
Belenggu Cinta Tuan Muda
Bab 3
"Nara, tolong bantu ibu bersihkan kamar tuan muda Axel, ya? Ibu harus menyiapkan sarapan untuknya berangkat sekolah."
Nara yang baru saja tinggal beberapa hari di tempat kerja ibunya, yang merupakan seorang pembantu rumah tangga di rumah keluarga Axel, dengan enggan menuruti perintah sang ibu.
Sebentar lagi dia harus berangkat sekolah karena letak rumah majikan ibunya membuat jarak antara sekolahnya menjadi lebih jauh, sehingga Nara pun perlu berangkat pagi-pagi agar tak terlambat.
Mau bagaimana lagi, dia harus menjalankan perintah ibunya ini jika ingin tetap tinggal di sini.
Rumahnya yang lama sudah disita bank karena hutang sang ibu yang tak sanggup untuk membayar.
Ibu Nara meminta kepada majikan tempatnya bekerja untuk membawa Nara tinggal bersama karena tak ada uang untuk membayar kontrakan sekaligus biaya sekolah putrinya, majikan ibu Nara setuju tapi dengan syarat, Nara harus ikut-ikut bantu-bantu tanpa dibayar.
Nara tanpa mengatakan apa pun, beranjak ke kamar tuan muda Axel seperti perintah ibunya.
Axel adalah putra tunggal keluarga ini, pewaris satu-satunya untuk kekayaan keluarga yang luar biasa.
Sayangnya, karena pernikahan kedua orang tuanya adalah pernikahan politik, setelah menikah mereka mempunyai kekasih masing-masing, sehingga jarang pulang ke rumah.
Axel biasanya tinggal sendiri di rumah besar ini, usianya sekitar satu tahun lebih tua dari Nara yang kini kelas satu SMA.
Nara belum pernah melihat dirinya semenjak pindah ke sini, karena Nara tak berani keluar dari kamar ibunya yang terletak di bangunan belakang, dekat dapur.
Kini, dia berencana untuk membersihkan cepat-cepat kamar tuan mudanya tersebut dan langsung bersiap untuk berangkat sekolah.
Nara sudah mandi dan rapi, dia mengerang pelan saat membayangkan harus bersih-bersih kamar sampai berkeringat sehingga harus mandi lagi dan itu memakan waktu yang cukup lama.
Gadis itu masuk ke kamar yang tak dikunci itu, berniat membersihkan tempat tidur terlebih dahulu.
Namun, ternyata masih ada orang di atasnya, apakah itu tuan muda Axel?
Nara menjadi ragu apakah harus mundur atau menunggu tuan mudanya pergi dari tempat tidur
Tapi ini sudah cukup siang, kenapa tuan muda masih belum bangun? Apakah dia harus membangunkan dia agar tidak terlambat sekolah?
"Mungkin aku harus membangunkan dia, ini demi kebaikannya juga."
Nara akhirnya mengambil keputusan untuk membangunkan Axel agar dia bisa segera pergi ke sekolah dan menyelesaikan pekerjaannya.
"T-tuan muda, Anda harus bangun untuk pergi ke sekolah."
Nara memberanikan diri menggoyang pelan pundak Axel, mata laki-laki muda itu tertutup lengan, jadi Nara tidak tahu apakah Axel saat ini sebenarnya sudah bangun atau masih tidur.
Dengan gerakan tiba-tiba, Axel menyingkirkan lengannya dari menutupi mata dan mata pria muda itu seketika menyipit saat pertama kali bertatapan dengan Nara.
"Siapa kau?"
Tatapan Axel penuh curiga, dia memandang Nara dengan marah dan jijik seakan-akan sedang melihat pencuri.
Tubuh Nara langsung menegang hanya karena tatapan dingin tuan muda rumah ini, menggenggam tangannya dengan erat.
"S-saya, putri dari Amanda."
Meski sedikit tergagap,Nara berhasil menyebutkan nama ibunya, yang merupakan pembantu di keluarga ini sejak beberapa tahun yang lalu.
Anehnya, Axel mengerutkan kening kalau nama Amanda menyapa telinga, lalu menatap Axel dari bawah ke atas dengan pandangan menyelidik.
