
Bukan Pelayan Biasa
Bab 2
Beberapa hari berlalu setelah kepergian Fanny sahabatnya. Hari-hari yang dijalani Amanda, tampak suram seperti tak ada kehidupan.
Sekarang dia benar-benar hidup sebatang kara, tak ada keluarga maupun teman yang menemani.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu berbunyi. Amanda yang sedang duduk di ruang tamu, lantas berdiri dan berjalan menuju pintu.
Amanda membuka pintu rumahnya, seorang wanita paruh baya tengah berdiri di depan pintu rumahnya.
“Bibi..,” panggil Amanda yang langsung memeluk wanita itu sambil menangis.
Amanda memeluk erat tubuh Bi Nala, sahabat ibunya dan sudah dianggap seperti saudara sendiri oleh ibunya. Setelah melepaskan pelukan, Amanda mempersilahkan Bi Nala untuk masuk.
“Kita masuk dulu, bi,” pinta Amanda.
“Iya, nak.”
Amanda dan Bi Nala masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
“Amanda, apa yang terjadi denganmu nak? Bibi baru dapat kabar jika ayah dan ibumu kecelakaan dan ..,” ucap Bi Nala terhenti dan tak bisa melanjutkan perkataannya kembali..
“Iya, bi. Aku juga kaget, dan sekarang aku tidak tahu harus bagaimana?!”
“Sabar ya, nak. Kamu harus kuat. Bibi datang kesini karena sebelum hari kecelakaan ibumu menghubungi bibi, untuk meminta bantuan bibi mencarikan toko. Ibumu bilang dia mau membuka usaha toko kue bersama ayahmu.”
Mendengar perkataan Bibi Nala, Amanda kembali meneteskan air matanya. Dia kembali teringat akan kedua orang tuanya.
Ayah dan ibunya memang berniat untuk membuka usaha toko kue, setelah ayahnya sudah tidak bekerja karena mengalami PHK beberapa bulan yang lalu.
“Tenang, sayang. Kamu tidak sendiri, masih ada bibi disini.”
Amanda hanya bisa menangis mendengar perkataan Bibi Nala. Tak lama terdengar suara ketukan pintu kembali.
Terlihat ada tiga orang asing yang tak dia kenal. Dua orang berbadan besar macam preman, sedangkan satu orang lagi seperti pria tua berkumis dan rambutnya sudah beruban.
“Kalian siapa?” tanya Amanda.
“Kami rentenir, kami kesini ingin menagih uang pinjaman orang tua kamu.”
“Apa?! Apa anda yakin, papa saya memiliki hutang dengan anda?”
“Tentu saja. Bahkan mereka menjamin rumah ini sebagai taruhannya.”
“Apa?!! Berapa banyak yang orang tuaku pinjam?”
“30 juta, belum dengan bunganya jadi total sekitar 40 juta,” ucap rentenir itu dengan entengnya.
“Apa?!! Ya Tuhan..,” ucap Amanda.
Kaki Amanda sudah lemas, hampir saja Amanda terjatuh. Untungnya Bibi Nala dengan sigap menahan tubuhnya.
“Ada apa ini?” tanya Bi Nala.
“Orang tuaku, bi. Mereka memiliki hutang pada mereka.”
“Berapa banyak?” tanya Bi Nala.
“40 juta, bi. Bagaimana bisa aku punya uang sebanyak itu?” ucap Amanda menangis.
“Kami tidak mau tahu, anda harus segera membayarnya. Jika tidak rumah ini akan kami ambil, karena sudah menjadi jaminannya.”
“Beri kami waktu,” ucap Bi Nala pada ketiga orang tua.
“Kami tidak punya waktu lama. Kami hanya berwaktu 3 hari, setelah itu kami akan kembali ke sini. Jika uang itu belum ada. Maka rumah ini menjadi milik kami.”
“Baiklah, kami akan segera membayarnya.”
Setelah selesai berbicara dengan ketiga orang itu, mereka pun pergi meninggalkan Amanda dan Bi Nala. Bibi membantu Amanda untuk berjalan masuk dan duduk di kursi kembali.
Amanda terlihat sangat shock, mendengar semua itu. Rumah satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya, harus menjadi jaminan dari hutang mereka.
“Bagaimana ini? Bagaimana cara aku membayarnya? Jika rumah ini mereka ambil. Aku harus tinggal dimana?” ucap Amanda menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Tenanglah dulu, Amanda. Bibi akan membantumu.”
“Bagaimana caranya, bi? Aku tidak ingin merepotkan bibi.”
“Jangan khawatir, bibi akan cari pinjaman pada majikan bibi. Kebetulan bibi bekerja cukup lama disana, dan majikan bibi orangnya sangat baik.”
