Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy

Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy

Alexandria Serenata Atmadya pindah ke megapolitan demi pekerjaan baru, namun sifatnya yang sulit menolak justru menjebaknya dalam skema Ragnala Firaz Himawan. Ragnala yang manipulatif memaksa Alexandria masuk ke pernikahan berkedok kesepakatan rahasia. Di tengah persaingan kecerdikan mereka, muncul fakta mengejutkan tentang seorang anak berusia empat tahun. Alexandria pun harus menghadapi taktik manis Ragnala demi memperjuangkan cinta di tengah pahitnya masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku sudah berlari hingga sejauh ini, menghindarimu secepat yang kubisa. Bersembunyi di tempat yang tak terkena seberkas cahaya agar aku tak bisa tertangkap bayanganmu, bahkan tak bisa melihat bayanganku sendiri supaya aku tak perlu melihat ke belakang. Jadi, kumohon jangan kembali lagi, wahai si Masa Lalu.

[Alexandria Serenata Atmadya — Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy]

“Eunghh, sa-sakit,” rintihku saat itu, tapi dia sepertinya menulikan diri dan tak mau beranjak sedikit pun dari atas tubuhku. Aku bisa merasakan sentuhannya di permukaan kulitku. Panas, itulah yang kurasakan waktu itu dan sialnya masih bisa kuingat sampai detik ini. Entah itu berasal dari tangannya atau mungkin juga dari tubuhku atau bisa saja dari tubuh kami berdua yang sedang terbakar hasrat?

Seharusnya sore itu aku bisa bersuara lebih lantang, mencoba memaksa kedua mataku untuk terbuka lebih lebar, lalu mendorongnya menjauh untuk menyadarkannya agar dia berhenti. Namun sayangnya, di ambang batas kesadaranku semuanya seakan sia-sia. Bahkan matahari senja yang terakhir kulihat sedang mengintip dari balik tirai nyatanya tak bisa menyinari seisi kamar, tak juga wajahnya yang sekarang mulai semakin samar dalam ingatanku. Namun, itu tak berlangsung lama karena wajah malaikat kecilku terlihat semakin mirip dengannya, mungkin? Pasti wajahnya sedikit berubah, ‘kan? Wajah tampan yang menyesatkan itu.

“Lex! Lexa! Kamu kenapa bisa ngigau gak karuan kayak gini sih? Astaga! Badanmu panas banget. Udah dibilang masuk setengah hari aja biar kamu bisa ke dokter, malah kamu gak mau dengerin, ish!” cerocos Ayana panik. Suara cemprengnya membuat kepalaku semakin sakit, konon lagi teman-teman editor lain di luar ruanganku.

Ayana Tan adalah sahabat sekaligus editor-in-chief di tempatku bekerja selama hampir lima tahun ini. Dia memang orang yang perhatian meskipun terkadang irit bicara terutama jika jadwal kami lagi padat-padatnya.

Setelah membasahi kerongkonganku dengan beberapa teguk air dibantu Ayana, akhirnya aku menuruti perkataannya untuk pulang lebih dulu. Setidaknya aku bisa membuatnya menghemat tenaga karena berhenti mengomel dan mengkhawatirkanku berlebihan. Maklumlah ya, sesama anak rantau pasti rasa senasib sepenanggungannya terasa banget. Apalagi kami saat ini sedang berada jauh di negeri orang. Padahal jam kantor tinggal dua jam lagi, nanggung banget ‘kan? Tadinya kami berdua berencana untuk lembur lagi hari ini, tapi ternyata aku lagi-lagi ketahuan sedang memaksakan diri.

“Pantesan kamu gak ngebalesin chatku! Aku udah ngerasa kalau ada yang gak beres. Kamu bandel banget emang kalau dibilangin, Alexandria Serenata Atmadya! Ini kamu yakin bisa berangkat sendirian, Lex?” tanya Ayana memastikan untuk yang terakhir kali.

“Bisa, bisa. Udah jangan berlebihan gini, Bu. Gak enak sama yang lainnya,” lirihku sambil membereskan berkas di atas meja kerjaku. Aku terus memberinya kode melalui tatapan dan bahasa tubuhku untuk mengingatkan kalau jam makan siang kami sudah lewat dari tadi. Siapa sih yang tidak merasa sungkan jika Ayana bersikap seperti ini? Lebih tepatnya aku paling tidak suka jika dijadikan bahan gosip tak sedap seakan aku sedang diistimewakan, bukan dilihat karena prestasiku. Ini perusahaan besar, jadi wajar jika ada pihak yang bermain politik di dalamnya, ‘kan?

