Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Boy and Secret

Boy and Secret

Kenzo dan Alesha terjebak dalam pernikahan paksa akibat tuntutan orang tua. Hubungan tanpa cinta ini menjadi semakin rumit karena mereka harus menyembunyikan status tersebut dari publik. Situasi kian pelik saat Alesha hamil, memicu ketakutan luar biasa dalam dirinya. Meski penuh tekanan dan lika-liku, keduanya berupaya membangun komitmen di tengah badai emosi. Inilah perjalanan sulit mereka dalam menghadapi rahasia besar serta tanggung jawab yang tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alesha menatap datar langit-langit kamar. Dadanya naik-turun seolah membutuhkan udara yang lebih banyak lagi. Perempuan itu memejam sesaat, berharap tadi malam hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun, kala ia kembali membukanya, Kenzo benar-benar ada di samping ia dalam keadaan masih tertidur pulas.

Air mata Alesha perlahan menetes. Tidak ada isak tangis yang ia keluarkan. Perempuan itu sekedar butuh merenung. Rasanya berat ingin beranjak dari ranjang. Seakan apa pun di luar kamarnya akan menertawakan perbuatan ia dan Kenzo semalam. 

Alesha mengusap kasar sisi dahinya yang mengeluarkan keringat dingin. Perempuan itu bergerak meraba nakas, mengambil ponselnya. Jam menunjukkan pukul 06.30. Ia harus bangun guna bersiap ke kampus. Tak hanya akan belajar, tetapi juga menghibur diri. Berpura-pura melupakan kejadian memalukan ini. 

Ia tak ingin mengganggu Kenzo. Alesha yakin laki-laki itu akan terbebani setelah sadar nanti. Lebih baik, Alesha menghindar beberapa saat saja. Membiarkan Kenzo bergelut dengan pikirannya.

"Tadi, tidak haram untuk kita lakukan. Mungkin, ini memang waktu yang tepat untuk kau meminta hak. Kenzo, jangan membenciku setelah kau bangun, ya? Aku pun tak akan marah padamu. Aku akan menanggungnya sendiri jika benih yang kau tanam benar-benar tumbuh," ujar Alesha.

Menarik napas kemudian mengembuskan perlahan, Alesha tersenyum. Semalam, Kenzo memang berlaku manis meskipun itu dalam keadaan di bawah alam sadarnya. Alesha berharap tidak ada akan terjadi hal buruh setelah ini. 

Alesha beranjak dari tempatnya. Perempuan itu segera menuju kamar mandi. Bersih-bersih badan lalu bersiap melakukan aktivitas seperti biasa. Mengatakan pada dirinya bahwa semalam tak terjadi apa-apa. 

Perempuan itu bergerak meraih pulpen juga secarik kertas untuk Kenzo agar laki-laki tersebut membaca pesannya setelah bangun nanti. Sungguh, Alesha tak sanggup semakin berperang dingin dengan sosok yang ia harap akan berada di sisinya selamanya. 

Dulu, harapan terbesar Alesha adalah tak pernah memiliki mantan kekasih. Sekarang pun tetap. Alesha akan berusaha menyukai Kenzo meskipun itu sulit dan tak tentu akan mendapat balasan. Alesha pasti mengusahakannya. Pernikahan ini terlalu sakral dan haram untuk dihentikan tanpa alasan.

Selesai dengan persiapannya, Alesha segera pergi. Perempuan itu tak bisa berlama-lama di sini sebab takut air matanya akan kembali jatuh. Ia bukan tipe orang cengeng, tetapi ia tahu masalah ini bukan main-main.

Bersamaan dengan itu, Kenzo pun perlahan mengerjapkan mata. Ia menyipit karena sinar terang dari balik jendela sana menyapanya. Gorden yang terbuka, Kenzo menautkan alis kala mengetahui hal tersebut. 

"Siapa yang ... hah?" 

Kenzo mengusap-usap kelopak matanya. Tempat ini bukan kamar pribadinya. Terkesan seperti milik perempuan. Terbukti dengan segala barang yang berwarna putih dan merah muda. Kenzo meneguk saliva. Hatinya mendadak cemas.

Ia hendak beranjak. Namun, dibuat terkejut lagi saat membuka selimut dan terlihat badannya yang tak terbalut apa-apa. Kenzo tidak ingin ambil pusing, ia memilih segera mendekati jendela masih dengan kain tebal itu sebagai penutup tubuh.

Tampak di gerbang sana, mobil Alesha baru saja melaju. Kenzo mengerti sekarang. Laki-laki itu menengok ke samping, tepatnya bagian meja belajar Alesha. Terdapat sebuah surat yang menarik perhatian ia untuk dibaca. 