Nara berdiri kaku dengan menahan napas karena suasana tegang ini.
"Boleh minta bantuan sebentar?"
Tiba-tiba, setelah terdiam lama dan seperti meneliti Nara, Axel membuka suara.
Nara menatap takut-takut pada Axel, bertanya-tanya lewat tatapan mata apa yang diminta oleh Axel darinya.
"Tidak bisa nanti aja, Tuan Muda? Saya sudah harus membersihkan kamar," tolak Nara dengan suara gemetar karena tatapannya yang tajam menghunjam seperti sanggup membelah tubuh Nara menjadi dua.
'Aku bisa terlambat sekolah nanti', tambah Nara dalam hati.
Dia sebenarnya takut menolak membantu Axel, tapi ini sudah cukup siang.
Namun, Axel langsung menggeleng, dahinyamengernyit sedikit seperti tengah menahan sakit.
"Tidak bisa. Aku butuh bantuanmu sekarang juga," tegas Axel dengan nada penuh urgensi yang nyata.
"Bantuan apa itu, Tuan muda?"
Dia butuh apa memangnya sampai terlihat begitu tergesa-gesa?
Axel tak menjawab tapi memegang leher bagian belakang, tak menyembunyikan ekspresi kesakitan di wajahnya.
Hal itu membuat Nara sedikit tak enak karena tak tega melihat tuan mudanya yang seperti sedang kesakitan.
"Aku sepertinya salah bantal semalam, leher rasanya nyeri sekali. Kau bisa membantuku memijatnya sebentar?"
Nara memandang kasihan pada remaja tampan yang sedang mnengerang pelan tersebut.
Apakah karena itu dia sampai sekarang belum bangun dari tidurnya?
Kasihan sekali.
"Oke."
Tanpa pikir panjang, Nara pun duduk di samping Axel yang kini berbaring telungkup.
Sejujurnya Nara saat ini cukup percaya diri dengan keahliannya memijat, dia biasanya diminta sang ibu memijat saat sedang lelah, karena itu dia pun merasa percaya diri untuk membuat Axel sembuh dari salah bantalnya.
Axel tersenyum misterius melihat persetujuan dari Nara dan menyembunyikan tawa jahatnya dengan kepolosan gadis muda putri Amanda tersebut.
'Dia lumayan cantik dan masih polos, mengerjainya sedikit sepertinya menyenangkan', bisik Axel dalam hati dengan senyum sinis.
Axel yang kini berbaring telungkup di ranjangnya, menunjuk leher belakangnya untuk dipijat.
Nara yang tak tahu niat jahat Axel, duduk di sampingnya dan mulai memijat leher putih remaja tampan yang merupakan seorang tuan muda tersebut.
"Apakah kau perlu dinyalakan lampunya? Atau dibuka tirainya?" tawar Nara yang canggung karena baru pertama kali bertemu, dia langsung diminta untuk memijat.
Mungkin karena cuaca mendung di luar, kamar Axel saat ini masih gelap gulita padahal ini sudah pukul enam.
"Tidak usah."
"Oke."
Nara pun melanjutkan pijatan sambil melamun, sejujurnya hati Nara sedikit bergetar melihat ketampanan Axel, tapi dia juga sedikit gugup saat memijat leher putra tunggal majikan ibunya tersebut.
"Hey, kau."
Tiba-tiba Axel memanggil.
"Ya? Apakah lehermu sudah baikan, Tuan Muda?" tanya Nara dengan penasaran.
Namun, Axel tidak menjawab, malah duduk sehingga mereka pun berhadapan. Secara aneh, Nara merasa semakin gugup.
Di sekolahnya tak ada laki-laki setampan Axel, bahkan hanya dengan melihat sekilas, Axel seperti seseorang yang beda level dengan dirinya, itulah kenapa Nara merasa begitu gugup saat duduk berhadapan seperti ini.
"Ada lagi bagian yang sakit, sakit sekali rasanya sampai aku tak tahan dan tak bisa berdiskusi. Kau mau membantu memijatnya atau tidak?"
Wajahnya terlihat kuyu saat menanyakan hal itu, ucapan Axel terdengar sangat meyakinkan saat dia bilang sedang sakit.
