Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Aku Yang Menjebakmu

Bukan Aku Yang Menjebakmu

Nadira Almeira, sekretaris bersahaja di Mahardika Corp, mendadak dituduh menjebak CEO Elvano Mahardika demi kekuasaan. Tanpa bukti, Elvano memecat dan mempermalukannya di depan publik dengan lemparan uang yang menghina harga dirinya. Padahal, Nadira hanyalah korban yang tidak tahu apa-apa. Situasi kian rumit saat ia menyadari dirinya tengah mengandung anak Elvano. Kini, Nadira harus memilih antara pergi selamanya atau kembali menghadapi pria yang telah menghancurkannya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Suara hujan mengguyur kaca jendela kantor Mahardika Corp di lantai dua puluh lima. Lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap hanya menjadi latar samar di balik embun dan gemuruh malam. Jam menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh ketika Nadira Almeira, mengenakan blouse putih sederhana dan rok pensil hitam, masih berada di meja kerjanya, menuntaskan laporan keuangan yang harus diserahkan esok pagi.

Ia tidak mengeluh. Bekerja lembur sudah menjadi rutinitas sejak bergabung sebagai sekretaris pribadi Elvano Mahardika, pria muda berusia tiga puluh satu tahun dengan reputasi dingin dan tak tersentuh. Wajahnya rupawan, sikapnya tak kenal kompromi. Pria itu dikenal tanpa ampun terhadap kesalahan, dan Nadira telah belajar sejak awal: jangan buat satu pun kesalahan fatal.

Namun malam itu berbeda.

Tepat pukul sembilan tiga puluh, pintu ruang kerja Elvano terbuka. Nadira mengangkat wajahnya dan menemukan atasannya berdiri tegak di ambang pintu, mengenakan kemeja abu gelap yang bagian atasnya sedikit terbuka, wajahnya tak bisa dibaca. Mata pria itu menatapnya dengan tajam, terlalu tajam. Jantung Nadira berdegup aneh, merasa ada yang salah, tapi dia tak tahu apa.

"Masuk," perintah Elvano singkat.

Dengan langkah hati-hati, Nadira bangkit dan masuk ke dalam ruangan besar bergaya modern itu. Lampu remang menyinari meja besar dari kayu hitam, kursi kulit, dan rak buku yang tersusun rapi. Aroma kopi dan parfum maskulin samar memenuhi udara.

"Ya, Pak?" tanyanya pelan, menjaga nada suaranya netral.

Elvano berjalan pelan mengelilingi meja, lalu menatapnya dalam-dalam. "Kau pikir aku bodoh, Nadira?"

Nadira mengernyit. "Maaf, saya tidak mengerti."

"Kau menjebakku. Dengan obat, dengan niat busuk. Kau tahu benar apa yang terjadi malam Jumat itu. Jangan pura-pura polos."

Mulut Nadira terbuka, nyaris membantah, tapi ia terlalu bingung. Malam Jumat? Yang dia ingat, malam itu dia hanya membantu menyusun berkas hingga larut lalu pulang. Dia tidak pernah menyentuh minuman atau makanan apapun milik atasannya.

"Apa maksud Anda, Pak? Saya tidak melakukan-"

"Diam!" hardik Elvano, nadanya tajam seperti cambuk. "Kau racuni minumanku. Kau buat aku kehilangan kendali. Dan sekarang, beredar rumor kalau aku menghabiskan malam dengan sekretarisku. Semua orang mulai bicara, dan kau tahu siapa yang jadi tertuduh? Aku."

Nadira menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan guncangan emosinya. "Saya tidak tahu apa-apa soal itu... Saya bahkan tidak ingat malam itu seperti yang Anda ceritakan."

"Kau memang aktris yang hebat," sindirnya sambil tertawa dingin. "Tapi drama ini sudah selesai."

Dengan satu gerakan cepat, Elvano membuka laci mejanya, menarik segepok uang ratusan ribu dan melemparkannya ke wajah Nadira. Uang itu berserakan di lantai, beberapa lembar menempel di rambut dan tubuhnya.

"Itu bayaran untuk jasamu. Sekarang enyah dari kantor ini. Kau dipecat."

Seketika dunia Nadira runtuh.

Air matanya langsung jatuh, tapi dia tidak menyeka. Tangannya mengepal di sisi tubuh, tubuhnya bergetar. Ia menatap Elvano, bukan dengan air mata yang memelas, tapi dengan sorot yang hancur-dan marah.

"Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan," bisiknya lirih. "Saya tidak pernah menyentuh Anda. Saya tidak pernah menjebak siapa pun. Tapi Anda... Anda bahkan tidak memberi saya kesempatan untuk menjelaskan."

Elvano tidak berkata apa-apa. Matanya tetap dingin.

Dengan langkah gemetar, Nadira membungkuk, memunguti uang-uang itu satu per satu, lalu meletakkannya kembali di meja.

"Simpan ini untuk hati nurani Anda, Pak. Anda akan membutuhkannya suatu hari nanti."

Ia keluar dari ruangan dengan langkah terpatah-patah, menahan isak dan malu yang menyiksa. Dalam benaknya, hanya satu pertanyaan yang terus berdengung: siapa yang menjebaknya?

Tiga minggu berlalu.

Nadira mengurung diri di kamar kosnya yang sempit. Pekerjaan baru belum ia dapatkan, reputasinya tercemar, dan beberapa rekan kantor bahkan menyebarkan desas-desus yang lebih parah. Hidupnya porak-poranda, semua karena malam yang bahkan tak pernah benar-benar ia alami.

