
(Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
Bab 3
Di sepanjang perjalanan menuju apartemen Liam, Sheeta tidak banyak bicara. Dalam pikirannya masih terngiang-ngiang soal pengakuan Liam sebelumnya.
Jalanan raya yang lengang, tak jemu Sheeta pandangi. Keheningan yang tercipta membuat suasana dalam mobil sedikit kaku. Sementara Liam sesekali mencuri-curi pandang ke arah Sheeta, ada hal yang membuatnya ingin terus memandangi wanita itu.
“Ada apa? Apa mungkin kamu merasa jijik padaku?” Liam bertanya canggung, sebelah tangannya mengusap-usap belakang lehernya.
Sheeta menggeleng kepala pelan. “Bukan. Aku hanya penasaran mengenai alasan dibalik keinginanmu yang mengklaim ini adalah anakmu. Jika boleh menduga, apa karena kondisimu itu kamu jadi terobsesi untuk memiliki anak?”
Liam termenung sebentar, ia berpikir sebaiknya Sheeta harus tahu sedikit besarnya alasan dibalik semua ini. Jangan sampai wanita itu menduga hal yang tidak-tidak dan berujung salah paham.
“Dugaanmu ada benarnya. Tapi lebih dari itu, aku ingin membuktikan bahwa pria impoten sepertiku tidak seburuk itu untuk direndahkan. Aku memiliki kekasih, dia meminta menyudahi hubungan setelah tahu kondisiku seperti ini. Aku tidak kesal dengan keputusannya, tapi aku hanya merasa diri ini begitu menyedihkan setelah dihujani cemoohan olehnya,” jelas Liam mulai bercerita.
Liam pun menoleh ke samping, pandangannya langsung bertemu dengan manik keabuan milik Sheeta. “Meskipun faktanya aku memang menyedihkan, tapi aku berhak untuk membuktikan bahwa aku juga bisa bahagia, kan?”
“Ya, walaupun, lagi-lagi kebahagiaan itu tercipta dari sebuah kepalsuan. Tapi setidaknya, melalui kamu aku berharap dia bisa tahu aku tidak menderita setelah dihina habis-habisan olehnya.”
Sheeta menggulir matanya, keningnya mengerut tanda sedang berpikir. “Hmm.” Seraya bertopang dagu, Sheeta melanjutkan ucapannya, “Kamu bermaksud membuat hubungan antara kita semacam hubungan mutualisme?”
Liam mengangguk meng-iyakan. Pandangannya kembali fokus ke depan, karena sedang menyetir jadi ia tidak bisa lengah.
“Setelah mendengar ceritamu, aku merasa tidak keberatan jika harus menjalani peran sebagai istri kontrakmu. Koreksi jika aku salah, tapi anak yang kulahirkan ini benar-benar akan menjadi tanggung jawabmu, 'kan? Aku tidak segan membuang anak ini jika kamu menipuku, karena sejak awal aku tidak menginginkannya,” tanya Sheeta memastikan.
“Kamu tenang saja, aku benar-benar akan menerima anak itu dan akan bertanggung jawab selayaknya anak dari darah dagingku sendiri,” timpal Liam dengan mimik meyakinkan.
Sheeta manggut-manggut paham. “Baiklah. Kalau begitu, deal! Aku menerima kesepakatan yang kamu tawarkan.”
Terpaksa atau tidak Sheeta menyetujui kesepakatan tersebut, setidaknya apa yang sudah dipilihnya barusan memiliki peluang lebih baik ketimbang harus mengakhiri hidup. Anggap saja kali ini siklus kehidupan kedua tanpa perlu mengalami kematian terlebih dahulu.
“Aku suka jawabanmu!” Liam menjentikkan jari sembari terkekeh.
“Tapi aku ada beberapa permintaan,” ungkap Sheeta tiba-tiba, memotong ekspresi semringah pria itu.
Kembali memasang wajah serius, Liam melirik sekilas pada Sheeta. “Katakan saja. Aku bukan jin botol yang akan membatasimu dengan tiga permintaan. Mau beribu permintaan pun, selagi aku bisa, aku pasti akan mengabulkannya.”