Kulirik Ayana memutar bola matanya kesal, “Udah, biar Raina aja yang bantuin beresin mejamu.”

“Eh, i-iya biar saya saja, Bu.” Raina ternyata dari tadi ada di ambang pintu ruanganku.

“Thanks, udah beres kok, Raina. Saya nitip temen-temen sebentar ya,” ucapku sambil tersenyum pada Raina. Dia adalah salah satu senior editor di sini. Raina menanggapiku dengan anggukan sambil terus mengawasiku, dia berjaga jika seandainya tubuhku mendadak oleng karena memang aku sedang pusing berat.

Aku kembali menatap ke arah Ayana, “Nanti kalau udah disuntik vitamin aku balik lagi ke kantor, kita hari ini janjian lembur, ‘kan?”

Mendengar kalimatku barusan kedua wanita di depanku melotot dengan ekspresi tak percaya. Sepertinya kok aku barusan salah ngomong, ya?

“Masih nekat juga gak mau istirahat?! Biar aku ajuin surat resignmu sekarang juga ya, Lex!” ancam Ayana yang kutanggapi dengan senyuman dan wajah polos. Maksudnya sih biar Ayana berhenti mendengus terus-terusan, tapi sepertinya tidak berhasil.

“Iya, iya. Saya izin cuti kurang dari setengah hari aja kalau gitu, Bu,” kataku setengah sewot ditanggapi dengan deheman oleh Ayana.

Raina berjalan di sampingku saat kami menuju ke arah lift. Tadinya aku menolak ditemani apalagi kalau sampai dipapah seperti aku sedang sakit keras saja, tapi dia rupanya lebih takut dengan ancaman Ayana ketimbang aku. Jelas saja Raina yang saat ini masih menjadi salah satu senior editor akan lebih takut dengan titah seorang chief editor, ketimbang perkataan seorang managing editor sepertiku.

✧✧✧

Sudah sore hari saat aku keluar dari klinik dokter di dekat daycare putriku. Rencananya aku akan langsung menjemput Fillea setelah menebus resep yang tadi diberikan oleh dokter padaku.

“Mooooommyyyyy,” sapa gadis kecil cantik berpakaian serba pink dengan rok model tutu saat melihatku masuk ke ruang tempat penitipan anak untuk menjemputnya.

Setelah berpamitan pada para pengasuh di sana aku segera menggendong putriku untuk pulang ke apartemen kami.

“Lea belajar apa hari ini, Nak?” tanyaku seperti biasa, aku tak ingin melewatkan perkembangan putri pintarku sedetik pun.

Mata Fillea mengerjap-ngerjap memandangiku, ia tersenyum sebentar sebelum menjawab, “I learn ...,”

“Eits, Indonesian dong. Sama Mommy harus bicara pakai bahasa, oke? Kalau di daycare boleh speak in english,” tegurku sambil memeluk gemas tubuh malaikat kecilku.

Fillea tertawa geli, lalu kedua tangannya memeluk leherku, “Loh, Mommy atit?” tanyanya setelah merasakan perbedaan suhu tubuh kami.

“Cuma sedikit, Sayang,” jawabku cepat saat melihat kedua mata Fillea berkaca-kaca. Ia memang setakut itu saat melihatku sakit, apalagi jika aku sampai tak kuat turun dari tempat tidur. Karena dia tahu itu artinya kami harus terpaksa berjauhan sampai aku sembuh agar tak menularkan virus padanya.

Beginilah keseharian kami semenjak aku membawanya pindah ke apartemen. Menjauh dari masa lalu dan semua kenangan buruk yang bisa kembali menghantui kami kapan saja, tapi semoga saja tidak. Aku sudah lelah jika harus berlari lagi. Aku ingin hidup tenang dengan putri cantikku. Meskipun itu artinya aku harus sembunyi sampai ia dewasa dan membutuhkan kehadiran seorang wali untuk mengesahkan pernikahannya kelak, tapi itu masih bisa dibicarakan nanti, ‘kan? Yang jelas aku ingin tetap menjaganya dan memilikinya untuk diriku sendiri selama yang aku bisa sebelum dia menemukan pria yang tepat untuk menemani langkahnya.

