Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benang yang Tak akan Pernah Putus

Benang yang Tak akan Pernah Putus

Kaiyo Wrasasana terus berjuang melenyapkan sosok ibu yang seharusnya dicintai dari kehidupannya. Ia bertekad memutus segala ikatan yang menghubungkan mereka, meski harus menggunakan cara yang paling menyakitkan sekalipun. Namun, sekeras apa pun Yoyo mencoba, benang takdir di antara mereka tetap tak tergoyahkan. Tanpa disadari, upaya kerasnya untuk lepas justru melukai sang ibu dan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam bagi dirinya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 3

"BERHENTI! WOYY!" teriak Yoyo membuat seseorang yang akan melompat itu menoleh.

"Yo-Yoyo?"

Sama terkejutnya dengan orang itu, Yoyo jadi membeku di tempatnya.

"Lo ngapain di sini, Werkudara?" tanya Yoyo menatap lelaki yang kini sudah turun dari jembatan.

Lelaki itu adalah Werkudara, seseorang yang Yoyo ketahui sebagai anak kelas TKR. Yoyo kenal dengan Werkudara cukup dekat, sebab keduanya merupakan teman SMP dan kebetulan Yoyo pernah satu kelas dengannya.

"Gu-gue..."

Yoyo nampak menghela napas, "Lo mau loncat, Wer?" tanya Yoyo yang kini menatap langit.

Terlihat Werkudara wajahnya memucat, bulir keringat mulai turun dari dahinya.

"Ja-jangan bilangin Hasa, Yo! Gue mohon!" kata Werkudara menatap Yoyo memohon.

Yoyo tentu saja tahu, tahu semua tentang Hasa dan Werkudara yang ternyata bersaudara.

"Kenapa lo lakuin ini, Wer? Gimana kalo Hasa tau? Lo pasti abis di pukul sama dia," tanya Yoyo menatap Werkudara yang kini menunduk.

Yoyo tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Werkudara, Ia hanya tahu Werkudara memang tidak berhubungan baik dengan Hasa Kakaknya. Ya Yoyo hanya tahu itu saja, selebihnya Ia tidak pernah mencoba mencari tahu, sebab setiap orang punya privasi dan Yoyo tidak bisa memaksa Werkudara maupun Hasa untuk menceritakan padanya.

"Gue takut, Yo! Gue takut!"

Yoyo jadi sepenuhnya menatap Werkudara, takut? Takut apa? Entahlah Yoyo jadi bingung menatap Werkudara. Apa yang sebenarnya membuat Werkudara takut? Apa yang sebenarnya terjadi pada lelaki ini?

"Lo takut? Kalo lo takut seharusnya lo nggak mencoba untuk loncat dari jembatan ini, Wer! Gila lo emang!" kata Yoyo setengah memarahi Werkudara. Werkudara memang lebih muda dari Hasa, begitupun dari Yoyo. Maka, alhasil Werkudara sering kali seperti seorang adik bagi Yoyo.

"Gue takut pulang ke rumah!"

Apa ini? Takut pulang ke rumah? Yoyo makin tak habis pikir, tak mengerti sebenarnya apa maksud takut dari Werkudara.

"Gue nggak paham, Wer!" kata Yoyo menghela napas.

"Iya nggak ada yang paham sama gue termasuk diri gue sendiri, Yo!"

Yoyo menghela napas, memilih mendekat ke jembatan. Melongok sungai di bawah yang memang dalamnya bermeter-meter.

"Kalau lo sendiri nggak paham! Gimana ceritanya orang lain bakal paham sama diri lo, asal lo tau Wer! Di dunia ini yang paham sama diri lo ya diri lo sendiri, nggak ada yang lain. Mau sedekat apapun orang lain sama lo, mereka nggak akan lebih baik dalam mengenal diri lo ketimbang diri sendiri!" kata Yoyo membuat Werkudara mendongak menatap langit malam ini.

"Gue sering kali mencoba memahami diri sendiri! Berusaha mencintai diri gue sendiri, tapi sering kali usaha itu di gagalkan atas kata-kata Papa ke gue, Papa sering marah-marah lewat telepon ke gue. Bilang kalo seharusnya gue emang nggak pernah lahir ke dunia, kalo seharusnya gue mati aja. Lantas apa hal itu nggak bikin gue makin menolak mencintai diri sendiri? Gue makin merasa bersalah karena telah di lahirkan, gue juga semakin merasa bersalah ke Hasa," tutur Werkudara membuat Yoyo menepuk bahu sahabatnya menyemangati.

