Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Cinta Yang Kandas

Bukan Cinta Yang Kandas

Tiga tahun Aveline mengabdi dalam pernikahan tanpa cinta demi Damian, bahkan rela menyerahkan bakat arsitekturnya agar suaminya bersinar. Namun, pengkhianatan Damian di depan publik menyadarkannya. Aveline memilih bercerai dan bangkit membangun firma de la Fontaine miliknya sendiri. Kini, ia kembali sebagai arsitek kelas dunia yang sukses mengalahkan dominasi perusahaan Blackwood. Di tengah puncak kejayaan, akankah ia membiarkan cinta masuk kembali ke hatinya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Fajar di studio kakeknya tidak datang dengan kelembutan. Ia datang sebagai cahaya putih yang tajam, menyoroti kekacauan yang teratur di sekeliling Aveline. Lantai parket yang tadinya bersih kini dihiasi pulau-pulau kertas sketsa yang diremas. Meja gambar utama dipenuhi goresan-goresan pensil yang energik-konsep fasad, denah ruang, dan diagram alir organisasi. Aroma kopi kental yang baru diseduh bercampur dengan bau debu dan sejarah, menciptakan wangi khas dari sebuah revolusi pribadi yang berjalan semalaman. Aveline, masih mengenakan kemeja kebesaran kakeknya, berdiri di tengah ruangan, matanya memindai hasil kerjanya dengan tatapan seorang jenderal yang merencanakan serangan pertama. Ia tidak tidur. Tidur adalah kemewahan yang tidak ia butuhkan saat ini. Adrenalin adalah bahan bakarnya.

Ponselnya, yang ia abaikan selama berjam-jam, tiba-tiba bergetar hebat di atas meja. Sebuah panggilan masuk, lalu satu lagi, disusul rentetan notifikasi berita. Dengan enggan, ia meraihnya. Layarnya menyala dengan badai yang telah ia prediksi.

Portal berita bisnis terkemuka menampilkan foto dirinya dan Damian di acara semalam, foto yang diambil beberapa saat sebelum semuanya runtuh. Judulnya besar dan provokatif: "PERNIKAHAN EMAS ARSITEKTUR RETAK? NYONYA BLACKWOOD TINGGALKAN SUAMI DI MALAM KEMENANGAN." Portal gosip lebih kejam: "DRAMA DI PESTA ELIT: Ditinggal Istri Setelah Pidato Emosional Untuk Mendiang Tunangan, Hati Damian Blackwood Hancur Dua Kali?"

Narasi yang beredar jelas. Damian adalah sang korban-suami berbakti yang ditinggalkan oleh istri yang tidak stabil secara emosional, yang cemburu pada hantu. Aveline digambarkan sebagai sosok tragis yang rapuh atau, lebih buruk lagi, wanita pendendam yang kekanak-kanakan. Ia bisa melihat tangan Damian di balik semua ini. Ia adalah seorang maestro dalam mengendalikan persepsi publik.

Rasa marah yang dingin menjalari tulang punggungnya, tetapi tidak ada kepanikan. Ini adalah medan perang yang ia kenal. Selama tiga tahun, ia telah melihat bagaimana Damian membentuk opini, menghancurkan reputasi pesaing dengan rumor yang ditanam secara strategis, dan memoles citranya sendiri hingga bersinar tanpa cela. Sekarang, mesin yang sama diarahkan padanya.

"Kau butuh lebih dari sekadar pensil dan kertas untuk melawannya, Ve," bisiknya pada diri sendiri. Ia tahu langkah selanjutnya. Ia tidak bisa membangun sebuah kerajaan sendirian.

Panggilan pertamanya bukan kepada pengacara atau ayahnya, melainkan ke sebuah nomor yang sudah lama tidak ia hubungi. Panggilan itu dijawab pada dering kedua.

"Halo?" suara yang terdengar familier, sedikit serak karena baru bangun tidur.