"Aku bukan menghindar. Hanya ingin mengatakan pada diriku sendiri bahwa setelah ini keadaan pasti baik-baik saja. Berangkatlah ke tempat latihan seperti biasanya. Jangan memikirkan banyak hal. Maaf, aku lemah tak bisa menghentikanmu semalam."

Kenzo terdiam beberapa saat. Laki-laki itu mendadak limbung dan setelahnya terduduk lemas di kursi Alesha. Ia geleng-geleng kepala beberapa kali. Tidak berdosa menurutnya, tetapi mengingat pernikahan mereka yang hanya berawal dari perjodohan membuat ia tak percaya akan melakukan hal tersebut secepat ini.

"Aku? A-aku menyentuhnya? Bagaimana jika ia marah? Wartawan? Agensi?" 

Kenzo menunduk sembari menghela napas lelah. Ia pasti menghadapi masalah besar setelah ini. Baru pertama kali dan Kenzo harap hal yang kemungkinan terjadi, tidak berlaku pada Alesha.

***

Alat pengukur waktu menunjukkan tepat pukul 12.00. Suara bernada tinggi juga beberapa kertas yang dilempar kasar pada lantai sudah menjadi makanan sehari-hari bagi karyawan perusahaan ini. Mereka memilih sibuk bersiap untuk keluar makan siang daripada harus mendengar kemarahan sang CEO pada sekretarisnya. 

Seorang perempuan berpenampilan santai dengan rambut dicepol tinggi memasuki ruangan sumber bising itu. Tersenyum pada atasannya yang baru saja memaki laki-laki berpakaian formal tersebut. Ia tidak takut sama sekali sebab kemari pun memiliki tujuan jelas. 

"Selamat siang, Pak. Ini laporan keuangan dari kafe cabang yang saya pegang. Maaf mengganggu waktunya, permisi."

Hanya kalimat itu yang perempuan tersebut katakan. Setelah mendapat anggukan dan map tadi berpindah tangan, ia pun memutuskan pergi. Tidak ingin ikut mendapat amarah juga tentu saja.

Yoora, perempuan berusia dua puluh satu tahun yang hampir menyelesaikan belajar di kampus terbaik fakultas entertainment dan media. Belum lulus dan seharusnya hanya fokus sebagai aktris, tetapi ia mampu menggarap cabang kafe milik CEO galak tadi.

Semenjak kejadian perceraian orang tuanya, Yoora memutuskan pindah ke Korea Selatan. Bukan tanpa alasan, melainkan itu negara satu-satunya yang sejak dulu ingin sekali ia kunjungi. Bermula dari musik pop, drama dan terakhir ia tertarik dengan sistem pendidikannya.

Yoora itu cerdas. Satu hari setelah surat pernyataan orang tuanya resmi bercerai keluar, beasiswa yang selama ini ia harapkan akhirnya terwujud. Tanpa perlu meminta persetujuan dari pihak mana pun, perempuan tersebut meninggalkan tanah airnya.

Di sinilah Yoora sekarang, berdiri menunggu si kekasih untuk makan siang bersama. Hari ini, kelasnya selesai pagi sehingga ada waktu untuk mereka dapat bertemu sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan sampingan masing-masing. 

Baru saja Yoora akan mengambil ponsel guna bertanya laki-laki itu sudah sampai di mana, ia yang ditunggu pun muncul tentu dengan mobil bercat putih miliknya. Yoora tersenyum lalu memasuki kendaraan tersebut tanpa harus dibukakan pintu.

Yoora itu mandiri bahkan sampai kini sudah bersuami. Tidak ada trauma yang ia rasakan akibat insiden empat tahun lalu. Pikirnya, jalan hidup ia dan orang tuanya pasti berbeda. Yoora akan menemukan kebahagiaan baru di sini, di negara ini bersama keputusan-keputusan yang ia ambil secara sepihak.

Pernikahan Yoora dengan Kim Jung Yong tidak diketahui oleh keluarga si perempuan di Indonesia, kecuali adik kandungnya. Apa pun tentangnya, Kenzo selalu tahu. Namun, Yoora menekankan untuk tidak dibocorkan pada orang lain. 

Perempuan itu tersenyum menyambut suaminya. Mengatupkan mata sekilas kala laki-laki tersebut mengecup keningnya singkat. Suatu kebiasaan yang dulu tak Yoora dapati pada kehidupan orang tuanya.

"Terima kasih, sudah datang tepat waktu," bisik Yoora.

Kim Jung Yong membalas senyum manis tersenyum sembari kakinya bergerak menginjak gas. "Iya, aku tahu kau sangat benci dengan segala yang tertunda. Hari ini, aku ingin mie dingin. Kau juga menginginkannya?"