"Bukan salah lo, Wer! Bukan salah lo ketika lo ada dan lahir di dunia, kalau bisa mungkin gue yakin lo akan menolak untuk lahir, menolak untuk ada di dunia! Tapi Tuhan itu punya rencana bagus, salah satunya dengan menghadirkan lo di hidup Papa lo, Mama lo, dan Hasa."

Werkudara menatap Yoyo dengan senyum getir, "Gue nggak pernah bisa berharap bahwa mereka akan menerima gue! Terbukti Papa selalu mukulin gue, Hasa yang selalu nyebut gue anak haram, cuman Mama dan Papanya Hasa yang peduli sama gue. Tapi sekali lagi gue harus sadar diri, kalo gue emang nggak diinginkan kehadirannya sama sekali," kata Werkudara yang kini mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

"Sejak kapan lo mimisan?" tanya Yoyo setelah melihat Werkudara mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, dan ternyata untuk menghapus darah yang keluar dari rongga hidung lelaki itu.

Werkudara tidak menjawab, memilih fokus membersihkan darah mimisannya.

"Lo sakit, Wer? Apa mereka tau lo sakit?" tanya Yoyo membuat Werkudara yang tengah fokus terbahak seketika.

"Hahahha, gue kan udah bilang, Yo. Nggak ada yang paham sama gue, maka meskipun gue sakit nggak akan ada yang tahu, dan menyadari itu!" jelas Werkudara membuat Yoyo menyernyit.

"Lo nggak bilang sama Mama lo? Atau sama Hasa?"

Werkudara terkekeh, "Nggak! Toh gue pengen ngasih kejutan buat mereka semua! Kejutan kematian gue!" kata Werkudara membuat Yoyo menatapnya heran.

"Jangan ngomong begitu! Lo nggak boleh ngomongin mati, di saat hati lo lagi nggak baik-baik aja, dengan mati nggak akan buat lo berhenti sakit, Wer. Terlebih waktu lo mau mati mendahului takdir, mungkin sakit di dunia akan hilang, tapi di akhirat justru rasa sakitnya akan bertambah berkali-kali lipat!"

Werkudara menatap Yoyo, "Lo boleh ngomong begitu, Yo. Karena apa? Karena lo belum pernah jadi gue, hidup lo terlalu mulus. Sedangkan gue? Buat napas aja rasanya gue terlalu berdosa, dan bersalah!" kata Werkudara dan berjalan pergi meninggalkan Yoyo yang termangu.

"Hidup gue mulus? Lo salah, Wer! Kita semua punya masalah masing-masing, tapi orang yang memang nggak pernah jadi kita, memang akan selalu menjudge dari sudut pandang yang menyenangkan, tanpa melihat sudut pandang sesungguhnya dari kita sendiri!" monolog Yoyo masih melihat punggung Werkudara, yang makin menjauh dari pandangan.

Andai saja Yoyo bukan sosok manusia, yang suka menyembunyikan keadaannya. Mungkin Ia akan dengan senang hati membeberkan semua masalahnya pada seluruh dunia, membiarkan dunia menatapnya sedih, membiarkan seluruh dunia mengasihaninya seperti seorang miskin, membiarkan seluruh dunia menatapnya iba. Sungguh bisa saja Yoyo melakukan itu, tapi sekali lagi Ia masih yakin bahwa Tuhan adalah pemilik solusi terbaik, masalah dalam hidupnya pasti akan berangsur selesai, tanpa harus Ia beberkan pada seluruh dunia.

***

Kamis

09.30

Hari libur.

Yoyo tengah berdiri mengantre di sebuah supermarket, dengan wajah kesal. Terlebih setelah beberapa kali antreannya di serobot orang. Ingin marah, tetapi Ia ingat kalau di sini banyak CCTV bisa-bisa Ia jadi viral.

"YOYO!" teriakan dari seseorang membuat Yoyo menoleh. Dan mendapati Arep tengah tersenyum melambaikan tangan ke arahnya.

"Idih! Jangan bikin gue keserobot lagi dah," saut Yoyo agak sewot, pasalnya beberapa waktu lalu Yoyo sempat tak fokus, dan berakhir antreannya di serobot orang lain. Kesal sekali rasanya, tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin Yoyo membuat keributan, sementara si penyerobot sudah keluar dari supermarket. Yang ada Ia yang malu dan harus membayar denda akibat membuat keributan di tempat umum.