"Reza? Ini Aveline."

Hening sejenak. "Aveline? Bos? Tunggu, kenapa kau menelepon dari nomor ini? Seluruh kantor mencarimu. Damian seperti..."

"Aku tidak lagi di Blackwood Corp, Reza," potong Aveline, suaranya tenang. "Dan aku bukan bosmu lagi. Aku menelepon untuk menawarkan pekerjaan baru."

Lagi-lagi hening, kali ini lebih lama. "Aku mendengarkan," kata Reza akhirnya, nada kantuknya hilang, digantikan oleh kewaspadaan.

Mereka bertemu satu jam kemudian di sebuah kedai kopi tua di kawasan Menteng. Bukan kafe mewah tempat para eksekutif mengadakan pertemuan, melainkan kedai sederhana dengan kursi rotan dan aroma kopi tubruk yang pekat. Ini adalah dunia Reza, bukan dunia Damian. Reza tiba, mengenakan jins dan kemeja flanel yang sedikit kusut. Matanya yang tajam langsung memindai Aveline, menilai kondisinya.

Reza adalah manajer proyek paling brilian yang pernah Aveline kenal. Ia bergabung dengan Blackwood Corp sebagai anak magang dan dengan cepat menanjak karena kemampuannya yang luar biasa dalam menerjemahkan visi arsitek yang paling liar sekalipun menjadi jadwal, anggaran, dan hasil yang konkret. Ia adalah jembatan antara mimpi dan realitas. Dan yang terpenting, ia adalah salah satu dari sedikit orang di Menara Blackwood yang tahu persis seberapa besar kontribusi Aveline pada Proyek Phoenix.

"Jadi, berita di media itu benar," kata Reza setelah memesan kopi hitam. Ia tidak bertanya, melainkan menyatakan fakta.

"Sebagian besar bohong, tapi bagian tentang aku meninggalkannya itu benar," jawab Aveline.

Reza mengangguk perlahan, menyeruput kopinya. "Aku hanya heran kenapa butuh waktu selama ini. Aku melihatmu di acara itu. Kau tampak seperti akan hancur atau meledak. Aku senang kau memilih untuk meledak."

Aveline tersenyum tipis, senyum tulus pertama dalam waktu yang lama. "Aku akan membangun firma sendiri. Namanya Fontaine Creations. Aku ingin kau menjadi orang pertama yang bergabung. Aku butuh seorang Kepala Proyek. Seseorang yang bisa mengubah sketsa-sketsa gilaku menjadi bangunan yang nyata."

Reza tidak terlihat terkejut. Ia hanya menatap Aveline lurus-lurus. "Kau tahu apa yang akan terjadi, kan? Damian tidak akan membiarkanmu begitu saja. Ini bukan lagi soal pernikahan. Ini soal bisnis. Kau adalah aset berharga yang kabur, dan kau tahu terlalu banyak rahasianya. Dia akan mencoba menghancurkanmu sebelum kau sempat meletakkan batu pertamamu."

"Aku tahu," kata Aveline.

"Dia akan mengikat semua klien besar. Dia akan menekan para pemasok untuk tidak bekerja sama denganmu. Dia akan menggunakan semua koneksi medianya untuk memastikan tidak ada yang mau berinvestasi padamu. Kau akan memulai dari nol, bahkan mungkin dari minus, dengan musuh sekuat Blackwood Corp," lanjut Reza, memaparkan kenyataan pahit tanpa basa-basi.

"Aku tahu," ulang Aveline, ketenangannya tidak goyah. "Itulah sebabnya aku membutuhkanmu. Aku punya visi. Aku butuh seseorang yang bisa membangun benteng di sekitarnya. Seseorang yang aku percaya."

