Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Become True

Become True

Gadis berlesung pipi itu tertegun saat sebuah suara berat yang sangat ia rindukan tiba-tiba memanggilnya. Meski air mata kembali membasahi pipinya dengan deras, kali ini ada binar kebahagiaan yang terpancar. Sosok yang selama ini ia nantikan dalam doa dan harapan akhirnya benar-benar berdiri tepat di hadapannya. Pertemuan tak terduga ini membawa kembali kenangan lama yang sempat hilang. Dia telah kembali, mewujudkan segala impian yang selama ini dipendam.
Bab
Bagikan

Bab 1

Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. 

Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini. Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju puncak gedung selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa.

Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan. 

Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat. Ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya. 

Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Namun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. 

Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.

Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.

Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini.

Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. 

Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak kecil.

" Jadi ini kerjaan lo?" Hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?

" Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?" kesalnya dengan tatapan marah.

" Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?" 

Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.

" Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun."

Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.

" Pada ngapain?" tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekat miliknya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.

" Kak Adam," seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. 

Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.

Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu.

Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat.

Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan. 

" Medina. Pulang," Itu bukan ajakan, itu perintah.

Medina reflek memutar badannya," Ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar," sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. " Dia tu...," Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.

" Iya...iya...aku pulang." 

Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya.

Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.

" Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu," rengek Medina.

" Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari."

" Kak...,"

" Diam."

Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu.

Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.

" Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya."

" Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin," tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10. 

" Bukannya gitu, aku cuma-," ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.

Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih. 

" Kak, Nando itu emang rese'. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera," Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.

" Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu."

" Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri."

" Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese'."

" Tapi, Kak-,"

" Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu."

Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing. Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak.

Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapi percuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.

" Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi," tegas Adam dengan tatapan dingin.

" Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang."

Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak. 

Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.

" Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang," titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan.

Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.

" Baru tahu gue, kalau 'macan kampus' punya pawang."

Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.

" Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?" tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.

" Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah." Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.

Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina," Nando!!" 

Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri. 

Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. 

Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur. 

Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya. 

Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.

Terkadang, cinta itu keras kepala.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Sang Paranormal
8.6
Intan adalah desainer sukses yang terlalu fokus berkarier hingga melupakan asmara. Di usia 30 tahun, status lajangnya memicu gunjingan tetangga dan tekanan dari sang ibu, Sukma. Merasa terbebani, Intan mencurahkan kegelisahannya pada Luna. Melihat sikap dingin Intan pada pria, Luna curiga sahabatnya itu terkena pengaruh sihir dan menyarankannya mencari pengobatan alternatif. Benarkah ada kekuatan gaib yang menghambat jodoh Intan selama ini?
Sampul Novel Cinta Bukan Sepenggal Dusta
8.0
Bagi Mary Aram, paras cantik dari muara Mua bukanlah berkah, melainkan penjara yang membelenggu hidupnya. Ia terjebak dalam pusaran keserakahan dan kelicikan orang-orang di sekitarnya yang menjadikannya sekadar boneka tanpa kehendak. Namun, di tengah penderitaan tersebut, Mary menyadari bahwa cinta sejati bukanlah kebohongan belaka. Kekuatan itulah yang memacunya untuk bangkit dan berjuang demi mempertahankan martabat serta hak atas hidupnya sendiri.
Sampul Novel Istri Memalukan
9.7
Bagi Yudha, istri hanyalah simbol status untuk menunjukkan kesuksesannya sebagai manajer. Namun, penampilan Yasmin saat acara pengukuhannya justru dianggap memalukan, hingga Yudha tega mengusirnya sebelum pesta dimulai. Di tengah keretakan hubungan mereka, muncul sosok wanita penggoda yang mulai mendekati Yudha. Akankah Yasmin tetap bertahan dalam pernikahan yang hambar ini, ataukah kehadiran orang ketiga akan mengakhiri segalanya selamanya?
Sampul Novel Karma Terbalut Cinta
9.5
Airin Zafira, pebisnis hotel yang berjaya, menyembunyikan rahasia masa lalu yang suram. Putrinya, Sandrina Ayu Dewi, tumbuh menjadi gadis pintar namun kurang kasih sayang karena dibesarkan sang nenek di luar negeri. Saat kembali ke tanah air, Sandrina bertemu seorang pria dewasa yang memicu bencana besar bagi kehidupan mereka. Kisah ini mengungkap bagaimana karma dan luka lama kembali menghantui hubungan ibu dan anak tersebut di tengah dunia modern.
Sampul Novel Kisahku Berakhir Di Pusara
8.2
Dua insan yang terikat kekeluargaan ini mulanya saling menyayangi hingga sebuah perjodohan direncanakan. Namun, salah satunya memilih ingkar demi mengejar cinta lain, memicu keretakan hubungan mereka. Di tengah ujian berat, pencarian kebahagiaan sejati tetap berlanjut. Saat perasaan akhirnya bertaut kembali, musibah besar justru datang melanda. Diangkat dari kisah nyata yang penuh duka, akankah takdir menyatukan mereka atau justru berakhir di pusara?
Sampul Novel Nabrak Jodoh
9.8
Dunia Radit hancur saat memergoki pengkhianatan istrinya tepat di hari jadi pernikahan mereka. Dalam kalutnya amarah, ia tak sengaja menabrak wanita hamil hingga harus membawanya ke rumah sakit. Namun, kejutan besar menanti saat pihak medis menghubunginya untuk menjemput bayi yang diklaim sebagai anaknya. Radit yang baru resmi bercerai dan tak memiliki keturunan pun bingung. Siapakah sebenarnya wanita serta bayi misterius yang kini dikaitkan dengan identitasnya?