
BOS! JATUH CINTA LAGI
Bab 3
KEBENARAN
"Sayang, kamu habis dari mana?"
Langkah kaki Nayana terhenti, lalu menoleh ke arah suara yang terdengar sangat familiar di telinganya.
Pria tampan yang memakai tuxedo hitam dengan tatanan rambut yang rapih ala tentara mengulurkan tangannya sembari menghampiri wanita bergaun merah itu. Tangannya terulur menarik pinggang seksi itu mendekat, menempel mengikis jarak di antara mereka. Seperti pasangan romantis yang baru saja terpisah. Wanita secantik dewi itu tidak menolak, bahkan mengusap bahu pria di sampingnya dengan lembut dan menggoda.
"Aku habis dari toilet sayang, barusan ada perempuan miskin menyebalkan nabrak aku, lihat gaun aku! Kotor dan bau gara-gara dia."
Wanita berambut panjang hitam bergelombang dan dibiarkan terurai tersebut mengadu manja, memanyunkan bibirnya seperti sedang memamerkan bibirnya yang seksi dan merah merona. Dia menunjukkan noda di bajunya, jus jeruk tumpahan yang tak sengaja menempel akibat bersenggolan dengan Nayana.
Kemudian tangan pria itu naik membelai kepalanya lembut dengan senyuman yang tulus. Tatapannya menunjukkan bahwa dia tergoda dengan kemolekan kekasihnya. Bahkan dia merasa beruntung, memiliki kekasih seorang model papan atas.
"Mana ada perempuan miskin di sini sayang, ini acara kenegaraan. Bukan orang sembarangan yang bisa masuk ke sini. Semuanya datang dengan menggunakan undangan khusus."
"Mana kutahu, mungkin dia salah satu pelayan di sini. Penampilannya saja katro begitu." wanita itu mencebik kesal. Dengan telaten, pria tentara itu membantu membersihkan gaunnya dan bersuara dengan lembut menenangkan kekasihnya.
"Sudah jangan marah-marah lagi, nanti cantiknya luntur bagaimana?" katanya berusaha menggoda kekasihnya.
Reflek, wanita itu menepuk bahu prianya sambil tersipu malu.
"Ckkk! Sayang! Jangan gombal deh!"
Mereka terkekeh bersama dan saling menggoda satu sama lain. Bahkan kebahagiaan mereka tidak disadari adalah penderitaan bagi orang lain.
Tak tahan melihat paras kekasihnya yang cantik, pria tentara itu mencium pipi kekasihnya dua kali.
"Tiba-tiba mencium sih, kan malu dilihat orang."
Pria itu tidak peduli dengan persepsi orang lain, hanya peduli dengan reaksi kekasihnya yang menggemaskan.
"Di sini banyak orang terkenal, kamu bisa tambah koneksi dengan kecantikanmu. Aku suka kalau kamu dikenal orang lain sebagai kekasihku."
"Kamu lupa ya? Kalau aku ini juga terkenal? Koneksiku sudah ada dimana-mana, kamu gak perlu khawatir. Yang aku butuhkan cuma kekasih yang perhatian dan baik seperti kamu."
Di sudut ruangan, Nayana menyaksikan bagaimana sikap dan percakapan keduanya. Muncul perasaan geram dan rasa ingin mencabik-cabik. Adam Delano dan wanita yang berpapasan dengannya tadi ternyata memiliki hubungan spesial. Ditambah selingkuhannya itu mengatainya perempuan miskin. Hatinya terhina dan hancur berkeping-keping.
"Adam! Teganya kamu membohongiku! Kamu beralasan pergi bertugas ke luar kota hanya untuk berselingkuh!"
"Aku sudah sabar menemanimu dari nol selama 3 tahun hingga berhasil menjadi seorang tentara. Tapi balasan ini yang aku dapatkan darimu? Kau kejam Adam! Cintamu hanya cinta palsu! Dasar bajingan!" Nayana menahan kalimatnya hanya di bibir.