Reza terdiam lama, matanya menatap ke dalam cangkir kopinya yang hitam pekat. Aveline menunggu, memberinya ruang untuk berpikir. Ia tahu ia meminta banyak. Ia meminta Reza untuk meninggalkan pekerjaan yang stabil dan bergaji tinggi untuk bergabung dengan sebuah perusahaan rintisan yang target utamanya adalah untuk dihancurkan oleh raksasa industri.

Akhirnya, Reza mengangkat kepalanya dan tersenyum miring. "Kapan kita mulai, Bos?"

Kelegaan yang hangat membanjiri Aveline. Ini adalah kemenangan pertamanya. Aliansi pertamanya telah terbentuk.

"Sekarang," jawabnya. "Tapi pertama-tama, kita butuh markas yang layak dan... modal."

Tantangan selanjutnya jauh lebih menakutkan daripada merekrut Reza. Ia harus menghadapi ayahnya.

Handoyo de la Fontaine menerima putrinya di ruang kerjanya yang megah di lantai atas Menara de la Fontaine. Ruangan itu adalah museum kesuksesan keluarga: dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap, rak-rak buku dipenuhi literatur arsitektur klasik, dan di atas perapian marmer yang tidak pernah dinyalakan, tergantung potret Adiwangsa de la Fontaine yang menatap tajam, seolah mengawasi warisannya.

Ayahnya duduk di belakang meja berukuran besar, menatap Aveline dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di atas meja, tergeletak tablet yang menampilkan artikel berita tentang 'drama' semalam.

"Aku sudah mengharapkan kedatanganmu," kata Handoyo, suaranya tenang namun mengandung kekecewaan. "Teleponku tidak berhenti berdering sejak pagi. Dari kolega, dari dewan direksi, bahkan dari bank. Kau menciptakan gelombang, Aveline."

"Aku hanya menolak untuk tenggelam, Ayah," balas Aveline, berdiri tegak di depan meja ayahnya. Ia tidak datang sebagai anak perempuan yang mencari perlindungan, ia datang sebagai seorang profesional.

"Meninggalkan suamimu di depan ratusan orang penting bukanlah cara menyelesaikan masalah," kata Handoyo. "Ada cara yang lebih... elegan. Lebih strategis. Apa yang kau lakukan itu impulsif. Buruk untuk citra keluarga, buruk untuk bisnis."

"Pernikahan itu sendiri adalah strategi bisnis, Ayah," balas Aveline. "Dan strategi itu telah gagal. Damian tidak melihatku sebagai mitra, ia melihatku sebagai sumber daya. Aku menolak untuk dieksploitasi lebih lama lagi. Aku datang ke sini bukan untuk meminta maaf. Aku datang dengan sebuah proposal."

Ia meletakkan sebuah map tipis di atas meja ayahnya. Di dalamnya ada beberapa lembar sketsa yang ia buat semalaman, bersama dengan draf rencana bisnis satu halaman untuk 'Fontaine Creations'.

Handoyo membukanya dengan skeptis. Matanya menyapu sketsa-sketsa itu-desain-desain yang berani, organik, dan sangat berbeda dari gaya kaku Blackwood Corp. Lalu ia membaca rencana bisnisnya. Visinya jelas: firma arsitektur butik yang berfokus pada desain inovatif dan berkelanjutan, menargetkan proyek-proyek yang dihindari oleh perusahaan besar karena terlalu menantang secara artistik.

"Kau ingin membangun firmanmu sendiri untuk bersaing dengan suamimu," kata Handoyo, lebih sebagai kesimpulan daripada pertanyaan.

"Bukan untuk bersaing dengannya," koreksi Aveline. "Untuk melampauinya. Untuk mengembalikan nama de la Fontaine ke tempatnya semula: sebagai pionir, bukan sekadar pemain korporat. Fontaine Legacy menjadi terlalu nyaman, terlalu aman. Kita sudah lama tidak menciptakan sesuatu yang benar-benar menggemparkan dunia arsitektur. Aku akan melakukannya."

