Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BOS! JATUH CINTA LAGI

BOS! JATUH CINTA LAGI

Nayana Previtha dan Regan Maxwell dipertemukan oleh pengkhianatan menyakitkan dari pasangan masing-masing. Terikat nasib serupa, Regan mengajak Nayana menjalin kerja sama demi membalas dendam kepada para mantan kekasih. Namun, rencana tersebut justru memicu benih asmara yang tak terduga di antara mereka. Seiring berjalannya waktu, keduanya terjebak dalam rasa cinta dan ketergantungan. Akankah hubungan mereka berakhir bahagia atau justru luka baru?
Bab
Bagikan

Bab 2

BERBAHAYA BERURUSAN DENGAN ORANG KAYA

Pukul 5 sore tepatnya, ketika staff berhambur keluar dari ruangan kantor. Nayana berjalan gelisah menuju lift.

Masih sama, pesan begitupun panggilan telfon dari Nayana tidak Adam angkat. Hari ini, sudah 40 kali dia menelpon namun tak ada jawaban. Kabar Adam seakan menghilang sepenuhnya. Keringat semakin deras, pakaian lusuh dan wajah kucel nya setelah bekerja membuat dia terlihat seperti orang frustasi. Ditambah lagi dengan masalah pribadinya.

Hal-hal remeh yang biasanya Adam lakukan untuknya sudah tidak ada. Seperti menanyakan apakah sudah makan atau belum dan bercerita hal-hal remeh sebelum tidur. Sekarang tidak ada lagi. Dunia di sekitarnya terasa hampa tanpa kehadiran atau kabar dari sang kekasih.

"Kenapa wajahmu kusut begitu Nay?" mengetahui gelagat Nayana yang aneh, Rara bertanya penasaran. Wanita itu tidak pernah tidak peduli dengan Nayana. Meski mereka baru mengenal satu sama lain selama 2 tahun.

Kemudian Nayana menggeleng sambil tersenyum tipis untuk menutupinya. Dia tidak mau kegelisahannya dilihat orang.

"Engga! Engga ada apa-apa."

Hingga lift terbuka, Nayana masih belum sadar dengan lamunannya.

"Nay! Kamu kenapa sih?! Ayo masuk!" Rara dengan terpaksa menarik Nayana masuk ke dalam lift. Nayana tenggelam dalam pikirannya sendiri seperti orang linglung. Orang-orang di sekitarnya terlihat kesal karena Nayana mengganggu jalan masuk mereka.

"Kamu kenapa sih? Malah bengong di depan pintu! Ada apa?" Rara kembali bertanya, namun Nayana hanya menjawab dengan gelengan kepala. Tak lupa dengan senyuman palsunya.

"Gak papa, cuma lelah aja. Kamu tahu kan hari ini kerjaanku banyak banget."

Rara mengangguk memahami, semua orang memang nampak lelah tidak terkecuali dia.

Dan seketika suasana di dalam lift hening. Semua orang sibuk dengan hpnya. Begitu juga Nayana, sibuk memandangi pesan yang tak terbalas.

Lalu beberapa menit kemudian, hp digenggaman tangannya bergetar. Meruntuhkan kegalauan sebelumnya, akhirnya penantiannya berbuah manis. Adam membalas pesannya. Namun senyum Nayana yang merekah tadi dalam sekejap pudar. Saat tahu, pesan itu bukan dari Adam melainkan dari nomor asing.

[Pergi ke hotel Giasa lantai 8 pukul 7 malam nanti, kamu akan tahu kebenarannya]

Setelah membaca pesan tersebut, kedua alis Nayana berkerut. Pesan itu sangatlah aneh. Nomor asing yang tidak bernama itu menyuruhnya melakukan sesuatu. Bahkan anak TK pun bingung harus bereaksi apa.

"Kebenaran? Kebenaran apa maksudnya?" gumamnya bingung.

Nayana memindai orang-orang di sekitarnya yang tengah sibuk dengan dirinya masing-masing. Lalu memandangi Rara di sampingnya yang sibuk mendengarkan podcast dengan headset bluetoothnya. Nayana ingin memberitahu Rara, namun dia mengurungkannya dan memilih diam.

Nayana mengedikkan bahu, menganggap pesan itu adalah pesan iseng belaka.

