Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benang yang Tak akan Pernah Putus

Benang yang Tak akan Pernah Putus

Kaiyo Wrasasana terus berjuang melenyapkan sosok ibu yang seharusnya dicintai dari kehidupannya. Ia bertekad memutus segala ikatan yang menghubungkan mereka, meski harus menggunakan cara yang paling menyakitkan sekalipun. Namun, sekeras apa pun Yoyo mencoba, benang takdir di antara mereka tetap tak tergoyahkan. Tanpa disadari, upaya kerasnya untuk lepas justru melukai sang ibu dan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam bagi dirinya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

"YOYO!" sebuah teriakan membuat Yoyo, dan perempuan paruhbaya di hadapan Yoyo menoleh ke sumber suara.

Seorang lelaki paruhbaya terlihat melangkah menghampiri Yoyo. Wajahnya terlihat agak tak suka, terlebih setelah melihat perempuan paruhbaya yang berdiri di hadapan Yoyo.

"Bapak!" panggil Yoyo sembari tersenyum tipis.

"Kaina!" panggil Bapak yang kini terfokus pada perempuan, yang pernah mengisi hari-harinya dulu.

Perempuan paruhbaya itu hanya menunduk, sama sekali tak mendongak menatap Bapak.

"Kamu baik-baik aja?" tanya Bapak pada perempuan itu, Yoyo merasa Bapaknya terlalu baik. Bapak tidak membenci Ibu sama sekali? Sungguh Yoyo tidak tahu terbuat dari apa hati Bapaknya itu.

"Yoyo mau balik ke asrama, Pak! Assalamualaikum!" kata Yoyo sembari mencium punggung tangan sang Bapak.

"Waalikumsalam, hati-hati!" kata Bapak membuat Yoyo yang tengah berjalan menjauh menganggukkan kepala.

Yoyo memutuskan tidak pergi, Ia memilih bersembunyi di salah satu pohon dekat Bapak, dan Ibunya berdiri.

"Kamu baik-baik aja, Kaina?" tanya Bapak lagi terdengar khawatir dan Yoyo mendengarnya.

Perempuan itu tak mendongak sama sekali, hanya terus menunduk sembari tangannya yang bergetar. Ada apa sebenarnya? Kenapa Ibunya terlihat takut untuk menatap Bapak? Entahlah Yoyo memilih fokus mendengarkan saja, ketimbang memikirkan apa alasannya.

"Jangan menanyakan apa aku baik-baik aja atau nggak, Mas! Karena itu bukan urusan kamu meski aku nggak baik-baik aja," saut Ibu, akhirnya Yoyo memilih memanggilnya Ibu ketimbang terus menyebutnya perempuan itu.

Bapak terlihat tertawa getir. Yoyo jadi berpikir apa ini semacam romansa bertepuk sebelah tangan? Mungkinkah ini seperti Reren yang mencoba peduli pada Uji. Namun, Uji hanya bersikap biasa saja? Begitukah?

"Aku cuman nanya kabar kamu! Perkara kamu mau jawab baik ataupun enggak, itu juga nggak akan buat aku dikatakan sebagai seseorang yang berarti dalam hidup kamu!" kini Bapak kembali menyaut, wajahnya tenang seperti biasa.

Ibu terlihat agak tersentak, "Aku baik-baik aja, Mas!" jawab Ibu pada akhirnya.

Bapak terlihat menghela napas, "Bohong!" saut Bapak.

"Kamu nggak tahu, Mas! Jadi jangan menyimpulkan kalau aku berbohong!"

Bapak tertawa getir, "Kalau kamu nggak bohong! Lantas itu apa? Memar biru di pergelangan tangan? Memar biru di dahi kamu? Jangan bohongi aku seperti saat kamu bohong akan meninggalkan Hadi!" jelas Bapak sembari menunjuk pergelangan tangan Ibu yang membiru, dahi yang juga terlihat ada beberapa lebam, meski itu tertutupi poni. Sungguh Yoyo sedari tadi sama sekali tak melihatnya, apa kebencian Yoyo terhadap Ibu sudah terlalu dalam? Sehingga menutupi seluruh kekhawatirannya sebagai anak.

Ibu tercengang, menatap tak percaya bahwa mantan suaminya sejeli itu memerhatikannya.

"Ak-Aku cuma jatuh aja tadi!" kata Ibu membuat manik mata Bapak sepenuhnya menatapnya.

"Jangan bohong sama aku, Kaina! Aku tahu Hadi pasti yang melakukan ini sama kamu kan? Kamu ngapain sampai dia marah?"

Yoyo melebarkan matanya, Hadi? Ah pasti itu suami Ibunya, si perebut istri orang. Memang salah Ibu memilih lelaki itu, dan sangat bodoh menurut Yoyo. Ibu meninggalkan lelaki baik, dan tak pernah main tangan macam Bapak. Hanya demi lelaki bernama Hadi itu yang tempramennya tak baik, dan berani main tangan pada perempuan. Sungguh Yoyo benar-benar makin kecewa pada Ibunya.

