Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten

(Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten

Liam Benjamin merasa hancur setelah ditinggalkan kekasihnya akibat rumor impotensi yang menerpanya. Di tengah keputusasaan, ia menyelamatkan Sheeta, seorang wanita hamil yang mencoba mengakhiri hidup di laut. Meski tahu Sheeta mantan PSK, Liam justru mengajaknya menikah kontrak. Namun, Liam sebenarnya pria perkasa yang terbelenggu kutukan masa lalu. Akankah benih cinta tumbuh di balik rahasia dan perjanjian pernikahan mereka yang penuh misteri?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Sayang, aku mau itu. Boleh, ya? Ayo kita lakukan sekarang!”

Rayuan manja berbisik tepat di telinga pria berkemeja abu-abu, membuat sang empu sedikit menggeliat. Terlebih saat ini wanitanya duduk di pangkuan dengan mesra, bahkan sengaja menggerakkan pinggulnya untuk memberikan goyangan sensual.

Pria dengan nama lengkap Liam Benjamin itu tampaknya berusaha menghindar, tidak ingin terlibat dalam permainan panas yang sudah setengah jalan.

Mereka sempat bergulat mulut dengan erotis, menciptakan decakan yang menggema dalam ruangan dengan cahaya remang-remang. Tapi hanya Liam yang terlihat tidak ingin melanjutkan.

“Ada apa, sayang? Kali ini kamu mau menghindar lagi?” tangan wanita bersurai panjang itu meraba-raba dada Liam, mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.

Tapi dengan segera Liam menahannya, menggenggam lengan kekasihnya tersebut. Lalu memberinya tatapan selembut mungkin.

“Sudah cukup untuk malam ini, Alina. Kamu terlalu mabuk. Aku akan memanggil supir untuk mengan—”

“Hmmph!”

Mulut Liam yang masih sibuk mengoceh langsung dibungkam oleh ciuman panas yang kembali dilakukan Alina. Wanita itu menginginkan hal lebih, tidak cukup jika hanya dengan berciuman saja.

“Alina, aku mohon berhenti!” Liam menggunakan setengah tenaganya untuk berusaha mendorong tubuh Alina agar menjauh.

Dahi wanita cantik itu mengerut. “Ada apa, sayang? Kamu tidak menginginkannya?”

Liam bingung untuk menjelaskan bagaimana kondisinya. Mulutnya jadi terbata-bata saat akan berbicara, “Bu-bukan begitu, Alina. Hanya saja...”

“Hanya saja apa? Kamu bukan bocah yang baru puber. Tahun ini kamu sudah kepala tiga, Liam. Dan hubungan kita sudah berjalan dua tahun, kita sama sekali belum pernah melakukannya. Ketika ada kesempatan kamu selalu saja menghindar, sebenarnya ada apa?” cerocos Alina meminta penjelasan.

Hembusan napas berat dikeluarkan Liam, kepalanya menunduk. Tidak ada kalimat yang terangkai dalam kepala untuk dikeluarkan. Terlanjur menghitam dan Liam tidak bisa berpikir apa-apa.

“Aku tahu rumormu yang pernah meniduri banyak wanita, tapi kenapa denganku sekalipun kamu tidak mau melakukannya? Apa karena tubuhku tidak bagus dan tidak menarik bagimu?”

Liam segera menggelengkan kepala ketika mendengar pertanyaan tersebut. Karena memang bukan itu yang menjadi alasannya. Sebab wanita dengan tipe body macam Alina tentunya digemari banyak laki-laki.

Alina turun dari pangkuan Liam. Menaikan tali dress nya yang melorot, menutup kembali bongkahan dadanya yang sempat terekspos. Membuat pandangan pria itu kini tertuju padanya.

“Aku juga wanita normal, Liam. Aku butuh hal itu untuk memenuhi kepuasanku. Aku memacarimu bukan hanya untuk diberi uang dan uang saja. Tapi juga ingin berbagi kehangatan di atas ranjang,” paparnya dengan nada yang menahan kekesalan.

Lagi, Liam menghela napas. “Aku tahu, Alina. Tapi...”

“Persetan! Aku tidak peduli lagi!” potong Alina, intonasi bicaranya meninggi.

Matanya menyipit seraya mengeluarkan seringaian, “Biar aku yang mengurus ini. Kamu hanya perlu menikmati saja. Jadi perhatikan aku baik-baik!”