"Yah paling nomor iseng," batinnya berucap lalu mencoba mengabaikan pesan tersebut.

Nayana kembali menunggu pesan dari Adam. Gelisah seperti sebelumnya. Saat ini pesan dari Adam lebih penting dari yang lainnya. Dia menggigit kuku-kukunya tanpa sadar. Namun lagi-lagi, yang dia dapati adalah pesan peringatan dari nomor asing tadi.

Ting! Pesan kembali masuk.

[Jika kamu mengabaikan pesanku, kamu akan menyesal selamanya]

Kedua mata Nayana membulat lebar.

Ini jelas sebuah pesan ancaman. Meski itu adalah ancaman halus. Akan tetapi Nayana memilih bungkam dan tidak panik. Entah apa yang diinginkan orang di balik nomor asing ini. Kini Nayana terjebak dilema, apakah harus mengabaikannya atau tidak?

Lift telah terbuka, Nayana berjalan keluar dengan lambat dibanding staff yang lain. Bahkan dia juga kehilangan jejak Rara. Nayana memang sengaja berjalan lebih lambat dan menuju ke tempat yang sepi karena dia memutuskan untuk menelpon nomor asing barusan.

Nayana memencet tombol memanggil, tak di sangka penunjuk durasi di layar mulai bergerak dan bertambah.

"Halo! Anda jangan coba mengancam saya ya! Saya tahu anda cuma mau mengerjai saya kan?!" ketika Nayana sudah masuk dalam sambungan dan mengatakan beberapa kata, panggilan itu malah terputus.

"Sialan! Kenapa dimatikan?!" makinya.

Namun Nayana belum menyerah, dia kembali menelpon nomor asing tersebut namun lagi-lagi belum selesai dia berkata, orang di seberang telpon sengaja memutuskan panggilannya.

"Dasar penipu!" Nayana memaki puas setelah panggilan kembali tersambung kelima kalinya kemudian dengan cepat memutusnya.

Wanita itu menyugar rambutnya frustasi. Masalah Adam belum selesai, kini malah dapat serangan iseng dari nomor asing.

"Hufftt! Hari gini masih ada orang yang nipu lewat nomor hp," Nayana membuang napas kasar kemudian melenggang pergi.

Motornya melaju melintasi jalan raya yang mulai menanjak melewati gedung-gedung pencakar langit. Tinggi jalan layang itu hampir sama dengan 5 lantai gedung-gedung di sampingnya. Nayana memandang dari kejauhan. Memandang tepat di depan sana berdiri kokoh hotel Giasa berlantaikan 39 lantai itu dengan penuh gemerlap cahayanya.

Nayana membawa motornya melipir ke pinggir jalan. Dia mengecek jam di hpnya yang menunjukkan pukul 18:57. Lalu kembali memandangi hotel Giasa dengan perasaan bimbang sekaligus penasaran.

"Kebenaran apa yang aku dapat? Kalau aku pergi ke sana? Aku jadi penasaran," gumamnya dalam hati.

Setelah lama berpikir, di hati kecilnya muncul dorongan yang kuat sehingga membuatnya memilih untuk datang ke sana. Sesampainya di area pelataran, Nayana disambut pemandangan yang serba mewah dan mahal. Mulai dari mobil-mobil yang terparkir, style mereka, bahkan wangi parfum ala miliuner dan jutawan memiliki aroma yang khas. Aroma-aroma kekayaan yang tidak dimiliki orang sembarangan.

Di saat itu, Nayana merasa telah dibodohi karena datang ke tempat yang tidak seharusnya dia datangi. Lagi, rasa penasaran menahannya untuk pergi jadi dia tetap melangkah masuk ke sana.

Seorang staff hotel tiba-tiba mendatanginya di area lobby. Bahkan wanita berseragam batik dipadukan rok mininya itu sudah tersenyum ramah sebelum menyampaikan kalimatnya. Nayana sedikit canggung dengan pelayanan yang ramah ini.

"Nona, salah satu anggota badan amal ya? Mari ke atas, saya tunjukkan lantai delapan."

Sontak saja Nayana terkejut, dia memindai penampilannya sendiri. Blazer biru navy, kemeja putih dan celana hitam formal. Apakah ini penampilan seorang anggota filantropi?

