Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Calon Kakak Ipar

Bukan Calon Kakak Ipar

Nasha sangat mengagumi hubungan kakaknya, Nisha, dengan Rayyan hingga ia mencari pacar semirip mungkin. Ia pun memilih Feri yang tampak sempurna dan menjaga kehormatannya. Namun, petaka datang saat Nisha meninggal menjelang pernikahan. Di tengah duka, Nasha dikhianati Feri yang menghamili sahabatnya sendiri karena alasan nafsu. Trauma mendalam membuat Nasha menutup hati dari pria, sampai akhirnya ia kembali bertemu Rayyan, sang mantan calon kakak ipar.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sesampainya di kampus, aku segera melesat untuk mencari teman-temanku.

"Na. Sini," teriak Jeni.

Aku segera menghampirinya yang tengah duduk bareng Rosi.

"Yang lain pada kemana?" tanyaku.

"Katanya ada urusan mendadak. Apalagi setelah tahu matkul Pak Candra kosong alias libur. Tapi kita dapat tugas suruh dikumpulin lewat email."

"Oh. Ya udah yuk nyari wifi gratisan," ajakku.

"Ayuk. Tapi jangan disinilah bosen. Cari di fakultas lain yuk," ajak Jeni antusias.

"Boleh. Tapi dimana?" tanyaku.

"Fakultas Hukum aja? Gimana?" saran Rosi.

"Cakep Ros, sambil kita tebar pesona sama anak Hukum. Aku dengar kebanyakan dari mereka anak orang kaya guys. Hihihi," seperti biasa radar Jeni pada cowok tampan dan tajir langsung on.

"Tentu. Ayuk," sahut Rosi tak kalah antusias.

Aku cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah para sahabatku. Sesampainya di salah satu gazebo di Fakultas Hukum, aku langsung mengeluarkan laptop dan mulai menyusun tugas dari Pak Candra. Sementara kedua temanku asik selfi dan tebar senyum sana sini.

Sesekali kulirik mereka. Ya ampun. Sekali lagi aku hanya terkekeh lalu kembali menenggelamkan diri dengan menatap layar laptop.

"Selesai." Aku merenggangkan otot-otot tubuhku untuk mengurangi rasa pegal karena cukup lama fokus dengan laptop.

"Copy Na. Ntar aku tinggal ngedit," pinta Jeni dan Rosi seperti biasa.

"Nih udah aku copy di flashdisk. Ingat ya, gak boleh sama. Harus ada yang kalian ubah kata-katanya," tukasku.

"Wokeh," sahut keduanya kompak.

Sambil menunggu mereka menyalin dan mengedit tugas mereka, kuedarkan pandanganku untuk mengamati keadaan sekeliling. Hingga tatapanku tertuju pada seorang cowok, dia tersenyum manis kearahku. Wow ... tampan. Punya dua lesung pipi lagi kayak Mas Rayyan. Astaga kok balik ke calon kakak iparku lagi ya. Hadeh. Karena dia masih senyum ke arahku aku pun membalas senyumnya.

"Na, kamu senyumin siapa?" tanya Rosi.

"Pengin senyum aja," jawabku.

"Masa sih?" Rosi tak percaya dan mengedarkan pandangannya.

"Aneh. Masa kamu senyum sendiri. Kirain ada cowok cakep yang kamu lihat." Rupanya Rosi masih penasaran, dia masih saja celinguk kanan kiri hahaha.

"Nasha itu kayaknya gak bakalan jatuh cinta deh Ros, dia itu JOSETI alias jomblo sejati," celetuk Jeni tanpa mengalihkan matanya dari laptop.

Aku hanya tersenyum tanpa mau menanggapi. Kuedarkan lagi pandang mataku. Ah, rupanya cowok tadi sudah pergi.

*****

Acara lamaran Mbak Nisha terlaksana seminggu kemudian. Rencananya enam bulan lagi mereka akan menikah. Karena keluargaku dan Mas Rayyan masih memegang adat Jawa yang kuat. Termasuk masalah hitungan dalam menentukan tanggal pernikahan.

"Selamat Mbakku sayang. Cie ... yang mau jadi istri."

"Makasih Dek." Mbak Nisha mengulas sebuah senyuman dan terlihat cantik sekali.

"Selamat ya Beb. Aku turut senang dengernya," ucap Mbak Hilda sahabat karib Mbakku. Seorang bidan juga dan bekerja di tempat yang sama dengan Mbak Nisha.

"Sama-sama semoga kamu sama Farhan segera nyusul."