Tangannya meraba-raba dan membelai tubuhnya sendiri. Sengaja melakukan gerakan erotis di depan Liam. Berlenggak-lenggok memamerkan setiap lekukan tubuhnya.

Setiap ketukan high heels merah menyala yang beradu dengan lantai membuat Liam meneguk ludah, Alina kian berjalan mendekat padanya. Sebelah kakinya diangkat naik, menginjak sandaran sofa tepat di sebelah bahu Liam. Sengaja ingin mempertontonkan bagian sensitif miliknya.

“Bagaimana? Apa kamu yakin masih bisa menahannya?” Alina tersenyum puas, tapi usahanya tidak akan berhenti sampai di sini.

Tubuh rampingnya masuk dan berjongkok di antara kedua kaki Liam. Ketika pria tersebut berusaha meminta agar Alina menjauh, perintahnya itu tidak ia hiraukan sama sekali.

“Kamu kenapa sih, Liam? Aneh sekali. Padahal hanya disuruh untuk menikmati saja. Tenang, aku sangat handal dalam hal ini, kamu akan menyesal jika memilih berhenti sebelum sempat merasakan kenikmatan yang mampu membuatmu tergila-gila,” ujarnya dengan penuh percaya diri.

Alina begitu beringas tak sabaran membuka resleting dari celana hitam yang dikenakan Liam. Sedang Liam yang tak lagi mampu melakukan pencegahan hanya pasrah saja, matanya terkatup sembari meringis pelan.

“Loh? Apa ini?” Kening Alina mengernyit saat mendapati benda pusaka milik kekasihnya yang begitu lemas tidak berdaya, hal itu tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Dengan berat hati dan perasaan yang campur aduk, Liam menjelaskan, “Beginilah kenyataannya, Lin. Aku sebenarnya impoten. Aku sudah lama merahasiakannya darimu. Dan karena hal ini juga alasan mengapa aku tidak bisa berbagi kehangatan di atas ranjang seperti yang kamu inginkan.”

Alina kecewa dengan pernyataan tersebut. Merasa sudah dibohongi selama dua tahun menjalani hubungan. Jika bukan karena bisa diporoti uangnya, sudah sejak lama Alina mengakhiri hubungan tanpa gesekan nafsu seperti ini.

“Jadi selama ini aku menjalin hubungan dengan pria yang menyedihkan? Lihatlah, Liam. Sayang sekali tubuh dan wajah rupawanmu itu menjadi sia-sia hanya karena barangmu itu tak lagi berfungsi,” ejek Alina sembari beranjak dari posisi jongkok.

Alina merapihkan kembali pakaiannya. “Aku tidak mungkin mau meneruskan hubungan ini. Maka malam ini juga, mari kita akhiri semua ini. Aku menyesal telah membuang waktu berhargaku, mengingat bahwa aku pernah mengemis cintamu. Padahal jika tahu begini, mana sudi aku menjadikanmu sebagai kekasih.”

Liam hanya menunduk mendengarkan. Dadanya bergemuruh hebat, harga dirinya berasa sedang diinjak-injak.

Sebelum benar-benar pergi dari hadapan Liam, Alina kembali berbicara, “Tidak ada wanita manapun yang mau dengan laki-laki sepertimu, Liam. Karena laki-laki yang keok di atas ranjang tidak mampu memberi kepuasan. Lebih baik terima saja takdir senjatamu yang sudah bagaikan terong layu itu.”

Seharusnya Liam tahu, bahwa cepat atau lambat kondisinya yang memang menyedihkan itu akan segera terungkap oleh sang kekasih.

Namun Liam tidak pernah mengira bahwa ternyata rasanya sesakit ini ketika diberi cemoohan tentang hal yang berada di luar kendalinya.

***

Pria dengan kemeja abu-abu tersebut menggulung bagian lengannya sampai batas sikut. Sesekali kepalanya mendongak, menatap bentangan langit malam yang gulita tanpa ada bintang yang bertebaran, hanya ada bulan yang mulai tersaput awan.

Setelah dihunjam oleh ledekan dan makian dari mantan kekasihnya, Liam memutuskan untuk mencari udara segar dengan mendatangi pantai.