"Mana lagi yang sakit, Tuan muda? Apakah itu bagian kepala?"
"Bukan."
"Pundak?"
Lagi-lagi Axel menggeleng, sehingga Nara pun semakin bingung.
"Lalu di mana, punggung?"
Axel masih menggeleng, Nara mencoba menebak-nebak di mana letak sakit Axel sampai tak bisa berdiri seperti ini.
"Lalu sebelah mana?"
Akhirnya dia menyerah dan bertanya.
Kali ini Axel meraih tangan Nara dan dengan pelan mengarahkannya ke sesuatu di antara kedua paha remaja tampan tersebut.
"Ini. Sakit sekali."
Dia dengan tanpa malu mengatakan hal itu.
Sementara tangan Nara kini menyentuh sesuatu yang sangat keras dan panas di antara kedua paha Axel, dia terkejut bukan main sampai kedua matanya terbelalak lebar.
"Ap-apa ini? K-kenapa bisa se-sekeras ini, Tuan muda?"
Nara baru pertama kali ini melihat barang pribadi milik pria, dia benar-benar tak tahu jika benda itu, bisa sekeras dan sepanjang ini!
Axel malah mengendikkan bahu dengan wajah polos, serta sedikit kesakitan. Dia dengan sengaja menahan tangan Nara yang hendak menjauh, menggenggam kannya di sana.
"Kau mau memijatnya sedikit biar lemas, 'kan? Kalau sudah lemas, nanti tidak akan sakit lagi rasanya," ucap Axel dengan suara meyakinkan.
"T-tapi ini b-bagian sensitif, kan? Aku–aku–"
Nara berusaha kembali menarik tangannya yang segera ditahan oleh Axel, remaja itu malah menarik resleting celananya dan mengeluarkan sesuatu yang sangat besar dan berotot dari dalam sana.
Tangan Nara mendadak dingin dan gemetaran ketika dibimbing Axel untuk menyentuh sebuah benda panas bertekstur aneh tapi sekeras kayu itu.
Bagaimana seorang anak laki-laki bisa memiliki benda sebesar ini dibalik celana mereka? Dan kenapa Axel bilang sakit saat keras begini? Melissa tak pernah melihat milik laki-laki kecuali milik bayi.
"Tolong pijat bagian ini, aku sudah tak tahan lagi dengan sakitnya, aku sampai mau mati rasanya."
Mata Nara lagi-lagi membelalak lebar mendengar permintaan Axel yang tanpa malu tersebut, tatapannya kosong ketika terarah pada barang milik Axel yang mengacung ke atas di depannya.
"Di-dipijat?"
Bodohnya, dia malah bertanya.
Dan Axel dengan santai pun mengangguk.
"Iya, seperti ini."
Axel mengarahkan kedua tangan Nara untuk menggenggam benda besar yang sedikit aneh itu dan berkelenjar itu, membimbingnya naik turun ke atas dan ke bawah.
"T-Tuan muda, ini–"
"Secara tidak tertulis, aku juga majikanmu, jadi tolong lakukan saja perintahku," potongnya dengan mata terpejam seperti menikmati sentuhan Nara yang sedang kebingungan.
Tangannya gemetaran saat terus memijat benda milik Axel yang tak mengendur sedikit pun tersebut, tapi rasanya malah semakin keras, Nara benar-benar kebingungan dan tak mengerti dengan apa yang dilakukannya sekarang.
Sakit apa tuan mudanya ini, sampai bisa sebesar ini? Apakah tidak apa-apa hanya dipijat seperti ini? Bukankah ini sakit keras?
Nara ingin bertanya apakah dia perlu dipanggilkan dokter, tapi melihat Axel yang terlihat begitu fokus sambil memejamkan mata, dia tak berani membuka mulutnya....
Nara kini hanya bisa terus melakukan apa yang diperintahkan tanpa berani melihat ke arah Axel, sementara Axel melirik Nara dengan ekspresi sinis dan dingin, kebencian memenuhi mata Axel ketika tatapannya terarah pada Nara.
"Dia bilang putri Amanda? Haaa, gadis ini anak pelacur itu rupanya."
Anda Mungkin Juga Suka