"Penampilanku mirip anggota badan amal?" Nayana merasa heran sendiri. Namun cukup membuatnya geli.

Nayana mengedikkan bahunya sebelum mengikuti kemana staff hotel itu membawanya. Mungkin penampilannya malam ini adalah keberuntungannya. Jika tidak, mungkin Nayana sudah diusir keluar dari hotel ini.

Staff itu membawanya menaiki lift lalu menunjukkan lantai 8. Saat pintu lift terbuka, lalu lalang manusia dengan barang branded berlalu lalang di hadapannya. Orang-orang berkumpul dari berbagai etnis, suku dan bangsa. Dari bermata sipit, hingga mata bulat. Kulit hitam hingga kulit yang paling putih berkumpul di sini. Kedua mata Nayana berbinar terpana.

"Mari, saya pergi dulu nona." staff tadi pergi meninggalkannya.

"Terimakasih."

Setelah staff itu pergi, Nayana kebingungan. Apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus berpura-pura santai di tengah-tengah mereka? Tentu ini bukan dunianya jadi dia merasa tidak aman dan nyaman.

Hatinya semakin gelisah, sehingga dia memutuskan ingin keluar dari situ.

"Aku gak nyaman di sini, lebih baik aku keluar saja. Mungkin saja aku sudah dibodohi." Nayana bergegas pergi.

Namun belum sepuluh langkah terlampaui, seseorang tak sengaja menubruk Nayana. Bahkan jus jeruk yang dibawa pria itu tumpah ke bajunya.

"Maaf, jus jeruk ku tumpah.. akhh sepertinya aku sudah menumpahkan jus jeruk ku ke dua kalinya." suara orang yang menabraknya terdengar merasa bersalah.

Nayana hanya bisa memaki dalam hati sambil mengusap jas nya dengan sapu tangan miliknya. Nayana panik, lalu mengangkat kepalanya dan memperhatikan sekelilingnya. Dia tidak mau menjadi tontonan. Ternyata dugaannya salah, orang-orang itu tidak ada yang memperhatikan. Lalu dilihatnya penampilan pria itu, jas formal berwarna biru navy yang senada seperti yang dia pakai. Serta kacamata besar yang bertengger di hidungnya.

Nayana langsung menunduk dan meminta maaf. Dia langsung menebak hanya dengan melihat auranya itu. Aura orang kaya.

"Maafkan saya." mendengar Nayana meminta maaf, pria itu merasa bersalah padanya.

"Nona jangan seperti itu, akulah yang salah, jadi seharusnya aku yang meminta maaf," ucapnya dengan ramah.

Nayana tersenyum segan tanpa mengatakan apa-apa. Dia tidak ingin urusannya lebih panjang.

"Mau saya bantu bersihkan?" tawar pria tersebut. Kantung matanya nampak tersenyum dari balik kacamatanya.

Nayana langsung menolak dengan menepis pelan uluran tangan pria tersebut dengan sopan. Bagaimanapun dia tidak mau membuatnya tersinggung.

"Oh gak perlu, biar saya yang bersihkan sendiri."

Merasa gugup, Nayana akhirnya pergi ke toilet.

Di pintu masuk toilet, lagi-lagi dia tak sengaja bersenggolan dengan seseorang. Kali ini karena dia yang tak hati-hati. Seorang wanita modis bergaun merah menyala mengaduh dengan wajah dongkol.

"Kamu buta ya?!" wanita itu memaki dengan bibir tebalnya yang berwarna merah menyala lalu meringis palsu. Mimik ketusnya natural, seakan sudah dimilikinya sejak lahir.

Jelas-jelas senggolan tadi tidaklah keras. Tapi Nayana percaya beberapa orang kaya mudah marah dan berlagak keras di depan orang yang lemah.

Menyadari ini tempat bahaya untuknya, lebih baik Nayana segera meminta maaf untuk mencari aman.

"Maaf nona, saya tidak sengaja. Saya buru-buru tadi."

Nayana menunduk hampir 90 derajat. Wanita itu mencebik, memutar bola matanya malas tanpa memaki lagi. Seakan memaki orang seperti Nayana hanya akan menguras tenaga.

Wanita itu menyapu bahunya yang terkena senggolan tadi seperti membersihkannya dari hal menjijikan yang menempel di bajunya.

"Lain kali hati-hati!"