Seperti biasa saat kami tiba di apartemen maka aku akan melepaskan peranku sebagai seorang editor dan menggantinya menjadi seorang ibu penuh waktu untuk gadis semata wayangku. Maksudnya jika sudah di rumah maka aku tak mau diganggu siapa pun. Apalagi kalau itu berurusan dengan pekerjaan yang bisa kuselesaikan saat jam kerja besok, tentu saja kecuali jika masalahnya genting. Sebenarnya bukan hanya ibu, tapi aku harus berperan sebagai seorang ayah untuknya. Meskipun ada seorang pria yang biasanya dia panggil dengan sebutan papi, tapi aku berusaha agar Fillea tidak terlalu lengket dengannya. Bagaimanapun sejak awal Fillea Deandra adalah tanggung jawabku, karena dia hanya milikku.

“Yeaaayy kita mamam omelet,” ucap Fillea setelah aku meletakkan piring khusus miliknya di atas meja yang menyatu dengan kursi bayinya, lengkap dengan segelas jus buah segar kesukaannya. Aku tak tahu ini meniru siapa, tapi dia lebih suka jus buah segar daripada susu setelah mencoba rasanya untuk pertama kali. Dia hanya mencari susu saat terbangun malam hari, itu pun sangat jarang setelah dia mulai belajar mengenal makanan pendamping.

“Tumben nyebutnya omelet, Nak? Biasanya telurrr,” kataku mengajari huruf tersulit untuk putri pintarku.

“Ndak ndak ndak ni omelet, Mommy,” celetuknya lagi. Ia memang terkadang suka mengganti kosa kata tertentu yang memiliki huruf menantang untuk diucapkan dengan sebutan yang sama meskipun terkadang si cantik ini harus mengingat cukup lama agar bisa menemukan padanan katanya.

“Hmmm, arrrroma teluurrrrr,” ujar seorang pria dari arah ruang tengah. Ia juga ikut menggoda Fillea yang sekarang sedang mencebik hampir menangis.

“Uuuh, si Cantiknya Papi kok mukanya gini?” pria yang menyebut dirinya Papi itu seketika panik saat melihat air mata Fillea sudah siap meluncur deras.

Aku sengaja beranjak dari meja makan untuk menyiapkan sepiring makan malam lagi. Biar saja dia kebingungan menenangkan Fillea agar tidak menangis. Salah sendiri baru datang sudah menggoda anak pintarku padahal dia tahu kami sudah mau makan.

“Aduh, Lex. Eh, Mom ini gimana udah hampir meledak bomnya?”

Setelah kata meledak diucapkan, seperti tombol yang baru diaktifkan maka seketika itu juga Fillea berteriak kencang meluapkan rasa kesalnya disertai tangisan geram, “Huwaaaaa!! Mommyyyyy!!” tangis Fillea sekuat tenaganya.

“Tuh kaaan, udah tahu anak cantiknya gak bisa kalau diledekin terus. Emang sukanya jahil aja sih,” tegurku pada pria yang sekarang pasrah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari kedua tangan mungil Fillea.

Aku mendekat untuk menghapus air matanya sambil perlahan mencekal kedua tangan mungil anakku, mengarahkan pandangannya ke mataku, “Anak pintar, tangannya Fillea ini buat mamam, berdoa, belajar. Kalau buat mukul nanti sakit semua, Nak. Tangan Lea jadi sakit, yang kena pukul apalagi,” ujarku memberi pengertian. Fillea terisak kecil sambil menatapku. Aku tahu hatinya masih dongkol, lututku menyenggol kaki pria di sampingku. Aku beranjak untuk duduk di kursiku setelah mengecup kedua tangannya.

“Maaf ya, Tuan Putrinya Papi. Papi tadi tuh beneran laper berat gara-gara menghirup aroma telur buatannya Mommy,” ucap pria berbadan tegap ini menjelaskan maksudnya agar bisa berdamai dengan putri kecilku.

Tanpa dia duga Fillea yang sudah mengulurkan kedua tangannya untuk meminta maaf dengan cara mencium pipi Juan malah kembali menangis tepat di telinga si papi dan membuat pria malang itu panik lagi.

“Kalau ngajak baikan jangan ngucapin kata yang pakai banyak R dong, Pi,” tegurku.

“Astaga, salah mulu deh gue. Maaf ya, Sayang. Maafin, Papiiii,” kata si papi memelas, membuat Fillea mulai tersenyum, “Nah, gini kan kelua- eh, muncul cantiknya.”

“Oke, sekarang kita mulai mamamnya ya. Pimpin doa, Pi,” celetukku ditanggapi pelototan dari Juan. Aku tersenyum jahil, jelas saja karena kami memang berbeda keyakinan makanya dia tak mungkin memimpin doa sebelum makan.

