
Bersinar Setelah Menjanda
Bab 2
Tiga kunci dalam pernikahan ialah senyum istri, do'a istri dan keikhlasan istri.
Senyum istri adalah Rezki suami, do'a istri itu kesalamatan suami sedangkan keikhlasan hati istri adalah kunci suksesnya seorang suami.
Maka dari itu janganlah seorang suami menyia-nyiakan bidadari yang sudah engkau pilih sebagai pelengkap hidupmu.
--------
"Sayur mayur, murah meriah..!" teriak penjual sayur yang sudah datang. Ibu-ibu segera menghampiri tak ketinggalan juga, bu Fatma.
"Kalian lihat deh si Mira, dia itu jorok banget masa baju kotor seperti itu di taruh di kursi," ucap bu Fatma dengan suara yang sengaja di keraskan.
"Eh iya, iya. Nggak nyangka ternyata Mbak Amira jorok banget orangnya," balas salah satu ibu-ibu itu.
Amira yang mendengar bahwa dirinya di bicarakan mengurungkan niat untuk berbelanja. Hatinya terasa kesal, capek, dan sakit bercampur aduk menjadi satu.
Hidup berdampingan dengan ibu mertua yang toxic tidaklah mudah. Selama empat tahun Mira memendam perasaan sedihnya sendiri, saat ia mengeluh kepada sang suami pasti Irfan akan membalas, "Maklum orang tua memang seperti itu".
Saat membersihkan rumah, tepat di bagian rak sepatu Mira tak sengaja menemukan uang di dalam sepatu Irfan yang sudah jarang dipakai.
"Uang! Banyak sekali, astaga," gumam Mira dengan kedua mata yang melotot.
"Ini pasti uangnya bang Irfan. Bisa-bisanya dia menyimpan uang di sini kalau di gondol tikus bagaimana coba," gumamnya lagi. Saat Mira menghitung lembaran uang merah itu ternyata ada sepuluh lembar. Selama menjadi istrinya Irfan, dirinya belum pernah memegang uang sebanyak itu.
"Bolehlah aku jadi tuyul di rumah sendiri?" Mira menyeringai licik. Ya, ia tahu apa yang harus di lakukannya.
Amira tidak bisa menahan senyum nakal yang melintas di pikirannya. Rasa penasaran dan kegembiraan campur aduk dalam dirinya, ia tidak menyangka akan menemukan uang sebesar itu di dalam sepatu Irfan. Pikiran-pikiran jahil mulai terbesit dalam benaknya, ide nakal untuk mengejutkan suaminya itu terus menggelitik di dada.
Tanpa ragu lagi, Amira segera menyembunyikan uang tersebut di tempat yang aman. Kemudian, ia memutuskan untuk berpura-pura tidak mengetahui apa pun tentang uang tersebut.
Sore hari setelah memandikan Celin dan memakaikan baju, badan Mira terasa kaku punggungnya terasa pegal. Ia memilih merebahkan tubuhnya di kursi sofa sebentar dan memejamkan kedua mata untuk menikmati rasa sakitnya. Setelah sakitnya mereda ia berencana akan segera mandi sebelum Irfan pulang.
"Amira..!" Terdengar lengkingan yang begitu keras membuat Mira yang baru saja memejamkan mata terlonjak kaget.
"Tidur terus kerjaanmu!! Lihat ini rumah bagaikan kapal pecah, aku baru pulang kerja badan rasanya capek sampai rumah bukannya senang justru kepalaku semakin pening melihat rumah dari pagi sampai sore sangat berantakan, kamu malah enak-enakkan ngebo terus!!" Maki Irfan di ambang pintu. Raut wajahnya memerah seperti menahan amarah dan emosinya yang sangat besar, rahangnya juga terlihat mengeras tanda bila lelaki itu sudah di puncak kemarahan.
Amira segera membuka mata dan duduk untuk mengumpulkan nyawanya, ia baru sadar ternyata ketiduran, sebelum memandikan putrinya rumah sudah bersih. Namun ternyata saat ia tertidur Celin memberantakkan lagi semua mainannya. Sungguh ia tak bisa berkata-kata apalagi, badannya terasa capek sekali setelah seharian mengurus rumah dan mengurus anak yang lagi aktif-aktifnya.
