
Berdamai Dengan Takdir
Bab 3
Sementara itu, Alena masih saja tidak sadarkan diri, suhu tubuhnya semakin lama semakin naik, karena khawatir, Reyna meminta Brandon untuk mengantar mereka ke rumah sakit, karena ia tidak mau Alena kenapa-napa.
Sebelum berangkat ke rumah sakit, Reyna mengabari Bastian terlebih dahulu agar dirinya bisa memberitatu Leo tentang kondisi Alena, namun ia juga meminta Bastian untuk memberitau Leo disaat keadaan Leo sudah membaik.
Selain itu, ia juga meminta pada beberapa tetangga untuk menjaga rumah Leo selagi yang lain masih di pemakaman, sedangkan Reyna mau membawa Alena ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Reyna sedikit merasa tidak fokus, dirinya terus saja memikirkan keadaan Alena. Karena setelah lepas dari orang tuanya, belum ada sebulan sifat Alena tiba-tiba saja berubah, dirinya sudah tidak seriang dulu lagi setelah menikah dengan Leo.
Awalnya Reyna merasa tidak beres dengan rumah tangga anak pertamanya itu, namun sebagai orang tua dirinya tidak mau ikut campur urusan rumah tangga anaknya, lagipula selama Alena masih diam, Reyna tidak memiliki hak untuk ikut campur.
Setelah sampai rumah sakit, Alena langsung dirujuk ke ruang rawat, panasnya sudah sangat tinggi, napasnya pun mulai tidak stabil. Keadaan Alena sudah sedikit membaik setelah dirinya mendapatkan perawatan.
Setelah kembali dari pemakaman, Bastian baru memberitau Leo kalau Alena saat ini sudah dirawat di rumah sakit, dirinya tadi mengalami demam yang cukup tinggi, napasnya pun tidak stabil karena ia mengalami shock yang sangat berat, tapi keadaannya sudah membaik dan mungkin untuk beberapa hari ke depan Alena harus dirawat terlebih dahulu di rumah sakit.
Leo yang mengatahui hal tersebut dirinya juga mulai merasa lemas, kini pikirannya sudah benar-benar kacau.
"Kamu boleh ke sana kalau kamu sudah kuat," ucap Bastian.
"Makasih pa, maaf kalau Leo gak bisa jaga Alena dengan baik," ucap Leo yang merasa sedikit tidak enak pada mertuanya.
"Tidak apa-apa, Alena itu memang kalau lagi shock pasti selalu drop." Sebisa mungkin Bastian menenangkan Alena.
Leo hanya mengangguk saja, dirinya tidak tau harus bekata apalagi pada mertuanya. Hari ini dirinya benar-benar merasa hancur sehancur-hancurnya.
-o0o-
Di rumah sakit, Alena baru saja sadar, namun dirinya lagnsung dibuat panik oleh suasana, "Ibu!" teriak Alena saat menyadari kalau dirinya tidak ada di sekitar ibunya.
"Alena, tenang nak," ucap Reyna yang berusaha menenangkan anaknya.
"Ma, Ibu di mana?Dan bagaimana keadaanya sekarang?" Alena benar-benar tidak bisa menahan emosinya.
"Alena hei tenang sayang, sekarang kamu sedang ada di rumah sakit," ucap mamanya.
"Kenapa Alena bisa di sini? Ibu di mana? Gimana keadaan ibu, mah?" Alena masih saja shock saat ini sampai akhirnya suster datang dan menyuntikkan obat penenang padanya.
Melihat kondisi Alena, Reyna tak kuasa menahan air matanya, baru kali ini Alena benar-benar merasa shock yang sangat berat seperti sekarang. Bagi Alena Sabrina tidak beda dari mamanya, jadi apapun yang terjadi pada Sabrina dirinya akan merasa tidak baik-baik saja.
Setelah situasi mulai membaik, Leo mengusahakan untuk pergi ke rumah sakit, mau bagaimanapun Alena sudah menajadi istrinya sekarang. Di rumah sakit, dirinya tidak tega melihat Alena yang tampak pucat saat ini, dengan selang infus dan selang oksigen yang terpasang padanya.