Aku memimpin doa sebelum makan yang diamini oleh bibir mungil Fillea. Ya, Juan adalah teman yang selama ini menjadi salah satu tempat berbagi sedikit cerita selain Phoebe dan Ayana. Sebenarnya Ayana satu-satunya yang tak tahu tentang keberadaan Fillea selama ini. Kalau soal Phoebe, justru dialah yang mengajakku masuk ke perusahaannya. Ia semakin percaya setelah melihat pengalamanku sejauh ini dan mungkin juga karena dia sering mengamati caraku mendidik malaikat kecilku. Berbeda dengan pria yang saat ini sedang menghabiskan makan malam bersama kami.

Juan De Luca. Pria baik hati, tapi sayangnya bermulut pedas yang pada akhirnya kubuat terlatih mengganti popok bayi. Dia juga yang selalu aku repotkan saat Fillea tiba-tiba tak enak badan atau butuh sesuatu ketika hari sudah terlalu malam semenjak tiga tahun lalu. Ah, hari-hari itu sungguh penuh perjuangan dan air mata. Sejak saat itu pula dia bersikeras meminta dirinya dipanggil papi oleh gadis pintarku yang sekarang sibuk menyuapkan sesendok lauk dan kentang tumbuk bergantian.

“Tumben hari ini gak lembur?” tanyaku setelah kami berdua selesai makan. Sudah menjadi kebiasaan saat kami menunggu Fillea menyelesaikan acara makannya maka kami akan sedikit saling bertukar cerita tentang apa pun yang terjadi dengan kami di luar rumah.

“Belum, mulai bulan depan bakal lembur lagi dan yang bakal lembur bukan cuma aku, tapi kamu juga,” jawab Juan setelah meneguk habis jus buah segarnya.

“Loh, kok aku juga? Habis nikahannya Ayana minggu depan kan aku mau ngajuin cuti bulan depan buat ngajak Lea liburan,” protesku bingung.

“Dia belum bilang emangnya? Hari ini surat tugasmu udah keluar. Isinya bulan depan kita berdua pindah ke Jakarta. Eh, kita bertiga,” jelas Juan enteng. Ia sesekali membuka mulutnya sambil mendekat ke arah tangan kanan Fillea untuk menerima potongan sayur cincang yang ditemukan Fillea di dalam kentang tumbuknya. Anakku memang jeli, padahal aku sudah mencincang wortelnya sehalus mungkin, tapi setiap ia menemukan potongan wortel yang agak besar, tangan kanannya otomatis langsung terulur ke arah Juan untuk menyingkirkan potongan sayur itu dari jemari kecilnya.

Aku tertawa geli melihat kelakuan kedua orang berbeda usia di depanku. Terkadang mereka bisa sangat akur, di lain waktu mereka membuat kepalaku pusing dengan teriakan dan celotehan mereka. Aku pura-pura tak melihat ke arah Fillea, karena setiap kali aku memandangnya sedang mengeluarkan mode pemilih makanan maka dia akan langsung menunduk takut. Padahal aku tak pernah memarahinya, cuma aku tak berhenti memberinya pengertian tentang baiknya sayur untuk tumbuh kembangnya.

Kata Juan aku sedang berubah menjadi seorang penyair jika mode parentingku sudah aktif. Mau bagaimana lagi? Tanggung jawab untuk mendidik Fillea ada padaku sampai ia bisa membuat keputusan saat dewasa kelak. Tentu saja aku harus memberikan pondasi yang kuat agar dia juga bermental tangguh meskipun gadisku itu hanya mengenal aku sebagai orang tuanya di dunia ini.

Jakarta, ya? Apa sudah waktunya bagi kami untuk kembali sekarang? Bagaimana jika nanti ada yang mengenali kami? Mengenali Fillea? Melihat kemiripan wajah Fillea dengan seseorang yang memiliki darah yang sama dengannya? Apalagi kalau sampai mereka merebut putriku dan akhirnya mereka mengakuinya sebagai keturunan mereka dan memisahkan kami dengan paksa?

“Papi, Mommy atit,” celoteh Fillea saat Juan membantunya mencuci mulut dan kedua tangannya.

Juan menoleh ke arahku yang diam-diam sedang minum obat pereda demam. Aku hampir saja tersedak saat ia menatap tajam ke arahku. Aku memberi kode dengan tanganku, “Udah, dilarang jadi rapper. Besok juga pasti sembuh. Aku nitip kelonin anakku, ya. Ntar kuantar ke tempatmu pas dia udah siap mau tidur.”

