
Boneka Suami, Kebenaran Pahit Terkuak
Bab 3
Tjahjo memutar tubuhku sedikit, tanpa suara. Ia menekan pinggulku lebih rapat ke tubuhnya. Jemarinya yang tadi berada di dalam, kini bergerak perlahan ke tepi kain. Ia mengulurkan tangan, meraih bagian bawah gaun yang kukenakan.
Dengan gerakan halus, seolah tanpa sengaja, ia menarik gaunku sedikit ke atas. Bukan hanya kain luar, tapi juga kain dalam yang tipis. Sekarang, kulitku sepenuhnya terekspos padanya.
Ia melingkarkan lengannya di pinggangku, menarikku lebih dekat lagi. Wajahnya mendekat ke telingaku. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat dan berbau khas pria tua yang menghisap rokok mahal.
"Manis sekali," bisiknya, suaranya serak dan rendah. Aku merasakan desiran aneh di tulang punggungku. Rasa jijik dan gairah bercampur aduk, membuatku mual.
"Tidak," bisikku balik, mencoba terdengar tegas, tapi suaraku bergetar. "Jangan."
Seketika, aku teringat. Ini Tjahjo. Ayah mertuaku. Apa yang sedang kulakukan? Apa yang Rangga akan pikirkan jika tahu?
Aku harus menghentikannya. Sekarang. Aku tidak bisa membiarkan diriku jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam.
Aku mengumpulkan seluruh kekuatanku, mendorong bahunya sedikit. "Ayah Tjahjo," kataku, suaraku sedikit lebih keras. "Ini Liana."
Wajah Tjahjo berubah pucat. Matanya melebar, dan ia menarik tangannya dengan cepat, seolah tersengat listrik. Aku merasakan hawa dingin menerpa kulitku yang baru saja terekspos.
Aku tidak berani menatap matanya. Rasa malu dan jijik membakar wajahku. Aku hanya menunduk, menatap sepatu kulitnya yang mahal.
Tjahjo terdiam. Ia tampak shock. Kemudian, perlahan, ia menarik tubuhnya menjauh dariku. Ada kekagetan, ketidakpercayaan, dan juga sedikit kemarahan di wajahnya.
Ketika ia menarik tubuhnya, aku menyadari sesuatu yang lain. Sesuatu yang besar, sangat besar, menonjol di balik celananya yang mahal. Aku nyaris terkesiap.
Ukuran itu. Astaga. Aku tidak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Bahkan Rangga, suamiku, tidak memiliki... sebesar itu.
Aku sudah bersama Rangga selama lima tahun. Aku tahu seperti apa pria. Sudah banyak pria yang kutemui sebelum Rangga. Tapi ini... ini di luar dugaanku.
Pria ini, Tjahjo, ayah mertuaku, memiliki sesuatu yang luar biasa. Jika saja aku tidak tahu siapa dia, jika saja situasinya berbeda, aku mungkin akan...
Tidak. Liana, hentikan. Pikiran macam apa itu? Dia ayah mertuamu. Dia adalah orang mesum. Hentikan.
Aku cepat-cepat menarik gaunku ke bawah, menutupi area yang tadi terekspos. Aku harus terlihat normal. Aku harus terlihat tidak terpengaruh.
"Ayah sebaiknya hati-hati," kataku, suaraku terdengar lebih tenang dari yang kukira. "Mal ini sangat ramai."
Tjahjo hanya mengangguk kaku. Ia tidak berkata apa-apa. Wajahnya masih pucat, matanya menghindari tatapanku.
Sisa perjalanan di lift terasa panjang. Kami berdiri dalam diam, terpisah oleh beberapa inci yang terasa seperti jurang. Hanya suara bising keramaian di luar lift yang memecah kesunyian canggung kami.
"Liana, kamu harus lebih berhati-hati," kata Tjahjo kemudian, suaranya kembali normal, seolah tidak terjadi apa-apa. "Penampilanmu terlalu menarik. Banyak pria hidung belang di luar sana." Ia bahkan tidak menyebutkan kejadian barusan. Ia mengabaikannya, pura-pura tidak ada.
Aku menatapnya. Pria ini. Pria yang baru saja melecehkanku. Sekarang ia menasihatiku tentang bagaimana berpakaian? Betapa munafiknya.
Pikiranku kembali pada ukuran itu. Besarnya. Jika aku tidak mengatakan siapa aku, jika aku tidak menghentikannya, apa yang akan terjadi?
Bayangan itu terlintas di benakku: Tjahjo menyeretku ke tempat yang lebih sepi, tangannya masih di pinggangku, dan...
Tidak! Hentikan! Aku menggelengkan kepala, mencoba menghalau pikiran-pikiran kotor itu. Ini tidak benar. Dia adalah monster.
Namun, di dalam diriku, ada bisikan lain. Bisikan tentang bagaimana sentuhan Tjahjo terasa. Bisikan tentang bagaimana tubuhku bereaksi. Bisikan tentang hasrat yang membara, yang tidak pernah Rangga penuhi.
Aku merasakan denyutan samar di antara kedua kakiku. Tubuhku seolah memiliki pikirannya sendiri, melawan setiap perintah akal sehatku. Ini gila. Aku gila.
Ketika lift akhirnya mencapai lantai dasar, aku nyaris berlari keluar. "Ayah Tjahjo, aku harus pulang," kataku cepat, tanpa menunggunya menjawab. "Rangga pasti sudah menungguku."
Aku bergegas menuju tempat parkir, jantungku berdebar kencang. Aku harus pulang. Aku harus sendiri.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar tidur. Aku melepas semua pakaianku dengan cepat, merasa kotor dan jijik. Aku meraih vibratorku dari laci nakas.
Aku berbaring di tempat tidur, memejamkan mata. Pikiranku dipenuhi oleh bayangan Tjahjo. Bukan Tjahjo yang tua dan menjijikkan. Tapi Tjahjo yang memiliki... sesuatu yang begitu besar.
Aku membutuhkan seorang pria. Siapa saja. Pria yang bisa membuatku lupa. Pria yang bisa memenuhi hasratku yang membara. Aku tidak peduli siapa dia, dari mana asalnya, atau apa konsekuensinya. Aku hanya ingin dilepaskan dari siksaan ini.
Aku ingin tubuhku merasakan hal itu lagi, hal yang telah lama hilang. Aku ingin gairah, sentuhan, kehangatan, sampai aku tidak bisa lagi berpikir. Sampai aku pingsan karena kelelahan.
Pikiranku berputar-putar antara rasa jijik dan penolakan pada Tjahjo, dan satu pikiran yang terus muncul: apa jadinya jika aku tidak menghentikannya? Apa yang akan terjadi jika aku membiarkannya?
Aku tidak tahu apakah aku menolak karena dia ayah mertuaku, atau karena aku benar-benar tidak menginginkannya.
Anda Mungkin Juga Suka





