Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy

Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy

Alexandria Serenata Atmadya pindah ke megapolitan demi pekerjaan baru, namun sifatnya yang sulit menolak justru menjebaknya dalam skema Ragnala Firaz Himawan. Ragnala yang manipulatif memaksa Alexandria masuk ke pernikahan berkedok kesepakatan rahasia. Di tengah persaingan kecerdikan mereka, muncul fakta mengejutkan tentang seorang anak berusia empat tahun. Alexandria pun harus menghadapi taktik manis Ragnala demi memperjuangkan cinta di tengah pahitnya masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sepertinya Sang Maha Atas Segalanya sedang merindukanku. Memang seingatku sudah lama semenjak aku menangis meraung-raung saat mengadu tentang betapa tak adilnya apa yang kualami saat itu. Hari-hari sebelum aku melihat wajah mungil yang selalu kupandangi sebelum tidur. Setelah putri kecilku hadir, semua teriakan keputus asaan itu berubah menjadi rangkaian doa agar kami berdua selalu kuat menghadapi masa depan. Tanpa kusadari doaku akhirnya menjadi sesingkat itu, dan hanya berisi permohonan agar hidupnya selalu dikelilingi kebahagiaan serta kami selalu dicukupkan oleh-Nya.

[Alexandria Serenata Atmadya — Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy]

Kalimat Juan tentang lembur setelah mereka berdua sampai di Jakarta memang benar-benar menjadi kutukan yang nyata. Sejak tiba di ibu kota tercinta hari itu, rutinitas Juan dan Alexa selalu sama. Dari rumah ke kantor saat matahari baru terbangun, lalu pulang saat matahari terlelap. Begitu terus tiap hari hingga sore ini, mereka harus bekerja sama untuk mengelola anak cabang perusahaan The Breslin Media, bagian dari The Breslin Corp dan Levanchois Royal Holding. Perusahaan ini dibuat untuk mengelola proyek terbaru milik dua perusahaan induk itu yang memutuskan untuk membuka sebuah platform menulis berbayar dan pasar terbesarnya ada di Asia.

“Juaaan, makan apa nih kita malam ini?” tanya Lexa lemas ditambah memelas sambil menatap ke arah Juan di balik meja kerjanya, ia menopang kepala menggunakan tangan kirinya. Tak lama kepalanya menyandar pada sandaran sofa ruang kerja Juan setelah sikunya terasa mulai kesemutan. Rasanya tenaga Lexa sudah habis terkuras, tapi ia lebih tak tega saat melihat keadaan Juan saat ini. Menurutnya pria yang terlihat lumayan tampan hanya jika dia diam itu pasti jauh lebih lelah daripada Lexa. Mungkin saja saat ini Juan sudah di ambang stres.

Setelah mereka bertiga tiba di Cengkareng pagi itu, Lexa terus saja merasakan beberapa keanehan. Mereka bertiga dijemput oleh mobil perusahaan. Itu sih masih wajar, yang tak wajar adalah jenis mobilnya yang cukup mewah untuk kelas karyawan seperti mereka berdua. Apalagi saat sopir mengemudikan mobil yang mereka tumpangi ke sebuah cluster elit di kawasan elit pula. Tentu saja Juan memberi kode pada Alexa agar tak banyak bertanya selama masih ada orang lain di sekitar mereka, tapi setelah Lexa melihat travel bagnya ikut dibawa ke dalam bersama dengan beberapa tas berisi barang-barang penting milik Juan maka saat itu juga dia melotot meminta penjelasan. Belum lagi saat ia menyadari semua box khusus ekspedisi berisi barang milik mereka bertiga tersusun rapi di ruang keluarga.