“Gak! Aku bawa sekarang aja daripada kamu nularin virusmu ke si Cantik. Princess, ikut bobok sama Papi, ya? Biar Mommy bisa istirahat dan cepat sembuh. Kalau Mommy udah sembuh, bulan depan kita bisa jalan-jalan naik pesawat. Okay?” bujuk Juan sambil menatap mata Fillea dengan satu tangan menirukan gerakan pesawat lepas landas. Putri kecilku mengangguk antusias sambil tersenyum lebar. Ia memang sepertiku, suka sekali bepergian. Sebenarnya sama seperti pria itu juga. Ah, kenapa sih aku selalu mengingatnya terus hari ini? Bikin kesal aja!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Beracun: Jatuh Cinta Pada Kekasihku yang Kejam
9.0
Brynn terjebak dalam hubungan toksik dengan Lawrence, pria yang kerap menghina sekaligus memanjakannya. Saat Lawrence mengumumkan pernikahannya, Brynn merasa bebas dan mencoba memulai hidup baru melalui kencan buta. Namun, di tengah hinaan keluarga calonnya, Lawrence tiba-tiba muncul dan mengklaim Brynn sebagai miliknya di depan semua orang. Brynn pun tertegun; mengapa pria itu ada di sini dan membelanya padahal hari ini adalah jadwal pernikahannya?
Sampul Novel I Love You Pak Tua
8.7
Viona tak menyangka akan jatuh hati pada bosnya yang berusia 47 tahun, Raka. Perasaan ini muncul saat ia menyamar menjadi kekasih bayaran demi menyenangkan ayah Raka yang sakit. Meski cinta bertepuk sebelah tangan, Viona tetap berjuang. Namun, orang tuanya menentang hubungan beda usia tersebut karena takut ia menyesal. Mereka pun menjodohkannya dengan Revan, sahabatnya sendiri. Akankah Viona mengejar cinta Raka atau justru menyerah pada perjodohan itu?
Sampul Novel Istri Kontrak Tuan CEO
8.4
Hidup Scarlett Piers hancur saat ayah dan ibu tirinya menjebaknya untuk dijual kepada duda tua kaya. Di tengah keputusasaan, Xanders Rilley hadir menyelamatkannya. Pengusaha dingin nan misterius itu menawarkan perlindungan, namun dengan syarat pernikahan kontrak selama satu tahun. Kini Scarlett harus memilih: menerima tawaran Xanders demi membalaskan dendam pada keluarganya, atau justru terjerumus ke dalam lingkaran masalah yang jauh lebih berbahaya.
Sampul Novel Luka Cinta Dari Suami Obsesif
8.6
Demi nyawa kakek, aku terpaksa menikahi Simon Adijaya yang telah mengurungku selama sedekade. Namun, aku justru disiksa oleh Virginia hingga wajahku hancur. Bukannya menolong, Simon malah menyebutku sampah dan membuangku ke sungai es. Di ambang maut, aku tahu kakek telah tiada. Simon merampas segalanya dariku: orang tua, kebebasan, dan harapan. Kini, dendam membara dalam sukmaku. Aku bersumpah akan menghancurkan hidupnya hingga dia memohon kematian yang takkan pernah kuberikan.
Sampul Novel Marrying With CEO
9.3
Syafa Sidqyah adalah sekretaris muslimah yang menyimpan banyak misteri di balik paras cantiknya. Kehidupan tenangnya di perusahaan Devan Putra Pramana mendadak berubah saat sosok penuh dendam muncul untuk menghancurkannya. Di tengah ancaman dan rahasia yang mulai terungkap, Syafa justru terjebak dalam pernikahan mendadak dengan bosnya sendiri. Bagaimana takdir menyeretnya ke dalam ikatan ini? Simak kisah pelik antara rahasia masa lalu dan ambisi sang CEO.
Sampul Novel Mengasuh CEO amnesia
9.7
Hidup Aurora berubah sejak menyelamatkan pria misterius di malam Valentine. Tak disangka, pria amnesia itu adalah Roberto, CEO kaya raya. Meski sempat terpisah paksa selama lima tahun, takdir mempertemukan mereka kembali di Gemini Group. Namun, Roberto yang sekarang sangat dingin dan tak mengenalinya. Aurora pun hancur saat menyadari cinta pertamanya telah melupakan janji mereka, bahkan kini ia telah memiliki tunangan yang siap bersanding di sisinya.