Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Cinta Yang Kandas

Bukan Cinta Yang Kandas

Tiga tahun Aveline mengabdi dalam pernikahan tanpa cinta demi Damian, bahkan rela menyerahkan bakat arsitekturnya agar suaminya bersinar. Namun, pengkhianatan Damian di depan publik menyadarkannya. Aveline memilih bercerai dan bangkit membangun firma de la Fontaine miliknya sendiri. Kini, ia kembali sebagai arsitek kelas dunia yang sukses mengalahkan dominasi perusahaan Blackwood. Di tengah puncak kejayaan, akankah ia membiarkan cinta masuk kembali ke hatinya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aveline tidak berlari. Setiap langkahnya di atas karpet tebal koridor Hotel Mahameru terukur dan sengaja. Ia tidak menoleh ke belakang, bahkan ketika ia merasa gelombang kebingungan dari orang-orang yang dilewatinya. Gaun peraknya berdesir pelan, satu-satunya suara yang menemaninya dalam kepompong keheningan yang ia ciptakan di tengah keramaian. Pintu lift terbuka di hadapannya, dan ia masuk, menekan tombol lobi dengan jari yang tidak lagi gemetar.

Di dalam kotak cermin itu, ia akhirnya melihat pantulan dirinya dengan jelas. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala dengan ketajaman yang sudah lama tidak ia rasakan. Tidak ada air mata. Air mata adalah untuk kesedihan atau kehilangan. Apa yang ia rasakan saat ini bukanlah kehilangan, melainkan penemuan. Ia telah kehilangan ilusi, dan sebagai gantinya, ia menemukan kembali dirinya sendiri.

Bunyi ting pelan saat lift tiba di lobi terasa seperti lonceng yang menandai dimulainya babak baru. Udara malam Jakarta yang hangat dan lembap menyambutnya saat pintu otomatis hotel bergeser terbuka. Kontras yang tajam dengan dinginnya pendingin udara dan atmosfer beku di ballroom. Aveline menghirupnya dalam-dalam. Baunya seperti kebebasan-campuran asap knalpot, aroma masakan dari pedagang kaki lima di kejauhan, dan wangi bunga dari taman hotel. Bau kehidupan nyata.

Seorang petugas membukakan pintu taksi untuknya. "Tujuan, Nyonya?"

"Jalan Cikini Raya," jawab Aveline, menyebutkan sebuah alamat yang sudah bertahun-tahun tidak ia kunjungi, sebuah alamat yang tidak ada dalam daftar properti bersama Blackwood.

Saat taksi melaju, membelah lalu lintas malam ibu kota, Aveline menatap keluar jendela. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, berkilauan dengan ribuan lampu, adalah taman bermainnya dulu. Ia bisa menyebutkan nama arsitek di balik sebagian besar gedung itu. Menara Blackwood, dengan desainnya yang agresif dan tajam, tampak mendominasi cakrawala, sebuah monumen arogansi suaminya. Tidak jauh dari situ, Menara de la Fontaine, karya kakeknya, berdiri lebih anggun, lebih tenang, dengan fasad yang seolah berdialog dengan langit. Sebuah perang bisu antara dua filosofi, dua dinasti. Dan ia terperangkap di tengah-tengahnya.

Taksi akhirnya berbelok ke jalan yang lebih tenang dan rindang, dipenuhi bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial. Mobil berhenti di depan sebuah paviliun bergaya art deco yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi dan rimbunnya pohon-pohon tua. Ini bukan rumah, melainkan sebuah studio. Studio pribadi almarhum kakeknya, Adiwangsa de la Fontaine. Tempat ini telah dibiarkan tak tersentuh selama bertahun-tahun, dijaga oleh seorang penjaga tua, seolah menunggu tuannya kembali. Malam ini, tuannya telah kembali, dalam wujud cucunya.

Aveline membayar taksi dan melangkah keluar. Udara di sini terasa berbeda, lebih sejuk, beraroma tanah basah dan sejarah. Ia membuka gerbang yang berderit pelan dan berjalan di jalan setapak batu. Kuncinya masih ada di tempat rahasia yang hanya ia dan kakeknya yang tahu-di dalam pot terakota kosong di sudut teras.

Pintu kayu jati yang berat terbuka, menyebarkan aroma yang langsung membawanya kembali ke masa kecil. Bau kertas yang menua, debu yang mengendap, kayu cedar, dan sisa-sisa aroma tinta cina. Di dalam, cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela besar menerangi siluet-siluet yang familiar: meja-meja gambar yang kokoh, rak-rak yang penuh dengan gulungan cetak biru, dan maket-maket arsitektur yang berdiri seperti kota hantu mini di atas meja-meja panjang.