Kenapa terdengar dramatis? Ah, masa bodo. Sheeta tidak terlalu menanggapi, sebab permintaannya pun tidak neko-neko.
“Pertama, aku ingin kamu membuatkanku identitas baru. Aku tidak mau menggunakan identitas lama. Tapi tidak apa-apa, untuk nama depanku tidak perlu dirubah. Selanjutnya, aku ingin setelah kita menikah, kita tinggal berpisah. Seperti katamu, kamu hanya butuh status saja, 'kan? Jadi, sebaiknya jangan tinggal di dalam satu atap yang sama.”
“Sudah? Itu saja?” Liam melirik-lirik, menunggu jika Sheeta ingin menambahkan permintaan lain.
Sheeta mengangguk mantap. “Itu saja.”
Liam tertawa pelan. “Kenapa kamu tidak meminta hal yang lebih menarik? Seperti perhiasan? Baju-baju cantik dengan merk yang mahal? Sungguh, aku—”
“Kenapa kamu jadi banyak bicara?” sela Sheeta, wajahnya menunjukkan ekspresi sebal. “Apa kamu tidak bisa mengabulkan permintaanku yang lebih sederhana dari omonganmu itu?”
“Oke, oke.” Liam berdeham sebentar, kembali pada mode serius. Sadar bahwa wanita di sampingnya memiliki sumbu pendek. “Tentu, aku akan mengabulkannya. Tapi tidak untuk permintaanmu yang terakhir.”
Sheeta melotot seketika tatkala mendengar kalimat terakhir pria itu. Matanya langsung menghunus tajam, siap menginterogasi. “Kenapa? Hei, ayolah. Yang benar saja. Kita tidak mungkin bisa tinggal berdampingan.”
“Kenapa tidak mungkin?” Liam balik bertanya.
Sheeta memasang ekspresi masam menahan jengkel. “Dasar, bodoh! Tentu saja karena aku tidak nyaman jika harus berbagi tempat tinggal denganmu. Berikan saja aku kontrakan kecil, aku akan mendatangi tempatmu jika peranku sedang dibutuhkan.”
“Nyaman atau tidak nyaman, sayangnya dalam peraturannya kita harus berbagi tempat tinggal,” jawab Liam setenang mungkin, tapi tetap mampu membuat wanita itu menghela napas berulang kali.
“Terserah kamu saja. Aku tidak peduli!” Sheeta menyerah. Ia membuang wajah ke samping, pada kaca mobil, memandangi jalanan dengan bibir mengerucut.
Liam geleng-geleng kepala, sebelah tangannya memegangi pelipis, lalu membuang napas dalam satu hentakan. “Kenapa kamu terlalu sadis pada dirimu sendiri? Pikirkan saja, bagaimana mungkin aku membiarkanmu tinggal di tempat lain sementara aku sudah melihat dengan jelas kamu yang nekat ingin mengakhiri hidup? Bagaimana jika hal itu terulang kembali?”
“Bukan aku yang terlalu sadis, tapi kamu yang terlalu baik hati untuk seukuran pria asing yang baru beberapa menit mengenalku,” balas Sheeta dengan nada datar.
“Lagi-lagi kamu salah menilai. Baik yang kamu maksud tidak gratis, Nona,” bantah Liam, merasa bahwa dirinya tidak pantas mendengar hal tersebut ketika dalam kepala sudah bermunculan macam-macam rencana yang nantinya akan melibatkan Sheeta.
Alih-alih menarik ucapannya setelah diperjelas oleh Liam, justru Sheeta tetap pada pendiriannya, “Setidaknya dari semua pria asing yang aku temui, kamu masih layak dikatakan sebagai pria baik hati. Dari semua pria asing yang aku temui, hanya kamu yang bertanya namaku tanpa memasang tatapan menjijikkan. Dari semua pria asing yang aku temui, hanya kamu yang menggendongku tanpa—”
“Cukup,” potong Liam, dirinya tahu kemana arah pembicaraan tersebut. “Aku mengerti.”
“Aku benci mengakuinya, tapi aku masih punya banyak alasan untuk membuatmu masuk ke dalam nominasi pria asing paling baik hati di dalam hidupku.” Sheeta semakin membuang muka ke samping, menutupi wajah menyedihkannya dari Liam.
