
Berdamai Dengan Takdir
Bab 2
Di kantor, Leo terus saja berusaha fokus pada pekerjaannya, namun entah mengapa dirinya terus saja merasa khawatir tidak jelas, firasatnya mengatakan seolah akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan.
"Ck kenapa gua gak bisa fokus, si?" gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara itu, Alena baru saja sampai di kantornya, sama seperti Leo, dirinya juga memiliki perasaan yang tidak enak, padahal tadi sebelum berangkat kerja dirinya merasa baik-baik saja. kenapa jadi begini? gumam Alena sambil memegang dadanya yang merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Karena tak mau berpikir hal yang negatif, akhirnya Alena memilih untuk mengabaikan perasaan tersebut, lagipula selama ibunya tidak kenapa-napa, semuanya pasti aman-aman saja.
Begitu juga dengan Leo, karena pekerjaannya yang masih banyak, dirinya sebisa mungkin untuk mengabaikan perasaan tersebut dan berusaha untuk tidak berpikir yang macam-macam.
Keduanya kini berusaha fokus pada pekerjaan masing-masing.
-o0o-
Di rumah setelah pulang dari pasar, dirinya lupa kalau tadi ia mau meminta sesuatu dari Alena, tapi sekarang karena ia merasa tidak enak untuk bertanya pada Alena, jadi ia memilih untuk mencari sendiri apa yang ia butuhkan.
Yang Sabrina saat ini butuhkan adalah nomor rekening Alena, karena dirinya mau mengirim uang kepada Alena sebagai simpanan bulanan, tapi dirinya lupa meminta nomor tersebut pada Alena, namun seingatnya Alena pernah menyimpan buku tabungannya di dalam kamar, jadi sebisa mungkin Sabrina mencarinya sendiri.
Dirinya berusaha mencari dari lemari sampai ke beberapa laci kamar Alena dan Leo, namun dirinya tidak juga menemukan buku tabungan Alena, sempat Sabrina berpikir mungkin Alena membawanya, namun dirinya ingat kalau Alena tidak pernah sekalipun membawa buku tabungannya.
"Perasaan Alena gak pernah bawa buku tabungannya, di mana dia nyimpennya ya?" gumam Sabrina yang masih saja terus berusaha mencarinya.
Mungkin memang sudah menjadi scenario Tuhan kalau semua hal ini harus terjadi, tiba-tiba saja Sabrina memiliki pikiran untuk mencari buku tersebut diatas lemari, bahkan dirinya sampai harus jinjit agar bisa meraih atas lemari.
Saat sedang mencari tiba-tiba ada sebuah map biru yang jatuh, Sabrina langsung menggambil map tersebut, dirinya berpikir mungkin saja Alena menyimpan buku tabungannya di dalam map tersebut, namun tidak apa yang dilihat Sabrina dalam map tersebut berhasil membuat dadanya terasa sakit.
Dirinya benar-benar shock setelah membaca surat kontrak setelah menikah yang ditanda tangani oleh Leo dan juga Alena.
Sebisa mungkin Sabrina berusaha tenang, namun Tuhan berkehendak lain, perlahan Sabrina mulai sulit untuk bernapas, sampai akhirnya dirinya sudah benar-benar tidak bisa bernapas dan terjatuh ke lantai.
-o0o-
Ditengah-tengah pekerjaan, Alena dan Leo diserang perasaan tidak enak. Karena pikirannya sudah kacau dan itu selalu tertuju pada ibunya, Alena langsung menelpon ibunya berkali-kali, namun dirinya tidak juga mengangkat telepon tersebut.
Begitu juga Leo yang memilih menghentikan paksa rapat yang sedang berjalan karena pikirannya yang tiba-tiba kacau, ia juga berkali-kali menelpon ibunya berharap tidak terjadi sesuatu padanya.
Karena tidak menerima jawaban dari mertuanya, Alena memilih untuk izin kepada atasannya, dirinya tidak peduli tentang pekerjaannya saat ini, yang ia pedulikan hanya kondisi ibunya.
"Maaf pak, tapi saya harus segera pulang," pamit Alena sambil menunduk berharap atasan tersebut mau mengizinkan dirinya pulang.
Untung saja atasan Alena adalah orang yang mampu mengerti perasaan bawahannya, jadi Alena diizinkan untuk pulang, lagipula hari ini tidak ada pekerjaan khusus yang harus dikerjakan oleh sekertaris. Dengan cepat Alena langsung memesan ojek online agar bisa cepat sampai ke rumahnya.