Setelah para asisten rumah tangga dan penjaga rumah berkenalan dengan mereka lalu kembali mengerjakan tugasnya masing-masing, barulah Juan bercerita jika ia sekarang sudah naik jabatan menjadi seorang COO. Makanya ia meminta Lexa untuk menemaninya tinggal bersama Fillea di rumah besar itu. Tentu saja Lexa protes karena Phoebe sudah setuju untuk memberikan fasilitas apartemen yang jauh lebih dekat dengan kantor karena dia juga sudah naik jabatan, tapi semua usahanya sia-sia. Bahkan Lady Boss mereka mengatakan agar dia menuruti perkataan sahabat pria mereka ini. Benar-benar rencana yang licik, ‘kan?

Namun, akhirnya Lexa sadar dengan maksud kedua sahabat sekaligus bosnya. Mereka tidak setuju jika Fillea dititipkan di tempat penitipan lagi. Jakarta dan New York itu berbeda, jelas mereka tak ingin mengambil banyak resiko. Lexa sih setuju saja dengan berbagai pertimbangan yang masuk akal meskipun dia juga menyadari ada alasan lainnya. Jika ia tak bisa fokus dengan pekerjaannya karena selalu mengkhawatirkan keadaan Fillea setiap kali harus lembur maka kinerja Lexa pasti tak akan maksimal, jika sudah begitu pastinya akan berdampak pada pekerjaan seluruh tim dan juga perusahaan mereka pastinya. Ah, apa pun alasannya yang jelas dia bersyukur karena kedua bosnya itu adalah orang-orang yang pengertian dan selalu mendukung anak buahnya yang memang produktif dalam bekerja.

“Aku sebenarnya lagi kangen berat sama masakanmu, Lex, tapi aku cukup sadar diri kok. Kamu pasti capek banget soalnya beberapa hari ini langsung ketiduran padahal baru banget masuk kamar. Tadi siang aku udah bilang ke bu Mia kalau kita makan malam di rumah meskipun pulang larut. Lagian Princess pasti udah gak sabar nungguin kita pulang,” jelas Juan memakai kembali jas yang ia gantung di dekat meja kerjanya.

Mereka berdua bersiap pulang, Lexa mengikuti Juan dari belakang. Sedikit memberi jarak agar tak menimbulkan kecurigaan lebih jauh. Saat di dalam lift mulut Lexa sudah gatal untuk menegur pria jangkung di sampingnya, “Kalau sekretarismu atau karyawan lain tadi denger kamu ngomong apa, pasti besok bakalan rame ini kantor. Mereka bisa ngira kita pasangan suami istri beneran, Bos!”

Juan tak menanggapi perkataan sahabatnya, tapi dari pantulan pintu lift di depan mereka bisa Lexa lihat bibir Juan sedang tersenyum jahil. Lihat saja nanti, dia bertekat tak akan berhenti mengoceh setelah perutnya terisi penuh.

✧✧✧

Sesampainya di kediaman Juan, terdengar suara gelak tawa makhluk paling centil nan ceria yang selalu bisa menghidupkan suasana di mana pun dia berada, “Aunty Scenow White, kapan holiday ke syini? Lea kangen mainan di taman schambil makan hotdog, kentang, chipts, ice cream. Oh, cotton candy juga! Mommy gak atsik, gak bolehin Lea makan itu scemua,” celoteh Fillea pada seseorang yang ia panggil Snow White.

Alexa dan Juan sengaja melangkah pelan saat mendengar pengakuan dosa kecil dari bibir mungil si Princess. Saking tak mau merasa malu, si Centil itu sengaja mencampur kosa kata bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia setiap kali harus mengucapkan huruf r. Setidaknya dia bisa sedikit tersenyum lega saat hampir bisa melafalkan huruf s dengan caranya sendiri sejak satu bulan ini. Sepertinya dia berusaha keras sejak kejadian telur hari itu. Padahal para orang dewasa di sekelilingnya tak pernah mengejek atau memaksanya harus cepat bisa. Perkembangan setiap anak kan berbeda-beda.

