
Benihku Bukan Cintamu
Bab 2
Ruangan itu didesain khusus. Nggak ada jendela, dindingnya dilapisi panel kayu hitam yang mahal, dan cuma ada dua kursi yang saling berhadapan. Aku duduk di kursi yang lebih besar, tinggi, kayak singgasana. Di depan kursiku, ada meja minimalis yang terbuat dari marmer dingin, dan di atasnya cuma ada tablet dan segelas air mineral. Dingin. Formal. Tepat seperti yang kuinginkan.
Ini bukan ruang wawancara, ini ruang isolasi. Tempat aku bertemu dengan delapan pria yang sudah lolos saringan paling ketat yang pernah dibuat King Callysta Company. Delapan pria yang siap menjual warisan genetik mereka seharga sepuluh juta dolar.
Sekar berdiri di sudut, dia nggak bicara, cuma memegang folder berisi data lengkap masing-masing kandidat. Raut mukanya tegang, kayak lagi menghadapi sidang skripsi yang nyawanya taruhannya.
"Nona Aluna," kata Sekar berbisik, mendekat sedikit. "Kita mulai jam sembilan tepat. Mereka sudah menunggu di ruangan terpisah. Semua sudah menandatangani persetujuan awal, mereka paham betul kerahasiaan dan zero-contact policy."
Aku mengangguk tanpa melihat Sekar. Aku sedang menatap pantulan diriku di permukaan meja marmer. Aku nggak pakai gaun mahal lagi, cuma power suit berwarna abu-abu gelap, rambut kukeat ke belakang, dan wajahku minim makeup. Aku harus kelihatan seperti CEO paling kejam di dunia. Karena di mata mereka, aku bukan wanita yang butuh anak. Aku adalah klien, sekaligus hakim.
"Siapa yang pertama?" tanyaku, suaraku terdengar serak dan rendah, efek dari stres beberapa hari terakhir mempersiapkan semua kehebohan ini.
"Kandidat A, Nona. Namanya Damon. Usia 32. Lulusan MIT. Punya tiga startup yang sudah dibeli Google. IQ 160. Net worth pribadinya $300 juta. Tidak ada catatan sosial yang aneh. Dan secara fisik..." Sekar berhenti sebentar, kayak menelan ludah. "Sangat menarik."
Aku memutar mataku. "Aku nggak butuh boneka pajangan, Sekar. Aku butuh gen yang stabil. Panggil dia masuk."
Pintu baja itu bergeser.
Kandidat A: Damon.
Damon masuk dengan langkah percaya diri yang menyebalkan. Dia tinggi, rambutnya pirang kecokelatan yang tertata rapi, dan matanya biru muda yang tajam. Dia pakai setelan jas tailor-made Italia yang harganya pasti puluhan ribu dolar. Dia bahkan nggak kelihatan gugup. Dia kelihatan... menikmati drama ini.
Dia duduk di kursi di depanku, menyandarkan punggungnya dengan santai.
"Nona Callysta," sapanya, suaranya halus, kayak announcer di film action. "Sebuah kehormatan. Aku harus bilang, kamu lebih menakjubkan di kehidupan nyata daripada di majalah."
Aku mendengus pelan, tapi nggak ada ekspresi yang muncul di wajahku. Flirting? Di saat kayak gini? Dia pikir ini kencan?
"Simpan sanjungan kamu, Damon. Aku nggak jualan majalah." Aku langsung menusuk. "Aku baca berkas kamu. Kamu punya segalanya. Kenapa kamu mau menjual diri kamu seharga sepuluh juta dolar? Sepuluh juta itu cuma remah-remah buat kekayaan kamu."
Damon tersenyum. Itu bukan senyum manis, tapi senyum yang penuh perhitungan. "It's not about the money, Nona Aluna. It's about the legacy."
"Legacy?"
"Iya. Aku sadar, genku adalah salah satu yang terbaik yang bisa dihasilkan oleh planet ini. Tapi aku nggak punya waktu buat pernikahan, buat komitmen. Aku sibuk membangun kerajaan. Aku butuh keturunan yang sempurna, tapi nggak butuh istri yang menyusahkan. Kamu menawarkan solusi yang sempurna: Aku dapat uang, dan yang lebih penting, aku tahu ada darahku yang akan meneruskan kejayaan, diurus oleh wanita yang sangat kompeten, tanpa aku perlu repot-repot ganti popok."