"Jawab aku, Na!" kata Bapak sembari menatap Ibu, dengan pandangan terluka. Sungguh Yoyo benar-benar tak paham atas pemikiran sang Ibu, bisa-bisanya Ibu pergi meninggalkan Bapak yang jelas-jelas mencintainya. Oh Tuhan serumit inikah cinta orang dewasa? Sungguh Yoyo jadi benci saat tahu kalau Ia juga pasti akan beranjak dewasa.

Yoyo melihat Ibu hanya diam mematung, sama sekali tak berniat menjawab Bapak.

"Na! Kamu harus bisa bahagia! Tinggalin Hadi, dan cari bahagia kamu! Apa yang membuat kamu bertahan sama lelaki bedebah itu? Apa?" tanya Bapak menatap Ibu yang kini mulai menatapnya, "Hadi punya Apa, Na? Aku kecewa kalau ternyata kamu ninggalin aku demi Hadi bedebah itu, aku kecewa kamu lupain aku demi dia, dan aku juga terluka saat kamu memilih Hadi ketimbang anak kita Yoyo! Aku kira sumpah kita di hadapan Tuhan tidak akan pernah kita ingkari, tapi sayangnya kamu mengingkarinya, cinta yang sehidup semati itu hilang hanya karena bedebah bernama Ha..."

PLAKK...

Terdengar tamparan yang cukup keras, dan Yoyo bisa melihat sudut bibir Bapak mengeluarkan darah. Ibu benar-benar mencintai Hadi ternyata, terbukti Ia tidak terima setelah Bapak berulang kali menyebutnya sebagai lelaki bedebah.

"Jangan pernah menjelek-jelekan Hadi, Mas! Jangan pernah! Kamu nggak tahu dia, jadi nggak perlu menilai dia hanya dari sudut pandang kamu yang terluka, dan kecewa karena aku tinggalkan!" kata Ibu membuat Bapak menatapnya tak percaya. Sungguh Yoyo yang berdiri di balik pohonpun menganga tak percaya.

"Secinta itu kamu sama Hadi? Kurang bukti apa supaya kamu sadar kalau Hadi itu sering nyakitin kamu? Kamu pikir aku nggak tahu kalau Hadi sering main tangan sama kamu? Aku tahu, Na! Banyak dokter yang cerita ke aku! Tapi aku bisa apa? Saat kamu aja nggak pernah mau dengerin aku, kamu cuman mau dengerin Hadi!"

"Karena dia suami aku! Sementara kamu hanya bagian dari masa lalu aku!"

Jawaban Ibu barusan membuat hati Yoyo sakit, semudah itu Ibu mengatakan hal itu? Yoyo benar-benar benci pada Ibu, awalnya Yoyo kira Ia akan memaafkan sang Ibu. Tapi melihat barusan, Yoyo memutuskan akan terus berusaha untuk memotong benang yang terhubung antara Ia dan Ibu. Entah menggunakan apa, tapi Yoyo harus memotongnya agar semua yang terjadi dalam hidupnya tak lagi terhubung dengan benang, yang menghubungkannya dengan sang Ibu.

"Benar! Aku cuman masa lalu kamu! Tapi aku peduli sebagai sesama manusia, jangan kira aku peduli karena cinta! Udah hilang cinta itu entah kemana, sejak kamu bilang mencintai Hadi!" kata Bapak terlihat agak kecewa dan marah menatap Ibu.

"Aku mau kita ke pengadilan buat urus hak asuh anak!" kata Ibu tiba-tiba, yang tentu saja membuat Yoyo melotot tak percaya di balik pohon.

nampak menghela napas, lambat laun akhirnya terjadi juga. Hari di mana Ia harus berebut hak asuh anak dengan mantan istrinya.

"Dulu kamu kemana? Dulu saat Yoyo butuh kamu, sekarang saat dia udah bisa nentuin pilihan hidupnya kamu baru datang, kamu baru muncul dan bilang akan urus hak asuh anak!" kata Bapak menatap Ibu jengkel, "Kamu pikir membesarkan anak itu mudah, Na? Jangan harap kamu bisa mendapatkan hak asuh Yoyo! Aku yang udah besarin dia, dan aku juga yang akan melepas dia suatu hari nanti saat dia akan menikah! Jauhi Yoyo! Dia cuman anakku bukan anakmu!" kata Bapak membuat Yoyo yang berdiri di belakang pohon menatapnya.

"Dia anak aku juga! Kalau kamu nyuruh aku jauhin Yoyo! Itu artinya kamu egois, Mas!"

Bapak tertawa getir lagi, "Egois? Biarin sekali ini aja aku egois, biarin aku egois untuk kali ini, Na! Biarin untuk kali ini aja!" kata Bapak menatap Ibu sedih.

