Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bodyguard Mafia Seksi

Bodyguard Mafia Seksi

Drystan Cordner tidak menyangka akan menjadi pengawal pribadi Avyana Burcardo, putri mafia yang gemar mengoleksi pria tampan. Di tengah godaan Avyana yang intens, Drystan berjuang keras menjaga profesionalitas meski hatinya goyah. Avyana sendiri merasa geram karena Drystan terus menekankan batasan status atasan dan bawahan di antara mereka. Akankah Avyana berhasil mengubah sosok Drystan yang polos menjadi pria yang lebih agresif dalam hubungan ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Sudah diputuskan. Mulai hari ini, Drystan Cordner merupakan bodyguard-ku." Avyana mencolek dagu Drystan seraya mengedipkan sebelah matanya. "Kamu akan menanda tangani kontrak kerja, ketika sampai di rumah kami." Dia berdiri, melemparkan senyum bahagia ke Aramis yang hanya dapat menghela napas panjang menanggapi perbuatan anak kesayangannya itu.

Avyana menoleh ke Drystan yang sedang menekuri lantai. "Bangunlah, kita akan bergegas pergi. Sudah terlalu lama di sini."

Drystan memejamkan matanya, sebelum bangkit dia memberikan kantong plastik belanjaan yang dari tadi dia peluk itu kepada ayahnya yang berlinang air mata. "Ayah, tolong jaga Ibu. Jangan mengkhawatirkan aku." Dia tersenyum sangat lebar, berusaha mengenyahkan perasaan takut dan gelisah yang melanda hatinya. Dia akan menghadapi takdir hidupnya ini dengan tegar.

Orson hanya menatap Drystan, tidak ada kata yang dapat dia lontarkan. Mulutnya terasa terkunci. Hanya air mata yang melaju tanpa henti membasahi pipinya.

Drystan berjalan ke arah ibunya yang menangis tersedu-sedu. Dia memeluk ibunya erat. Entah kapan lagi mereka bisa bertemu, semoga suatu hari nanti dia diizinkan untuk menemui orang tuanya. Tangis Isabel semakin menjadi, terdengar memilukan. Hingga membuat air mata Drystan meluncur, padahal sekuat tenaga dia menahan bendungan di matanya. "Ibu, jangan lupa makan dan minum obat. Jangan lupa kontrol dan melakukan cuci darah. Jangan makan makanan sembarangan." Dia berkata dengan nada suara yang bergetar hebat, beruntung dia dapat lancar mengucapkannya. Dia mengusap-usap punggung ibunya yang bergetar. Suara tangisan ibunya akan selalu terngiang dalam alam pikirannya. "Ibu jangan begadang terus, harus tidur." Dia terkekeh. Menghilangkan perasaan sedih dan takut yang berkecamuk.

Isabel berusaha menenangkan dirinya. Dia mengelus lembut rambut anaknya. "Jaga diri kamu baik-baik. Jangan lupa makan dan tidur," lirih Isabel, tidak sanggup berpisah dengan sang anak.

Avyana memperhatikan mereka bertiga dengan tatapan tidak terbaca. Keluarga yang harmonis. Si anak sangat menyayangi orang tuanya dan orang tuanya rela melakukan apa pun demi si anak. Yah, seperti itulah Avyana mendeskripsikan keluarga kecil itu berdasarkan apa yang dilihatnya sekarang.

Dengan berat hati, Drystan bangkit lalu menghampiri Avyana. Takut-takut menatap mata cokelat Avyana. "Bisakah beri aku waktu untuk mengambil beberapa pakaian?"

Sejenak Avyana terdiam, terpesona oleh wajah tampan Drystan yang disempurnakan dengan mata warna hijau itu. "Aku beri waktu 5 menit."

"Terima kasih." Drystan segera berlari ke kamarnya, memasukkan baju dan celana yang ada di lemari ke dalam tas ransel. Dia tidak akan lagi menangis, dia menerima tawaran pekerjaan ini demi nyawa orang tuanya.

Aramis berdiri menjulang di depan Orson yang masih berjongkok dengan moncong pistol berada di pelipisnya. Jika Avyana tidak meminta hal yang aneh, kini Orson dan keluarganya hanya tinggal nama dan mereka buang ke tempat tersembunyi. Aramis menatap Orson sangat tajam seolah sedang menembak kepala pria tua itu. "Kau harus tetap mengembalikan uang itu, saya beri waktu 3 bulan. Saya akan menambahkan jumlah obat-onatan yang kau edarkan dan harus terjual habis. Jika kau tidak mengembalikan uang 50 juta itu atau kau melakukan hal seperti ini lagi, nyawa anakmu yang akan menjadi taruhan." Dia berkata penuh penekanan di setiap patah kata. Suaranya yang berat dan serak membuat bulu kuduk Orson merinding bukan main.