Dia bicara seolah ini adalah negosiasi bisnis paling keren. Aku memperhatikan matanya. Di sana, aku nggak melihat kehangatan seorang ayah. Aku melihat ego yang berlapis-lapis.
"Kamu nggak repot ganti popok. Bagus. Tapi kamu tahu risiko terbesar dari perjanjian ini, kan?" Aku mencondongkan tubuh sedikit. "Selamanya, kamu cuma ghost. Kamu nggak akan pernah tahu di mana anak ini, siapa namanya, bagaimana rupanya. Bahkan kalau kita ketemu di jalan, aku nggak akan bilang apa-apa. Kamu rela kehilangan legacy itu sepenuhnya?"
Damon tertawa kecil. "Aku sudah memikirkannya. Sepuluh juta dolar itu adalah harga untuk melupakan. Lagipula, aku cukup yakin genku akan membuatnya jadi luar biasa. Itu sudah cukup buat egoku."
"Ego," ulangku pelan. "Itu yang aku takutkan, Damon."
Aku mengambil tablet dan menekan tombol merah. "Terima kasih atas waktunya. Kamu nggak lolos."
Damon terkejut. Senyumnya langsung hilang, berganti kaget yang nggak bisa dia sembunyikan.
"Tunggu, Nona Callysta. Kenapa? Aku yang paling memenuhi syarat! Aku paling sempurna!"
"Justru itu masalahnya," kataku dingin, berdiri. "Kamu terlalu yakin genetik kamu itu emas murni. Aku nggak mau Ayah dari anakku punya ego yang sebesar ini, bahkan kalau dia cuma pendonor. Aku nggak mau suatu hari nanti kamu tergelincir, dan berpikir kamu punya hak untuk mengklaim anakku, hanya karena kamu merasa kamu yang paling sempurna. Aku butuh pendonor yang bisa menghilang, Damon. Bukan yang menganggap dirinya pahlawan genetik."
Dia mencoba membantah, tapi Sekar sudah maju, memegang lengannya, dan menuntunnya keluar dari ruangan. Pintu baja tertutup lagi, meninggalkan keheningan yang nyaman.
"Kandidat A, dibatalkan," kataku pada Sekar. "Catat alasannya: Ego yang terlalu besar. Berpotensi melanggar kontrak kerahasiaan di masa depan."
Aku menghela napas. Tipe seperti Damon ini adalah tipe pria yang paling kubenci. Sempurna di luar, tapi busuk karena kesombongan di dalamnya. Persis seperti Elian.
Kandidat B: Dr. Kenzo Hiroshi.
Pria kedua ini kebalikan Damon. Dia pakai kemeja biasa, agak kusut. Kacamata tebalnya hampir menutupi separuh wajah. Dia nggak punya sense of style sama sekali, tapi begitu dia duduk, aura kecerdasannya langsung memenuhi ruangan. Dia seorang ahli fisika nuklir, usianya 35, IQ 165. Dia datang dari keluarga ilmuwan, kekayaannya didapat dari penemuan patennya.
Dia nggak menyapaku. Dia cuma duduk, menegakkan punggungnya, dan menatapku dengan mata lelah.
"Dr. Kenzo," kataku. "Berbeda dengan kandidat sebelumnya, kamu nggak kelihatan tertarik sama sekali dengan uangnya. Kenapa kamu di sini?"
Kenzo menghela napas, seolah dia baru saja dipaksa meninggalkan perhitungan fisika paling penting di abad ini.
"Aku nggak tertarik dengan sepuluh juta dolar, Nona Callysta. Aku tertarik dengan proses selektif yang kamu lakukan," jawabnya, suaranya pelan dan monoton. "Aku sudah mempelajari proposal genetik kamu. Kamu mencari stabilitas. Dan aku-secara genetik dan psikologis-adalah entitas yang paling stabil. Aku nggak punya kebutuhan emosional. Aku cuma hidup untuk riset. Kontrak ini menjamin aku tetap bisa hidup dalam keheningan, tanpa ikatan sosial yang mengganggu, sambil mengetahui bahwa gen yang kugunakan untuk memajukan ilmu pengetahuan juga akan hidup dan berkontribusi di dunia bisnis."
Wow. Bicara kayak robot. Tapi jujur.
"Kamu nggak merasa, sedikit pun, ingin tahu bagaimana rupa anak kamu nanti? Bukankah manusiawi kalau kamu punya rasa penasaran?"