Yoora mengangguk. "Iya, apa pun terserahmu. Anyway, tadi manager menelponku. Dia menyuruh untuk aku ke kafe sebentar saja sebelum pulang. Apakah boleh?"

"It's okey, asal kau izin dan tempat tujuannya positif, aku tidak akan pernah melarang."

"Terima kasih, Oppa." 

"Berapa kali harus kukatakan, jangan memanggilku oppa. Aku hanya beberapa bulan lebih tua darimu. Bukan sampai bertahun-tahun," tegur Kim Jung Yong sedangkan Yoora tertawa pelan saja.

"Oh, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Apa ada pekerjaanmu yang perlu aku bantu sekarang? Kukira, setiap hari kau selalu kesulitan dengan tugas kampus. Kasihan sekali rasanya."

"Kau baru saja menertawakanku dalam hati? Apa aku sebodoh itu?" Kim Jung Yong geleng-geleng kepala. "Kurasa, tidak."

"Bukan," tampik Yoora, "aku hanya ingin tahu kabar terbaru tentangmu saja."

"Semua berjalan lancar hari ini. Aku harus bertemu ayah lalu membantunya menyambut klien. Maaf, aku akan sangat sibuk." Kim Jung Yong bergerak mengelus punggung tangan Yoora yang kala itu tengah memegangi tasnya.

Senyum Yoora lagi-lagi timbul. "Tidak apa-apa, aku paham. Aku juga akan pulang sedikit terlambat. Mungkin pukul sembilan malam nanti."

"Kita akan melewati ini sama-sama. Jangan pernah berpikir aku membebaskanmu bahkan tidak peduli padamu. Aku selalu memikirkanmu kapan dan di mana pun itu." Diliriknya Yoora, perempuan itu belum juga menurunkan sudut bibirnya.

"Iya, aku percaya kita bisa tetap bersama meskipun saat siang ada saja pemisahnya. Kau tahu latar belakang keluargaku, aku tidak ingin itu terjadi pada kita."

Kim Jung Yong menciumi jemari lentik itu. "Tidak akan pernah, Sayang."

Perjalanan kali ini dipenuhi tawa kecil keduanya. Bersama iringan musik Korea yang tayang di YouTube beberapa hari lalu, menjadi pelengkap suasana mereka. 

***

"Sore, Tante," sapa Alesha begitu ia memasuki toko kue bernuansa klasik ini.

Seorang wanita dengan pakaian rapinya tersenyum menyambut kedatangan Alesha. Memeluk erat perempuan itu lalu menggiringnya pada ruangan khusus ia memantau perkembangan keuangan. 

Diberikannya segelas air putih juga kue basah yang baru dibuat. Tampak masih hangat, Alesha menunda untuk memakan itu. Hanya minum lalu menyilangkan kaki hendak mendengar apa yang ingin wanita di hadapannya ini katakan.

"Bagaimana? Apa kau sehat-sehat saja?" tanya Lisa, "maaf, Alesha. Tante tidak bisa ke tempatmu akhir-akhir ini."

Alesha menyunggingkan senyum. "Tidak apa-apa, Tante. Aku paham, tenang saja. Aku ingin bercerita sedikit hari ini."

Lisa menyuruh keponakannya itu untuk duduk. Sementara ia, bergerak mengambil kue di depan. Bolu lembut dipadu krim cokelat yang meleleh juga secangkir teh hangat menjadi teman cocok dalam segala perbincangan.

Konsep toko ini memang serba menggunakan cokelat, tidak ada rasa lain sebagai penguat dan pembeda dengan toko lainnya. Alesha menyambut makanan dan minuman gratis itu dengan senyum manisnya.

"Hm, ini enak sekali. Jangan hapus, bisa-bisa aku ke mari setiap hari hanya untuk memintanya," kekeh Alesha begitu selesai mencicipi.

"Sudah Tante duga. Resep ini, Tante sendiri yang membuat. Oh, iya, kau ingin mengatakan apa? Rumah tanggamu dengan Kenzo baik-baik saja, bukan?"

Alesha tertunduk sesaat. Air mukanya merubah cemberut. "Aku tidak tahu setelah ini akan bagaimana. Aku bingung apakah aku masih laku di dunia perfilm-an atau tidak."

Menghela napas, Alesha meraih kedua tangan tantenya. "Kenzo mabuk semalam. Ia yang seharusnya menuju kamarnya justru ke kamarku. Kami melakukan hal itu, Tante. Sedikit frontal aku mengatakan ini, tetapi aku butuh pendapat."

"Agensi yang menaungi Kenzo tidak memperbolehkan ia untuk menjalin pernikahan. Aku takut ini merugikan Kenzo. Bagaimana jika aku hamil? Orang-orang akan bertanya siapa ayahnya, bukan?"

