Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bisikan Dari Hati yang Patah

Bisikan Dari Hati yang Patah

Rachel mengira kesetiaan mampu meluluhkan hati Brian, namun ia keliru saat cinta sejati pria itu kembali. Setelah dikhianati di altar hingga berjuang sendirian melawan penyakit mematikan, Rachel akhirnya menyerah. Saat Brian menyadari waktu Rachel tak lama lagi, ia hancur dan memohonnya tetap hidup. Namun, Rachel hanya tersenyum tenang. Baginya, kematian bukanlah akhir yang tragis, melainkan jalan menuju kebebasan dari cinta yang menyakitkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kenangan tentang bagaimana dia dan Brian bersama terlintas jelas dalam benak Rachel.

Itu merupakan awal yang penuh gejolak. Pada saat itu, Tracy telah meninggalkannya demi pria lain, pindah ke luar negeri.

Pengkhianatan itu telah membuat Brian hampir gila. Dalam keputusasaannya, dia menenggelamkan kesedihannya dalam alkohol, hanyut dalam amarah dan patah hati.

Pada malam yang menentukan itu, dipenuhi dengan emosi yang membara, Brian menindih tubuh Rachel. Dia menangis dan gemetar di bawahnya, tapi pria itu tidak berhenti. Didorong oleh kebutuhan yang mendesak dan mendasar, Brian melakukannya berkali-kali, seolah-olah mencoba mengisi kekosongan yang ditinggalkan Tracy.

Keesokan harinya, saat beban malam sebelumnya menggantung di antara mereka, Brian menoleh padanya dengan ekspresi suram. "Kalau kamu merasa dirugikan, kamu bisa menjadi pacarku. Apa kamu bersedia?"

Dia mengangguk, suaranya tercekat di tenggorokannya. Dan dengan itu, hubungan mereka dimulai, bukan karena cinta, tapi beban tanggung jawab dari malam yang dihabiskan bersama.

Sekarang, saat pria ini berada di hadapannya, hatinya terasa sakit karena beban pertanyaan-pertanyaan yang tak terucap. Dia bertanya-tanya apakah Brian memiliki perasaan apa pun terhadapnya, apa ada jejak kasih sayang atau kelembutan di hatinya sedikit pun, atau apa dirinya hanya sekadar pengganti cinta yang telah hilang.

Tatapan Brian tertuju pada Rachel, suaranya terdengar lembut tapi tegas. "Rachel, kita akan segera menikah. Kelak, kamu akan menjadi istriku. Aku akan selalu mencintai dan melindungimu."

Rasa dingin tiba-tiba menyentuh bibirnya, dan tanpa berpikir, dia menempelkan jari-jarinya dengan lembut di bibir Brian, menghentikan kata-katanya. "Brian, jangan katakan lagi," bisiknya, "aku sudah mengerti. Kamu terjaga sepanjang malam, dan kamu kelelahan. Pergilah berganti pakaian sebelum kamu berangkat ke kantor. Aku akan mengambilkan pakaianmu."

Suaranya terdengar tenang, tapi saat berbalik, air matanya mulai berjatuhan tak terkendali.

Brian telah mengucapkan banyak perkataan lembut dan menghangatkan hati, penuh dengan janji kepedulian serta pengabdian. Namun, yang bisa dia rasakan hanyalah kekosongan di balik kata-kata itu. Jaminan yang diberikannya manis, tapi tidak memiliki ketulusan yang dia dambakan.

Kalau benar-benar cinta, kata-kata seperti itu sama sekali tidak dibutuhkan. Satu kata yang jujur saja sudah cukup. Semakin Brian mencoba meyakinkannya, semakin kata-katanya membuktikan bahwa cinta adalah sesuatu yang tidak bisa pria itu tawarkan.

Pada saat ini, Rachel merasa tidak sanggup menanggungnya lagi. Dia berpaling, tidak memiliki keberanian untuk mendengarkan lebih jauh, merasakan sakit yang amat dalam di hatinya.

Saat dia meraih setelan jas dari lemari, sebuah pelukan yang tak asing membungkusnya dari belakang, menariknya mendekat. Dagu Brian bersandar lembut di kepalanya, dan pria itu memegang tangannya dengan lembut, suaranya dipenuhi dengan kekhawatiran. "Cuaca tidak dingin, kenapa tanganmu begitu dingin?"

Air mata masih membasahi bulu mata Rachel, dadanya terasa sesak oleh rasa sakit yang tak terucapkan. Dia berjuang untuk menemukan kata-kata yang tepat, tidak yakin bagaimana menanggapi kelembutannya yang tiba-tiba.