"Padahal yang meninggal itu ibu gua, kenapa jadi lo yang sakit parah begini? "Batin Leo, dirinya merasa kalau hubungan Alena dan ibunya benar-benar memiliki hubungan sedekat yang tidak ia kira sebelumnya.
"Kamu kalau masih capek, biar mamah saja yang menunggu Alena," ucap Reyna.
"Gak apa-apa mah, biar Leo saja yang jaga Alena, mamah, papah dan Brandon bisa pulang," jawab Leo sambil terus menatap Alena dengan tatapan sendu.
"Kamu yakin mau jaga Alena?" tanya Bastian yang merasa ragu karena kondisi Leo saat ini juga sudah kelihatan lelah.
"Muka kamu keliatan lelah," lanjutnya Bastian agar tidak membuat Leo tersinggung.
"Yakin pah, mau bagaimanapun Alena ini sekarang udah jadi tanggungjawab Leo," ucap Leo berusaha mencoba meyakinkan mertuanya saat ini. "Lagipula besok papah masih harus kerja dan Brandon juga masih harus sekolah, jadi biar Leo yang jaga Alena," lanjutnya.
"Baiklah kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa langsung kabarin papah atau mamah ya," ucap Bastian seraya pamit pada Leo.
"Baik pah," jawab Leo.
Sebelum pulan Reyna menatap Alena sambil berusaha menahan air matanya, saat mau beranjak dirinya berkata, "Leo. Alena itu mungkin terlihat kuat dan baik-baik saja dari luar, tapi sejatinya Alena adalah orang yang tidak sekuat apa yang kita kira, jadi jagalah dia baik-baik dan janga menyakitinya," ucap Reyna.
"Baik mah, Leo ngerti," jawab Leo.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan Leo dan Alena berdua diruang rawat. Dalam keheningan Leo hanya bisa berpikir, kalau selama ini mungkin sifat ego dia adalah alasan mengapa sifat Alena berubah 180°.
Setelah keluar ruangan Bastian mulai bertanya pada istrinya. "Kamu kenapa harus berkata seperti itu pada Leo? " tanyanya.
"Aku cuma mau memberitaunya saja kalau dirinya harus bisa jaga Alena dengan baik," jawab Reyna.
"Tapi omongan kamu tadi seolah kamu menyalahkan Leo."
"Mas, kamu sadar, kan kalau sikap Alena itu berbeda setelah dia menikah dengan Leo, ini baru bulan pertama mereka menikah mas, tapi Alena sudah berubah drastis," jelas Reyna.
"Sekarang ini Alena sudah menjadi istri sah Leo, bahkan kita sendiri orang tuanya yang menyetujui dan menjadi saksi pernikahan mereka, jadi biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa harus kita campur tangan urusan mereka," balas Bastian.
"Tapi mereka itu masih sama-sama muda mas, mereka bahkan masih belum bisa mengendalikan ego masing-masing." Reyna sudah mulai kesal dengan omongan suaminya yang seolah tak membiarkan dirinya memberitau mana yang terbaik untuk anaknya.
"Semua itu butuh waktu Reyna, untuk memantaskan diri satu sama lain dalam ikatan pernikahan itu tidaklah mudah, bukankah kamu dan aku juga merasakan hal yang sama saat kita menikah dulu?"
Perkataan Bastian berhasil membuat Reyna kembali mengingat tentang dirinya di masa lalu, di mana dirinya dan Bastian masih sama-sama egois dalam menggambil keputusan.
"Maaf, aku cuma gak mau rumah tanggan putri pertamaku kacau hanya karena Leo yang bersikap dingin padanya." Reyna merasa sedikit bersalah.
"Leo itu dari luar memang dingin, tapi dalam hatinya, terdapat satu kehangatan yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang-orang terdekatnya saja," ucap Bastian. Setelah keduanya relai, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Sementara itu, Leo masih terus berada di posisinya saat ini.
"Maaf ya Len, seharusnya gua gak sekeras itu sama lo," gumam Leo sambil mengusap kepala Alena yang saat ini masih saja belum sadarkan diri.
Karena malam sudah semakin larut, akhirnya Leo memilih untuk tidur di sofa, sedaritadi kepalanya terus saja terasa sakit, kali ini dirinya bahkan harus meminum obat tidur agar bisa tertidur.
Anda Mungkin Juga Suka