“Bibi yakin? Mereka akan membantu meminjamkan.”
“Entahlah, tapi bibi akan berusaha mencari pinjaman. Agar rumah ini tidak mereka ambil.”
“Terima kasih, bi,” ucap Amanda kembali memeluk Bi Nala.
Setelah puas mengobrol dengan Amanda, Bi Nala pamit pulang. Dia akan kembali lagi, dan membantu Amanda sebisa mungkin, agar rumah peninggalan kedua orang tua Amanda tak diambil para rentenir itu.
***
Tiga hari kemudian.
Amanda nampak khawatir karena Bi Nala belum juga datang kembali. Hingga terdengar suara ketukan pintu, dan itu mengagetkan Amanda.
Amanda berjalan mendekat ke arah pintu, dia terlihat ragu untuk membuka. Namun, terdengar suara seorang wanita.
“Amanda..,” panggil Bi Nala yang berada di luar rumah.
Amanda mendengar suara Bi Nala, buru-buru membuka pintu.
“Bibi..,” panggil Amanda yang langsung memeluknya Bi Nala.
“Maafkan bibi datang terlambat. Kamu baik-baik saja kan. Apa mereka sudah datang?” tanya Bi Nala.
“Aku baik-baik saja, bi. Mereka belum datang.”
“Baguslah, bibi sudah bawakan uang ini untuk membayarnya. Kamu tenang saja.”
“Bibi benar-benar meminjam uang ini dari majikan bibi?” tanya Amanda.
“Iya, tapi kamu tenang saja.”
Tak lama para rentenir itu datang dan menagih hutang Amanda. Bi Nala memberikan uang itu dengan syarat membuat perjanjian di atas materai. Agar para rentenir itu tidak kembali lagi menagih hutang ke Amanda.
Mereka pun setuju, dan menandatangani surat perjanjian itu. Lalu Bi Nala memberikan uang itu, dan para rentenir itu pun pergi meninggalkan rumah Amanda, tak lupa mengembalikan sertifikat rumah Amanda yang sempat dijadikan jaminan orang tuanya.
“Terima kasih sudah membantuku, bi. Aku pasti akan membayar semua uang itu.”
“Sama-sama, nak. Sebenarnya bibi ke sini juga, karena ada yang ingin bibi sampaikan padamu.”
“Apa itu, bi?” tanya Amanda penasaran.
“Amanda, apa kamu mau ikut dengan bibi? Tinggal di tempat bibi bekerja, disana kamu bisa membantu bibi serta mencari pekerjaan disana. Tapi untuk sementara kamu bekerja sebagai pelayan, kebetulan mereka membutuhkan pelayan disana. Bibi khawatir, jika kamu tinggal sendiri disini. Bibi juga sudah bicara pada majikan bibi, tinggal bagaimana kamunya? Apa kamu setuju atau tidak?” ucap Bi Nala.
Amanda merasa bimbang, di satu sisi dia tidak ingin meninggalkan rumah orang tuanya, karena banyak kenangan di rumah ini. Tapi di sisi lainnya, dia sangat berhutang budi pada Bibi Nala karena sudah menolong dirinya.
Dia juga tidak memiliki saudara disini, jika dia tinggal bersama Bibi Nala, maka dia tidak akan sendirian lagi.
“Sudah-sudah, kamu bisa pikirkan dulu. Besok baru kamu kasih bibi jawabannya.”
Amanda pun mengangguk kepalanya.
“Hari ini bibi akan menginap, besok bibi akan kembali ke rumah majikan bibi. Bibi berharap kamu mau ikut.”
***
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Bibi Nala, dan mengakhiri obrolan. Amanda masuk ke dalam kamar dan mengistirahatkan tubuhnya, sambil memikirkan jawaban yang tepat nantinya.
Di dalam kamar, Amanda memikirkan apa yang akan dia lakukan. Sebenarnya dia nggak mau pergi ke kota lain. Tapi Amanda merasa tak enak hati, jika menolak permintaan Bibi Nala.
Setidaknya selama dia jadi pelayan, dia bisa mengembalikan uang yang dia pinjam dan sembari mencari pekerjaan disana.
Daripada harus berdiam diri di tempat tinggalnya, yang jauh dari perkotaan. Setidaknya jika dia tinggal di kota, dia bisa mencari pekerjaan yang layak nantinya.
Setelah mendapatkan jawabannya, Amanda memejamkan matanya dan mengistirahatkan tubuhnya. Dia berharap semuanya akan lebih baik lagi, ketika dia bangun nanti.
Anda Mungkin Juga Suka