Saat berikutnya, tubuhnya dibalik oleh Brian, tatapan pria itu tampak lembut tapi tajam.

Rachel mengangkat matanya, tatapannya yang penuh air mata bertemu dengannya. Kerentanan dalam tatapannya menggugah sesuatu dalam diri Brian. Karena tak mampu menahannya, dia menangkup wajah wanita itu dan menciumnya, keras dan putus asa, seolah ingin melahapnya, menjadikannya bagian dari dirinya.

Rachel berjinjit, bersandar di bawah sentuhannya yang kuat tapi lembut. Wajahnya memerah, dan napasnya menjadi tidak teratur, terperangkap antara luapan emosi dan intensitas momen itu. Namun, di tengah semua itu, ada rasa manis halus yang mulai timbul dalam dadanya.

Bertahun-tahun bersama telah mengajarkannya bahwa hanya dalam pertukaran yang tenang dan intim inilah Brian menunjukkan tanda-tanda gairah liar padanya. Pada saat-saat langka inilah dia merasa benar-benar disayangi.

"Brian …." Rachel merintih, suaranya bergetar, dia hampir kekurangan oksigen karena ciuman itu.

Brian tampaknya tersadar dari keadaan setengah sadarnya, melepaskannya dengan perubahan sikap yang tiba-tiba. Kata-katanya penuh dengan hasrat, tapi juga sarat dengan penyesalan. "Kalau bukan karena terburu-buru harus pergi ke kantor, aku benar-benar ingin melakukannya denganmu sekarang dan tidak akan menahan diri."

Wajah Rachel semakin memerah, rasa malu sekaligus kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia mendorongnya dengan lembut, seolah berusaha melepaskan diri dari intensitas momen itu. "Tadi malam, kita baru ... baru ...." Karena terlalu pemalu, dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya dan suaranya menjadi lirih.

Namun, Brian tetap tidak terpengaruh, cengkeramannya padanya tetap kuat tapi lembut. Pandangannya tidak goyah saat dia menatapnya dengan tekad baja. "Memangnya kenapa? Kamu milikku sekarang, aku menginginkanmu dan tidak pernah merasa cukup."

Rachel hendak membuka mulut untuk berbicara, tapi tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang dingin dan halus meluncur ke pergelangan tangannya. Dia menundukkan kepala, lalu melihat sebuah gelang yang sangat indah, rubi merah di bagian tengahnya memantulkan cahaya yang berkilauan dan cemerlang. Warna merah tua permata itu membuat kulitnya yang putih tampak lebih halus.

"Apa ini ... untukku?" tanya Rachel, suaranya mengandung keterkejutan.

Brian mengangguk, senyum lembut muncul di sudut bibirnya. "Ya. Apa kamu menyukainya?"

Pandangan Rachel beralih dari gelang itu kembali ke wajahnya. "Apa kamu sendiri yang memilihnya?"

Brian mengangguk lagi, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Aku pikir itu cocok untukmu."

Hati Rachel terasa hangat, dan dia tidak bisa menahan senyum. "Aku sangat menyukainya. Terima kasih." Dia mencondongkan tubuh ke depan, lalu memberikan ciuman ringan di pipinya sebagai rasa terima kasih.

Namun, Brian yang masih belum puas, mengangkat salah satu alisnya dan menunjuk ke bibirnya. Raut wajahnya yang main-main tapi sungguh-sungguh menarik perhatiannya, diam-diam menuntut lebih.

Tanpa sepatah kata pun yang terucap, Rachel memahami maksudnya, tapi keraguan masih melekat di hatinya. Dia tidak terbiasa menjadi orang yang mengambil inisiatif, dan sedikit rona merah merayapi pipinya.

Sambil tersenyum menggoda, Brian mengangkat salah satu alisnya dan berkata dengan sengaja, "Jika kamu tidak menciumku, aku akan pergi." Dia melepaskan tangannya, seringainya menantangnya untuk bertindak.

Jantung Rachel berdebar kencang, pikirannya sejenak hilang dalam luapan emosi. Tanpa berpikir, dia menutup jarak di antara mereka dan menciumnya.

Brian seolah sudah menunggu saat ini, dia memegangi bagian belakang kepala Rachel dengan tangannya dan memperdalam ciumannya, gairahnya tidak menyisakan ruang untuk keraguan. Baru setelah wanita itu terkesiap sambil mencengkeram pakaiannya dan memohon belas kasihan, dia menarik diri, napasnya tidak teratur.