“Yeah, sesaat aku merasa terkesan saat mendengarnya. Tapi apapun itu, terima kasih.” Liam tersenyum kikuk, bingung harus memberi tanggapan bagaimana.
Sheeta mendesis dalam gumaman, “Tch, untuk apa dia berterima kasih?”
Hening kembali menyelimuti sepanjang perjalanan. Dan tidak ada percakapan apapun yang terjadi selama itu. Hanya ditemani suara desingan mobil yang berlalu lalang di jalanan malam hari yang lengang.
Sampai akhirnya Liam tiba memarkirkan mobilnya di parkiran dekat apartemennya. Lalu perlahan menuntun Sheeta untuk masuk ke dalam apartemen, wanita itu tidak banyak bicara, patuh saja bahkan ketika tubuh ringkihnya dirangkul penuh perhatian oleh Liam.
“Kamu akan ikut tinggal di sini selama beberapa waktu, sebelum akhirnya kita pindah ke rumah yang sudah aku sediakan. Kamu punya keinginan untuk tinggal di rumah seperti apa?” Liam berbicara sambil terus menuntun Maria sampai akhirnya tiba di atas kasur.
“Terserah. Jangan menanyakan hal seperti itu padaku. Aku hanya ingin tidur untuk malam ini,” balas Sheeta acuh tak acuh, nampak tak nyaman dengan segala perhatian yang ditunjukkan Liam.
“Baiklah. Tapi sebelum tidur kamu harus mengganti pakaian dan sedikitnya mengisi perutmu dengan makanan.” Liam tetap berusaha sebaik mungkin melayani Sheeta, ia amat memaklumi meskipun dalam hati terasa jengkel.
“Berikan saja pakaian apapun untukku, dan aku tidak akan makan malam ini. Kamu tidak boleh memaksaku,” jelas Sheeta tak menerima bantahan.
“Oke. Tunggu sebentar.” Liam lantas melesat ke arah lemari pakaian, mengeluarkan kemeja putih miliknya yang satu-satunya menggantung di sana.
“Tidak ada pakaian lain lagi. Jadi—”
“Tidak masalah.” Sheeta segera menyambar kemeja putih tersebut.
Dan ketika melihat Liam masih bergeming di tempat matanya seketika menyipit sinis. “Kenapa kamu masih belum pergi? Jangan karena kamu impoten, kamu bisa menggunakan alasan itu untuk melihatku saat berganti pakaian.”
“Siapa tahu kamu butuh pembuktian?” Sebelah alis Liam berjengit, sudut bibirnya bergetar nyaris tertawa.
Tapi melihat ekspresi Sheeta yang tak sedap dipandang, Liam pun mengusap batang lehernya dengan rikuh. Pandangannya menyapu ke sembarang arah. “Ah, iya. Aku akan pergi ke ruangan lain. Beritahu aku jika kamu sudah selesai.”
“Ya.”
Liam bergerak mondar-mandir setibanya di ruangan lain, mendadak tubuhnya panas dingin tak karuan. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi tangannya segera merogoh saku celana. Mengeluarkan dompet cokelatnya yang sudah usang.
Dalam dompet tersebut terdapat beberapa lembar uang yang kotor dan kusut, beberapa surat penting yang mungkin sudah habis masa berlakunya, tapi yang dipandangi lamat-lamat oleh Liam adalah sebuah foto yang terselip rapih meskipun sedikit kotor karena bercak kemerahan.
Foto seorang perempuan di sana membuat dadanya bergemuruh. Menghangatkan perasaan yang sejak lama mati-matian ia kubur. Tapi ternyata tetap saja, sejauh apapun dirinya melangkah, sebanyak apapun wanita yang dikencani, perempuan tersebut memiliki tempat istimewa dalam hatinya.
“Aku tidak mengerti. Tapi setelah beberapa kali mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain, kenapa dengannya, dengan wanita yang ingin bunuh diri, baru kali ini aku merasa sedang mengkhianatimu, sayang?” Liam bergumam, mulutnya bergetar.
***
Anda Mungkin Juga Suka





