
Bukan Pelayan Biasa
Bab 3
Keesokan harinya.
Tok.. tok.. tok..
Ketukan pintu kamar membangunkan dirinya. Dia beranjak bangun dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Terlihat Bi Nala berdiri di depan kamarnya.
“Amanda, bibi buatkan kamu sarapan. Ayo kita sarapan dulu.”
“Iya, bi. Amanda cuci muka dulu.”
“Ya sudah, bibi tunggu di meja makan.”
Amanda pun mengangguk. Setelah itu dia buru-buru mencuci mukanya dan berjalan menuju meja makan.
Mereka pun sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, Bibi Nala pun bertanya masalah kemarin, dia ingin mengetahui jawaban Amanda.
“Amanda, bibi ingin bertanya mengenai jawabanmu. Apa kamu bersedia ikut dengan bibi?” tanya Bi Nala.
Amanda pun mengangguk menandakan dirinya setuju dengan ide dari Bi Nala. Bi Nala pun merasa senang mengetahui jawaban dari Amanda.
“Bibi senang sekali mendengar hal ini. Setidaknya bibi tak akan khawatir tentang dirimu lagi. Bibi merasa bertanggung jawab merawatmu.”
“Tapi bi. Apa aku tidak akan merepotkan bibi nantinya?”
“Bibi justru senang, majikan bibi juga orangnya sangat baik. Jadi kamu nggak usah khawatir,” ucap Bi Nala sambil memeluk Amanda.
“Keputusanmu sudah bagus Amanda. Kamu akan memulai awal yang baru dengan baik.”
“Terima kasih banyak, bi.”
Amanda merasa bahagia, dirinya tidak akan sendirian lagi. “Semoga saja ini keputusan yang terbaik untukku,” batin Amanda sembari memeluk Bi Nala.
“Oh iya, kita berangkat siang ini. Maaf jika bibi baru bilang padamu.”
Amanda pun mengangguk dan bersiap-siap membawa beberapa pakaiannya. Sebelum pergi, Amanda berpamitan ke para tetangga rumahnya dan menitipkan rumahnya pada tetangganya.
***
Dengan melakukan perjalanan kurang lebih 8 jam dengan menggunakan kereta api. Akhirnya Amanda dan Bi Nala sampai di kediaman Mattew.
Saat sampai di kediaman Mattew, keadaan rumah sudah sepi karena Amanda dan Bi Nala sampai sudah dini hari.
Bi Nala pun menunjukkan kamar Amanda dan menyuruhnya istirahat. Walaupun mereka sudah beristirahat di dalam kereta.
“Tidurlah sebentar, nak. Biar tubuh mungkin menjadi rileks. Setelah pagi, bibi akan membangunkanmu dan mengenalkanmu kepada majikan bibi Nyonya Anara. Ini kamar kamu sementara, setelah pagi biar Nyonya Anara yang menentukan dimana kamar kamu,” ucap Bi Nala sambil berjalan dan dijawab dengan anggukan oleh Amanda.
Disinilah sekarang Amanda berada di dalam kamar berukuran 3×5 meter dengan sebuah ranjang berukuran sedang, sebuah lemari satu pintu, serta kamar mandi yang juga berada di dalamnya.
Amanda menaruh tas di salah satu meja, serta dia taruh koper di samping lemari. Amanda duduk sambil melihat sekeliling kamarnya, karena terlalu lelah dia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang lumayan embuk dan rasa kantuk pun menyerang, hingga dia tertidur lelap.
***
Pagi harinya.
Setelah beberapa jam berlalu, sebelum Bi Nala membangunkan Amanda pun sudah bangun dan merasakan perutnya yang lapar, karena tadi malam Amanda tidak makan malam.
Amanda terbiasa makan malam, walaupun sedikit. Amanda pun langsung mencari dimana letak dapur berada.
“Rumah ini besar sekali. Dimana letak dapurnya?”
Amanda terus berjalan, hingga akhirnya dia menabrak seseorang.
Brukkk…
“Aaawww.., aduh keningku sakit. Siapa sih yang jalan nggak pakai mata,” batin Amanda sambil mengelus keningnya yang sakit, dan mendongakkan kepalanya menatap orang yang dia tabrak.
“Hei.. siapa kau? Berani sekali kau masuk ke rumahku,” suara seorang pria yang ditabrak oleh Amanda.
“Sa-ya..,” ucap Amanda yang gugup.
“Saya tanya kamu siapa? Apa kamu pelayan baru di rumah ini? Karena saya nggak pernah lihat kamu,” ucap pria itu memandang curiga pada Amanda.
Kruukk…
Kruukk…
Belum sempat Amanda menjawab, tiba-tiba perutnya sudah berbunyi. Dengan wajah memerah, menahan rasa malu. Amanda menundukkan kepalanya, rasanya dia ingin menghilang saja saat ini juga.