"Mira, mana makanan reques abang?! Abang kan minta di masakin rendang kenapa yang ada cuma mie instan." Teriak Irfan dari dapur. Rupanya ia mengomel sembari melangkah menuju dapur untuk mencari makan.
"Sama saja, Bang, itu mie juga rasa rendang kok," balas Mira. Ia segera bangkit dari duduknya meski kepala terasa berputar dirinya tetap membereskan mainan Celin.
Bruak....
Mira sungguh shock saat piring berisi mie goreng rasa rendang itu dilemparkan ke arahnya. Piring itu pecah dan mienya tercecer kemana-mana, untung saja pecahan piring itu tak mengenai tubuhnya ataupun tubuh Celin.
"Seharian ngapain saja kerjaan kamu, masak nggak becus, merawat diri juga nggak pecus. Ngaca sana lihat tubuhmu yang kumal dan rambut yang acak- acakkan di tambah lagi bau keringat kamu, bikin aku mual dan semakin jijik denganmu!" bentak Irfan. Amira tak kuasa membendung air mata, ia menangis terisak.
"Makan tuh rendangmu!!" ujar Irfan menginjak mie rendang dengan sepatunya dan menendang mie itu hingga mengenai wajah sang istri.
"Keterlaluan kamu, Bang," balas Mira. Namun Irfan sama sekali tak merasa iba dan ia bergegas masuk ke dalam kamar.
Seharian ini Mira belum sempat mandi, apalagi sekedar menyisir rambut ia tak sempat. Celin yang begitu aktif tak bisa berdiam diri, selalu ada saja tingkah Celin yang membuat sang Ibu kawatir dan tak bisa meninggalkannya walau sekedar untuk mandi. Bahkan perut Mira pun berbunyi keroncongan, ia belum sempat makan siang karena lupa.
Tadi pagi Amira tak jadi belanja setelah mendengar omongan Ibu mertuanya yang menyakitkan. Maka dari itu ia memutuskan untuk membeli mie instan saja, saat akan memasak kebetulan gas juga habis. Mau tak mau ia memasaknya dengan magicom. Sambil berlinangan air mata Amira membersihkan mie yang kotor itu dan membuangnya ke tempat tong sampah.
"Abang mau kemana??" tanya Mira. Ia heran saat melihat Irfan sudah rapi dan wangi sembari membawa kontak motornya.
"Mau keluar cari angin, sumpek dan mual aku di rumah terus!" jawab Irfan dengan ketus. Ia sama sekali tak memandang sang istri yang masih terisak.
"Ya- Yah, itut. Yah... itut," rengek Celin. Anak kecil itu mengulurkan kedua tangannya meminta di gendong sang ayah. Namu Irfan dengan tega tak memperdulikan tangisan dan rengekan Celin.
Amira sama sekali tak tahu Irfan akan pergi kemana, padahal ia berharap Irfan mau menjaga Celin walau hanya sebentar supaya dirinya bisa segera mandi. Amira memilih menenangkan Celin yang masih menangis dan memberikan susu formula agar tangisnya mereda.
"Dedek Celin yang cantik di sini sebentar ya jangan ke mana-mana, Bunda mandi sebentar ya," ujar Mira. Tangis Celin sudah mereda dan ia juga sudah tenang kepada setelah mengedot dan menonton kartun upin dan ipin di televisi.
Saat dirasa Celin sudah anteng, Mira bergegas menyambar handuk dan membawanya ke kamar mandi. Ia akan segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar pikirannya juga menjadi dingin.
Huaa.... hua....huawaaa..
Baru saja Amira mengguyur tubuh sudah terdengar tangisan Celin yang begitu keras. Ia segera memakai sabun dengan cepat dan mengguyurnya dengan air lagi, setelah itu ia bergegas keluar setelah menutup tubuhnya dengan handuk.
"Astaga, Sayang, kamu ngapain lagi sih..." ucap Mira. Ia berlari menghampiri Celin yang sedang menjerit kesakitan.
"Celin..!" panggil Mira. Panik, itulah yang dirasakan Mira saat tubuh putrinya tak terlihat namun tangisnya terdengar begitu menyayat hati.
Anda Mungkin Juga Suka