Nayana hanya tersenyum kikuk. Dia menghela napas panjang sambil memperhatikan punggung yang terbuka itu melenggang pergi. Body nya seksi dan tinggi tubuhnya ideal. Meskipun menyebalkan, Nayana mengagumi wanita itu. Dia pasti dicintai banyak pria karena parasnya. Bahkan Nayana yang memiliki gender yang sama pun ikut terpukau.

Kembali, dia menyadari dimana dia sedang berdiri.

"Aku gak boleh gegabah di sini, berlama-lama di sini bisa menambah masalah lain, berurusan dengan orang-orang kaya sangatlah berbahaya. Lebih baik aku pergi."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DIBUANG MANTAN, DIKEJAR CEO SULTAN
9.8
Demi menyelamatkan ayahnya dari ibu tiri, Aruna terpaksa menjadi pengasuh Maira, putri dari bosnya yang bernama Brahmana. Namun, pengabdian di kediaman sang CEO justru menjeratnya dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai tumbuh. Meski mencoba pergi, ketulusan Maira dan kejujuran Brahmana terus mengejarnya. Aruna kini terjebak dalam pilihan sulit: mempertahankan dendam demi sang ayah atau menyerah pada dekapan cinta sang sultan.
Sampul Novel Heal Me, Baby
8.1
Insiden ciuman tak sengaja membuat Sean Wilson, pria penderita fobia kuman, pingsan seketika. Keyra Minolia, mahasiswi pekerja keras yang menabraknya, dituntut ganti rugi terapi yang mahal. Karena miskin, Keyra terpaksa melunasi hutang dengan menjadi asisten rumah tangga Sean. Hidup mereka yang kontras pun beradu di bawah satu atap hingga orang tua Sean memergoki mereka dan memaksa keduanya menikah. Mampukah pernikahan ini menyembuhkan Sean dan menyatukan hati mereka?
Sampul Novel I'm Baby Doll
8.1
Gea Mexalla adalah model seksi yang terjebak dalam lingkaran gelap industri hiburan. Demi popularitas, ia terpaksa menjadi budak seks bagi para sponsor. Saat ia mencoba berhenti dan fokus pada kariernya, Gea justru mengalami pemerkosaan oleh manajer serta sponsornya sendiri. Di tengah penderitaan itu, muncul Cale Vertoghen yang menyelamatkannya. Namun, pria ini adalah CEO kejam yang sangat terobsesi padanya. Mampukah Gea lepas dari jeratan para pria pemangsa tersebut?
Sampul Novel Istri Kontrak: Penebusan Thorne
8.8
Clara kehilangan bayinya akibat ulah kejam Marko, suaminya sendiri. Bukannya berduka, Marko justru menyodorkan surat cerai demi menikahi sahabat Clara yang sedang mengandung anaknya. Diancam akan dijebloskan ke RSJ, Clara terdesak hingga pengacara orang tuanya datang membawa kunci rahasia. Kunci itu mengungkap kontrak kuno yang menjodohkannya dengan Julian Aditama, miliarder tangguh yang sangat ditakuti Marko. Kini, Clara memiliki peluang untuk membalas dendam.
Sampul Novel MY CEO [Hate & Love]
9.5
Li Mayleen terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Gu William selama tiga tahun. Tragedi bermula saat kakaknya, dokter Li Jancent, melakukan transplantasi jantung ilegal dari tunangan William demi menyelamatkan Mayleen. Sebagai balas dendam, William menghancurkan karier Jancent dan menyiksa Mayleen dalam pernikahan bak neraka. Mayleen bertahan demi melindungi kakaknya yang disandera. Akankah keteguhan hati Mayleen mampu meluluhkan kebencian William menjadi cinta?
Sampul Novel Obsesi dan Cinta
8.8
Lifah Putri Sanjaya, putri konglomerat yang sempat merahasiakan jati dirinya, kini menjalani hubungan harmonis dengan tunangannya, Bara Wicaksono. Namun, ketenangan hidup Lifah terusik saat ia mulai bekerja di perusahaan baru. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anggara Prampayoga, sosok masa lalu yang pernah ia coba lupakan selamanya. Terjebak dalam satu tim kerja, Lifah kini bimbang antara kenangan lama atau kesetiaan pada cinta barunya.