"Ye ileh! Gue di belakang lo! Nggak bakalan ada yang nyerobot!" kata Arep menepuk bahu Yoyo. Memang sedari tadi Arep berdiri mengantre di belakang Yoyo, tanpa lelaki itu sadari.

"Iye iye dah! Beli apaan lu, Rep?" tanya Yoyo masih menghadap ke depan, membuat Arep mendengus. Memangnya Arep ada di depan apa? Padahal jelas-jelas Arep di belakang Yoyo.

"Lo ngomong ama gue apa depan lo?" tanya Arep agak sewot.

"Ama lo lah!"

"Orang lu ngomong madep depan! Gue kan posisi di belakang lu! Apa mau sherlock aja, Yo?" tanya Arep meringis membuat Yoyo menoleh ke arahnya.

"Dih dih! Gue tuh takut kalo nggak fokus ke depan, ntar di serobot. Udah lama ngantre gue tuh," jelas Yoyo sewot.

TBC.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MBY" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MBY
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Jadi Saksi Perselingkuhan Suamiku sama Sahabatku
8.3
Perayaan ulang tahun pernikahan kelima Ivana berubah menjadi mimpi buruk yang terekam kamera. Di atas ranjang mereka, Lionel tega memadu kasih dengan Regina, sahabat dekat Ivana. Kejinya, putra kandung Ivana justru berjaga di depan pintu demi menghalangi ibunya masuk. Alih-alih merasa bersalah, Lionel yang muak melihat bekas luka di perut Ivana justru menikmati kemesraan bersama selingkuhannya tanpa memedulikan hancurnya perasaan sang istri.
Sampul Novel Dendam seorang Janda
9.5
Pasca kehilangan suaminya dalam kecelakaan tragis, Mutia justru difitnah oleh keluarga mendiang suaminya atas tuduhan menggoda pria beristri. Ia pun diusir hingga mengalami insiden fatal yang menghancurkan wajahnya. Setelah menjalani operasi rekonstruksi total, Mutia bangkit dengan identitas baru. Kini, ia bertekad mengejar keadilan dan membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya. Ikuti perjuangan berani Mutia menuntut balas.
Sampul Novel En-PD163
8.4
Janna, peneliti berbakat yang hanya peduli pada sains, jatuh hati kepada Kingsley di pusat riset. Setelah perjuangan panjang untuk memilikinya, pernikahan mereka justru hancur saat Kingsley terobsesi mengejar cinta orang lain hingga tega menyakiti Janna. Merasa dikhianati, Janna memilih bercerai dan pergi. Saat Kingsley sadar dirinya hanya dimanfaatkan dan ingin kembali, Janna sudah memulai hidup baru bersama kekasih lain yang mencintainya.
Sampul Novel Gelap Itu Membuatku Salah Pilih Pintu
9.5
Pemadaman listrik mendadak saat mandi memaksa seorang wanita segera mengenakan jubah tidur untuk beristirahat. Namun, keputusan kembali ke kamar dalam kondisi gelap gulita justru berujung pada kekeliruan fatal. Alih-alih kamarnya sendiri, ia justru salah melangkah masuk ke dalam kamar keponakannya. Sebelum sempat menyadari situasi, sepasang tangan kokoh tiba-tiba mendekapnya dengan sangat erat dari belakang, memicu ketegangan dan misteri yang mengubah malam sunyi itu sepenuhnya.
Sampul Novel Pengantin Palsu Ceo Arogan
8.3
Demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit jiwa, Nayla Putri Anissa terpaksa menyamar sebagai pengantin pengganti. Ia menggantikan putri majikannya yang kabur tepat sebelum pernikahan dimulai. Dengan wajah tertutup masker, Nayla harus mengikuti skenario rumit demi menghadapi Arga Dewantara, CEO muda yang dikenal sangat dingin dan arogan. Mampukah Nayla menjaga rahasia ini saat ijab kabul berlangsung, ataukah Arga akan segera menyadari tipu daya di balik cadar tersebut?
Sampul Novel Perjanjian Rahim
9.6
Terhimpit kebutuhan, Calista menyewakan rahimnya kepada Darian demi imbalan besar. Rencana gila ini dipicu oleh Mireya, sahabatnya sekaligus kekasih Darian, yang enggan memiliki anak. Calista awalnya yakin hubungan mereka murni bisnis demi uang. Namun, kehamilan tersebut justru menumbuhkan perasaan terlarang di antara Calista dan Darian. Situasi kian rumit saat sisi gelap Mireya terungkap, mengubah kontrak rahim ini menjadi konflik emosional yang penuh risiko.