Kenzo menggeleng. "Nggak. Anak adalah variabel yang nggak perlu. Aku sudah menghitung semua kemungkinan hasil perkawinan genetik aku dan kamu. Aku yakin hasilnya akan superior. Setelah itu, outcome dari kehidupan anak tersebut sudah nggak penting lagi buatku, karena itu ada di tangan kamu."
Dia bicara seolah aku adalah laboratorium dan anakku adalah eksperimen. Dan anehnya, itu yang paling kusukai dari dia. Dia nggak berusaha jadi 'Ayah'. Dia cuma menawarkan data genetiknya.
"Keluarga kamu. Mereka tahu kamu melakukan ini?"
"Tentu nggak. Mereka semua ilmuwan yang hidup di dunia mereka sendiri. Mereka nggak akan pernah tahu. Aku akan bilang aku sedang menjalani proyek riset rahasia di Antartika. Itu jauh lebih masuk akal buat mereka daripada aku menjual benihku pada sosialita." Kenzo sedikit menyunggingkan senyum tipis, mungkin itu bentuk candaan darinya.
Aku merasakan sedikit harapan. Pria ini sempurna. Stabil, cerdas luar biasa, dan yang terpenting: nggak punya kebutuhan untuk dicintai atau mencintai. Dia nggak akan pernah melanggar kontrak demi drama emosional.
"Kita lanjutkan ke tahap selanjutnya, Dr. Kenzo. Kamu lolos."
"Terima kasih. Aku harap proses ini cepat diselesaikan. Aku harus kembali ke lab bulan depan."
Setelah Kenzo keluar, aku bersandar di kursi. "Sekar, keep Dr. Kenzo di daftar teratas. Dia yang paling nggak bermasalah."
"Baik, Nona. Kandidat C sudah siap."
Kandidat C: Julian Sanjaya.
Julian masuk. Dia berbeda total dari dua kandidat sebelumnya. Dia nggak setebal Damon, dan nggak sekaku Kenzo. Julian adalah seorang philanthropist muda, mewarisi jaringan yayasan sosial besar di Asia Tenggara. Dia tampan dengan cara yang lembut, rambutnya sedikit berantakan alami, dan matanya cokelat hangat.
Dia duduk, dan alih-alih menyapa, dia malah menatapku dengan tatapan yang... menyedihkan.
"Nona Callysta, aku harus mengakui, aku datang bukan karena uang," katanya, suaranya sedikit bergetar.
Aku mengernyitkan dahi. "Lalu kenapa? Kamu mau jadi pahlawan? Kamu mau menyelamatkan aku dari skandal ini?"
Julian menggeleng pelan. "Aku merasa simpati. Aku baca semua berita tentang kamu dan Elian. Aku tahu gimana rasanya dikhianati cinta."
Seketika, hatiku yang sudah beku kayak iceberg di Antartika langsung panas. Simpati? Cinta?
"Hentikan omong kosong kamu, Julian," potongku tajam. Aku menunjuk folder datanya di meja. "Aku nggak butuh simpati. Aku nggak butuh penyelamat. Aku butuh gen kamu. Kalau kamu di sini buat drama, kamu buang-buang waktu aku."
"Aku serius," Julian membalas, matanya nggak gentar. "Aku nggak akan meminta hak asuh. Aku nggak akan meminta uangnya. Aku di sini karena aku mau memberimu hadiah. Hadiah berupa kehidupan baru, yang bisa kamu fokuskan, yang bisa menyembuhkan kamu dari rasa sakit itu. Aku mau kebaikan aku ini jadi sesuatu yang berguna. Karena di mata dunia, kamu wanita yang hebat, tapi di mata Tuhan..."
Aku membanting tangan ke meja. Marmer itu bergetar.
"Jangan bawa Tuhan ke sini, Julian! Kamu pikir kamu siapa? Malaikat yang dikirim buat menyembuhkan Aluna Callysta yang malang?" Aku tertawa, tawa yang penuh kebencian. "Kamu datang ke sini, menawarkan gen kamu, dengan alasan simpati? Itu lebih menyebalkan dari Damon yang terang-terangan bilang dia ingin melestarikan egonya!"
Aku berdiri, mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangan bertumpu di meja.
"Dengar, Julian. Aku nggak sakit. Aku nggak butuh disembuhkan. Aku cuma sadar. Sadar kalau cinta itu ilusi yang diciptakan biar kita mau nurut sama aturan sosial. Aku nggak mau nurut lagi! Aku kaya, aku cerdas, dan aku bisa punya bayi tanpa harus menelan janji palsu dari laki-laki mana pun!"