“Sst! Ini kan our secret, Princess. Kalau nanti Mommy tiba-tiba datang, gimana hayo? Bisa habislah kita kalau sampai ketahuan. Coba nanti Aunty lihat kapan bisa jenguk kalian, okay? Aunty juga curious sama rendang, nasi kuning, dan teman-temannya. Hemm pasti enak banget, ya? Adiknya Fillea jadi super hungry nih.” Phoebe ikut menyamakan cara bicaranya dengan putri kecil Lexa sambil sesekali mengelus perutnya yang belum terlihat buncit. Akhirnya wanita itu bisa merasakan juga sensasi bahagianya menjadi seorang ibu.

“Gotchaaaa!!” Alexa tiba-tiba muncul di layar gadget mereka, wajahnya persis di atas kepala Fillea. Saking kagetnya Fillea dan Phoebe berteriak nyaring hingga tablet mereka bergeser dari tempatnya.

“Mommyyyy!!” teriak Fillea dan Phoebe bersamaan. Alexa tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi keduanya. Mereka kompak merajuk sampai Lexa harus merayu dengan berbagai cara sebelum akhirnya dia dibuat menyetujui permintaan duo jahil beda usia. Masalahnya keduanya sengaja membuat permintaan itu seperti tiga permintaan khusus dari dongeng anak-anak yang akan mereka tagih suatu saat nanti. Wah, benar-benar membuat Alexa ketar-ketir menebaknya.

”Hey, Aunty Snow White. Jangan ngajarin anakku macem-macem, ya! Perasaanku mulai gak enak nih,” ujar Lexa menatap kedua orang berbeda usia di dekatnya bergantian. Sifat jahil Fillea terasah sejak dini karena ia sering belajar langsung dari Juan dan Phoebe. Lexa bahkan sering kali dibuat kuwalahan setiap kali Fillea sedang sangat aktif dan jahil. Gadis kecilnya bisa bertanya tanpa henti tentang apa pun yang membuatnya penasaran. Apalagi jika mereka sedang berada atau berkunjung ke tempat baru.

✧✧✧

Esok harinya di Great Star Inc.,

Bagaikan petir di siang bolong, Alexa tidak bisa berpikir jernih saat mengangkat telepon dari Juan, “Lex, aku tunggu di lobi. Kita ke rumah sakit East Medical Centre punya Hwan sekarang. Tadi aku udah hubungi dia dan katanya udah kasih tahu tim dokter khusus buat rawat Fillea. Ini Fillea lagi dalam perjalanan dibawa ke IGD.”

Juan merangkul tubuh Lexa saat mereka menunggu di depan pintu pembatas IGD. Tubuh Alexa bergetar, ia menggigil sambil menangis saat melihat malaikat kecilnya tak sadarkan diri dengan bibir dan beberapa bagian tubuh yang terlihat membengkak, napasnya pun masih terlihat berat.

Clemira menghampiri Alexa dan Juan, “Tunggu bentar yo, Ren. Fillea udah ditangani sama ahlinya kok. De’e tuh dokter yang baru gabung sama tim kami, pas banget barusan balik dari Jerman, Ren. Tadi Hwan langsung nelpon aku, de’e nyuruh aku ikutan ngawasin anakmu soale Hwan inget kalau aku kenal sama kamu. Wis, kamu tenang dulu, yo. Nek kamu gini pasti anakmu juga ngerasa loh. Apa kamu ndak kasian sama si kecil?”

“Iya, Mbak. Makasih tadi langsung ke sini buat nanganin anakku. Padahal Mbak baru balik dari Roma habis acara nikahannya Hardin, ‘kan?”

“Halah, wis ndak usah pakai acara sungkan segala. Kamu udah tak anggep adikku sendiri. Berarti Fillea itu juga ponakanku, makanya kamu ndak usah khawatir. Aku sama yang lain pasti bakalan observasi Fillea terus. Kamu tenang wae, yo?”

“Oh iya, Mbak Cle nih kenalin temen sekaligus bosku. Namanya Juan,” Lexa memperkenalkan Clemira dan Juan, “Neneknya Mbak Cle ini tetanggaku pas masih di Jawa dulu.”