"Iya. Saya janji." Orson mengatupkan tangannya, memohon. "Tolong tepati janji Anda dan jangan bunuh anak saya."

Aramis mengangguk. "Kau telah mengecewakan saya. Sekarang lakukanlah sesuai perintah agar saya kembali percaya padamu." Dia melirik Isabel, ngeri melihat banyak plester di tangan wanita bertubuh kurus itu. "Saya tidak pernah mengingkari janji yang telah saya buat."

"4 menit." Ternyata Avyana menghitung, beruntung Drystan tidak melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Entah apa yang akan terjadi jika dia melewatinya.

Drystan mengeratkan pegangannya pada tali tas ransel berwarna hitam itu. Dia menatap orang tuanya lekat-lekat, dia mengangguk seraya memaksakan senyuman. Kemudian dia ditarik oleh salah satu anak buah Aramis untuk berjalan di belakang Avyana, dia tidak melepas pandangannya dari orang tuanya hingga dia keluar dari unit apartemen. Dia memilih menekuri lantai dengan jantung yang berdegup sangat kencang seiring dia melangkah. Semua pria berpakaian serba hitam yang berdiri di sepanjang lorong menunduk hormat pada Aramis dan Avyana.

Avyana mempersilakan Drystan untuk masuk ke mobilnya. Sebelum ke dalam, Drystan memandangi gedung apartemen yang selama 10 tahun ini menjadi tempat bernaung dia dan orang tuanya dengan mata yang berkaca-kaca. Ternyata di mobil terdapat dua pria berpakaian serba hitam duduk di kursi depan. Wajah mereka tanpa ekspresi, seperti robot. Drystan bergidik ngeri, apakah wajahnya juga akan berubah seperti para pria itu? Dia akui, dia memang jarang tersenyum, mungkin karena beban hidup yang dia pikul membuatnya sulit untuk sekadar tersenyum lebar dengan tulus.

Drystan menyadari satu hal, kenapa halaman mendadak kosong? Bukankah tadi banyak anak-anak kecil yang mengerubungi lima mobil mewah warna hitam ini? Dan biasanya jam segini anak-anak bermain bola. Ke mana mereka? Kenapa sunyi seperti kuburan? Sama sekali tidak terlihat ada orang yang berkeliaran. Apakah ini perbuatan para mafia?

"Drystan." Avyana memanggil nama laki-laki yang tubuhnya kaku dan tegang itu dengan lembut dan sensual. Drystan menoleh ragu. Avyana menutup kedua mata Drystan dengan kain panjang berwarna hitam yang tebal.

"Kenapa?" Drystan kaget. Berbagai pikiran buruk bergentayangan di otaknya. Apakah dia akan dibunuh? Lalu bagaimana dengan orang tuanya?

"Jangan panik." Avyana berbisik. "Hanya agar kamu tidak melihat jalan dan menghafalnya."

Drystan sukar meneguk salivanya. Gila. Mereka sudah mempersiapkan ini sedemikian rupa. "Jangan khawatir. Aku tidak akan kabur. Demi orang tuaku." Dia terkejut ketika mobil berjalan yang membuat tubuhnya terdorong ke depan.

Avyana tersenyum miring. Drystan sangat menyayangi orang tuanya. "Di mana ponsel kamu?"

Drystan mengerutkan keningnya. "Kenapa kau mencari ponselku?"

"Agar tidak ada yang melacak keberadaanmu." Avyana merogoh saku kemeja Drystan tanpa persetujuan si empunya, tentu saja Drystan terkaget-kaget.

"Kenapa kau asal merogoh!" Jantung Drystan berdebar sangat kencang. Wanita ini gila.

Avyana tertawa renyah melihat wajah Drystan yang memerah padam. "Di mana? Atau aku akan merogoh kantong celanamu."

Drystan ingin memelotot, tetapi yang dia lihat hanya kegelapan dan Avyana tidak dapat melihat pelototannya. "Jangan." Dia merogoh kantong celananya untuk mengambil benda pipi warna putih itu. "Tolong segera kembalikan."