Ada api dalam kata-katanya, gema dari semangat kakeknya yang didambakan oleh Handoyo namun tidak pernah bisa ia tiru sepenuhnya. Handoyo menatap putrinya, lalu ke potret ayahnya di dinding, lalu kembali ke sketsa di tangannya. Ia melihat lebih dari sekadar gambar. Ia melihat warisan. Ia melihat masa depan.

"Damian akan menghancurkanmu," kata Handoyo, mengulangi peringatan Reza.

"Biarkan dia mencoba," jawab Aveline. "Tapi aku tidak bisa melakukannya tanpa fondasi. Aku butuh ruang, Ayah. Dan aku butuh modal awal. Bukan sebagai hadiah, tapi sebagai investasi. Berinvestasilah pada putrimu. Berinvestasilah pada nama keluarga kita."

Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan itu. Handoyo menimbang-nimbang, otaknya yang selalu berputar dalam kalkulasi bisnis kini beradu dengan kebanggaan seorang ayah. Akhirnya, ia mengambil telepon di mejanya.

"Rina," katanya kepada sekretarisnya. "Kosongkan lantai 17. Siapkan untuk renovasi. Dan hubungkan aku dengan bagian keuangan. Atur transfer dana awal ke rekening baru atas nama... Fontaine Creations."

Ia meletakkan teleponnya dan menatap Aveline. "Lantai 17 memiliki pemandangan terbaik ke arah pusat kota. Kakekmu dulu sering berdiri di sana. Jangan kecewakan dia."

Aveline mengangguk, rasa terima kasih yang mendalam memenuhi hatinya. "Aku tidak akan."

Satu minggu kemudian. Lantai 17 Menara de la Fontaine masih kosong dan berbau cat baru. Dinding-dinding kaca dari lantai ke langit-langit menyajikan pemandangan panorama Jakarta yang memukau. Di kejauhan, Menara Blackwood berdiri seperti pedang gelap yang menantang langit.

Aveline dan Reza berdiri di tengah ruangan yang luas itu, sebuah kanvas kosong yang siap mereka lukis. Reza memegang tablet, menampilkan daftar proyek-proyek kecil yang potensial: renovasi lobi hotel butik, desain rumah mewah di pinggir kota, sebuah galeri seni.

"Kita bisa mulai dari sini," kata Reza. "Proyek-proyek kecil, cepat, untuk membangun portofolio dan arus kas. Aman dan strategis."

Aveline hampir tidak mendengarkan. Matanya tertuju pada pemandangan di luar jendela. Tatapannya melewati Menara Blackwood, tertuju pada sebuah area luas di pesisir utara kota-kawasan pelabuhan tua yang terbengkalai.

"Apa itu?" tanyanya.

Reza mengikuti arah pandangannya. "Oh, itu. Proyek Revitalisasi Dermaga Kertajaya. Rencana besar pemerintah kota. Tender akan dibuka bulan depan. Skalanya tiga kali lipat Proyek Phoenix. Semua orang bilang itu sudah pasti jadi milik Blackwood atau konsorsium asing. Tidak ada yang berani menyentuhnya."

Aveline terus menatap area itu. Sebuah lahan luas yang terluka, menunggu untuk disembuhkan dan dilahirkan kembali. Sebuah tantangan yang mustahil. Sebuah panggung yang sempurna.

"Damian berpikir aku akan bersembunyi di balik proyek-proyèk kecil, menjilat lukaku, dan perlahan-lahan membangun kekuatanku," kata Aveline pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Dia mengharapkan aku bermain aman."

Ia berbalik menghadap Reza, matanya berkilat dengan ambisi yang begitu besar hingga terasa nyaris berbahaya.

"Dia salah. Kita tidak akan memulai dengan kerikil, Reza. Kita akan langsung membidik gunung itu."

