
Benihku Bukan Cintamu
Bab 3
Aku memilih sebuah lokasi yang sepi dan eksklusif. Bukan restoran, bukan kafe, apalagi kantor. Aku memilih penthouse pribadi milikku di atas gedung tertinggi, yang biasanya cuma kupakai buat merenung sambil menatap kemacetan Jakarta di bawah. Suasananya tenang, minimalis, dengan pencahayaan temaram yang dramatis. Aku nggak mau ada saksi mata, kecuali Sekar yang duduk di balik panel kaca kedap suara, bertindak sebagai pengawas dan penyelamat darurat kalau-kalau cowok ini ternyata gila beneran.
Aku duduk di sofa kulit mahal. Di depanku, ada meja kaca, tapi kali ini nggak ada folder data atau tablet. Cuma dua gelas whiskey single malt berusia dua puluh tahun yang sudah siap, menunggu tuannya. Aku nggak mau minuman manis. Aku butuh sesuatu yang kuat, yang bisa menyaingi rasa dingin yang sengaja kupasang di tubuhku.
Tepat jam tujuh malam, pintu lift bergeser terbuka dengan bunyi pelan.
Tristan Adyantara.
Dia masuk. Dia nggak pakai jas mahal atau kemeja licin kayak delapan pria yang kukenal sebelumnya. Dia cuma pakai sweater kasmir hitam yang pas di badannya, celana bahan yang santai, dan sepatu kulit yang kelihatan nyaman. Dia kelihatan seperti seorang profesor seni yang lagi cuti, bukan seorang kandidat donor sperma yang dihargai sepuluh juta dolar.
Mataku langsung fokus ke matanya yang abu-abu itu. Di foto, mata itu tajam. Di sini? Mata itu... menyelidik. Dia nggak melihatku sebagai Aluna Callysta si ratu bisnis. Dia melihatku sebagai objek studi.
Dia berhenti sejenak, mengamati ruangan, lalu pandangannya kembali padaku. Dia berjalan pelan, tanpa tergesa-gesa, lalu duduk di sofa di depanku. Dia nggak minta izin, dia cuma mengambil tempatnya. Sesuatu yang nggak pernah dilakukan oleh orang lain di hadapanku.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu, Nona Callysta," sapanya. Suaranya berat, dalam, dan tenang, seperti bunyi cello di tengah malam.
"Aluna," koreksiku dingin. "Dan aku nggak meluangkan waktu. Kamu memaksa aku. Kamu yang bikin permintaan konyol ini."
Tristan mengambil gelas whiskey di depannya, menggesek pinggiran gelas itu dengan ibu jarinya, tapi nggak meminumnya. "Aku memang konyol. Karena semua pria yang kamu kumpulkan di ruangan itu, mereka hanya melihat angka sepuluh juta. Mereka melihatmu sebagai bank. Sedangkan aku, aku melihatmu sebagai sebuah anomali."
Aku menyandarkan punggungku, melipat tanganku di depan dada. "Anomali? Jangan pakai bahasa linguistik kamu di sini. To the point, Tristan. Aku nggak punya banyak waktu buat main tebak-tebakan filosofis."
"Baiklah. Aku akan bicara tentang data," katanya, matanya tak pernah lepas dariku. "Kamu wanita yang baru saja mengalami trauma pengkhianatan emosional terbesar dalam hidupmu. Kamu menyalurkan rasa sakit itu ke dalam sebuah proyek yang secara genetik sangat ambisius, tapi secara psikologis sangat protektif. Kamu membangun tembok. Tembok itu namanya Sayembara Bibit Unggul."
"Itu namanya bisnis, Tristan. Bisnis yang aku beli dengan uangku sendiri."
"Bukan, Aluna. Itu namanya mekanisme pertahanan diri. Kamu nggak cuma mencari benih yang sempurna. Kamu mencari benih yang nggak akan pernah kamu sentuh perasaannya. Kamu ingin memastikan, bahwa makhluk yang lahir dari rahimmu, Ayahnya adalah seseorang yang nggak punya hak untuk claim perasaannya. Kamu membuang cinta sebelum dia sempat tumbuh."