Avyana terkekeh. Dia memberikan ponsel itu pada bodyguard sekaligus asistennya yang duduk di sebelah kursi kemudi, yang langsung mengerti apa yang harus dia lakukan pada ponsel jadul itu. "Tenanglah, Drystan. Aku pasti akan mengembalikannya." Dia mencolek dagu laki-laki yang mengenakan kemeja merah bata itu.

***

Kain yang menutup mata Drystan dilepas oleh Avyana sesampai mereka di mansion mewah dan kokoh milik Aramis. Drystan keluar dari mobil, dia terpana melihat ke sekelilingnya. Dia seperti berada di istana. Lalu dia menggeleng, setelah teringat di mana dia sekarang. Ini bukan waktunya untuk dia mengagumi apa pun. Karena selama berada di sini, satu saja kesalahan yang dia perbuat, nyawanya dan orang tuanya dalam bahaya. Drystan meneguk salivanya yang entah ke berapa kalinya itu. Dia didorong oleh salah satu bodyguard Avyana yang terdapat tindikan di hidung. Dia mengekori Avyana dengan perlahan, di belakangnya ada seseorang yang mengarahkan moncong pistolnya ke kepala Drystan, membuat keringat membanjiri wajah dan tubuhnya.

"Siapa lagi itu?" Adrastus, pria yang tidak mengancing kemejanya itu memperlihatkan tubuh kekarnya yang terdapat tato gambar naga melintang di sepanjang dadanya. Dia menatap Drystan yang menekuri lantai dengan tajam.

"Biasa. Adikmu itu tidak bisa melihat laki-laki berwajah tampan." Aramis duduk di sofa empuk berwarna hitam. Di ruang tamu bukan hanya ada Adrastus, tetapi juga dua wanita berpakaian seksi yang sedang menemani anak sulungnya itu. Para anak buahnya dan bodyguard Avyana berdiri tegap memutari sofa yang berada di ruang tamu, mengunci rapat mulut mereka dan tidak melepas kacamata hitam.

"Bodyguard baruku." Avyana menyentuh punggung Drystan, sontak tubuh laki-laki itu merinding bukan main. Avyana mengangkat wajah Drystan agar menatap kakaknya. "Perkenalkan, dia kakakku, namanya Adrastus." Avyana menyuruh Drystan memperkenalkan dirinya sendiri.

Drystan menenangkan jantungnya yang bergemuruh hebat. "Nama saya Drystan Cordner." Dia menunduk lagi, karena hawa yang menguar dari tubuh Adrastus membuatnya merinding dan tatapan matanya mengintimidasi.

Adristus mengamati Drystan dari atas sampai bawah, meneliti penampilan laki-laki yang tubuhnya gemetar itu yang tampak lemah di matanya. "Coba buka bajumu."

Drystan memelototi lantai. Apakah dia tidak salah dengar?

"Kakak! Jangan, aku tidak akan sanggup melihatnya." Avyana menjerit-jerit kegirangan seraya mengelus pelan lengan Drystan.

"Buka kancing kemejamu. Aku ingin melihat bentuk tubuhmu." Adrastus curiga, sepertinya otot Drystan tidak terbentuk.

"Kak!" Avyana menggeleng, tetapi sebenarnya dia penasaran. Aramis menikmati minumannya, sedangkan dua wanita milik Adrastus itu senyum-senyum penuh arti.

Adrastus menarik tangan Drystan yang pasrah ke ruangannya, Avyana mengikuti mereka dengan langkah riang seraya senyum-senyum.

Di ruangan, Adrastus segera memerintahkan hal yang sama pada Drystan. "Letakkan tas ranselmu di lantai dan buka kancing kemejamu." Adrastus melipat kedua tangannya di depan dada.

Drystan menurut, dia menaruh tas di lantai, tetapi ragu untuk membuka kancing kemejanya. Dia melirik Avyana yang berdiri di sebelah kakaknya, mata cokelat wanita itu berbinar-binar.

"Cepat!"

Dengan cepat Drystan melepas satu persatu kancing kemejanya, terlihatlah perutnya yang sedikit membuncit itu.

Adrastus menepuk jidatnya. Sudah dia duga. Dia pusing dengan adiknya yang suka mengoleksi pria berwajah tampan.

Mata Avyana melebar, ingin rasanya dia meraba setiap inci tubuh Drystan. Dia menepuk kedua pipinya. Astaga. Kenapa pikirannya selalu seperti ini apabila berhadapan dengan pria tampan?