Ini adalah tempat perlindungannya. Ini adalah sumber kekuatannya.

Tindakan pertamanya adalah melepaskan diri dari kepalsuan. Ia membuka ritsleting gaun perak yang terasa seperti sangkar itu dan membiarkannya jatuh ke lantai, tumpukan kain yang berkilauan dan tak bernyawa. Dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya, ia berjalan ke sebuah lemari tua di sudut ruangan. Di dalamnya, tergantung beberapa kemeja kerja kakeknya yang sudah usang. Ia mengambil satu, kemeja katun putih yang sudah agak menguning, dan memakainya. Lengan bajunya terlalu panjang, jadi ia menggulungnya hingga ke siku. Kain yang kasar di kulitnya terasa lebih nyata dan menenangkan daripada sutra termahal sekalipun.

Ia merasa seperti dirinya lagi. Bukan Nyonya Blackwood. Bukan pewaris de la Fontaine. Hanya Aveline.

Kemudian, ia mengambil ponselnya. Jarinya bergerak dengan cepat dan pasti. Panggilan pertama adalah untuk pengacara keluarganya, Pak Binsar.

"Halo, Aveline? Ada apa malam-malam begini?" suara serak Pak Binsar terdengar khawatir.

"Selamat malam, Pak Binsar. Maaf mengganggu," kata Aveline, suaranya tenang dan datar. "Saya ingin Anda menyiapkan surat gugatan cerai untuk saya ajukan terhadap Damian Blackwood sesegera mungkin."

Hening sejenak di seberang telepon. Aveline bisa membayangkan pengacara tua itu duduk tegak di tempat tidurnya. "Aveline... apa kau yakin? Apa yang terjadi?"

"Sangat yakin. Alasan: perbedaan yang tidak dapat didamaikan," katanya, menggunakan istilah hukum yang terasa begitu klinis dan tidak memadai untuk menggambarkan jurang di antara mereka. "Tolong pastikan semua aset atas nama saya sebelum pernikahan terlindungi sepenuhnya. Termasuk kepemilikan saham saya di Fontaine Legacy."

"Tentu... tentu saja, Aveline. Saya akan siapkan drafnya besok pagi," jawab Pak Binsar, nadanya kini berubah menjadi profesional.

"Terima kasih," kata Aveline, lalu menutup telepon.

Selesai. Langkah pertama telah diambil. Ia meletakkan ponselnya dan berjalan lebih dalam ke studio. Jarinya menyentuh permukaan berdebu dari sebuah meja gambar. Di atasnya, terbentang sebuah sketsa lama milik kakeknya-sebuah jembatan. Goresan pensilnya begitu kuat dan penuh percaya diri. Kakeknya pernah berkata, "Seorang arsitek yang baik tidak hanya membangun struktur, Ve. Ia membangun koneksi. Antara tanah dan langit, antara masa lalu dan masa depan, antara manusia dengan manusia."

Damian membangun tembok.

Tiba-tiba, suara deru mobil sport yang familier memecah keheningan malam. Suaranya semakin dekat, lalu berhenti tepat di depan gerbang. Lampu depannya yang tajam menembus jendela studio, menciptakan bayangan-bayangan panjang dan dramatis.

Aveline tidak terkejut. Ia sudah menduganya. Damian tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara gedoran keras di pintu. Bukan ketukan, melainkan gedoran yang marah dan tidak sabar.

"Aveline! Buka pintu ini! Aku tahu kau di dalam!"

Aveline menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan ke arah pintu. Ia tidak merasa takut. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak merasa takut pada pria ini. Ia membuka pintu kayu itu.

Damian berdiri di sana, wajahnya keras seperti batu pualam di bawah cahaya teras. Jasnya sedikit kusut, dasinya sedikit miring-pemandangan yang sangat langka. Matanya menyala karena amarah yang terkendali.

"Apa artinya semua ini?" desisnya, melangkah masuk tanpa diundang. Matanya menyapu interior studio yang berdebu dengan pandangan jijik, lalu berhenti pada penampilan Aveline-kemeja kebesaran yang ia kenakan. "Apa yang kau lakukan di tempat kumuh ini? Dan kenapa kau memakai itu? Kau mempermalukanku, Aveline. Pergi begitu saja dari acara."

Aveline menutup pintu dengan pelan. "Aku tidak mempermalukanmu, Damian. Aku hanya berhenti mempermalukan diriku sendiri."