Aku merasakan panas menjalar ke leherku. Aku nggak suka dibaca. Terutama nggak suka dibaca sama seorang pria yang baru kutemui dan punya tiga PhD.
"Kamu datang ke sini buat jadi psikiater aku? Kamu salah tempat. Dan kalau kamu terus bicara omong kosong, aku akan menolak kamu, nggak peduli seberapa sempurna genetik kamu."
Tristan tersenyum tipis. Senyumnya nggak jahat, tapi sangat tahu diri. "Aku bukan psikiater. Aku seorang ilmuwan. Dan aku tahu, untuk mendapatkan hasil lab yang murni, kita harus memahami vessel-nya. Kamu adalah vessel-nya, Aluna. Aku perlu tahu apakah kamu stabil."
"Aku stabil," jawabku tajam. "Aku stabil karena aku tahu yang aku mau. Aku mau anak. Aku nggak mau Ayah. Aku akan membesarkannya dengan uang Kakekku, aku akan mengajarkannya semua yang aku tahu tentang bisnis, dan aku akan melindunginya dari ilusi yang namanya janji sehidup semati."
Aku mengambil gelas whiskey-ku dan meminumnya cepat. Cairan panas itu membakar kerongkonganku.
"Kamu tahu, kenapa aku menolak tujuh kandidat lainnya?" tanyaku, meletakkan gelas itu kembali dengan sedikit dentingan. "Mereka semua punya satu masalah. Mereka ingin uangnya, tapi mereka juga ingin perasaannya. Mereka mau jadi anonim, tapi mereka bertanya, 'Apa aku boleh tahu kalau anakku jadi juara catur?' Mereka ingin jadi Ayah rahasia. Itu namanya nggak profesional. Itu namanya drama."
Tristan mencondongkan tubuh sedikit. "Dan kenapa aku nggak melamar lewat jalur Sayembara yang kamu buat?"
Aku diam, menunggu jawabannya.
"Karena aku tahu kamu akan langsung menolakku. Uangku kurang. Statusku nggak sekeren mereka. Aku cuma seorang peneliti yang kebetulan punya beberapa paten. Tapi aku punya satu hal yang mereka nggak punya: Aku nggak terikat pada pandangan romantis tentang keluarga."
"Jelaskan."
"Aku nggak butuh Ayah. Ayahku meninggal saat aku masih kecil. Ibuku membesarkanku sambil bekerja gila-gilaan, dan aku tahu, genetik itu lebih kuat dari ikatan emosional. Aku tahu aku cerdas. Aku tahu aku bisa berkontribusi. Aku menawarkan genku bukan sebagai seorang Ayah, Aluna. Tapi sebagai seorang Kolaborator Genetik. Aku peduli pada kualitas spesies, bukan pada drama kepemilikan. Aku nggak akan pernah mencarimu. Aku nggak akan pernah mengganggu anakmu. Aku nggak akan pernah cemburu pada peran Ibu tunggalmu. Buatku, ini adalah transfer data biologis yang paling efisien."
Aku menatapnya lama. Sial, dia pandai sekali bicara. Dia menggunakan bahasa yang benar-benar mematikan pertahananku. Dia bicara soal data, efisiensi, dan kualitas, bukan soal hati.
"Kenapa kamu nggak butuh uangnya?" tanyaku.
Tristan mengedikkan bahu, menyesap sedikit whiskey-nya. "Uang sepuluh juta dolar itu nggak akan mengubah hidupku. Aku sudah punya cukup uang untuk membeli laboratorium baru dan mendanai risetku selama lima tahun ke depan. Aku nggak butuh kemewahan. Aku butuh ketenangan. Dan untuk menjamin ketenangan itu, aku nggak mau ada ikatan finansial yang bisa kamu pakai buat menekan aku. Aku nggak butuh uangmu. Aku cuma butuh persetujuan, bahwa kamu akan membesarkan anak ini dengan standar keunggulan yang tinggi. Bukan sekadar anak yang dimanjakan karena uang."