"Kamu pikir, dengan menawarkan gen kamu sebagai 'hadiah', kamu lebih baik dari yang lain? Justru kamu yang paling berbahaya. Kamu datang dengan topeng kemanusiaan. Kamu pikir kamu bisa mencariku lima tahun lagi dan bilang, 'Aku Ayah biologisnya. Aku memberikannya padamu karena cinta'?"
Wajah Julian pucat. Dia nggak menyangka aku akan sefrontal ini.
"Aku nggak akan pernah melakukan itu."
"Oh, kamu akan melakukannya," desisku. "Semua laki-laki akan. Ketika kalian melihat apa yang kalian buat, naluri posesif kalian muncul. Kalian nggak bisa melihat wanita menjadi utuh tanpa kehadiran kalian. Aku nggak butuh Ayah, Julian. Aku butuh pendonor yang bisa mati setelah transaksi. Kamu nggak bisa mati, karena kamu terlalu sibuk jadi orang baik."
Aku menjentikkan jariku. Sekar langsung sigap.
"Singkirkan dia. Catatan: Terlalu emosional. Berpotensi melanggar kontrak dengan alasan moral atau kemanusiaan."
Julian diantar keluar. Aku terduduk kembali, kepalaku pusing.
Tiga kandidat, tiga alasan untuk dibuang. Ego, keheningan, dan kemanusiaan. Tiga hal yang paling kubenci dari laki-laki. Aku cuma butuh benih. Kenapa sesulit ini mencari pria yang bisa menerima dirinya sebagai objek?
Lima kandidat lainnya masuk dan keluar selama tiga jam berikutnya.
Ada miliarder yang gennya sempurna, tapi dia punya fetish aneh untuk menulis puisi tentang anak-anaknya kelak. Ditolak.
Ada ahli bedah saraf yang IQ-nya gila-gilaan, tapi dia menolak kontrak yang melarangnya melihat foto anakku satu kali pun. Ditolak.
Ada seorang CEO yang gennya bagus banget, tapi dia terus-terusan mengirimi Sekar pesan spam tentang betapa cantiknya aku. Ditolak.
Semua sama. Di balik jas mahal, di balik gelar mentereng, mereka semua punya satu masalah: mereka berpikir mereka lebih dari sekadar data. Mereka berpikir mereka punya hak, punya perasaan, atau punya kesempatan buat mengubah pikiranku tentang cinta.
Mereka salah. Cinta sudah jadi barang kadaluarsa buatku.
Setelah Kandidat H keluar, aku menjatuhkan tablet ke meja. Bunyinya keras sekali di keheningan ruangan itu.
"Sekar. Aku nggak dapat apa-apa. Nggak ada yang lolos final."
Sekar tampak sangat lelah. Dia menarik napas. "Nona Aluna, dari delapan ini, Dr. Kenzo yang paling mendekati kriteria. Dia yang paling rasional, paling non-emosional. Bukankah kita bisa menambahkan klausul denda yang lebih berat untuknya?"
Aku menutup mata, membayangkan wajah Dr. Kenzo: Kaku, serius, dan matanya fokus pada angka. Ya, dia sempurna. Tapi ada yang kurang.
"Nggak cukup, Sekar. Aku butuh sempurna. Aku nggak mau mengambil risiko lima persen dia akan mencoba kembali. Aku butuh pria yang nggak punya waktu, nggak punya keinginan, dan nggak punya alasan kuat buat mencari anaknya."
Aku terdiam, mengusap pelipisku yang berdenyut. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu yang tidak ada di delapan folder itu. Sesuatu yang Sekar bilang dia sembunyikan karena aku akan langsung menolak.
"Ada satu folder lagi, kan?" tanyaku, membuka mata, menatap Sekar tajam. "Yang kamu bilang 'terlalu berisiko' dan 'secara sosial nggak mungkin'?"
Sekar menelan ludah. Dia mengeluarkan folder abu-abu tipis dari tasnya.
"Aku nggak mau tunjukkan ini, Nona. Kandidat ini... dia nggak melamar lewat jalur sayembara. Dia menghubungi tim hukum kita secara diam-diam. Dan dia nggak memenuhi semua kualifikasi uang yang Nona mau. Kekayaan pribadinya cuma... $50 juta. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Genetiknya. Nona Aluna. Genetiknya itu... sempurna. Nggak ada riwayat penyakit genetik di keluarga besarnya selama empat generasi. IQ-nya 155. Dia lulusan Oxford, punya tiga PhD di bidang bioteknologi, linguistik, dan musik klasik. Dia tampan. Dan dia menawarkan satu hal yang nggak dimiliki kandidat lain."