Yoyo yang berdiri di belakang pohon jatuh terduduk, menatap tak percaya semua yang terjadi. Mulai detik ini juga pasti hidupnya tak akan lagi tentram, terlebih setelah mendengar hak asuh anak.

"Aku pergi, Mas! Siapin pengacara untuk sidang!"

Bapak menatap tak percaya pada Ibu, yang kini melangkah meninggalkannya. Bapak kini berjalan dan memilih duduk di bangku taman, terlihat sekali Bapak frustasi.

Yoyo tidak bisa begini, akhirnya Yoyo memilih berlari pergi menjauhi taman kota. Ia benci hidupnya, benar Yoyo sungguh membenci hidupnya yang mengerikan ini.

Hingga saat Yoyo kelelahan berlari, di jembatan utama kota, yang terlihat sepi. Yoyo melihat siluet seseorang yang kelihatan akan melompat dari jembatan. Yoyo tidak mungkin membiarkan orang itu melompat ke sungai, di bawah yang sangat dalam itu. Yoyo berlari menghampiri.

"BERHENTI!" teriak Yoyo membuat seseorang yang akan melompat itu menoleh.

"Yo-Yoyo?"

Sama terkejutnya dengan orang itu, Yoyo jadi membeku di tempatnya.

TBC.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Jadi Saksi Perselingkuhan Suamiku sama Sahabatku
8.3
Perayaan ulang tahun pernikahan kelima Ivana berubah menjadi mimpi buruk yang terekam kamera. Di atas ranjang mereka, Lionel tega memadu kasih dengan Regina, sahabat dekat Ivana. Kejinya, putra kandung Ivana justru berjaga di depan pintu demi menghalangi ibunya masuk. Alih-alih merasa bersalah, Lionel yang muak melihat bekas luka di perut Ivana justru menikmati kemesraan bersama selingkuhannya tanpa memedulikan hancurnya perasaan sang istri.
Sampul Novel Dendam seorang Janda
9.5
Pasca kehilangan suaminya dalam kecelakaan tragis, Mutia justru difitnah oleh keluarga mendiang suaminya atas tuduhan menggoda pria beristri. Ia pun diusir hingga mengalami insiden fatal yang menghancurkan wajahnya. Setelah menjalani operasi rekonstruksi total, Mutia bangkit dengan identitas baru. Kini, ia bertekad mengejar keadilan dan membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya. Ikuti perjuangan berani Mutia menuntut balas.
Sampul Novel En-PD163
8.4
Janna, peneliti berbakat yang hanya peduli pada sains, jatuh hati kepada Kingsley di pusat riset. Setelah perjuangan panjang untuk memilikinya, pernikahan mereka justru hancur saat Kingsley terobsesi mengejar cinta orang lain hingga tega menyakiti Janna. Merasa dikhianati, Janna memilih bercerai dan pergi. Saat Kingsley sadar dirinya hanya dimanfaatkan dan ingin kembali, Janna sudah memulai hidup baru bersama kekasih lain yang mencintainya.
Sampul Novel Gelap Itu Membuatku Salah Pilih Pintu
9.5
Pemadaman listrik mendadak saat mandi memaksa seorang wanita segera mengenakan jubah tidur untuk beristirahat. Namun, keputusan kembali ke kamar dalam kondisi gelap gulita justru berujung pada kekeliruan fatal. Alih-alih kamarnya sendiri, ia justru salah melangkah masuk ke dalam kamar keponakannya. Sebelum sempat menyadari situasi, sepasang tangan kokoh tiba-tiba mendekapnya dengan sangat erat dari belakang, memicu ketegangan dan misteri yang mengubah malam sunyi itu sepenuhnya.
Sampul Novel Pengantin Palsu Ceo Arogan
8.3
Demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit jiwa, Nayla Putri Anissa terpaksa menyamar sebagai pengantin pengganti. Ia menggantikan putri majikannya yang kabur tepat sebelum pernikahan dimulai. Dengan wajah tertutup masker, Nayla harus mengikuti skenario rumit demi menghadapi Arga Dewantara, CEO muda yang dikenal sangat dingin dan arogan. Mampukah Nayla menjaga rahasia ini saat ijab kabul berlangsung, ataukah Arga akan segera menyadari tipu daya di balik cadar tersebut?
Sampul Novel Perjanjian Rahim
9.6
Terhimpit kebutuhan, Calista menyewakan rahimnya kepada Darian demi imbalan besar. Rencana gila ini dipicu oleh Mireya, sahabatnya sekaligus kekasih Darian, yang enggan memiliki anak. Calista awalnya yakin hubungan mereka murni bisnis demi uang. Namun, kehamilan tersebut justru menumbuhkan perasaan terlarang di antara Calista dan Darian. Situasi kian rumit saat sisi gelap Mireya terungkap, mengubah kontrak rahim ini menjadi konflik emosional yang penuh risiko.