
Bodyguard Mafia Seksi
Bab 2
"Jadikan dia bodyguard?" Aramis menunjuk Drystan yang menganga lebar akibat syok berat. Aramis mengamati Drystan lekat-lekat, mencari sesuatu dalam diri laki-laki muda yang terlihat lemah di matanya itu. "Kenapa?" Dia menoleh ke arah anaknya yang berbinar melihat Drystan seolah Drystan merupakan berlian.
"Dia tampan, Ayah!" Avyana berkata dengan nada riang. "Aku ingin dia." Dia memasang wajah memelas.
Aramis menaikkan alisnya, lalu melirik ke belakang, berdiri secara rapi para anak buahnya yang juga terdapat pengawal pribadi Avyana. "Kamu sudah memiliki lima bodyguard. Masih kurang?"
Avyana menaruh jarinya di dagu seakan sedang berpikir. "Iya. Kurang. Biar jumlahnya genap." Dia mengangguk. "Kalau ada enam, aku bisa terlindungi dari segala sisi. Dua di kanan, dua di kiri, satu di belakang, dan satu di depan." Dia berkata dengan nada serius.
Aramis menatap sang anak dalam, Avyana mengerjap-ngerjapkan matanya memohon. "Ayah, aku mohon." Aramis mempertimbangkan permohonan anak kesayangannya itu dengan penuh perhitungan.
Drystan menggaruk pipinya. Menjadi bodyguard seorang anak mafia? Dia memegang lehernya, apakah dia akan ditembak mati jika melakukan kesalahan? Apakah nyawanya akan dalam keadaan baik-baik saja? Dia melirik ayah dan ibunya yang bengong, sama syoknya seperti dirinya. Drystan menekuri lantai, dia belum mendapatkan pekerjaan, apakah menjadi bodyguard wanita seksi itu merupakan pekerjaan yang diberikan Tuhan padanya?
Drystan mendongak, memandangi bos mafia dan anaknya yang sedang berdebat. Lalu dia melihat orang tuanya. Sukar meneguk saliva ketika membayangkan pria berkepala plontos itu menarik pelatuk pistol yang moncongnya mengarah ke pelipis ayahnya itu. Dia tidak mau kehilangan siapa pun, walaupun setiap manusia pasti akan menemui ajalnya, tetapi setidaknya jangan meninggal karena ditembak yang seolah-olah dipaksa untuk pergi meninggalkan dunia ini.
Dia harus memohon agar ayahnya dilepaskan, dia akan bekerja apa pun itu demi melunasi utang ayahnya yang menggunung. "Pak." Drystan menatap Aramis lurus, pura-pura berani. Padahal wajahnya bercucuran air keringat.
"Kenapa?" Aramis memelototi Drystan.
Nyali Drystan menciut. Dia menarik dan mengembuskan napasnya secara perlahan, jangan takut, mereka sama-sama manusia ciptaan Tuhan. "Tolong lepaskan ayah saya. Saya berjanji, akan melunasi semuanya. Beri saya waktu selama satu bulan. Lagi pula, Anda bisa lihat sendiri, ayah saya tidak kabur dan tidak berniat melakukannya."
Orson mengangguk. "Saya berniat akan membayarnya. Beri saya waktu." Lalu matanya melebar, baru teringat jumlah nominal uang hasil penjualan yang tidak dia setorkan selama dua bulan. Dia berbisik pada Drystan. "Totalnya 50 juta."
Tentu saja Drystan memelotot mendengar perkataan ayahnya. Otaknya pecah memikirkan mencari uang sebanyak itu dalam waktu satu bulan. Dia harus bekerja di berapa tempat? Jangankan 50 juta, memegang dan melihat uang lima juta saja tidak pernah! Gila. Ini gila. Dia meraba perutnya, apakah dia menjual satu ginjalnya? Dia pernah mendengar, orang-orang rela menjual ginjal mereka demi membeli sebuah ponsel. Ini merupakan solusi untuk mendapatkan uang secara cepat. Masalah kesehatan, itu dapat dipikirkan nanti.
"Bisa mencari uang segitu selama satu bulan?" Aramis melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Drystan dan Orson secara bergantian dengan pandangan meremehkan. "Saya sedang tidak mempermasalahkan uang, tetapi saya kecewa pada kau yang tidak jujur. Padahal kau sudah bekerja dengan kami selama tiga tahun."
