
(Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
Bab 2
“Kamu sudah gila, ya?” tanya wanita itu, ekspresinya nampak kesal. Berpikir bahwa pria yang menggagalkan rencananya tersebut memandangnya sebagai objek yang bisa dipermainkan.
“Jangan main-main! Aku tidak butuh pedulimu. Tidak butuh juga rasa kasihanmu. Hanya orang gila yang tiba-tiba mengajak menikah padahal kita sama-sama belum saling mengenal, bahkan tahu nama satu sama lain saja tidak,” tambahnya kian menyolot.
Memang pantas Liam disebut gila jika rasa simpatinya disalurkan pada keputusan seperti itu. Karena siapapun yang akan berada di posisi sang wanita pastinya akan kebingungan dan mulai mencecari banyak pertanyaan.
Liam menurunkan tubuh wanita yang ia gendong secara hati-hati sesampainya di pesisir pantai, kemudian memandangnya sambil melebarkan senyum penuh arti. “Hei, Nona. Rasa peduli dan kasihanku tidak gratis. Apa yang aku tawarkan, tentunya ada harga yang harus dibayar.”
Wanita berambut bondol dengan dress putih tulang sebatas lutut yang sudah basah, terlihat amat lesu. Ia melepaskan nafas kasar berulang kali sebelum akhirnya memilih untuk duduk seraya menghadap ke arah laut.
Entah mati rasa atau apa, wanita tersebut tidak merasa kedinginan sama sekali, padahal angin malam ini cukup kencang.
“Apa yang bisa kamu dapatkan dari wanita sepertiku? Uang? Kamu seharusnya bisa melihat sendiri untuk menilai apakah aku bisa kamu poroti atau tidak.” Wanita itu melirik pada Liam, menilik dari atas sampai bawah. “Dan rasanya kamu bukan orang yang pantas disebut kekurangan harta.”
Liam menggelak tawa tipis sambil menutup mulut, kepalanya ia tanggahkan sebentar sebelum memutuskan untuk duduk disamping wanita itu. “Kamu benar, yang aku inginkan tentunya bukan uang. Tapi kamu dan anak yang sedang kamu kandung. Bagaimana jika kita melakukan perjanjian kontrak?”
Kening wanita itu mengernyit bingung. “Perjanjian kontrak?”
Kepala Liam mengangguk, tubuhnya sedikit menyamping agar lebih puas memandangi wajah lawan bicaranya. “Kita menikah dengan alasan aku yang sudah menghamili kamu. Aku yang akan mengaku sebagai ayah dari anak itu. Sekaligus aku yang akan bertanggung jawab semuanya. Dan tentunya semua ini ada batas waktu.”
“Terdengar gila dan tidak masuk akal. Tapi sampai kapan batas waktunya?” tanya wanita itu kemudian. Masih ingin tahu sejauh mana tawaran gila itu akan berlangsung.
Bola mata Liam berputar, dagunya ia usap-usap. Tampaknya ia tengah berpikir. “Aku ada rencana tentang hal itu. Lebih jelasnya lagi nanti dalam surat perjanjian akan aku beritahu semuanya. Jadi bagaimana?”
Sepertinya wanita yang entah siapa namanya tersebut tidak tertarik dengan apa yang ditawarkan Liam. Ia tidak melihat ada keuntungan yang bisa didapatkan jika setuju untuk bekerjasama dengan pria itu.
Karena sejak awal, yang diinginkannya hanya mati dan menghilang. Ada luka dan trauma yang terus bersarang dalam jiwanya, mengikis habis raganya sampai tak lagi mampu untuk bertahan, maka jalan satu-satu nya adalah harus mengakhiri hidupnya. Setidaknya begitu pikirnya.
“Bagaimana jika aku katakan bahwa aku adalah mantan seorang PSK?” Wanita itu melirik pada Liam, pancaran matanya menyiratkan kesedihan yang tak bisa dibendung lagi. Juga ada penyesalan yang terselip di sana.
Liam hanya bisa bergeming setelah mendengar pengakuan tersebut. Mulutnya tak bisa berkomentar apa-apa, hanya bisa menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya.
Menghembuskan nafas berat, wanita berambut pendek itu menundukkan kepalanya dengan lesu. “Aku pernah melayani banyak laki-laki, hidupku menjijikkan, bahkan aku tidak tahu siapa ayah dari anak ini. Aku begitu rendah, bertahun-tahun hidupku bergantung pada uang yang kudapatkan dari hasil memuaskan para bajingan yang haus akan nafsu.”
“Itu sebabnya aku ingin sekali menghilangkan anak ini. Beberapa obat untuk penggugur kandungan sudah aku minum, berulang kali aku melukainya, tapi dia tetap hidup. Jika kamu mau memberiku sedikit uang untuk melakukan aborsi, aku akan sangat berterimakasih,” imbuhnya kian lirih.
Liam meneguk ludah, membasahi bibir keringnya sebagai ancang-ancang sebelum memberi jawaban, “Aku tidak akan mau ataupun setuju untuk membantumu jika inginmu begitu. Apa yang sudah aku tawarkan sebelumnya tidak akan berubah. Menikahlah denganku, biarkan anak itu hidup. Segala yang kamu inginkan, akan kupenuhi. Akan kujamin kamu tidak akan kekurangan apapun.”
Sebuah tawa jengkel dikeluarkan wanita itu, cekung matanya yang menghitam membuat ekspresi yang dibuatnya saat ini tampak mengerikan. “Kamu benar-benar gila ternyata. Apa yang bisa kamu dapatkan jika kita menikah? Banyak wanita di luar sana yang bisa kamu nikahi, ketimbang memilih perempuan bekas yang sudah dihamili pria lain.”