Aku mengambil folder itu. Di depanku, terpampang foto seorang pria.
Kandidat X: Tristan Adyantara.
Rambutnya hitam pekat, matanya abu-abu tajam, dan wajahnya punya garis rahang yang keras. Dia nggak tersenyum di foto itu. Ekspresinya serius, sedikit arogan, tapi nggak sleek kayak Damon. Dia kelihatan... raw. Kelihatan seperti serigala yang sedang mengamati mangsa.
"Dia menawarkan apa?" tanyaku, suaraku tiba-tiba bergetar sedikit.
"Dia menawarkan anonymity. Dia bilang dia siap menandatangani kontrak apa pun, dia nggak butuh uangnya, dia cuma ingin membantu proses riset genetik yang dia yakini. Tapi dia punya satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Dia mau ketemu Nona. Bukan wawancara. Dia mau bertemu kamu di luar konteks bisnis. Just to talk. Sebelum dia menyumbangkan benihnya, dia mau memastikan kamu bukan 'monster' seperti yang diberitakan media."
Aku tertawa. Kali ini, tawa yang sinis. "Monster? Aku memang monster. Dan dia berani menghakimi aku? Padahal dia datang ke sini, menawarkan gennya dengan harga diskon? Konyol."
"Dia bilang, Nona Aluna," Sekar membacakan catatan di folder. "Dia bilang, 'Aku nggak menjual genku. Aku menawarkan kolaborasi genetik. Dan kolaborasi nggak boleh dilakukan sama orang gila.' Net worth-nya memang kurang, Nona. Tapi, dari sisi genetik, dia melebihi semua kriteria kita."
Aku menatap foto Tristan. Matanya itu... ada api di sana. Api yang sama yang ada di mataku. Dia bukan data. Dia adalah masalah.
Dan karena dia adalah masalah, dia jadi satu-satunya yang menarik perhatianku setelah semua drama fake dari delapan kandidat lainnya.
"Bikin janji," kataku, suaraku memutus keheningan.
Sekar terkesiap. "Nona?"
"Aku bilang, bikin janji. Aku akan temui Tristan Adyantara. Di luar King Callysta. Dia mau membuktikan aku bukan monster? Aku akan tunjukkan padanya. Dan aku akan pastikan, setelah dia melihat betapa dinginnya aku, dia akan lari. Tapi kalau dia nggak lari, dan gennya sesempurna yang kamu bilang, dia yang akan jadi pilihanku."
Aku menutup folder itu dengan bunyi keras.
"Aku nggak peduli sama uang. Aku peduli sama kualitas. Sepuluh juta dolar itu nggak sebanding sama legacy King Callysta. Aku akan ambil dia, Tristan Adyantara. Pria yang berani menantang Aluna Callysta. Dia sempurna buat jadi ghost."
Aku bangkit dan berjalan menuju jendela ruangan itu, menatap langit Jakarta yang sudah gelap. Semuanya terasa seperti permainan catur. Aku adalah Ratu. Dan aku baru saja memilih Kuda Hitam-ku.
Aku nggak butuh cinta. Aku butuh bayi. Dan aku nggak akan membiarkan trauma masa lalu membuatku berkompromi dengan kualitas.
Elian, kamu pikir kamu menang dengan menikahi Anya? Tunggu saja. Generasiku akan jauh lebih cemerlang, jauh lebih kuat, karena aku tidak akan pernah mengajarkan anakku betapa bodohnya percaya pada ilusi bernama cinta.
Tristan Adyantara. Mari kita lihat seberapa besar nyali seorang pria yang berani menantang wanita yang sudah mati hatinya ini. Pria ini, yang nggak punya uang sebanyak yang lain, justru berpotensi besar jadi ayah bagi anakku. Karena dia datang bukan karena ketamakan, tapi karena sesuatu yang lebih rumit dari uang. Dan kerumitan itulah yang membuat gennya terasa lebih limited edition dari yang lain.
Aku akan mengambil gennya. Dan aku akan membuangnya. Tepat seperti bagaimana aku dibuang oleh Elian. A perfect revenge, disguised as a perfect baby.
Anda Mungkin Juga Suka