Drystan memelotot. Tiga tahun? Jadi, selama tiga tahun ini ayahnya bekerja sebagai pengedar obat-obatan terlarang? Astaga. Kenapa dia sama sekali tidak tahu? Dia celangak-celinguk, di mana ayahnya menaruh obat-obatan terlarang itu? Pintar sekali menyembunyikannya.
Sama halnya dengan Drystan, Isabel juga terkejut-kejut. Suaminya pasti memilih bekerja penuh risiko itu demi membiayai pengobatannya. "Kenapa?" Dia menatap sang suami, dia tidak punya tenaga untuk marah.
Orson menghela napas berat. "Maaf." Hanya kata itu yang dapat terucap di bibirnya.
Seorang pria dengan dua tindik di telinganya memberikan tablet ke Avyana yang sedang memandangi wajah Drystan dengan mata yang berbinar-binar. Avyana membaca huruf demi huruf yang merangkai menjadi kalimat yang memberikan informasi mengenai riwayat kehidupan Orson dan keluarga, yang juga memuat tentang Drystan secara lengkap. Dia mengulas senyuman lebar. "Drystan."
Jantung Drystan berdebar sangat kencang ketika suara yang mengalun lembut dan sedikit menggoda itu mengucapkan namanya. Dia tidak berani mendongak.
"Ayah, Drystan baru lulus kuliah satu minggu lalu dan sampai sekarang dia belum bekerja. Biarkan dia menjadi bodyguard-ku. Anggap saja Drystan dijadikan sandera, agar pak Cordner segera membayar uang yang dia ambil dan tidak akan lagi mengulangi perbuatannya." Avyana menatap Aramis penuh harap. Dia akan berjuang hingga papanya mengizinkan dia membawa pulang Drystan untuk dia pekerjakan sebagai pengawal pribadinya.
Aramis bertatapan dengan Avyana. Selalu saja, anaknya bertindak dan menginginkan hal dengan seenaknya.
Drystan mengerjapkan matanya. Kalau dia menjadi bodyguard anak mafia itu, nyawa ayahnya akan selamat? Apakah para mafia itu tidak akan ingkar janji? "Ayah."
Orson menggelengkan kepala. "Tidak. Ayah tidak mengizinkanmu." Orson tahu apa yang terkandung dalam pikiran Drystan. Dia tidak akan membiarkan Drystan masuk dalam lingkungan mafia yang tentu saja nyawa selalu menjadi taruhan.
"Ayah jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja." Drystan berbisik seraya melirik pria berkepala plontos yang tampaknya tidak berniat menyimpan pistolnya itu, apakah tangannya tidak pegal?
"Tidak." Orson menggeleng tegas. "Kamu tidak tahu, bahaya apa yang akan mengancammu!"
"Aku tahu, Ayah. Jangan mengkhawatirkan aku. Aku pasti bisa menjaga diri. Selagi aku menuruti perintah mereka, nyawaku selamat." Drystan berucap yakin, bertolak belakang dengan jantungnya yang berdebar-debar seperti akan meledak dan pancaran mata yang ketakutan.
Isabel yang sedang berjongkok, mundur agar dapat melihat Drystan yang berada di sebelah kiri suaminya. "Drys." Mata cokelat terang Isabel memancarkan ketakutan, kekhawatiran, dan kegelisahan. Ibu mana yang merelakan anaknya bekerja dengan para penjahat?
Drsytan tersenyum lebar, menenangkan ibunya. "Tidak apa, Bu."
Di sisi lain, Avyana masih berjuang mendapatkan izin papanya. Dia merengek seperti anak kecil yang sedang meminta dibelikan permen lolipop. "Ayah, aku mohon."
"Kenapa kamu menginginkan dia?" Garis wajah Aramis yang keras dan tegas membuat siapa pun takut, tetapi tidak berlaku pada Avyana yang bahkan berani masuk ke kamarnya untuk tidur bersama ketika mengalami mimpi buruk atau hujan deras disertai petir yang menyambar.
"Karena dia tampan." Avyana menjawab ringan. "Dia tampan, Ayah. Seperti model."
Aramis menatap Avyana sangat datar. Seharusnya dia tidak perlu menanyakan hal itu, karena pasti seperti itulah jawaban yang terlontar dari mulut anaknya itu. Dia melirik Drystan yang sedang berbisik-bisik dengan orang tuanya.
"Ayah." Avyana memegang tangan sang ayah seraya mengikis jarak. "Ayah bisa jadikan Drystan sebagai bahan untuk mengancam pak Cordner. Seperti biasa." Dia mengukir senyuman miring.
