Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas

Bismillah, Aku Ikhlas

Kehidupan rumah tangga yang seharusnya indah berubah menjadi penderitaan akibat lisan tajam ibu mertua. Tuduhan mandul dan penyesalan atas pernikahan terus dilontarkan, menambah beban pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Sang istri terus dipojokkan dan dituntut memberikan cucu dalam tekanan mental yang berat. Di tengah badai konflik dan sikap mertua yang semena-mena, ia kini berdiri di persimpangan jalan antara terus bertahan atau memilih menyerah.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Naima!" teriak ibu mertua dengan sangat lantang membangunkan tidurku pagi hari ini. 

Aku yang agak kurang enak badan terpaksa harus cepat bangun dan menghampirinya. "Ada apa Bu?"

"Kamu, ya! Jam berapa ini? Kenapa masih belum masak juga?? Hah!" sentak ibu mertua yang sepertinya sudah berpatroli dari dapur.

Ya, sehari-hari tugasku di rumah ini sudah seperti seorang babu. Ibu mertuaku tak pernah menganggapku sebagai anak menantunya. Aku hanya dijadikan pekerja rodi yang tak pernah mendapatkan imbalan.

Sebenarnya aku sangat tersiksa, namun aku juga tak tega jika harus bercerita tentang hal ini kepada mas Ilham, suamiku. Aku takut jika nanti mas Ilham malah merasa keberatan dan tak nyaman dengan ibu kandungnya sendiri. 

"Hei! Diajak ngomong koq malah bengong??" Lagi, dan lagi, mukaku disemprot dengan omelannya.

Andai aku bisa mengeluh satu kata saja, aku akan berteriak kepada semua orang bahwa aku LE-LAH! Aku sungguh lelah! 

"Maaf Bu, hari ini agak kurang enak badan," jawabku ragu. Aku takut jika ibu mertuaku akan semakin garang jika aku sampai salah bicara. 

"Ck! Palingan cuma pusing! Manja banget sih? Dulu kamu waktu di panti asuhan pasti sudah biasa kan, kerja berat?" sahut ibu mertua seolah tidak perduli. 

"Tap ...."

'Prang!'

Belum saja aku selesai mengucapkan kalimatku, ibu mertua sudah beraksi menjatuhkan wajan penggorengan tepat di bawah kakiku.

Nyaris saja menimpa kakiku, untungnya meleset ke samping. Memang, ibu mertuaku ini benar-benar ganas! 

"Halah! Manja banget! Cepat masak!" protesnya tak ingin lagi mendengar alasanku. 

Mendengar kalimat itu membuat hatiku semakin perih. Bagaimana bisa ibu mertuaku itu berubah drastis dengan saat pertama kali bertemu. 

Jika mengingat hari itu, hari di mana Mas Ilham membawaku ke rumah ini untuk memperkenalkanku dengan keluarganya. Bu Ratih yang dulu masih calon bumer, bersikap sangat baik padaku. Sambil tersenyum dia memuji-muji parasku yang ayu. Tapi, saat ini, di saat aku sudah menjadi istri anaknya, kenapa perubahan sikapnya begitu kentara? 

Ya Allah, dosa apa waktu kecilku hingga saat ini aku mendapatkan perlakuan seperti ini? 

"Cepetan masak! Semua orang sudah lapar!" bentaknya lagi. Bagaimanapun hatiku ingin berontak, begitu juga akhirnya aku pasrah dan menurut. Demi keutuhan rumah tanggaku dengan putranya. 

Aku langsung melangkahkan kaki menuju lemari pendingin untuk mencari bahan yang bisa kugunakan. 

"Masak nya yang enak! Jangan keasinan kayak kemarin!" celetuk wanita setengah tua itu mengingatkan. 

Aku mengangguk cepat. "Iya Bu." Aku mulai berjibaku dengan semua bahan yang ada. 

Jika mengingat hari kemarin, padahal ibu mertuaku sendiri yang membuat masakanku keasinan, tapi tetap saja aku yang disalahkan. 

Kejadiannya adalah, saat aku sudah menyetel semua rasa, kutinggal sayur santan yang masih belum mendidih di atas kompor. Karena aku sedang ingin ke kamar mandi untuk membuang hajat, maka aku tinggal sebentar. 

Namun, saat aku kembali kulihat ibu mertuaku itu mengicip kembali dan memasukkan sesuatu lagi ke dalam panci masakku. Aku paham betul toples yang dipegangnya saat itu adalah toples yang berisi garam. Otomatis! Rasa sayur dan kuah, terasa sangat asin. 

Tapi, ibu mertuaku yang sangat pintar di atas rata-rata mengumumkan kepada seluruh anggota keluarga bahwa akulah yang sengaja membuat asin masakanku.

Hingga akhirnya, sayur sepanci besar itu harus terpaksa dibuang karena tidak ada yang mau memakan. 

Kembali ke masa sekarang. Jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 08.00 pagi. Sesuai jadwal rutin, seharusnya kami sudah selesai sarapan dari beberapa puluh menit yang lalu. 

Karena kondisi tubuhku yang kurang fit, aktifitas memasakku menjadi terganggu dan sangat lama. 

"Naima!!!" teriak ibu mertua lagi memanggil namaku. 

Aku yang tengah membalik tahu dan tempe memilih tetap di posisi dan tidak langsung mendatanginya. 

"Naimaaaa!!!"

Astaghfirullah ... Itu mulut atau toa?? Nyaring sekali. 

"Iya, Bu." Setengah berlari aku menghampiri ibu mertua yang sedang berdiri di depan pintu. 