"Aku tahu bagaimana membesarkan anak," balasku dingin.
"Aku yakin kamu tahu membesarkan penerus King Callysta. Tapi, apakah kamu tahu bagaimana membesarkan anak dengan hati yang utuh, setelah kamu sendiri begitu terluka?" tanyanya, suaranya pelan sekali, tapi menusuk tepat ke jantung.
Aku merasakan tinjuku mengepal. Ini dia. Ini batasnya.
"Aku nggak butuh hati yang utuh, Tristan. Aku butuh bank gen yang utuh. Hati itu lemah. Hati itu membuat orang kayak Elian berkhianat. Hati itu membuatku lari dari gereja tiga tahun lalu kayak orang bodoh. Aku nggak mau anakku jadi bodoh karena hatinya!"
Aku berdiri, berjalan ke arah jendela kaca besar yang menghadap kota. Lampu-lampu di bawah kelihatan seperti jutaan kunang-kunang.
"Kamu dengar berita tentang aku dan Elian?" tanyaku tanpa menoleh. "Tentu saja. Semua orang mendengarnya. Mereka bilang, aku wanita yang dingin, yang cuma memikirkan bisnis. Mereka benar. Mereka bilang, aku nggak akan pernah bisa mencintai lagi. Mereka juga benar."
Aku berbalik, menatap Tristan.
"Aku mau anak yang nggak terikat pada ilusi cinta, Tristan. Aku mau anak yang tahu, di dunia ini, yang abadi cuma kekuasaan dan uang. Kalau kamu datang ke sini, melihat aku yang sudah hancur, dan kamu berpikir kamu bisa menyembuhkannya dengan gen kamu, kamu salah besar. Aku nggak akan pernah sembuh. Dan aku nggak mau kamu, atau siapa pun, mencoba mengklaim bagian dari diriku yang sudah mati."
Tristan bangkit dari sofa. Tingginya membuat ruangan itu terasa sempit. Dia berjalan pelan ke arahku, tapi dia berhenti beberapa langkah di depanku. Dia nggak berusaha menyentuhku. Dia cuma menatapku dengan tatapan yang penuh rasa kasihan, dan itu membuatku muak.
"Aku nggak di sini buat menyembuhkan kamu, Aluna," katanya, nadanya tegas. "Aku di sini buat menawarkan sebuah proposal. Sebuah kolaborasi genetik yang murni. Aku melihat rasa sakitmu, dan aku menghormatinya. Karena aku tahu, di balik Sayembara ini, ada keinginan murni untuk memiliki sesuatu yang takkan pernah bisa diambil darimu lagi. Dan aku mengagumi kegigihanmu."
"Jadi, kamu setuju dengan semua klausulnya?" tanyaku, memotong dramanya. "Kerahasiaan absolut, nggak ada hak asuh seumur hidup, nggak ada komunikasi, dan kamu harus menghilang tanpa jejak setelah prosesnya selesai?"
"Aku setuju. Tapi aku punya satu syarat lagi, yang nggak bisa dinegosiasikan."
Aku menyipitkan mata. "Apa itu?"
"Aku ingin proses ini dilakukan secara alami. Bukan IVF."
Aku terkejut. Tubuhku menegang. "Apa? Kenapa? Aku sudah siapkan segalanya, dokter, klinik terbaik. Aku mau ini steril, tanpa sentuhan emosional-"
"Justru itu masalahnya," Tristan memotongku, suaranya tenang, logis. "Proses IVF itu berisiko, Aluna. Secara ilmiah, proses alami menghasilkan kualitas benih yang lebih baik, lebih stabil, dan tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi. Kamu bilang kamu ingin yang sempurna. Maka kita harus pakai proses yang sempurna."