"Omong kosong," bentaknya. "Semua orang melihatmu pergi. Semua orang bertanya-tanya. Reputasi kita..."

"Reputasi kita?" Aveline memotong, suaranya tetap tenang namun mengandung baja. "Tidak ada 'kita', Damian. Yang ada hanya kau dan citramu. Dan malam ini, kau membuatnya sangat jelas bahwa aku bahkan bukan bagian dari citra itu."

Damian menghela napas kasar, mencoba mengendalikan emosinya. Ia beralih ke taktik yang lebih rasional, seolah sedang bernegosiasi dalam sebuah rapat. "Dengar, aku tidak tahu kenapa kau begitu sentimentil soal pidato itu. Itu hanya kata-kata. Clara adalah bagian dari masa laluku. Itu tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita."

Saat itulah Aveline tertawa. Tawa yang pelan, kering, dan tanpa kegembiraan. Tawa seseorang yang baru saja mendengar lelucon paling absurd di dunia.

"Tidak ada hubungannya?" ulangnya. "Damian, kau berdiri di atas panggung, menerima penghargaan untuk sebuah proyek yang jiwanya aku berikan padamu. Kau mengambil ide-ideku, kerja kerasku, malam-malam tanpa tidurku, lalu kau membangun monumen dari itu semua dan mendedikasikannya untuk hantu dari masa lalumu. Di depan seluruh dunia, kau membuatku tidak terlihat. Kau tidak hanya mengabaikanku, kau menghapusku. Dan kau bilang itu tidak ada hubungannya?"

Wajah Damian mengeras. "Aku tidak pernah memintamu bekerja sekeras itu. Itu pilihanmu. Aku memberimu kebebasan..."

"Kau memberiku sangkar emas!" balas Aveline, suaranya sedikit naik untuk pertama kalinya. "Kau menempatkanku di perusahaanmu, di bawah namamu, di mana setiap prestasiku secara otomatis menjadi milikmu. Itu bukan kebebasan, itu penjajahan yang sopan."

Ia berjalan ke salah satu meja dan mengusap debu dari sebuah maket kecil-desain pertamanya yang memenangkan kompetisi saat kuliah. "Aku adalah seorang arsitek, Damian. Sama sepertimu. Sama seperti kakekku. Tapi kau tidak pernah melihatnya. Kau hanya melihat seorang istri yang bisa kau manfaatkan bakatnya tanpa harus berbagi sorotan."

Damian terdiam, tampak bingung oleh ledakan kejujuran yang tiba-tiba ini. Logikanya tidak dapat memproses data emosional ini. "Ini tidak rasional, Aveline. Pikirkan bisnisnya. Pikirkan aliansi keluarga kita. Saham akan jatuh jika berita perceraian kita keluar."

Dan di sanalah inti masalahnya. Saham. Bisnis. Aliansi. Bukan perasaan. Bukan pengkhianatan. Bukan hati yang telah ia injak-injak.

"Aku sudah memikirkannya," kata Aveline dengan tenang. "Dan aku sudah menelepon Pak Binsar. Pengacaraku akan menghubungimu besok."

Mata Damian melebar karena terkejut, kemudian menyipit karena marah. "Kau tidak akan berani."

"Aku sudah melakukannya," Aveline menegaskan. Ia menunjuk ke arah pintu. "Pernikahan kita sudah selesai, Damian. Sama seperti percakapan ini. Tolong tinggalkan properti saya."

Kata-kata 'properti saya' terasa begitu kuat di lidahnya. Sebuah penegasan kepemilikan. Sebuah garis batas yang telah ia tarik.

Damian menatapnya lama, seolah baru pertama kali melihat wanita di hadapannya. Ia melihat keteguhan di mata Aveline, sebuah fondasi kokoh yang tidak bisa ia goyahkan. Arogansinya tidak lagi memiliki kekuatan di sini, di dalam benteng warisan Aveline. Dengan geraman tertahan, ia berbalik dan membanting pintu di belakangnya, meninggalkan keheningan yang diberkahi.

Aveline tidak goyah. Ia berdiri di tengah studio, di antara hantu-hantu masa lalu yang baik, dan merasakan kelegaan yang luar biasa menyelimutinya. Ia bebas.

Ia berjalan ke meja gambar terbesar di ruangan itu, meja kakeknya. Dengan kain lap, ia membersihkan permukaannya yang berdebu, menyingkap kayu jati tua yang indah. Ia menemukan gulungan kertas kalkir yang masih baru di dalam laci dan membentangkannya. Kertas itu terhampar putih dan bersih, sebuah kanvas kosong yang penuh kemungkinan.

