
Boneka Suami, Kebenaran Pahit Terkuak
Bab 2
Tiba-tiba, lift berhenti. Pintu terbuka dengan desir pelan. Aku memutar tubuh, pura-pura mencari jalan keluar, tapi sebenarnya ingin melihat. Siapa dia? Siapa yang berani-beraninya? Rasa panas menyeruak ke wajahku, bercampur dengan getaran aneh di perut.
Mataku menangkap sosok di belakangku. Seorang pria tinggi, dengan setelan jas mahal yang kusut di beberapa bagian. Wajahnya... Tidak mungkin. Jantungku serasa berhenti berdetak.
Tjahjo Hartono. Ayah mertuaku.
Pria yang baru kemarin lusa menelepon Rangga, memberitahu bahwa ia akan menginap di rumah kami selama beberapa hari karena rumahnya sedang direnovasi. Pria yang akan datang besok pagi.
Aku menatapnya, bibirku sedikit terbuka karena terkejut. Tjahjo, ayah dari suamiku sendiri, baru saja... menyentuhku? Di lift yang penuh sesak ini?
Tjahjo tampak tidak menyadariku. Matanya menyapu keramaian, seolah mencari sesuatu. Atau mungkin, ia memang tidak peduli. Ia hanya melihat seorang wanita, mangsa yang empuk di tengah keramaian. Ia tidak melihat menantunya. Aku yakin ia tak mengenaliku.
Di matanya, aku hanyalah salah satu perempuan yang lewat, salah satu targetnya yang bisa ia mainkan. Aku tahu reputasi Tjahjo. Kaya raya, berkuasa, dan memiliki selera yang buruk pada wanita. Tapi aku tidak pernah berpikir ia bisa seberani itu.
Aku melihat pantulan Tjahjo di pintu lift yang mengkilap. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Senyum kemenangan, kepuasan. Tangannya, yang tadi menyentuhku, bergerak perlahan, seolah masih merasakan tekstur kulitku.
Tiba-tiba, Tjahjo merapatkan tubuhnya lagi padaku. Lebih dekat dari yang seharusnya. Bahunya mendorong bahuku, pinggulnya menempel pada pinggulku. Aku merasakan setiap lekuk tubuhnya, setiap tekanan yang diberikannya.
Senyumnya melebar. Matanya tertutup sesaat, seolah menikmati setiap detik sentuhan tak senonoh ini. Aku bisa melihatnya dari pantulan. Jijik, kesal, tapi... desahan kecil nyaris keluar dari bibirku.
Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahannya. Aku tidak boleh mengeluarkan suara apa pun. Jika dia tahu ini aku, jika orang lain tahu... Semuanya akan hancur.
Haruskah aku melawan? Menepis tangannya, berteriak, memanggil keamanan? Tapi apa gunanya? Malu akan lebih besar. Atau haruskah aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa? Menjaga rahasia ini agar tidak ada yang terluka, terutama Rangga.
Tangan Tjahjo bergerak lagi, lebih berani. Kali ini, ia mencoba menyelipkan jemarinya ke sela-sela bokongku, tepat di bawah kain celanaku. Jantungku berdebar kencang. Ini sudah terlalu jauh.
Aku tidak bisa membiarkannya. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Tapi jika aku melawan, ia akan mengenalku. Dan Rangga akan mengetahuinya. Situasinya akan menjadi jauh lebih buruk.
Aku harus berpura-pura. Berpura-pura tidak mengenalnya, berpura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi. Seolah-olah ini adalah sentuhan acak dari orang asing di lift yang padat.
Aku tahu aku akan bertemu dengannya lagi besok. Di rumahku sendiri. Sebagai ayah mertuaku. Bagaimana aku bisa menghadapi semua ini? Bagaimana aku bisa berpura-pura semua ini tidak pernah terjadi?
Aku ingin melawan. Aku ingin mendorongnya pergi. Tapi tubuhku seperti terperangkap. Aku harus menjaga martabatku, martabat Rangga.
Tangan Tjahjo akhirnya berhasil masuk. Jemarinya yang kasar menyentuh kulitku, naik turun perlahan. Sensasi itu, meskipun menjijikkan, juga... menggoda.
Aku merasakan getaran di seluruh tubuhku. Bukan hanya karena jijik, tapi juga karena respons yang tak kuinginkan. Tubuhku, yang tadinya kaku, kini sedikit melengkung ke belakang.
Sialan. Aku nyaris mengerang. Sentuhan Tjahjo, meskipun menjijikkan, adalah sentuhan seorang ahli. Jemarinya tahu persis apa yang harus dilakukan, di mana harus menyentuh. Ia bukan pemula.
Ia mengusap berulang kali, perlahan, dengan ritme yang memabukkan. Rasanya seperti sebuah tantangan, sebuah permainan yang mematikan.
Aku merasakan diriku basah. Panas menjalari tubuhku. Aku membenci diriku sendiri karena bereaksi seperti ini. Aku membenci diriku karena menikmati sebagian kecil dari pelecehan ini.
Tjahjo merasakan respons tubuhku. Jemarinya semakin berani, semakin dalam. Aku tahu apa yang ia inginkan. Aku tahu apa yang akan ia lakukan.
Anda Mungkin Juga Suka