"Beristirahatlah dengan baik di rumah selama beberapa hari. Kamu dapat mengunjungi Kakek dan Nenek ketika kamu punya waktu luang. Tunggu sampai kamu pulih sepenuhnya sebelum kembali bekerja," usul Brian dengan lembut. Sorot matanya melunak saat menatap wajah pucat dan lelah wanita itu.

Rachel mengangguk dengan patuh, pikirannya masih kabur karena intensitas momen itu.

Dia selalu mencurahkan dirinya dalam pekerjaannya. Setelah memperoleh gelar di bidang seni rupa, dia bergabung dengan Grup White dan dengan cepat naik jabatan menjadi manajer departemen divisi desain. Hanya saja, rekan-rekannya di kantor tidak tahu tentang hubungannya dengan Brian.

Meskipun dedikasinya tidak pernah goyah, stres yang dialaminya akhir-akhir ini telah membebani dirinya. Kalau bukan karena dia begadang selama beberapa hari terakhir, yang menyebabkan dirinya sering sakit kepala, mual, dan muntah dari waktu ke waktu, dia tidak akan pernah mengambil cuti hari ini.

Namun, dia berencana untuk mengurangi jam kerjanya setelah pernikahan mereka. Dia ingin mengalihkan fokusnya dari pekerjaan ke keluarga yang akan dibangunnya bersama Brian.

"Oh iya, Brian," ucap Rachel dengan lirih, beban momen itu menggantung di antara mereka. "Ibumu sudah menetapkan tanggal pernikahan."

Sudut bibir Brian melengkung, membentuk senyum tipis dan geli. "Aku tahu. Ibu meneleponku pagi ini."

Rachel terdiam sejenak, pikirannya bercampur aduk sebelum berbicara dengan ragu, "Kalau begitu ... tidakkah seharusnya kita memberi tahu kantor tentang kita? Semua orang tahu aku akan menikah, tapi tidak seorang pun tahu dengan siapa. Mereka menggodaku dan meminta undangan akhir-akhir ini." Kata-kata itu keluar dari mulutnya, mengandung campuran antara rasa antisipasi dan kegelisahan.

Namun, ekspresi Brian tidak melunak. Sebaliknya, tatapannya menjadi lebih kaku, rahangnya menegang saat dia menghindari sorot mata wanita itu. "Rachel," mulainya secara tiba-tiba, suaranya berat karena permintaan maaf yang tak terucap. "Aku minta maaf."

Tertegun, Rachel menatapnya, mencoba memproses perubahan mendadaknya. "Apa? Kenapa?"

Brian bertemu pandang dengannya, matanya tampak lembut tapi tegas. "Aku belum siap memublikasikan pernikahan kita ke publik. Dan aku sudah menceritakannya pada keluargaku. Untuk saat ini, kita akan mengadakan acara kecil-kecilan, acara privat yang dihadiri keluarga dan sahabat dekat."

Tangan Rachel membeku, dasinya terlepas dari jemarinya. Pikirannya berpacu saat kata-kata Brian meresap. Jadi, semua orang sudah tahu? Dia orang terakhir yang mengetahuinya? Kalau saja dia tidak mengungkitnya, apa pria ini akan merahasiakannya sampai akhir?

Gagasan untuk merahasiakan hubungan mereka terasa menyesakkan. Sebuah pernikahan, hal yang besar, sebuah janji untuk berbagi hidup, tapi semuanya harus disembunyikan.

Rachel bertanya-tanya kenapa. Kebenaran, betapapun menyakitkannya, mulai muncul dalam benaknya. Tracy adalah alasannya. Brian masih belum merelakan wanita itu, dan kenyataan itu menghancurkan harapan apa pun yang tersisa bagi Rachel.

Dadanya terasa sesak, dan untuk sesaat, udara terasa terlalu padat untuk dihirup. Matanya terasa perih karena air mata yang tak kunjung tumpah, hatinya terasa seperti ditarik oleh sesuatu, tapi dia berkedip dengan keras, berusaha menahannya.

Kalau saja yang dinikahi Brian adalah Tracy dan bukan dirinya, pria ini pasti sudah mengumumkannya ke publik saat itu juga. Brian akan menyiarkannya ke seluruh dunia, ingin semua orang tahu bahwa Tracy adalah orang yang dipilihnya.

"Bagaimana jika aku bersikeras untuk memublikasikannya?" Suara Rachel bergetar, matanya berkilauan dengan air mata yang belum menetes saat dia mengajukan pertanyaan itu dengan sikap menantang yang tak terduga. "Bagaimana jika aku ingin semua orang tahu tentang kita?"

Brian tampak sangat terkejut. Rachel selalu patuh, sikapnya lembut serta akomodatif. Ketegasan yang tiba-tiba ini tidak seperti dirinya, membuatnya tidak bisa berkata-kata untuk sesaat.