Di sela-sela aktivitasnya yang sibuk termenung seraya mengamati gulungan ombak yang naik turun tak beraturan, atensi Liam teralihkan sepenuhnya oleh sesosok manusia dengan pakaian serba putih yang pelan-pelan berjalan ke tengah laut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri.

Karena penasaran, Liam memicingkan penglihatannya, sesekali ia mengucek matanya untuk memastikan bahwa yang sedang ia lihat memang manusia betulan. Dan setelah diamati, Liam amat yakin itu adalah manusia dan dia adalah perempuan, terlihat dari pakaian yang tengah dikenakannya.

“Apa yang sedang dipikirkan wanita itu? Dia tidak mungkin sengaja ingin berenang di tengah malam begini, 'kan? Jangan sampai dia menyerahkan dirinya untuk menjadi makanan ikan di laut,” gumam Liam, naluri pedulinya muncul begitu saja.

Meski dikenal cukup dingin dan berhati batu, tapi Liam memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Selain rasa pedulinya, ia juga amat penasaran, tak mungkin menikmati pemandangan menyedihkan itu tanpa berusaha melakukan apapun, jadi Liam memutuskan untuk menolongnya.

Menggulung asal celananya hingga menampakan bulu-bulu halus di betisnya, Liam membuang sembarang puntung rokok yang baru beberapa kali ia hisap. Dengan gerakan tergesa-gesa ia berlari menghampiri wanita yang nyaris hilang dilahap ombak lautan.

Sudah memasuki air hingga menenggelamkan setengah badannya, Liam tanpa babibu langsung menarik lengan wanita yang berjarak sekitar tiga langkah di depannya. Dan untuk pertama kalinya pandangan mereka pun bertemu, selama lima detik Liam membatu tanpa bisa mengatakan apa-apa.

“Kamu siapa?! Lepaskan aku!” teriak wanita berambut bondol tersebut, pipi tirusnya dipenuhi oleh linangan air mata, hidung mancungnya pun sudah memerah layaknya badut dan mata cantik dengan bulu mata yang lentik tampak begitu sembap.

Menggelengkan kepalanya sesaat untuk menepis pikiran yang sempat membuatnya mematung, Liam berusaha untuk fokus. “Aku yang seharusnya bertanya padamu, apa yang akan kamu lakukan? Kamu sedang melakukan percobaan bunuh diri?”

Mencoba menepis lengan Liam yang sudah terlanjur mencekalnya dengan erat, wanita itu terlihat kesusahan, sementara air laut mulai meninggi membuat tubuh pendeknya nyaris tenggelam.

“Bukan urusanmu! Apa pedulimu? Mau aku hidup atau mati, tidak ada sangkut pautnya dengan siapapun!” bentaknya sambil terus meronta-ronta dalam cengkraman.

Liam tidak mau berdebat didalam air, jika ada ombak besar datang bisa saja mereka berdua hanyut dan tenggelam. Maka satu-satunya cara tanpa menerima penolakan adalah langsung membopong tubuh wanita tersebut tanpa aba-aba.

“Hei, sialan! Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku, dasar brengsek!” Wanita tersebut terus meraung-raung seraya mengeluarkan umpatan, tubuh pendek dan kecilnya berhasil Liam gendong ala bridal style.

Ketika mulai beranjak naik dari dalam air, pelan-pelan Liam mengetahui bahwa wanita yang berusaha ia selamatkan ternyata sedang hamil. Dari ukuran perutnya, Liam menebak usia kandungannya sudah di atas lima bulan.

“Jika aku tidak menolongmu, maka ada dua nyawa yang hilang malam ini. Aku tidak tahu apa alasanmu sampai ingin mengakhiri hidup, tapi jika itu karena pria yang tidak bertanggung jawab maka kematianmu hanya berujung sia-sia,” ujar Liam mencoba menceramahi.

Sedang wanita yang sebelumnya sibuk menggelepar-gelepar minta diturunkan, sekarang sudah membeku sambil memasang wajah tanpa ekspresi. Seperti sudah tidak ada lagi tenaga untuk marah, ia terlihat pasrah.

“Dunia tidak butuh penghuni seperti diriku. Justru jika aku memaksa untuk hidup, aku akan terus menderita dan bayi dalam perut ini akan malu karena terlahir dari rahim wanita sepertiku. Atau setidaknya, jika aku memang ditakdirkan untuk tetap hidup aku ingin anak ini menghilang seakan dia tak pernah ada dalam perut ini,” ujar wanita itu dengan mata yang terpejam, kulit pucatnya membuatnya semakin terlihat mengkhawatirkan.