'Bruk!'

Setumpuk pakaian berbau menusuk hidung dilemparkan ke arahku. "Habis masak, cuci semua ini!"

Ya Allah, tugas satu saja belum kelar, sudah ditambah lagi? Mana badan lagi meriang begini? 

Aku memungut semua pakaian kotor ibu mertua dan langsung membawanya ke kamar mandi. Mulai memasukkan barang itu ke mesin cuci dan mengisinya lagi dengan air. 

"Ya Allah, Naima!!! Tempemu gosong ini, lho!" 

Mendengar teriakan ibu, aku buru-buru lari ke dapur. 

Ya Allah, ngebul! Asap di mana-mana. Dan tempe yang tadi berwarna kuning sekarang sudah menjadi hitam legam. 

"Ck! Jadi menantu koq nggak becus banget sih!" Ibu mertua berkacak pinggang. Sudah macam mandor sedang mengomeli bawahan.

"Maaf, Bu." Aku langsung mengangkat wajan penggorengan dan mencucinya. 

Untung saja ini gorengan terakhir, jadi tidak terlalu menyesal karena minyaknya tidak bisa dipakai lagi. Maklumlah, jadi wanita itu harus perhitungan. Kan lumayan, harga minyak lagi mahal! 

Ups! Koq malah jadi curhat? 

Sang Ratu kembali menghampiriku. "Ini sudah mateng semua kan? Sana siapin di meja!" bentaknya lagi memerintahku. 

Ya, ibu mertuaku itu sudah seperti ratu bagiku. Karena setiap perintahnya tidak boleh kutolak, Apapun itu. 

"Iya, Bu." Aku berjalan ke arah meja makan dan mempersiapkan semua menu yang sudah kumasak. 

"Ish! Ini bau apa, Sayang?" tanya mas Ilham sambil menutup hidung. 

"Bau tempe gosong istrimu!" seloroh ibu mertuaku seenaknya. 

"Masa sih? Nggak biasanya Naima masak, gosong?"

"Dibilangin juga! Tanya aja istrimu!"

Mas Ilham ikut kena sembur, kan? 

"Iya Mas, memang tadi aku yang gosongin tempe. Soalnya tadi pas lagi masak, aku dipanggil sama ibu."

"Eh, eh! Koq malah nyalain ibu!" sewot ibu mertuaku dengan mata melotot seperti mau copot. 

"Sudah, sudah." Mas Ilham menengahi kami dan langsung menarik kursi untuk duduk. " Sudah, Ibu, Naima, Mari sarapan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA TAK MEMILIKI POLA
8.0
Dirgana adalah janda dua anak yang bekerja keras sebagai pengemudi ojek daring demi menyambung hidup. Takdir mempertemukannya dengan Dimas, putra pemilik toko emas yang tengah didera keputusasaan. Tanpa mereka sadari, ibu Dimas telah merancang skenario agar keduanya terikat dalam pernikahan sebagai balas budi atas bantuan Dirgana di masa lalu. Kini, mereka terpaksa menjalani kehidupan rumah tangga rahasia yang penuh kejutan akibat rencana tersebut.
Sampul Novel Di Pemberhentian Terakhir
9.4
Rana adalah mahasiswi yatim piatu yang berjuang kuliah melalui jalur beasiswa. Kesehariannya hanya terbagi antara belajar dan bekerja hingga ia bertemu Reva, sahabat pertamanya. Namun, ketenangan hidupnya mulai terusik saat Reno muncul dan sosok dari masa lalu kembali hadir. Hubungan mereka kian rumit ketika Dito masuk ke dalam lingkaran pertemanan tersebut. Kini, Rana harus menghadapi konflik perasaan yang melibatkan keempat orang terdekatnya itu.
Sampul Novel Guruku Adalah Istriku
8.6
Kehidupan seorang murid berubah total saat ia harus terikat dalam tali pernikahan dengan gurunya sendiri. Hubungan yang awalnya bermula dari perjodohan kedua orang tua ini memaksa mereka untuk menyeimbangkan peran di sekolah dan di rumah. Bagaimana cara mereka menyembunyikan rahasia besar ini dari teman-teman dan rekan kerja? Ikuti perjalanan asmara unik mereka yang penuh lika-liku dari bab awal hingga akhir dalam kisah romansa masa muda ini.
Sampul Novel Kakak Beradik 
8.6
Kematian tragis sang protagonis terjadi tepat di hari ulang tahunnya bersama saudara kembar perempuannya. Namun, alih-alih duka yang tulus, ia justru menyaksikan pacarnya memeluk erat kembarannya yang menangis. Di saat yang sama, kemarahan keluarganya memuncak; ibunya terus menelepon tanpa henti, ayahnya mencaci dirinya sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih, dan saudarinya mengirim pesan kejam yang menuduhnya egois. Saat semua hujatan itu datang, ia menyadari satu hal: dadanya kini tidak lagi terasa sakit.
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.7
Disiksa kejam oleh penculik demi melindungi sang ayah, seorang gadis meregang nyawa dalam kesendirian. Di momen terakhirnya, panggilan teleponnya justru ditolak dengan penuh kebencian oleh ayahnya yang sedang merayakan ulang tahun putri adopsinya. Sang ayah mengutuk kelahirannya yang merenggut nyawa ibunya. Jasadnya kemudian ditemukan tragis di depan kantor polisi. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli otopsi memimpin penyelidikan tanpa menyadari bahwa korban mutilasi keji tersebut adalah putri kandung yang sangat ia benci.