
Bertukar Peran Dipelaminan
Bab 3
Keesokan paginya, Eveline terbangun dalam kekosongan yang mencekam. Udara terasa lebih berat, seakan setiap napas yang dihirupnya dipenuhi dengan rasa bersalah yang tak terhindarkan. Matanya membuka perlahan, dan ia mendapati dirinya di kamar yang sama dengan Viktor. Namun, tidak ada Viktor di sana. Hanya keheningan yang menyelimuti ruangan.
Eveline duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya masih lemas dan terasa berat. Malam itu, segala yang ia coba hindari akhirnya terjadi-segala kebohongan yang ia bangun kini mulai runtuh, dan ia tahu, tidak ada yang bisa kembali seperti semula. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Namun, pikirannya langsung teralihkan oleh suara langkah kaki yang terdengar dari luar. Pintu kamar terbuka dengan perlahan, dan sosok Viktor masuk dengan wajah yang tampak lebih gelap dari sebelumnya. Matanya yang biru tajam menatapnya dengan intensitas yang mematikan. Ada sesuatu dalam tatapannya yang menuntut penjelasan.
"Eveline," suara Viktor terdengar rendah, namun tegang. "Kau berhutang penjelasan."
Eveline mencoba untuk berdiri, tetapi tubuhnya terasa lemas. Ia hanya mampu menatap Viktor dengan tatapan kosong. Perasaannya bercampur aduk-takut, bingung, dan juga sedikit lega. Setidaknya, Viktor telah mengetahui sebagian dari kebenaran, meskipun semuanya masih belum sepenuhnya terungkap.
"Viktor, aku..." Eveline memulai kalimatnya, tetapi suaranya begitu pelan dan rapuh, hampir seperti bisikan. "Aku bukan siapa yang kau pikirkan."
Viktor maju selangkah, jarak antara mereka semakin dekat. "Aku tidak peduli siapa dirimu. Yang penting sekarang adalah mengapa kau berbohong padaku." Suaranya semakin menegang, dan tubuh Eveline merasa kian terhimpit oleh keberadaan Viktor yang semakin mendekat.
Eveline ingin menjauh, namun ia tahu ia tidak bisa. Tidak ada tempat untuk lari. "Aku..." Kali ini, suaranya lebih jelas. "Aku adalah pengganti dari kakakku. Aku dipaksa untuk menggantikannya, untuk menyelamatkan nama baik keluarga kita."
Viktor terdiam, wajahnya kaku. Seolah kata-kata Eveline adalah sebuah pukulan yang membuatnya terpukul mundur. Ia tidak bisa percaya apa yang baru saja didengarnya. "Kakakmu? Jadi, siapa yang sebenarnya aku nikahi malam itu?"
Eveline menundukkan kepala, rasa malu menguasai dirinya. "Kau... menikahi aku, tetapi aku bukan yang seharusnya berada di sana. Aku hanya pengganti sementara." Suaranya mulai serak, dan air mata yang berusaha ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah. "Kakakku hamil, dan ia tidak bisa menikah denganmu, jadi aku yang dipaksa untuk menggantikannya."
Viktor tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, hanya menatap Eveline dengan ekspresi yang campur aduk-antara rasa marah, bingung, dan luka yang dalam. "Jadi, malam itu..." Viktor terhenti, tidak tahu harus melanjutkan kalimatnya atau mengumpulkan pikirannya terlebih dahulu. "Semua yang terjadi adalah kebohongan, kan? Aku tidak menikahi orang yang seharusnya aku nikahi."
Eveline hanya bisa mengangguk pelan, tubuhnya terasa semakin rapuh. "Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, Viktor. Aku tidak punya pilihan lain."
Viktor berbalik dan berjalan ke jendela, menatap keluar dengan pandangan yang kosong. Ia menghela napas panjang, seolah mencoba meredakan gejolak emosinya yang semakin meningkat. "Kau tahu, Eveline, aku tidak tahu apakah harus marah padamu atau merasa kasihan." Suaranya terdengar lebih tenang, namun penuh dengan kekosongan yang dalam. "Aku tidak tahu siapa yang harus kutuntut dalam hal ini. Kau atau keluargamu? Atau bahkan Mariana yang telah mengatur semua ini?"
Eveline merasakan dada yang sesak, dan ia tahu Viktor benar. Semua ini adalah kekacauan yang diciptakan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya, tetapi justru memaksanya untuk melakukan hal-hal yang tak pernah ia pilih. "Aku hanya ingin semuanya selesai," ujar Eveline pelan, hampir seperti merintih.
Viktor menoleh dan mengamati Eveline dengan tatapan yang penuh amarah dan kebingungannya sendiri. "Kau ingin semuanya selesai? Lalu, bagaimana dengan aku? Apa yang harus aku lakukan sekarang, Eveline? Apa yang harus aku pikirkan tentang pernikahan kita, yang sejak awal dibangun di atas kebohongan?"
Eveline ingin menjawab, tetapi kata-kata itu terasa begitu berat, seolah tenggelam dalam lubang hitam yang tak bisa ia keluarkan. "Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu."
Di luar jendela, hujan mulai turun dengan deras, seakan mencerminkan perasaan yang membasahi hati mereka. Ruangan itu terasa semakin sempit, dan setiap detik yang berlalu semakin menguji keteguhan hati mereka. Viktor menghela napas panjang, lalu duduk di kursi yang terdekat, matanya masih terpaku pada Eveline.
"Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?" Viktor bertanya, suaranya kali ini lebih lembut, namun masih ada kekecewaan yang mendalam di dalamnya.
Eveline tidak tahu harus menjawab apa. "Aku tidak tahu, Viktor. Aku hanya ingin... Aku ingin keluar dari semua ini. Tapi aku tidak tahu caranya."
Viktor terdiam, menatap Eveline dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kau harus memilih, Eveline," katanya dengan suara yang dalam. "Kau harus memilih apakah kau akan melanjutkan kebohongan ini atau menghadapinya. Karena jika kita terus seperti ini, semuanya akan hancur lebih cepat dari yang kita pikirkan."
Eveline merasa keputusasaannya semakin dalam. Tidak ada jalan yang mudah, dan setiap pilihan yang ada akan membawa konsekuensi yang lebih besar. Namun, ia tahu satu hal-semuanya sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang. Kebohongan ini sudah terlalu dalam tertanam, dan ia harus menemukan cara untuk keluar dari perangkap yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghindarinya.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka keras, dan sosok Mariana muncul di ambang pintu. Wajahnya tampak marah, dan matanya penuh dengan ketegangan. "Apa yang kalian berdua bicarakan?" suara Mariana terdengar tajam, penuh rasa was-was.
Viktor menatap kakak Eveline dengan pandangan yang mengandung lebih banyak kebingungan dan amarah. "Apa yang terjadi di sini, Mariana? Apa yang kalian rencanakan semua ini? Dan kenapa semua ini harus melibatkan Eveline?"
Mariana terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menatap Eveline dengan ekspresi yang sulit dimengerti. "Kau tak bisa menghindari kenyataan, Eveline. Kita semua terjebak dalam permainan ini, dan tidak ada yang bisa keluar tanpa membayar harga yang mahal."
Anda Mungkin Juga Suka