“Pas masih di Jawa? Emange di sini ndak termasuk pulau Jawa opo?!” omel Clemira. Dia sangat sensitif dengan penyebutan tempat seperti ini jika yang berbicara bukanlah orang luar pulau Jawa atau sekalian saja dari luar Indonesia. Apalagi dirinya juga sudah kenyang dibilang bule nyasar.

Juan dan Alexa tersenyum mendengar perkataan Clemira. Juan jadi penasaran soal sesuatu, “Jadi, Mbak Clemira udah lama banget ya kenal Lexa? Dia biasa dipanggil Ren kalau di rumah?”

“Iyo, kami biasa manggil dia Renata dan ndak cuman kenal lagi, tapi paham buwanget. Sampai pacar-pacarnya Ren aja aku ngerti kok.”

“Apa sih, Mbak? Ssst! Jangan nggosip toh.” Alexa salah tingkah saat mendapat serangan tak terduga. Padahal dia tadi tidak bisa mengeringkan air matanya, tapi Clemira sudah membuatnya ketar-ketir. Lexa tak mudah tahu apa yang ada di pikiran Clemira sejak dulu.

Clemira dan Juan memang sengaja mencairkan suasana. Mereka tahu perasaan seorang ibu jika melihat buah hatinya sedang sakit. Pasti dia menyalahkan diri karena tak bisa menjaga kondisi anaknya, padahal itu bukanlah hal yang perlu ditakutkan selama tak terlambat memberikan pertolongan pertama sebelum mencari bantuan pada para tenaga kesehatan.

Tanpa mereka bertiga sadari ada seseorang dengan jas snellinya menatap ke arah mereka berdiri. Lebih tepatnya hanya menatap ke arah Alexa saja, “Ata? Itu Renata, ‘kan? Alexandria Serenata Atmadya?” gumamnya dengan mata tak pernah lepas mengawasi gerak-gerik Lexa. Pria ini rupanya dokter di rumah sakit ini juga. Ia penasaran dan memutuskan untuk mendekati mereka. Langkah kakinya melambat saat ia bisa mendengar percakapan mereka dari balik pilar.

Mereka bertiga memang mengobrol, tapi Lexa hanya sesekali menimpali karena ia terus fokus melihat ke tempat di mana Fillea berada. Tak berselang lama seorang dokter menghampiri mereka, “Walinya Fillea Deandra Himawan?” panggil pria berjas snelli yang baru mengalungkan stetoskop ke lehernya.

Mereka terperanjat karena alasan yang berbeda-beda. Dokter di balik pilar terperanjat saat mendengar nama pasien yang berada dalam IGD, sedangkan Lexa dan dokter yang baru saja menghampiri mereka tak menduga jika mereka akan bertemu lagi, sementara Clemira terkejut karena ia baru mengingat sesuatu, lain lagi dengan Juan yang terkejut karena reaksi kedua orang di dekat mereka. Apalagi saat mengetahui mereka berdua sepertinya sudah saling kenal karena keduanya menyapa dengan nama panggilan masing-masing secara bersamaan.

“Ren?!”

“Ngga?!”

“Eh, itu di dalam anakmu, ya?”

“Iya, Ngga. Eh, Mas. Fillea Deandra Himawan itu anakku,” jawab Lexa tanpa sadar meremas lengan Juan. Ia merasa takut jika pria di depannya membawa kabar tak baik. Saat Juan merasakan tangan Lexa kembali bergetar, seperti biasanya ia merangkul erat pundak sahabatnya untuk menenangkannya.

Melihat bahasa tubuh kedua orang di depannya, dokter anak itu berusaha tersenyum sambil melihat apakah keduanya memakai cincin serupa, “Aku pediatriknya Fillea. Dia kena alergi, sekarang kami butuh izin kalian buat melakukan tindakan lebih lanjut, boleh?” sambung dokter anak yang menangani Fillea.