Urat-urat di wajahnya tercetak jelas. Bahkan sekarang suhu wajahnya semakin memanas. Adam selalu berkata bahwa dia bisa menerima kekurangan Nayana, awalnya Nayana sangat bersyukur ada pria tulus seperti Adam. Namun pada akhirnya, laki-laki akan selalu memilih yang lebih cantik.
Nayana ingin sekali pergi ke sana dan menampar Adam lalu berteriak tepat di wajahnya. Tapi di hadapan semua orang kaya itu, membuat Nayana berpikir dua kali.
"Diana, bagaimana kalau kita menikah Minggu depan? Sepertinya aku sudah tidak sabar ingin memilikimu seutuhnya." Adam membawa Diana dalam pelukannya. Menatap wanita itu lamat-lamat. Seperti yang biasanya Adam lakukan padanya.
Dengan wajah terkejut wanita itu bertanya.
"Menikah?! Secepat itu? Kita bahkan baru kenal belum genap setahun. Sudah terburu-buru begitu." bahkan raut wajah wanita itu berubah ragu.
"Ya! Kamu tahu kan alasannya? Aku takut kamu berubah pikiran. Aku juga takut keluargamu berubah pikiran."
Emosi semakin memuncak di kepalanya. Deru napas Nayana semakin cepat, dadanya bergemuruh hebat setelah mendengar kalimat lamaran itu. Seolah Adam benar-benar melupakannya. Melupakan rencana pernikahan mereka berdua yang akan dilakukan 5 bulan ke depan. Laki-laki itu sudah kehilangan akal.
"Bagaimana bisa Adam melamar wanita lain bahkan dalam waktu secepat itu? Sedangkan aku sendiri? Bagaimana denganku? Bagaimana dengan nasibku ke depannya? Jadi cinta dan sayangnya selama ini apakah hanya kepalsuan? Apa laki-laki memang mudah pindah ke lain hati?"
Nayana lemah, hancur dan tubuhnya ambruk tak mampu berdiri tegap lagi.
"Adam Delano bajingan!" Nayana menggeram. Gigi-giginya bergemeretakan. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. Buru-buru dia merogoh hpnya dari tas, menelpon nomor Adam. Dengan harap pria itu kali ini menerima telfonnya.
Nayana memperhatikan pria itu menjauh dari keramaian setelah beberapa kali menolak telfonnya. Tanpa sadar dipanggilan ke delapan, telfon itu sudah tersambung. Suara Adam yang masuk membuatnya terkesiap.
"Halo sayangku, maaf ya telfonnya baru aku angkat. Aku bener-bener sibuk akhir-akhir ini. Tugas penjagaan semakin padat. Aku juga rutin latihan fisik, jadi tidak bisa meluangkan waktu buatmu, maaf ya." suara kepalsuan itu terdengar memuakkan baginya. Nayana berdecih muak.
Nayana tak buru-buru menjawab, yang dia lakukan adalah mengikuti kemana Adam berjalan dan berdiri sekarang. Dan Nayana berdiri tepat di belakangnya sejauh 10 meter. Barulah dia menjawabnya.
"Lihat di belakangmu Adam." suara Nayana terdengar dingin dan penuh penekanan. Dia memanggil pria itu dengan namanya, bukan sebutan sayang lagi.
"Kenapa sayang? Kenapa aku harus lihat ke belakang? Memangnya ada apa?"
"Sekarang lihat di belakangmu! Cepat!" tukas Nayana geram.
Hanya dengan kepalanya, Adam menoleh ke belakang, lalu ketika netranya benar-benar melihat jelas siapa sosok di belakang sana. Adam memutar tubuhnya 180 derajat dengan ekspresi terkejut.
Masih dengan hp di telinga, Adam membeku dengan bola mata membulat sempurna.
"Nay, kamu kenapa ada di si...?"
Lewat sambungan telfon yang belum terputus, Nayana menyela ucapan Adam.