“Hahaha.., kau kelaparan ya? Sudah berapa hari nggak makan?” suara pria itu mengejek Amanda.
Sedangkan Amanda hanya bisa mendengus kesal, mendengar perkataan pria itu yang sedang menertawakan dirinya.
Tak lama suara Bi Nala memanggil Amanda.
“Amanda, kamu disini rupanya? Dari tadi bibi mencarimu. Bibi kirain kamu ke sasar.”
“Maaf, bi. Amanda tadi mau mencari bibi ke dapur. Tapi Amanda nggak tahu jalannya.”
Bi Nala pun tersadar, bahwa ada seseorang lagi diantara mereka berdua.
“Ah.. tuan muda sudah bangun? Kenalkan ini Amanda keponakan bibi dari desa yang pernah bibi bilang sama tuan muda.”
Bi Nala memperkenalkan Amanda dengan pria yang berdiri diantara mereka. “Oh iya, Amanda. Kenalkan ini Alexander Mattew, beliau adalah anak dari majikan bibi Nyonya Anara.”
“Oh iya, sa-ya Amanda, tuan.”
Brian hanya menatap dengan dingin, lalu kembali menatap ke arah Bi Nala. “Bi, saya mau dibuatkan sarapan sekarang,” pinta Alex.
“Iya, tuan. Bibi akan siapkan sekarang.”
Setelah itu Alex berjalan kembali menuju kamar, sembari menunggu sarapan disiapkan oleh Bi Nala.
“Amanda, kamu bantu bibi ya!! Setelah itu baru nanti bibi perkenalkan dengan Nyonya Anara.”
“Iya, bi.”
Mereka pun menyiapkan sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, sebelum Amanda diperkenalkan dengan para pelayan rumah itu.
Di rumah itu terdiri dari 3 pelayan, 1 tukang kebun, 1 supir dan 1 satpam yang sekaligus menjaga pintu gerbang. Mereka memiliki tugas masing-masing termasuk Bi Nala salah satu pelayan disana.
Setelah itu Amanda dikenalkan pada semua orang yang ada di rumah itu. Sekarang dia dikenalkan dengan majikannya Nyonya Anara.
Amanda dan Bi Nala melangkah mendekat ke ruang keluarga. Dimana ada Nyonya Anara yang sedang membaca majalah.
“Permisi, nyonya. Ini Amanda yang saya ceritakan kemarin. Amanda kenalkan ini Nyonya Anara, ibu dari Tuan Muda Alex,” ucap Bi Nala mengenalkan Amanda pada majikannya.
“Oh.. kamu yang namanya Amanda, cantik sekali ya, bi. Saya sudah dengar tentang kamu dari Bi Nala. kalau saya lihat kamu nggak cocok jadi pelayan disini, lebih cocok jadi menantu saya,” ucap Nyonya Anara tersenyum sambil memperhatikan Amanda.
Sebelum Bi Nala membawa Amanda, Bi Nala sudah menceritakan semua yang terjadi pada Amanda kepada Nyonya Anara. Jadi Nyonya Anara tahu semua tentang kehidupan Amanda sampai akhirnya dia bertemu sendiri dengan Amanda.
“Apa kabar nak? Pasti kamu merasa sedih karena kejadian kemarin ya. Saya sudah mendengar semuanya dari Bi Nala jadi kamu nggak usah takut dan sedih lagi.”
“Terima kasih banyak nyonya, sudah mengizinkan saya tinggal disini.”
“Sama-sama. Oh iya, soal tawaran saya tadi, apa kamu setuju?” tanya Nyonya Anara.
“Tawaran apa nyonya?” tanya Amanda yang bingung.
“Tawaran untuk menjadi menantu saya. Apa kamu mau? Jadi istri dari putra saya Alex, kamu pasti sudah bertemu dengannya bukan?”
“Maaf nyonya. Anda pasti sedang bercanda,” ucap Amanda sedikit tertawa.
“Apa kamu pikir saya bercanda? Anak saya Alex sudah berusia 27 tahun, tapi belum juga mempunya istri. Boro-boro punya mau nikah, punya pacar saja nggak. Saya takut dia punya kelainan.”
“Apa maksud nyonya? Apa Tuan Muda Alex nggak pernah pacaran?” tanya Amanda.
“Dulu pernah. Tetapi kekasihnya meninggal karena kecelakaan. Jadi sampai sekarang Alex lebih memilih menjauhi wanita,” ucap Nyonya Anara dengan wajah sedih.
“Jadi apa kamu bisa membantu saya?” tanya Nyonya Anara sekali lagi pada Amanda.
Anda Mungkin Juga Suka