“Silakan, Dokter Erlangga. Saya akan mengurus semua prosedur yang dibutuhkan,” jawab Juan memutuskan secara sepihak setelah membaca nama yang terbordir di saku snelli milik Erlangga.

Erlangga mengangguk, lalu segera pamit ke dalam dengan raut wajah yang sulit ditebak. Sementara Lexa masih belum melepaskan cengkeramannya dari kemeja Juan bagian pinggang. Juan menunduk agar bisa berbisik, “Ini kalau gak dilepas aku gak bisa ke depan loh, Ren.”

Lexa mengernyit, ia menoleh sambil menatap tajam, “Kok sekarang ngikutin orang-orang ini sih manggilnya? Lagian siapa yang nyuruh kamu ke depan? Fillea Deandra itu anakku, aku walinya! Udah, kamu tungguin sini aja sama Mbak Cle,” ketusnya memberi peringatan.

Lexa bergegas ke meja administrasi untuk mengurus semua keperluan Fillea termasuk jika nanti dia harus dipindahkan ke ruang rawat inap. Semenjak Lexa meninggalkan area IGD dia tak pernah berjalan sendirian. Dokter misterius di balik pilar sejak tadi selalu mengikutinya sampai ketika Lexa kembali ke tempat Clemira dan Juan berada.

Setelah hasil diagnosa Fillea keluar dan dia bisa dipindahkan ke ruang rawat inap barulah Alexa bisa bernapas sedikit lega. “Juan, kamu balik aja. Tidur di rumah biar nyaman. Besok juga ‘kan kamu harus berangkat pagi karena ada meeting. Aku bisa jagain Lea sendiri, aku izin selama dia di sini, ya?”

Juan tersenyum sambil mengusap kepala Lexa, “Gak usah pakai izin juga emang udah seharusnya kamu lebih mikirin Lea dalam keadaan gini, Ren. Aku nurutin kamu biar gak kepikiran soal hal lain termasuk ngekhawatirin tidurku. Kamu chat aja apa yang perlu aku ambilin dari rumah. Besok pagi sebelum ke kantor aku mampir ke sini dulu.”

“Makasih, Bos. Ngomong-ngomong kamu serius nih mau ngikutin mereka manggil aku pakai nama Renata? Kayak aneh banget kalau kamu yang ngomong,” ujar Lexa mencari alasan. Sebenarnya dia agak risih saat mereka memanggilnya Renata karena nama itu mengingatkannya pada saat-saat berat sebelum Fillea terlahir ke dunia.

Lexa tak bisa protes lagi saat melihat Juan mengangguk antusias sambil tersenyum, “Sekarang, ini adalah kehidupan baru kita di Jakarta. Jadi, lupakan apa pun yang ada di State dan kita mulai semuanya dari awal dengan nama kesayangan dari orang-orang yang menyayangimu. Tadi dokter jutek itu udah kasih aku beberapa informasi berguna pas kamu lagi ngurus administrasi.” Mulut Juan mengaku dengan entengnya.

Tanpa pria itu sadari hati Lexa merasa seperti diremas saat pria bertubuh jangkung ini memberikan tamparan tak kasat mata padanya, “Bagus bener, baru dateng udah punya kawan nggosip,“ ejek Lexa sambil mendecih kesal.

“Kami gak nggosip kok karena semua itu fakta. Kamu juga jangan lupa istirahat, aku sengaja mindahin Lea ke ruangan VVIP ini biar kamu sama Lea bisa ngerasa lebih bebas dan nyaman. Kamu sekarang Chief Editor, Ren. Masa anakmu dirawat di ruang rawat kelas 1 sih?”