Reza menatapnya, lalu ke tabletnya yang berisi daftar proyek aman, lalu kembali ke wajah bos barunya yang penuh tekad. Senyum perlahan terkembang di wajahnya. Ini akan menjadi perjalanan yang gila. Dan ia tidak sabar untuk memulainya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dinikahi Brondong Tajir
9.3
Dunia Keyla Valerie seketika runtuh saat ia memergoki pengkhianatan suaminya yang berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah kehancuran hati dan keputusasaan yang mendalam, seorang pemuda tampan dengan gaya badboy tiba-tiba muncul di hadapannya. Tanpa ragu, pemuda kaya raya tersebut langsung mengklaim bahwa Keyla adalah calon istrinya. Bagaimana nasib Keyla selanjutnya menghadapi situasi tak terduga ini? Ikuti kisah selengkapnya sekarang.
Sampul Novel Gadis Nakal Miliarder
8.4
Serafhine Ariana menjalani profesi unik di dunia daring dengan menawarkan jasa khusus bagi pria tanpa harus mengorbankan kesuciannya. Meski banyak pelanggan merasa puas dan bersedia membayar mahal, Serafhine memiliki prinsip yang sangat teguh dalam bekerja. Ia hanya melayani satu klien untuk satu malam saja. Baginya, tidak ada kesempatan kedua bagi siapa pun, karena ia secara tegas menolak pesanan berulang meskipun ditawari imbalan yang sangat tinggi.
Sampul Novel Istri Dadakan Tuan Kejam
8.9
Kehilangan calon istri dalam kecelakaan tragis mengubah pria ini menjadi sosok kejam yang penuh dendam. Ia bertekad menghancurkan orang yang dianggap bertanggung jawab atas kematian kekasihnya. Demi membalas sakit hatinya, ia menikahi seorang wanita sebagai bagian dari rencana penghancuran. Namun, di tengah misi balas dendam tersebut, hatinya justru goyah. Kedekatan dengan istri barunya mulai menyentuh sisi kemanusiaan yang selama ini ia kunci rapat.
Sampul Novel Istriku, Jaminan Bisnis Ayahku
9.1
Elias Pradana, pengusaha sukses yang merasa terjebak dalam hampa pernikahan bersama Safira, menemukan pelipur lara pada sosok Dina. Kepolosan gadis desa itu membawa warna baru saat hubungannya dengan sang istri mendingin pasca insiden pahit. Namun, keadaan berbalik ketika Safira berusaha berubah kembali menjadi wanita yang dulu dicintai Elias. Merasa menjadi beban, Dina memilih pergi menghilang. Kini Elias terjebak di persimpangan antara masa lalu dan kebahagiaan barunya.
Sampul Novel Istriku Mengkhianatiku Dengan Pria Lain
8.4
Dua tahun menikah, hidup sempurna Zevan hancur saat mengetahui perselingkuhan istrinya, Clara. Dalam kemarahan besar, ia meluapkan rasa sakitnya di kamar gelap. Namun, pagi harinya Zevan terkejut mendapati Amanda, pembantu barunya, yang ada di ranjangnya, bukan Clara. Terjebak dalam pengkhianatan istri dan kesalahan fatal dengan pelayannya, Zevan kini dirundung dilema. Haruskah ia membalas dendam atau memikirkan konsekuensi besar dari kekacauan yang kian rumit ini?
Sampul Novel Lelaki Asing Yang Menodaiku
9.1
Alana melarikan diri dari rencana pernikahan karena merasa ternoda oleh pria misterius yang tidak ia kenali. Tragedi masa lalu sebagai TKW itu meninggalkan trauma mendalam hingga ia menutup diri. Sementara itu, Lars adalah CEO sukses yang merasa hidupnya hampa setelah kehilangan sebagian ingatan akibat kecelakaan. Saat takdir mempertemukan mereka, Lars merasa terobsesi pada Alana. Rasa rindu dan perih yang muncul mulai mengusik rahasia masa lalu mereka yang kelam.