Pagi itu, tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya. Perutnya mual tanpa alasan. Ia pikir itu karena stres. Namun ketika mual itu kembali menghantam di siang hari, dan kemudian malam harinya, Nadira mulai curiga.

Ia duduk di tepi ranjang, napasnya memburu. Tangannya meraih kalender kecil di meja, menghitung mundur siklusnya. Ia menahan napas. Sudah lebih dari lima minggu sejak terakhir kali...

Tak percaya, dia langsung pergi ke apotek terdekat, mengenakan hoodie dan masker agar tak dikenali.

Satu jam kemudian, dia berdiri di kamar mandi sempit kosnya, menatap dua garis merah di alat uji kehamilan. Tangannya bergetar. Dunia terasa berputar. Suaranya tercekat. Ia menjatuhkan diri di lantai, memeluk lututnya.

Dia hamil.

Dan satu-satunya pria yang pernah menyentuhnya... adalah pria yang telah menghancurkannya. Pria yang melemparkan uang ke wajahnya seolah ia wanita murahan.

Elvano Mahardika.

Hening. Nadira duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan menggenggam alat tes itu erat-erat, seolah-olah itu bisa memberi jawaban atas kekacauan hidupnya.

"Aku tidak minta ini..." bisiknya sambil menangis. "Aku tidak pernah meminta ini..."

Tapi air mata tak bisa mengubah kenyataan. Bayi itu ada di dalam dirinya. Ia hidup, berkembang. Setengah dari darah yang mengalir dalam tubuh anak itu... milik pria yang mengusirnya tanpa belas kasihan.

Ia punya dua pilihan.

Melupakan semuanya, melahirkan dan membesarkan anak itu sendirian, hidup dalam bayang-bayang stigma dan kehancuran reputasi.

Atau...

Menghadapi Elvano. Mengungkap kebenaran. Bukan untuk menuntut cinta, bukan untuk balas dendam, tapi untuk keadilan... untuk anak yang bahkan belum sempat melihat dunia.

Untuk kali pertama sejak malam itu, Nadira menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajah yang pucat, mata yang sembab, tapi sorotnya berbeda.

Kali ini, ada nyala yang tak lagi ingin menyerah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Fall For You
9.6
Arsenio Orlando Lazcano adalah CEO Lazcano's Corps yang kaya dan penuh kharisma. Di balik pesonanya, ia menyembunyikan sisi gelap sebagai pria yang tak segan membunuh. Namun, dunianya yang kelam berubah total setelah sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang gadis lugu yang sangat baik hati. Perbedaan kepribadian yang kontras justru memicu rasa penasaran Arsen. Ketertarikan mendalam pun muncul saat ia mulai terobsesi pada gadis yang sangat polos tersebut.
Sampul Novel Bukan Mantan Istri Biasa
9.2
Tiga tahun Laura mengabdi sebagai istri yang penurut, namun Nikolas Riyadi justru membalasnya dengan dingin karena wanita lain. Sadar pengorbanannya sia-sia, Laura akhirnya memilih bercerai. Kabar kembalinya status lajang sang ahli waris kaya ini langsung menggemparkan publik, memicu persaingan para CEO tampan untuk meminangnya. Saat Nikolas memohon kesempatan kedua di depan umum, akankah Laura luluh atau tetap pergi meninggalkan masa lalunya?
Sampul Novel Ceo itu ayah anakku
9.1
Queen Azalea berusaha keras melupakan Sean Alexander, pria masa lalu yang menolak putri mereka karena takut memikul tanggung jawab. Namun, takdir mempertemukan kembali sang CEO dominan itu dengan Queen. Saat Sean tak sengaja bertemu Lilly, ia merasakan ikatan batin yang kuat. Di tengah pengejaran Sean, rahasia pilu terungkap: Lilly mengidap kanker darah. Sean pun memohon kesempatan untuk menebus kesalahan dan menjadi ayah sejati di sisa waktu berharga putri kecilnya.
Sampul Novel Married to the Scandalous Billionaire
9.5
Pasca konflik dengan ibu tirinya, Beverley Holmes terkejut menemukan namanya sendiri tertera sebagai mempelai wanita dalam sebuah undangan pernikahan. Ternyata, dia telah dijual demi melunasi utang jutaan dolar. Di sisi lain, Brent Oliver sang suami awalnya bersumpah takkan tergoda oleh kecantikan istrinya. Namun, kepolosan Beverley justru perlahan meluluhkan hatinya. Kini Brent bimbang, akankah dia setia pada kekasih rahasianya atau menyerah pada pesona istrinya?
Sampul Novel Mr. G itu Bos-nya!
9.6
Briana Jeany dikhianati kekasihnya, Alex, tepat di hari istimewa mereka. Dalam balutan amarah, ia nekat menggoda pria asing bernama Mr. G dan membayarnya karena dikira pria sewaan. Sialnya, pria itu adalah bos barunya yang kini menyimpan dendam akibat harga dirinya diinjak-injak. Saat Mr. G mulai memberikan pelajaran yang justru menumbuhkan benih cinta, Alex kembali membawa janji pernikahan. Briana pun terjebak di antara tuntutan sang bos dan masa lalunya.
Sampul Novel Predestinasi Cinta
8.7
Setahun sudah Nayyara Maheswari menjalin kasih dengan Tama, namun tembok besar berupa restu dan adat menghalangi mereka. Biaya 'membeli' mempelai pria yang fantastis membuat Nayyara merasa rendah diri. Di tengah kemelut itu, ia terjebak dalam skenario licik hingga tak sengaja menghabiskan malam dengan Khalingga, CEO sekaligus atasannya. Akibat pengaruh obat perangsang dalam makanan, takdir Nayyara dan putra pemilik perusahaan itu pun berubah selamanya.