"T-tante pun sulit akan mengatakan apa. Belum tentu kau hamil, Alesha. Tenang saja, Tante percaya meskipun itu terjadi kalian masih aman," balas Lisa sembari tersenyum memberi semangat.

"Cara satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah membagi waktu. Bagaimana kau harus menyelesaikan satu judul film sebelum perutmu membesar jika benar kau hamil. Mintalah sutradara untuk mempercepat proses shooting," lanjutnya. 

Baru juga Alesha akan membuka mulut lagi, deringan ponselnya menarik perhatian. Ia harus ke tempat shooting sebab alarm sudah menyuruhnya ke sana. Benar kata tante Lisa, ia harus membagi waktu dengan baik.

"Terima kasih atas usulnya, Tante. Namun, aku harus pergi ke tempat shooting. Orang-orang di sana pasti mencariku," ucap Alesha.

Lisa memeluk singkat keponakannya. "Kau tidak sendiri, Alesha. Tante pasti membantumu. Kemarilah jika kau butuh sesuatu. Jangan menyalahkan Kenzo atas kejadian ini."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alena dan Andrio (Sekuel Dendam Anak Tiri)
8.9
Alena sempat meyakini bahwa membangun kehidupan rumah tangga bersama Andrio akan selalu dipenuhi kebahagiaan tanpa celah. Namun, realita pernikahan mereka ternyata jauh lebih rumit dan penuh rintangan dari yang ia duga. Meski berbagai konflik dan lika-liku tajam terus menguji kekuatan cinta mereka, Alena tetap bertekad mempertahankan sang suami. Inilah perjalanan romantis penuh haru yang membuktikan bahwa Andrio akan selalu menjadi milik Alena selamanya.
Sampul Novel Anak yang tersembunyi
9.3
Alia mengalami nasib tragis saat menjalankan tugas menunggu kepulangan putra majikannya. Malam itu, ia diseret paksa masuk ke kamar dan menjadi korban tindakan asusila meski telah berupaya keras melawan. Penderitaannya tak berhenti di sana; Alia justru dituduh menggoda pria tersebut hingga diusir secara tidak adil oleh majikannya sendiri. Insiden kelam ini meninggalkan luka mendalam dan berujung pada lahirnya seorang anak yang kehadirannya tidak pernah diinginkan.
Sampul Novel Dimanjakan oleh Suami Misterius
9.7
Demi warisan ibunya, Erina harus menikahi seorang programmer tampan yang sederhana. Namun, rahasia masa lalu mulai terkuak setelah tiga tahun ia kehilangan dua dari bayi kembarnya. Meski tak pernah bersama pria lain, Erina tiba-tiba hamil dan menemukan fakta bahwa anak-anaknya yang lain ternyata masih hidup. Siapakah sosok suami misteriusnya ini sebenarnya? Mengapa pria miskin itu sangat mirip dengan miliarder yang sering muncul di layar televisi?
Sampul Novel Istri Kakakku Selalu Menangis
8.2
Kejanggalan menyelimuti pernikahan Kak Heru dan Mbak Rena, memicu kecurigaan mendalam dalam benakku. Mengapa Mbak Rena terus-menerus meneteskan air mata? Berbagai petunjuk aneh mulai bermunculan, mulai dari insiden kecelakaan misterius di depan toko beras hingga penemuan kantong plastik berisi tumpukan test pack. Aku bertekad menelusuri setiap kepingan rahasia ini demi mengungkap kebenaran kelam yang sebenarnya terjadi di balik pintu rumah mereka.
Sampul Novel Obsession In Love
9.5
Arinika adalah seorang mahasiswi yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya, namun ia terus terjebak dalam masalah dengan dosen pembimbingnya sendiri. Samuel Xalvandor, sang dosen yang dikenal sangat kejam, secara mengejutkan memaksa Arin untuk menjalin ikatan pernikahan. Meski sempat mencoba menolak, Arin tidak berdaya melawan kuasa sang dosen hingga pernikahan mereka akhirnya terwujud. Ikuti kisah rumit mereka dalam drama romansa modern ini.
Sampul Novel Paman Terobsesi Padaku
8.3
Dahulu, hidup Serena terasa sempurna bersama Paman Xavier dan kedua orang tuanya yang penuh kasih. Namun, tragedi kematian orang tuanya mengubah segalanya. Xavier mendadak menjadi sosok posesif yang mengekang seluruh ruang gerak Serena. Pria itu berubah menjadi ancaman mengerikan; ia bisa bersikap lembut jika dipatuhi, namun tak segan mengancam dengan pisau saat dibantah. Serena kini terjebak dalam obsesi gila pamannya yang menghancurkan hidupnya.