Hampir sampai ke tepian pantai, pasir putih sudah nampak dekat terlihat, Liam mengamati penampilan wanita dalam gendongannya secara lekat. Sekelebat ide gila muncul dalam kepalanya, membuat pikiran Liam langsung membentuk sebuah rencana.

“Lahirkan saja anak itu. Aku akan menanggung semuanya. Bahkan jika kamu mau, aku akan menikahimu juga,” balas Liam kemudian, berhasil membuat wanita itu membuka matanya lebar-lebar dengan memasang wajah kebingungan.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFTER THAT NIGHT (CEO)
8.8
Darren Hawk, CEO teknologi di New York, berencana melamar kekasihnya, Angela Rawllies, seorang desainer ternama di Paris. Namun, ambisi cintanya terhambat oleh perjodohan ibunya dengan Xavia Price, model papan atas dari kalangan elit. Meski Darren bertekad menjaga jarak, sebuah insiden dalam satu malam mengubah segalanya dan menjebaknya dalam dilema besar. Kini, ia harus memilih antara cintanya pada Angela atau tanggung jawabnya kepada Xavia yang mendesak.
Sampul Novel Love my adoptive father
7.9
Alexander Lux mengadopsi Bella Laurent dari panti asuhan sejak usia tiga belas tahun untuk mengobati luka hatinya. Meski awalnya Alex berjanji tak ingin menikah lagi, kebersamaan mereka justru menumbuhkan benih cinta terlarang yang sangat mendalam. Kehadiran Bella membawa warna baru bagi Alex hingga hubungan mereka menjadi sangat intim. Namun, romansa ini terancam saat orang tua Alex memaksanya dijodohkan dan sang mantan kekasih kembali muncul mengusik mereka.
Sampul Novel MENJADI BUDAK NAFSU TUAN YUAN
9.8
Sekembalinya dari London, Hani Paulla langsung mengemban tugas sebagai sekretaris di bawah pengawasan kakaknya, Yuan Andersson. Namun, pesona Hani justru memicu obsesi gelap Yuan yang kemudian memaksanya menjadi pemuas hasrat sang billionaire. Meski terjebak dalam hubungan terlarang, sentuhan Yuan perlahan membuat Hani kecanduan. Kini ia bimbang antara melarikan diri atau jatuh cinta, sembari dihantui ketakutan jika rahasia ini tercium orang tua mereka.
Sampul Novel Mrs Bodyguard
8.7
Kendra, pewaris otomotif Tanaka yang manja dan rupawan, nyaris tewas akibat gaya hidup bebasnya. Demi keamanannya, sang ayah menyewa Drupadi, mantan anak asuh mafia yang dingin, sebagai pengawal pribadi. Menyamar jadi pria, Dru harus melindungi Kendra yang kerap kesal namun mulai bergantung padanya. Meski terpaut usia empat tahun dan terikat sumpah profesional untuk tidak jatuh cinta, benih asmara mulai tumbuh di antara pengawal tangguh dan majikan manis ini.
Sampul Novel Pelakor Kesayangan CEO
8.2
Alisya kini kembali sebagai Aleena dengan identitas baru. Status pelakor melekat padanya saat Arfa, pewaris Arhadita Company, tunduk dalam pesonanya. Aleena bertekad menghancurkan hidup Laura, istri Arfa, hingga berkeping-keping. Namun, kehamilan Laura dan munculnya sosok masa lalu mulai mengguncang keteguhan hatinya. Saat rahasia kelam perlahan terkuak, mampukah Arfa meraih kembali cinta Aleena yang penuh dendam di tengah kemelut rumah tangga mereka?
Sampul Novel Pernikahan Wasiat
8.9
Alayna Liora Setiawan, gadis 21 tahun yang terbiasa hidup mewah, terjebak dalam dilema besar. Ayahnya meninggalkan wasiat yang mengharuskan ia menikah dengan kakak angkatnya, Zariel Vian Karyan. Jika menolak pria berusia 28 tahun itu, Alayna terancam kehilangan seluruh hak warisannya. Tak sanggup membayangkan hidup dalam kemiskinan tanpa harta peninggalan sang ayah, Alayna terpaksa menjalani pernikahan yang tidak pernah ia inginkan tersebut.