Kulihat Mbak Hilda hanya tersenyum tipis.

*****

Aku tengah berjalan melintasi koridor menuju Perpus pusat sambil membalas pesan Rosi temanku.

Bruk.

"Maaf gak sengaja," ucapku.

"Oh gak papa. Kamu Nasha kan?" ucap cowok yang kutabrak.

"Iya betul siapa ya?"

"Feri. Kamu lupa ya sama aku," jawabnya.

Aku mengerutkan kening berusaha mengingat-ingat.

"Oh … Feri anak Hukum ya? Oh hai apa kabar?"

"Baik. Aku pikir kamu lupa sama aku."

"Hehehe. Sedikit. Habis mau gimana lagi setelah Ospek kita gak pernah ketemu lagi."

Feri adalah salah satu kenalan yang aku temui saat Ospek dulu. Sama-sama Maba. Bedanya dia anak Hukum. Karena kampus kami berbeda praktis kami tak pernah jumpa lagi.

"Minta nomer WA-nya dong," pinta Feri.

"0813xxxxxxxx," jawabku.

"Oke aku save ya. Oh iya aku pergi dulu ya. Ada urusan. Sampai jumpa lagi." Feri berlalu dari hadapanku.

Aku masih memandang Feri bahkan aku tersenyum tanpa kusadari hingga sebuah tepukan keras menempel pada bahuku.

"Aw ... sakit tahu!" sungutku.

"Hehehe. Maaf lagian kamu dari tadi aku panggil gak jawab-jawab. Ayuk buruan ke Perpus," kata Rosi.

"Ayuk."

Kami pun berjalan sambil sesekali bercanda.

*****

Aku tengah menstarter motorku secara manual. Nasib karena aki motor sudah soak harus ganti tapi belum ada duit. Hiks. Hiks. Nasib. Mana pake rok lagi, lupa aku.

"Nasha," sebuah suara memanggilku.

"Feri."

"Kenapa motornya?" tanyanya.

"Hehehe. Harus di starter manual," jawabku sambil cengengesan.

"Hahaha. Sini aku bantu." Feri langsung membantuku. Yap tuh kan langsung hidup.

"Habis ini mau kemana?" tanyanya saat aku mulai menaiki motor.

"Mau langsung balik."

"Makan dulu yuk. Mumpung jam satu, nih. Udah makan belum?"

"Belum. Niatnya mau makan di rumah makanya langsung pulang ini."

"Makan dulu ya sama aku. Lagian lama kita gak ngobrol," pintanya.

"Tapi nanti kalau motornya gak bisa aku starter lagi gimana?" terangku ragu.

"Hahaha. Ampun deh Na, kan ada aku."

"Oh iya. Hahaha. Maklum panik takut gak bisa starter manual lagi."

"Ya udah yuk, kita ke WS ‘Warung Stik’ aja ya. Sana berangkat dulu nanti aku nyusulin di belakang. Ntar paling kamu aku salip."

"Hahaha. Tahu aja kamu, aku gak bisa naik motor cepet-cepet."

"Hahaha. Tahulah. Ayuk."

Kami pun segera menuju ke WS. Disana kami pun makan sambil ngobrol.

Ternyata Feri masih seperti dulu, ramah dan supel. Calon kandidat pacar ini. Asek. Ups. Hahaha.

*****

"Duh yang kemarin makan bareng sama gebetan," Rosi mulai melancarkan aksi menggodaku.

"Hehehe. Kok tahu. Emang kamu dimana? Kok aku gak tahu."

"Ya mana tahulah, kamunya asik gitu sama gebetannya."

"Lah, kamu kemarin ke WS juga?"

"Iya, aku di kursi paling pojok sebelah Selatan."

"Masa sih? Kok gak nyapa aku?"

"Maunya. Tapi gak enak takut ganggu," Rosi menyeringai jahil.

"Hahaha ... ih. Kayak sama siapa aja. Sapa aja lagi."

"Eh ... tapi bukannya yang kemarin makan sama kamu si anak Hukum ya? Feri kalau gak salah."

"Yupz. Masih inget aja Non sama namanya," ucapku sambil menyentuhkan bahuku pada bahunya.

"Hehehe. Ingetlah. Orang ganteng mana sih yang gak aku ingat. Kami pun tertawa terbahak menertawakan kekonyolan Rosi. Ya begitulah Rosi, radarnya sangat tajam kalau sudah mengenai cowok cakep.

*****

"Nasha," panggilan ibuku menyahut merdu.