Drystan memeluk tubuhnya yang kedinginan dan juga malu. Apakah dia sudah boleh mengancing kembali kemejanya?

Adrastus melirik Avyana lewat ekor matanya. "Apa yang kamu suka dari dia? Dia tidak cocok menjadi bodyguard!"

"Dia tampan, Kak." Avyana mendekati Drystan, lalu mengelus pipi laki-laki itu. "Lihat wajahnya yang terlalu tampan ini. Sebelum dia direkrut oleh agensi model atau artis, lebih baik aku duluan yang mengambilnya. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan laki-laki yang sangat rupawan ini."

Helaan napas panjang terembus dari hidung mancung Adrastus. Adiknya memang gila dan aneh.

Drystan bingung, apakah dia perlu berterima kasih pada Avyana yang beberapa kali mengatakan bahwa wajahnya tampan? Tetapi kenapa dia merasa seperti barang yang harus segera dibeli karena edisi terbatas?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Seorang Janda
9.6
Ardena Alverio, anggota pasukan khusus yang dikhianati hingga tewas, terbangun dalam tubuh Lyra Elvine, seorang janda bisu dengan tiga anak kembar. Dunia terkejut saat Lyra yang dianggap lemah tiba-tiba mampu bicara dan menunjukkan otoritasnya. Mantan tentara bayaran hingga peretas jenius kini tunduk di hadapannya. Meski tangguh dalam strategi dan tempur, Ardena kini menghadapi tantangan tersulit: belajar menjadi ibu bagi anak-anaknya di tengah intrik berbahaya.
Sampul Novel Brontak Dalam Sempak
9.0
Ujang menantang Datok dengan penuh amarah demi menunjukkan kekuatannya yang selama ini terpendam. Meski baru berusia dua puluh tahun, ia kini mengerahkan seluruh kemampuannya melalui teknik Tisu Magic yang mengubah tubuhnya menjadi lapisan baja kokoh. Di sisi lain, Datok bersiap dengan jurus Telo Rasa Meki yang mengeluarkan uap panas membara. Keduanya melesat secepat kilat hingga menciptakan ledakan dahsyat saat ajian pamungkas mereka saling berbenturan di udara.
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Pasca kematian gurunya, Zhao Erhu menerima wasiat terakhir yang sangat mengejutkan. Ia diperintahkan turun gunung untuk menemui tujuh kakak perempuan seperguruannya. Tugasnya bukan sekadar mencari mereka, melainkan harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Instruksi aneh ini membuat semua orang tercengang, namun sang guru menegaskan bahwa ini adalah misi penyelamatan nyawa. Tanpa melakukan hubungan intim itu, nyawa kakak-kakaknya akan berada dalam bahaya besar.
Sampul Novel HATRED
8.7
Difitnah melukai dua saudaranya sendiri, seorang pemuda terpaksa angkat kaki dari rumah. Ia menyimpan amarah mendalam karena keluarganya lebih memercayai bukti video rekayasa ketimbang kejujurannya. Kini, ia harus memulai hidup baru di luar sana sambil membawa luka hati akibat pengkhianatan orang terdekat. Bagaimana nasib pemuda ini setelah pergi? Akankah penyesalan menghampiri keluarga yang telah membuangnya? Simak perjuangan penuh dendam ini.
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD
8.8
Seorang profesor ambisius melontarkan kutukan pahit kepada seorang bocah tanpa identitas. Ia meramalkan bahwa sang anak akan hidup dalam kesendirian total, tanpa ikatan, dan kehilangan semua hasil kerja kerasnya karena dikhianati dunia. Namun, bocah itu tidak gentar. Dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki, ia menantang balik pernyataan sang ilmuwan. Ia menegaskan bahwa akhir dari permainan takdir ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan bagi siapa pun.
Sampul Novel Kisah Sang Penguasa
9.4
Demi menyelamatkan ekonomi keluarga Vegas dan membalas budi Dimitri, Fugaku rela menikahi Vior dari klan Diningrat. Namun, pernikahan itu hanyalah jebakan kejam Vior untuk mencuri rahasia bisnis keluarganya. Di hari bahagia tersebut, Fugaku justru disiksa, diracun, hingga dibuang ke laut. Secara ajaib ia selamat dan bangkit menjadi bagian dari pasukan elite Celestial di Kota Kastiya. Kini, sang penyintas misterius ini memulai babak baru dalam hidupnya.