“Oke, tunggu sebentar. Agar lebih nyaman kita mengobrol, bagaimana jika kamu ikut denganku ke mobil? Tenang, aku tidak akan melakukan hal aneh. Aku murni ingin membantumu, memangnya kamu mau kita mengobrol dengan pakaian basah begini? Sekalian kita cari makan, aku yakin kamu pasti lapar,” ujar Liam mengalihkan pembicaraan.
Wanita itu membuang pandangan ke sembarang arah, tak peduli. “Aku sudah tidak punya tenaga untuk melakukan apapun. Pergi dan tinggalkan saja aku.”
Tanpa menanggapi melalui kata-kata, Liam langsung beringsut dari posisi duduk. Membuat wanita itu berpikir bahwa memang dirinya akan ditinggalkan. Tapi...
Mata wanita tersebut melotot sempurna saat tubuhnya mendadak diangkat oleh Liam. Pria itu menggendongnya kembali. Belum sempat protes, Liam sudah menyambar untuk buru-buru berbicara.
“Namaku Liam, tahun ini aku berumur 30 tahun. Masih melajang walaupun sudah tidak lagi perjaka,” kekehnya sambil berjalan meninggalkan area pantai.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Liam menunduk untuk melihat wanita dalam gendongannya. “Namamu?”
“Sheeta,” jawabnya singkat dengan pandangan yang enggan menatap Liam.
“Sepertinya kamu lebih muda dariku,” tebak Liam, pandangannya amat fokus mengamati paras Sheeta.
“Lebih muda atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganmu,” ketusnya.
Liam seketika mengulas senyum tipis. “Tentu ada. Karena aku harus tahu berapa umur calon istriku.” Tawaan recehnya menandakan ia sedang mencoba untuk menggoda.
“Aku tidak muda lagi untuk tersipu karena perkataanmu itu. Selama hidup, aku tidak pernah punya mimpi untuk menjadi istri dari pria manapun,” balas Sheeta masih dengan mimik tanpa minatnya.
“Maka tanpa bermimpi, kamu akan segera menjadi seorang istri juga seorang ibu. Ya walaupun hanya sebatas status tanpa perlu menjalankan perannya.” Liam amat kukuh, begitu menginginkan Sheeta untuk menjadi istrinya.
Padahal jika memang Sheeta hanya dijadikan sebagai alat atau perantara balas dendam, ataupun sebagai pelengkap rencananya, Liam bisa saja mencari wanita lain. Dan pastinya Liam tidak perlu mengemis atau memaksa seperti apa yang ia lakukan untuk Sheeta sekarang ini.
Mendudukan Sheeta pada kursi mobil disamping pengemudi, Liam secara cekatan mengambil jas miliknya untuk diserahkan pada wanita itu. “Pakai ini, setidaknya balut tubuhmu yang basah itu agar tidak kedinginan.”
Sheeta hanya memandang sekilas jas hitam yang Liam berikan tanpa berniat mengambilnya. “Aku sudah terbiasa kedinginan. Terlunta-lunta di jalanan membuatku bersahabat dengan dinginnya angin malam. Jadi—”
Ucapan Sheeta terhenti tatkala Liam sendiri yang menaruh jas tersebut pada perutnya yang besar. “Mulai sekarang jangan terbiasa dengan hal itu lagi.” Liam menutup pintu mobil, memutari moncong mobil untuk masuk dan siap mengemudi.
“Kita langsung ke apartemenku saja, tengah malam begini jarang ada resto yang buka. Ditambah aku tidak mungkin mengajakmu makan dengan pakaian basah begitu,” ujar Liam setelah duduk dan menyalakan mesin mobil.
Sheeta tidak memberi tanggapan. Barangkali wanita itu sudah pasrah menerima apapun yang akan dilakukan Liam. Toh selama ini, Sheeta selalu menjadi budak bagi laki-laki yang sudah membeli dirinya.
Setidaknya untuk saat ini Sheeta tidak perlu luntang-lantung tidak jelas dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya lagi.
“Sheeta,” panggil Liam di tengah-tengah keheningan yang menjerat. Sebelumnya mereka berdua sama-sama membisu di sepanjang perjalanan.
Pandangan Sheeta yang semula asik menatap jalanan raya yang lengang, perlahan mulai menatap Liam dengan rasa malas. Menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.
“Kamu tidak perlu khawatir apakah setelah menikah nanti kamu perlu melakukan ini dan itu layaknya seorang istri sungguhan. Aku juga tidak akan menyentuhmu, jadi kamu tidak perlu takut. Aku—”
Sheeta memotong ucapan Liam, ia terlahap asumsi sendiri, “Jelas, karena aku adalah wanita bekas yang sudah dijamah banyak laki-laki. Tentunya mana mau kamu melakukan hal itu. Bukankah aku ini menjijikan? Itu sebabnya aku heran, mengapa kamu mau mem—”
“Aku impoten, Sheeta.” Liam menyela, sebelum wanita itu sempat menyelesaikan ucapannya.
Hening beberapa detik. Sheeta mengerjapkan mata sambil berpikir apa yang harus ia komentari terhadap pengakuan yang baru saja didengarnya.
“... Jadi, mana mungkin aku bisa menyentuhmu?” sambung Liam kemudian, sesaat pandangannya menyorot Sheeta yang masih terlihat syok.
***
Anda Mungkin Juga Suka