"Ada apa Ibuku sayang?" Ciri khas Ibu, suara melengking dan tak mau berhenti kalau belum ditindaklanjuti.

"Tuh, ada temenmu datang. Uluh-uluh bungsu Ibu. Udah gede. Udah ada yang ngapelin."

"Hah, siapa yang ngapelin Bu?" aku syok mendengar ada cowok yang ngapelin aku. Di hari Minggu masih jam 9 pagi juga. Wow keajaiban dunia. Sepertinya status jomblo abadiku sedikit goyah.

Aku pun segera menuju ruang tamu dan awuwu ... kaget. Ternyata Feri yang datang. Aku pikir dia cuma bercanda ternyata beneran mau main. Oh, lihatlah senyum manisnya. Duh bikin meleleh hati. Hem ... aku akan pertimbangkan jadi pacar kalau dia nembak dech. Eh, emangnya dia suka sama aku ya. Ckckck haluku terlalu tinggi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Haram Milik Suamiku
8.1
Kebahagiaanku sebagai istri dan ibu hancur dalam sekejap setelah sebuah pengakuan mengejutkan terucap dari mulut suamiku. Ternyata, anak angkat yang selama ini kami asuh dengan penuh kasih sayang dari panti asuhan adalah darah dagingnya sendiri hasil hubungan gelap dengan wanita lain. Janji tentang surga rumah tangga yang ia tawarkan dulu kini terasa seperti dusta menyakitkan. Aku terjebak dalam kenyataan pahit saat pernikahan kami berada di ambang kehancuran.
Sampul Novel Bad Duda
9.2
Edeline dihantui trauma mendalam yang membuatnya takut bersentuhan dengan pria. Namun, takdir membawanya menjadi dokter magang di rumah sakit milik Elvis Dalton, seorang duda arogan yang dikenal kejam. Meski awalnya saling membenci, benih kebutuhan mulai tumbuh di antara mereka. Keduanya adalah jiwa yang terluka oleh masa lalu dan penyesalan. Akankah pertemuan ini menyatukan kepingan puzzle hidup mereka, ataukah semesta justru memisahkan dua insan yang penuh luka ini?
Sampul Novel Bukan Kisah Peterpan Tinkerbell
8.6
Haera merenungkan filosofi Peter Pan yang mampu memberi kebahagiaan bagi Wendy namun tak bisa memilikinya, layaknya idola kepada penggemar. Saat diskusi beralih pada sosok Tinker Bell, sang sahabat setia, sebuah pemikiran baru muncul di tengah proses penulisan ceritanya. Haera menyadari bahwa meski Peter Pan tak bisa meraih Wendy, Tinker Bell akan selalu ada di sisinya. Sebuah kisah tentang kesetiaan dan perasaan yang tersembunyi di balik bayang-bayang persahabatan.
Sampul Novel Gairah Istri yang Tersembunyi
8.9
Abigail Putri terikat pernikahan paksa demi wasiat sang kakek. Di balik sosoknya yang biasa, ia menyembunyikan identitas profesional yang penuh gairah. Suaminya, seorang psikolog sekaligus CEO penerbitan yang dingin, justru terobsesi pada satu penulis misterius tanpa tahu itu adalah istrinya sendiri. Saat rahasia besar Abigail mulai terancam terbongkar, ia harus bernegosiasi dengan sang suami. Namun, perlindungan atas rahasia tersebut menuntut harga yang sangat mahal.
Sampul Novel I Win You
8.3
Vanilla terus menggoda Nick dengan tindakan provokatif yang memicu ketegangan intens di antara mereka. Meski Nick telah memperingatkan risiko dari permainan berbahaya ini, Vanilla justru semakin berani dalam memancing hasrat pria itu. Di tengah suasana yang semakin panas, Nick berusaha keras mengendalikan diri agar tidak kehilangan kendali. Namun, godaan Vanilla yang nakal dan penuh kemenangan membuat situasi kian tak terduga dalam hubungan dewasa yang penuh gairah ini.
Sampul Novel Little Brother
8.6
Irena menghadapi kenyataan pahit yang tidak pernah terlintas dalam benaknya sedikit pun. Hubungan persaudaraan yang seharusnya murni kini ternoda oleh sebuah rahasia gelap yang mengejutkan. Adik laki-lakinya sendiri ternyata telah lama menyembunyikan perasaan cinta terlarang yang melampaui batas wajar seorang saudara. Irena kini terjebak dalam dilema batin yang mendalam saat menyadari bahwa sosok yang ia sayangi memiliki obsesi romantis terhadap dirinya.