"Tapi... itu melibatkan kontak fisik. Itu melibatkan... keintiman." Kata 'keintiman' terasa asing di lidahku. Setelah Elian, aku bersumpah nggak ada laki-laki yang akan menyentuhku. Nggak ada.
"Aku nggak bilang kita harus membuat cinta," kata Tristan, suaranya meremehkan. "Aku bilang kita harus membuat transfer genetik yang efisien. Aku nggak akan menyentuh kamu lebih dari yang diperlukan. Kita bisa anggap ini sebagai 'kewajiban biologis' yang dingin. Kamu akan mengandung. Aku akan menyumbang. Setelah itu, kita lupakan."
Aku menatapnya. Dia menantang semua pertahanan yang sudah kubangun. Dia tahu aku nggak mau sentuhan. Dan dia memaksa aku. Dia memaksa aku buat menghadapi trauma yang kubawa dari gereja. Dia memaksa aku buat menyentuh lagi batas diriku yang sudah kubekukan.
"Kenapa kamu peduli dengan prosesnya?"
"Karena aku peduli dengan hasilnya," jawabnya lugas. "Aku nggak mau gen superior aku gagal karena proses lab yang terburu-buru dan artifisial. Ini tentang ilmu pengetahuan, Aluna. Bukan tentang trauma kamu."
Dia membalikkan pisaunya. Dia membuat rasa sakitku sendiri jadi alasan untuk menerima persyaratannya. Sialan. Pria ini brilian. Dan dia benar. Kalau aku mau yang terbaik, aku harus melakukan cara terbaik, meskipun itu berarti aku harus berhadapan dengan ketakutanku sendiri.
Aku menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.
"Baik," kataku, suaraku kembali dingin. "Aku setuju. Proses alami. Tapi aku yang menentukan kapan dan di mana. Dan kamu harus bersumpah, bahwa kamu nggak akan mencoba mencari tahu siapa aku, di luar momen transfer ini."
Tristan mengangguk. Matanya sedikit berkilauan, bukan karena kemenangan, tapi karena perhitungan. "Aku bukan pengejar emosi, Aluna. Aku pengejar pengetahuan. Dan aku sudah mendapatkan data yang aku butuhkan dari pertemuan ini. Kamu bukan monster. Kamu cuma wanita yang sangat terluka, yang mencoba mengubah rasa sakitnya menjadi sebuah mahakarya. Aku akan membantumu menciptakan mahakarya itu."
"Jangan pernah pakai kata 'mahakarya' lagi, Tristan. Ini adalah penerus King Callysta. Bukan lukisan. Ini bisnis."
"Terserah kamu," katanya, kembali tersenyum tipis. "Tapi di balik setiap bisnis besar, selalu ada drama yang luar biasa. Selamat, Aluna. Kamu sudah menemukan kolaborator genetik kamu."
Aku menekan tombol interkom. "Sekar, siapkan kontrak Tristan Adyantara. Semua klausul tetap, hanya tambahkan klausul tentang metode transfer genetik yang disepakati secara alami. Dan siapkan jadwal. Secepatnya."
Sekar yang pasti sudah mendengar semua percakapan kami, menjawab dengan suara tercekat, "B-baik, Nona Aluna."
Tristan Adyantara mengangguk, meletakkan gelasnya yang masih penuh. Dia berbalik, berjalan ke arah lift, dan menatapku sekali lagi sebelum pintu baja itu menutup.
"Sampai bertemu di 'lab' kita, Aluna."
Aku berdiri di ruangan yang sepi itu, merasakan sentakan listrik yang nggak nyaman di perutku. Ini adalah pertama kalinya setelah tiga tahun, seorang pria membuatku merasakan sesuatu yang bukan cuma rasa sakit. Ini namanya kewaspadaan. Dan itu berbahaya.
Aku tahu, aku baru saja memilih pendonor paling sempurna. Tapi aku juga tahu, aku baru saja mengizinkan serigala masuk ke sarangku, meskipun hanya untuk satu malam.
Anda Mungkin Juga Suka