Di luar, langit timur mulai memancarkan semburat fajar yang pucat. Cahaya pertama hari yang baru menyelinap masuk melalui jendela, mengusir bayangan malam. Aveline mengambil sebuah pensil grafit dari tempatnya. Ujungnya tajam. Ia memegangnya di atas kertas, tangannya mantap.

Sebuah nama muncul di benaknya, jernih dan kuat. Bukan de la Fontaine, bukan Blackwood. Sesuatu yang baru, yang miliknya.

Fontaine Creations.

Dengan napas yang mantap, Aveline de la Fontaine menarik garis pertamanya. Garis yang lurus, tegas, dan penuh dengan janji masa depan yang akan ia rancang sendiri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dinikahi Brondong Tajir
9.3
Dunia Keyla Valerie seketika runtuh saat ia memergoki pengkhianatan suaminya yang berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah kehancuran hati dan keputusasaan yang mendalam, seorang pemuda tampan dengan gaya badboy tiba-tiba muncul di hadapannya. Tanpa ragu, pemuda kaya raya tersebut langsung mengklaim bahwa Keyla adalah calon istrinya. Bagaimana nasib Keyla selanjutnya menghadapi situasi tak terduga ini? Ikuti kisah selengkapnya sekarang.
Sampul Novel Gadis Nakal Miliarder
8.4
Serafhine Ariana menjalani profesi unik di dunia daring dengan menawarkan jasa khusus bagi pria tanpa harus mengorbankan kesuciannya. Meski banyak pelanggan merasa puas dan bersedia membayar mahal, Serafhine memiliki prinsip yang sangat teguh dalam bekerja. Ia hanya melayani satu klien untuk satu malam saja. Baginya, tidak ada kesempatan kedua bagi siapa pun, karena ia secara tegas menolak pesanan berulang meskipun ditawari imbalan yang sangat tinggi.
Sampul Novel Istri Dadakan Tuan Kejam
8.9
Kehilangan calon istri dalam kecelakaan tragis mengubah pria ini menjadi sosok kejam yang penuh dendam. Ia bertekad menghancurkan orang yang dianggap bertanggung jawab atas kematian kekasihnya. Demi membalas sakit hatinya, ia menikahi seorang wanita sebagai bagian dari rencana penghancuran. Namun, di tengah misi balas dendam tersebut, hatinya justru goyah. Kedekatan dengan istri barunya mulai menyentuh sisi kemanusiaan yang selama ini ia kunci rapat.
Sampul Novel Istriku, Jaminan Bisnis Ayahku
9.1
Elias Pradana, pengusaha sukses yang merasa terjebak dalam hampa pernikahan bersama Safira, menemukan pelipur lara pada sosok Dina. Kepolosan gadis desa itu membawa warna baru saat hubungannya dengan sang istri mendingin pasca insiden pahit. Namun, keadaan berbalik ketika Safira berusaha berubah kembali menjadi wanita yang dulu dicintai Elias. Merasa menjadi beban, Dina memilih pergi menghilang. Kini Elias terjebak di persimpangan antara masa lalu dan kebahagiaan barunya.
Sampul Novel Istriku Mengkhianatiku Dengan Pria Lain
8.4
Dua tahun menikah, hidup sempurna Zevan hancur saat mengetahui perselingkuhan istrinya, Clara. Dalam kemarahan besar, ia meluapkan rasa sakitnya di kamar gelap. Namun, pagi harinya Zevan terkejut mendapati Amanda, pembantu barunya, yang ada di ranjangnya, bukan Clara. Terjebak dalam pengkhianatan istri dan kesalahan fatal dengan pelayannya, Zevan kini dirundung dilema. Haruskah ia membalas dendam atau memikirkan konsekuensi besar dari kekacauan yang kian rumit ini?
Sampul Novel Lelaki Asing Yang Menodaiku
9.1
Alana melarikan diri dari rencana pernikahan karena merasa ternoda oleh pria misterius yang tidak ia kenali. Tragedi masa lalu sebagai TKW itu meninggalkan trauma mendalam hingga ia menutup diri. Sementara itu, Lars adalah CEO sukses yang merasa hidupnya hampa setelah kehilangan sebagian ingatan akibat kecelakaan. Saat takdir mempertemukan mereka, Lars merasa terobsesi pada Alana. Rasa rindu dan perih yang muncul mulai mengusik rahasia masa lalu mereka yang kelam.