“Buruan balik daripada ngomongin hal gak guna di sini. Nyaman apaan orang ini rumahnya penyakit, bukan rumah beneran!” Lexa melengos setelah menegur Juan. Selamanya ia tak akan pernah bisa akur dengan yang namanya rumah sakit, apalagi tadi Juan juga sempat tak sengaja mengingatkannya tentang banyak hal yang selalu berusaha ia lupakan selama ini.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Beracun: Jatuh Cinta Pada Kekasihku yang Kejam
9.0
Brynn terjebak dalam hubungan toksik dengan Lawrence, pria yang kerap menghina sekaligus memanjakannya. Saat Lawrence mengumumkan pernikahannya, Brynn merasa bebas dan mencoba memulai hidup baru melalui kencan buta. Namun, di tengah hinaan keluarga calonnya, Lawrence tiba-tiba muncul dan mengklaim Brynn sebagai miliknya di depan semua orang. Brynn pun tertegun; mengapa pria itu ada di sini dan membelanya padahal hari ini adalah jadwal pernikahannya?
Sampul Novel I Love You Pak Tua
8.7
Viona tak menyangka akan jatuh hati pada bosnya yang berusia 47 tahun, Raka. Perasaan ini muncul saat ia menyamar menjadi kekasih bayaran demi menyenangkan ayah Raka yang sakit. Meski cinta bertepuk sebelah tangan, Viona tetap berjuang. Namun, orang tuanya menentang hubungan beda usia tersebut karena takut ia menyesal. Mereka pun menjodohkannya dengan Revan, sahabatnya sendiri. Akankah Viona mengejar cinta Raka atau justru menyerah pada perjodohan itu?
Sampul Novel Istri Kontrak Tuan CEO
8.4
Hidup Scarlett Piers hancur saat ayah dan ibu tirinya menjebaknya untuk dijual kepada duda tua kaya. Di tengah keputusasaan, Xanders Rilley hadir menyelamatkannya. Pengusaha dingin nan misterius itu menawarkan perlindungan, namun dengan syarat pernikahan kontrak selama satu tahun. Kini Scarlett harus memilih: menerima tawaran Xanders demi membalaskan dendam pada keluarganya, atau justru terjerumus ke dalam lingkaran masalah yang jauh lebih berbahaya.
Sampul Novel Luka Cinta Dari Suami Obsesif
8.6
Demi nyawa kakek, aku terpaksa menikahi Simon Adijaya yang telah mengurungku selama sedekade. Namun, aku justru disiksa oleh Virginia hingga wajahku hancur. Bukannya menolong, Simon malah menyebutku sampah dan membuangku ke sungai es. Di ambang maut, aku tahu kakek telah tiada. Simon merampas segalanya dariku: orang tua, kebebasan, dan harapan. Kini, dendam membara dalam sukmaku. Aku bersumpah akan menghancurkan hidupnya hingga dia memohon kematian yang takkan pernah kuberikan.
Sampul Novel Marrying With CEO
9.3
Syafa Sidqyah adalah sekretaris muslimah yang menyimpan banyak misteri di balik paras cantiknya. Kehidupan tenangnya di perusahaan Devan Putra Pramana mendadak berubah saat sosok penuh dendam muncul untuk menghancurkannya. Di tengah ancaman dan rahasia yang mulai terungkap, Syafa justru terjebak dalam pernikahan mendadak dengan bosnya sendiri. Bagaimana takdir menyeretnya ke dalam ikatan ini? Simak kisah pelik antara rahasia masa lalu dan ambisi sang CEO.
Sampul Novel Mengasuh CEO amnesia
9.7
Hidup Aurora berubah sejak menyelamatkan pria misterius di malam Valentine. Tak disangka, pria amnesia itu adalah Roberto, CEO kaya raya. Meski sempat terpisah paksa selama lima tahun, takdir mempertemukan mereka kembali di Gemini Group. Namun, Roberto yang sekarang sangat dingin dan tak mengenalinya. Aurora pun hancur saat menyadari cinta pertamanya telah melupakan janji mereka, bahkan kini ia telah memiliki tunangan yang siap bersanding di sisinya.