Sementara itu, Leo dirinya masih dibuat bimbang karena ibunya tidak juga menjawab teleponnya, di satu sisi lain dirinya masih harus bekerja.
Kamu di mana, aku sedang jalan pulang?
Setelah membaca pesan dari Alena, tanpa peduli dirinya langsung pergi begitu saja meninggalkan kantor dan segera pulang ke rumah.
-o0o-
Keduanya sampai di rumah secara bersamaan. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam rumah dan mencari ibunya ke seluruh ruangan, betapa shocknya Alena saat mendapati ibunya sudah dalam keadaan kaku di kamarnya.
"Ibu," lirih Alena, kakinya tiba-tiba terasa lemas dan tak bisa menopang berat badannya lagi.
"Kenapa Len?" tanya Leo yang langsung menangkap Alena yang belum sepenuhnya terjatuh ke lantai. Alena langsung mengisyaratkan Leo untuk melihat ke dalam kamarnya.
"Ibu!" teriak Leo yang langsung lari mendekati ibunya yang sudah tebujur kaku dilantai.
Leo memeluk ibunya yang kini sudah sangat dingin, "Ibu Leo udah pulang bu," ucap Leo sambil menangis memeluk ibunya.
Alena yang masih belum bisa bangun, dirinya benar-benar merasa bersalah, seharusnya ia tetap di rumah dan tidak pergi bekerja hari ini, seharusnya ia menemani ibunya berbelanja, jika saja hal tersebut ia lakukan tadi, mungkin saja kejadian sekarang ini takkan terjadi.
"Ibu maafin Alena bu," lirih Alena yang saking tidak kuatnya menahan sedih, akhirnya ia terjatuh pingsan.
Melihat kondisi Alena, seketika pikiran Leo bertambah kacau, dirinya harus dihadapi dengan situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya atau bahkan tidak akan pernah ia bayangkan selamanya.
-o0o-
Kini rumah Leo sudah dipenuhi banyak orang, sementara itu Alena masih belum sadarkan diri, keluarga Alenapun telah datang setelah dikabari oleh Leo dan mereka turut berduka cita atas kepergian ibunya Leo, tidak ada cara lain selain hanya bisa menenangkan Leo saat ini.
Selagi mengurus ibunya, Leo juga dibuat khawatir dengan keadan Alena yang sampai sekarang belum sadarkan diri, namun Bastian dan Reyna meminta Leo untuk fokus terlebih dahulu pada ibunya, sementara itu Alena akan diurus oleh mereka berdua.
Sebenci apapun Leo pada Alena, namun Alena adalah orang pilihan dan orang kepercayaan ibunya, jadi ia juga tidak ingin sampai terjadi sesuatu yang aneh pada Alena, karena sekarang hanya Alenalah yang ia punya.
Beberapa orang membantu Leo untuk mengurus jenazah ibunya, dari dimandikan sampai disholatkan, semua orang benar-benar mengurus semuanya dengan sangat baik.
Karena ibunya dinyatakan meninggal tadi siang, jadi jenazah baru bisa dimakamkan saat malam hari. Saat semua orang mau mengiring jenazah ke pemakaman, tiba-tiba saja ada seseorang yang membuat emosi Leo naik.
"Untuk apa anda datang kemari?!" sentak Leo pada laki-laki yang saat ini bahkan tidak mengeluarkan air mata sama sekali.
"Ayah turut berduka cita," ucap Jordan yang sedikit merasa sedih, karena mau bagaimanapun Sabrina adalah mantan istrinya.
"Ayah?" ucap Leo merasa miris. "Masih berani anda mengatakan kata itu pada saya?" ucap Leo.
Jordan hanya bisa diam saja, iya mau bagaimanapun dirinya tetap ayah Leo, meski dirinya dan Sabrina sudah resmi berpisah.
Semua orang terdiam melihat kejadian tersebut. Namun, karena saat ini dalam keadaan berduka jadi Bastian dengan cepat memegang tangan Leo agar menantunya itu bisa menetralkan dirinya, terlepas dari apapun masalahnya bersama sang ayah, saat ini yang lebih penting adalah memakamkan Sabrina terlebih dahulu.
Genggaman Bastian berhasil membuat Leo tenang. Tanpa peduli ia meminta semua orang untuk tetap melanjutkan perjalanan sampai ke makam ibunya. Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan, sedangkan Jordan hanya bisa terdiam saja melihat keranda berisi jenazah mantan istrinya perlahan pergi menjauh.
-o0o-
Anda Mungkin Juga Suka