Setelah jeda sejenak, dia mengulurkan tangannya, sentuhannya tegas tapi tidak kasar. "Rachel," ucapnya, nada bicaranya terukur tapi memohon, "berikan aku sedikit waktu lagi. Aku jamin, pada saat yang tepat, aku akan memastikan semua orang tahu siapa dirimu bagiku."

"Jadi, itu tidak mungkin terjadi sekarang, kan?" Suara Rachel terdengar lembut, hampir pasrah. Dia tidak berani berharap lagi.

Brian menundukkan pandangannya, rasa bersalah menutupi ekspresinya. "Maafkan aku," bisiknya.

Kedua tangan Rachel bergetar saat dia berusaha menenangkan diri. Dia menarik napas dalam-dalam, memaksa emosinya terkendali, dan akhirnya berbicara lagi, suaranya terdengar pelan tapi tegas. "Aku setuju dengan ini ... tapi dengan satu syarat."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alena dan Andrio (Sekuel Dendam Anak Tiri)
8.9
Alena sempat meyakini bahwa membangun kehidupan rumah tangga bersama Andrio akan selalu dipenuhi kebahagiaan tanpa celah. Namun, realita pernikahan mereka ternyata jauh lebih rumit dan penuh rintangan dari yang ia duga. Meski berbagai konflik dan lika-liku tajam terus menguji kekuatan cinta mereka, Alena tetap bertekad mempertahankan sang suami. Inilah perjalanan romantis penuh haru yang membuktikan bahwa Andrio akan selalu menjadi milik Alena selamanya.
Sampul Novel Cerita dewasa
7.9
Karya fiksi romansa modern ini menyajikan narasi dewasa yang berfokus pada hubungan intim antara pria dan wanita. Mengingat konten di dalamnya mengandung unsur pornografi dan adegan eksplisit, pembaca yang belum cukup umur sangat dilarang untuk mengaksesnya. Penulis berharap dukungan penuh dari para pembaca atas karya imajinatif ini agar terus berkembang. Pastikan Anda berusia 21 tahun ke atas sebelum mengikuti kisah ini hingga akhir. Terima kasih.
Sampul Novel Di Sudut Memori
8.6
Citra terjebak dalam kepedihan mendalam setelah Dwiyan pergi meninggalkan luka yang membekas di ingatannya. Di tengah duka itu, ia harus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Kehadiran Panggih kemudian membawa secercah harapan dan mulai menyembuhkan trauma masa lalunya. Kini, Citra dihadapkan pada pilihan sulit: bangkit demi kebahagiaan baru bersama Panggih atau selamanya terbelenggu oleh bayang-bayang kenangan pahit yang tak kunjung sirna.
Sampul Novel Draco&Luna
7.9
Sejak yatim piatu, Luna menderita di bawah asuhan bibinya yang kejam hingga ia dijual ke pasar gelap. Di pelelangan itu, hidupnya berubah saat dibeli oleh Draco Riordan, pria misterius dengan masa lalu kelam. Pertemuan ini menyatukan Luna yang lugu dengan Draco yang penuh dendam dan rahasia besar. Di tengah perbedaan latar belakang yang kontras, akankah kehangatan Luna mampu melunuhkan hati Draco, ataukah takdir justru membuat hubungan mereka mustahil untuk bersatu?
Sampul Novel Mencintai Adik Angkatku
9.2
Sebastian Sachdev Rendra memendam rasa cinta terlarang kepada adiknya, Elvina. Tanpa diketahui siapapun, mereka sebenarnya tidak memiliki ikatan darah. Rahasia besar ini terungkap saat Luna, sang mama, membaca buku harian Bastian. Meski Bastian merasa lega mengetahui Elvina hanyalah adik angkat, konflik batin muncul karena Elvina hanya menganggapnya sebagai pelindung. Kini, kebenaran itu harus disembunyikan hingga saat yang tepat bagi Elvina untuk memilih.
Sampul Novel Nodamu Bukan Masalah Bagiku
8.0
Riko, seorang CEO kaya, tak sengaja menyelamatkan Nabila dari suaminya yang kejam. Nabila dipaksa menjadi wanita malam demi uang, namun Riko hadir menolongnya mengurus perceraian. Benih cinta tumbuh di antara mereka, meski ibu Riko menentang keras hubungan tersebut karena masa lalu Nabila. Kini, keduanya harus berjuang bersama demi mendapatkan restu orang tua dan membuktikan bahwa cinta mereka mampu melampaui segala prasangka serta ego keluarga.