besok, aku akan terima."

"Kamu yakin?"

"Harus yakin, untuk menata hidup, menata hati yang telah rusak, aku harus yakin kalau langkah aku adalah yang terbaik."

Edward mengangguk, perlahan tapi pasti keduanya tersenyum bersamaan, Edward merangkul Claire dan membawanya agar bersandar ke pundak.

Tak ada kalimat apa pun lagi, Claire hanya dian merasakan usapan tangan Edward di kepalanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DI BALIK CADAR
8.0
Katrina terpaksa berpisah dari Reyhan karena perbedaan keyakinan dan pindah ke Surabaya. Satu dekade kemudian, mereka bertemu kembali. Namun, Reyhan tak mengenali sosok Katrina yang kini telah mualaf dan bercadar. Meski saling mencari, takdir justru menguji mereka lewat perjodohan Katrina dengan Hardin, sahabat Reyhan. Di sisi lain, Reyhan berencana menikahi Anggia. Akankah cinta lama mereka menemukan jalan pulang atau berakhir duka di tengah rumitnya hubungan ini?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Kabut Cinta Riana
9.2
Riana yang cantik jelita harus menelan pil pahit saat harapannya hancur berkeping-keping. Sang kekasih justru memilih wanita lain, meninggalkan luka mendalam yang mengubah hatinya menjadi sedingin es. Meski dikhianati, ia terus berjuang dengan ketabahan dan pengorbanan yang luar biasa. Akankah ketulusan Riana mampu menyibak kabut duka dan menuntunnya menemukan cinta sejati yang selama ini ia dambakan di tengah dinginnya kesendirian?
Sampul Novel Kubuat Kamu dan Selingkuhanmu Menyesal
9.7
Kesuksesan membuat Aryo lupa diri dan kehilangan rasa syukur. Ia tega mengkhianati Santi, istri setia yang mendampinginya dari nol hingga mencapai puncak karier. Kini, Aryo justru terpikat oleh godaan wanita lain yang lebih menarik secara fisik. Loyalitasnya sebagai suami dan ayah benar-benar diuji dalam prahara ini. Akankah ia tetap memprioritaskan anak serta istrinya, atau justru memilih mengejar nafsu sesaat demi wanita simpanannya?
Sampul Novel LUKA DI ANTARA KITA
8.1
Kehidupan rumah tangga seorang istri yang penuh kesetiaan seketika hancur saat ia memergoki suaminya menjalin hubungan gelap dengan sahabat karibnya sendiri. Pengkhianatan ganda ini membawa luka yang sangat mendalam. Kini, di tengah reruntuhan kepercayaan yang telah musnah, ia dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan ikatan pernikahan yang tersisa atau memilih pergi demi kedamaian dirinya sendiri selamanya.
Sampul Novel Luka Kakiku, Tawa Mereka
8.8
Demi menyelamatkan Yudha, suamiku yang politisi, aku kehilangan kaki dan karier balet. Namun, pengorbanannya sia-sia saat aku memergoki Yudha berselingkuh dengan terapisku, Selvia. Mereka tega menertawakan kecacatanku, sementara ibu mertuaku terus mencaci sebagai beban keluarga. Meski Yudha memujiku di depan publik untuk citra politiknya, kenyataan pahit ini memicu dendam. Tanpa air mata lagi, aku bertekad menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.