Aramis selalu lemah apabila menyangkut Avyana. Segala permintaan anaknya itu pasti akan dia turuti. "Apakah dia mau?"
Senyuman sangat lebar mengembang di wajah cantik Avyana. Lampu hijau sudah dia dapatkan. Kini waktunya dia membujuk Drystan. Dia menghampiri laki-laki bermata hijau yang sedang berbincang dengan sang ibu, dia berjongkok di depan Drystan.
Drystan kaget, dia memundurkan wajahnya yang sangat dekat dengan anak mafia tersebut.
"Hai, Drystan. Perkenalkan, namaku Avyana." Dia mengerlingkan matanya, menggoda.
Drystan sukar meneguk salivanya. Cantik, tetapi hawanya menyeramkan. Apa karena Avyana merupakan anak mafia? Pastinya Avyana juga seorang mafia. Entah kenapa otaknya membayangkan masa depan yang nanti akan dia hadapi penuh dengan kengerian dan ketegangan.
"Apakah kamu mau menjadi bodyguard-ku?" Avyana mencolek dagu Drystan, bibir bulat dan tebal yang berwarna merah merona itu dimonyongkan seakan ingin mengarahkannya ke bibir kering Drystan.
Jantung Drystan berdetak tidak tenang. "A-apakah kalian akan melepaskan Ayahku?"
"Bukan, bukan melepaskan." Avyana menggoyangkan jari telunjuknya di depan Drystan. "Setiap orang yang memutuskan untuk bekerja dengan kami, tidak akan pernah bisa mengundurkan diri. Itu sudah tertera di kontrak."
Drystan menjilat bibirnya yang kering, tetapi tindakannya itu membuat Avyana ingin mendaratkan bibirnya ke bibir Drystan. "Jadi, kalian hanya akan membiarkan Ayahku hidup?"
"Iya." Avyana mengangguk. "Sebenarnya, bukan hanya pak Cordner yang seharusnya meninggal hari ini, tetapi kamu dan ibu kamu juga."
Drystan ternganga. Avyana berkata dengan ringan dan ceria, seolah nyawa adalah hal yang sama sekali tidak berharga baginya. "Apakah kau akan menepati janjimu?"
"Iya." Avyana mengangguk, tenang. "Ayahku selalu menepati janji yang telah dia buat dan aku pun akan memastikan ayahku menepatinya."
Drystan menatap Avyana lurus dengan durasi lumayan lama, tidak ada tanda-tanda kebohongan di mata dan wajah wanita cantik dan seksi itu. Justru Avyana senyum-senyum kegirangan ditatap sedalam itu oleh Drystan. "Oke. Aku mau bekerja sebagai bodyguard-mu." Demi nyawa orang tuanya. Dia tidak peduli dan memikirkan keselamatannya sendiri. Asalkan dia bisa menolong orang tuanya yang telah membesarkannya dengan susah payah. Mungkin inilah bentuk bakti yang bisa dia lakukan.
"Drystan! Kamu jangan gila. Jangan melakukannya demi Ayah!" Orson memelototi anak tunggalnya itu.
Drystan tersenyum lemah. "Tidak apa, Yah. Ini demi nyawa kita bersama."
"Drystan." Air mata Isabel tidak kunjung berhenti mengalir membasahi pipi dan lehernya. Anaknya berkorban demi nyawa mereka bertiga. Apakah tidak ada cara lain?
"Tuan Burcardo, saya mohon, berikan saya waktu selama satu bulan ini dan saya janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama." Orson menangkupkan tangannya di depan dada dengan mata yang memohon belas kasih Aramis yang berdiri kokoh seperti tembok beton.
"Harusnya Bapak berterima kasih kepada saya. Karena dengan Drystan menerima tawaran saya bekerja sebagai bodyguard saya, hari ini Bapak dan keluarga tidak jadi menemui malaikat maut. Dalam dunia kami, tidak ada istilah tawar-menawar. Oh, jangan lupa, berterima kasihlah pada Drystan yang memiliki wajah tampan rupawan, yang telah memikat hati saya." Avyana berkata tepat di telinga Orson, tetapi perkataannya dapat didengar oleh semua yang ada di ruangan. Orson meneguk salivanya dengan bulu kuduk yang berdiri tegak, sedangkan Isabel hanya dapat menangis sesenggukan.
Drystan memejamkan matanya. Semoga ini adalah keputusan yang benar; semoga di masa yang akan datang, dia tidak menyesal; semoga dia dapat menjaga nyawanya dengan baik dan benar.
Anda Mungkin Juga Suka