"Adam, kita putus! Kita batalkan pernikahan kita."
Suaranya begitu dingin dan pasrah. Adam terdiam beberapa saat setelah mendengarnya, mencerna tiga kata pertama yang diucapkan Nayana barusan.
"Pu-putus? Bagaimana bisa begitu?"
"Nay! Naya! Tunggu Nay! Aku bisa jelaskan!"
Adam segera mengejar Nayana yang sudah berlari mendahuluinya. Pria itu mencebik kesal, saat tahu sambungan telfon telah terputus. Padahal masih banyak yang ingin dia sampaikan. Tapi semuanya percuma bagi Nayana. Dan Adam semakin kesal, saat dia kehilangan jejak Nayana di hotel Giasa.
"Kemana dia?" Adam menopang tubuhnya ke lutut dengan napas tersengal-sengal.
***
"Berengsek! Bajingan! Akhhhhhh!"
Di tempat sepi dan redup pencahayaan, Nayana meraung-raung kesakitan. Memukul dadanya beberapa kali yang terasa seperti tertancap belati. Sakit yang teramat sakit.
Di sudut tempat itu, dia akan merasa aman. Dimana tidak akan ada orang yang melewatinya ataupun melihatnya. Jadi orang tak akan ada yang peduli sampai sekeras apapun suaranya. Betapa jelek ekspresinya. Mereka tidak akan menganggap tangisannya aneh.
Tas nya terus bergetar, hpnya berdering tanpa henti. Nayana mengabaikan panggilan dari Adam, entah ke berapa kalinya sampai dering itu terdengar menjengkelkan. Pria itu cukup berupaya untuk menjelaskan di kala semuanya telah berakhir.
Perkataan Rara benar, Adam juga manusia yang bisa melakukan pengkhianatan. Dia bukan malaikat ataupun nabi yang terhindar dari perbuatan seperti itu.
Gagal hubungannya dengan Adam, menjadi akhir kepercayaan Nayana terhadap laki-laki. Hatinya sudah mati dan tidak akan terbuka untuk siapapun lagi.
"Semua laki-laki sama saja, kamu yang selalu terlihat sayang dan cinta padaku, selalu membelai kepalaku, selalu mendengarkanku saat bicara, nyatanya kamu juga sama bajingannya dengan laki-laki di luar sana! Suka mempermainkan perempuan dan bersikap palsu! Aku benci kamu Adam!" teriakannya diiringi isak tangis yang terdengar sendu.
Kesal dengan deringan telfon yang menggangu telinganya. Nayana segera memblokir nomor Adam. Namun notifikasi baru menarik perhatiannya. Dia menyeka air matanya sebelum jemarinya menggulir layar ke atas, lalu terbukalah isi pesan baru.
[Sudah melihat kebenarannya kan?]
Matanya mengerjap-ngerjap, tangisnya mulai mereda. Pesan yang singkat itu terdengar seperti keangkuhan.
"Sebenarnya siapa orang ini?" dia bergumam pelan. Rasa penasaran semakin menghinggapinya.
[Suka tidak dengan pertunjukkannya? Bagus kan?]
[Kekasih tentaramu itu tidak pantas memiliki dua wanita di sampingnya]
Kedua alis Nayana bertaut. Jari-jemarinya mulai bergerak membalas pesan tersebut.
[Apa kamu orang yang aku kenal?]
Kemudian orang itu kembali membalas.
[Jika ingin tahu siapa aku, besok jam 12 siang, di restoran Diamond Nine]
Kedua alis Nayana bertaut.
"Restoran Diamond Nine?"
"Ini kan restoran di dekat tempat kerjaku?" gumamnya heran.
Karena rasa penasaran yang besar, akhirnya tanpa pikir panjang Nayana membalas pesan itu.
[Oke]
Anda Mungkin Juga Suka




![Sampul Novel MY CEO [Hate & Love]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/9bd52f255001834806832444767/qObBZl5YPRcA.webp!15491.webp)
