Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Become True

Become True

Gadis berlesung pipi itu tertegun saat sebuah suara berat yang sangat ia rindukan tiba-tiba memanggilnya. Meski air mata kembali membasahi pipinya dengan deras, kali ini ada binar kebahagiaan yang terpancar. Sosok yang selama ini ia nantikan dalam doa dan harapan akhirnya benar-benar berdiri tepat di hadapannya. Pertemuan tak terduga ini membawa kembali kenangan lama yang sempat hilang. Dia telah kembali, mewujudkan segala impian yang selama ini dipendam.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Harusnya lo tu bersyukur punya saudara kayak kak Adam, Na." Komentar Nina langsung menembus pendengaran Medina usai dia mengakhiri ceritanya tentang kejadian kemarin sore.

Bahkan ia juga masih merasa kesal karena tidak berhasil membalas perlakuan Nando semalam, karena entah ada angin apa, Adam kembali ke rusun dan menyeretnya pulang. 

Hari masih sangat pagi untuk kedua anak manusia ini menampakkan diri di kampus. Jika bukan karena sudah mendapat surat peringatan lantaran selalu bolos kuliah. Dua gadis berambut panjang beda karakter ini pasti lebih memilih bertahan dibawah selimut hingga siang bolong. 

Nina itu sahabat Medina sejak SMP, dia feminim. Kemana – mana selalu mengenakan minidress, bahkan itu juga jadi outfit andalannya saat ke kampus, walau sudah berkali – kali di tegur pihak kampus untuk mengenakan pakaian yang lebih santun, gadis berkulit putih pucat itu tak kunjung menurut.

Pada dasarnya gadis yang lahir dari keluaga kaya raya ini punya tingkat kebandelan yang sama dengan Medina. Mungkin...itu yang membuat mereka bisa menjadi sahabat cukup lama. Entahlah.

" Kak Adam itu, udah ganteng, baik, pinter, shalatnya rajin, dan tipe cowok yang ngejaga adeknya banget. Pokoknya kak Adam itu kalau menurut gue-,"

" Manusia tanpa cela," sela Medina yang sudah hafal dengan kata – kata Nina jika sedang memuji kakak semata wayangnya itu.

Ya, bukan hanya Nina bahkan seantero kampus menyebut Adam sebagai mahasiswa terbaik dan terpopuler yang pernah ada.

Apa Medina bangga? Tentu. Tapi ia juga sedikit kesal, kenapa dirinya tidak bisa jadi seperti kakaknya? Kenapa tidak ada satupun sifat baik dan secuil kecerdasan kakaknya yang menempel padanya?

Padahal umur mereka hanya terpaut 2 tahun. Tapi kenapa tak ada satupun sifat kakaknya yang menurun padanya?  Apa Medina anak pungut? Ah...tidak. Tidak. Semua orang bilang jika wajah mereka mirip, Apalagi iris mata hitam dan sorot mata teduh yang mereka miliki. Sungguh mirip.

" Kak Medina ya?" panggilan seseorang memecah lamunan Medina.

Bukan Nina melainkan cewek berpakaian putih abu – abu, berwajah imut dengan rambut tergerai indah kini berdiri tepat di sisi meja yang ia dan Nina tempati. 

" Lo siapa?" tanya Medina dengan alis bertaut. Heran, kenapa remaja SMA ini bisa ada di kantin kampusnya.

" Aku, Lia kak. Aku mau nitip ini buat kak Adam," ungkap gadis berponi ini sambil menyodorkan coklat berbentuk hati yang sudah di bungkus rapi bahkan di ikat dengan pita berwarna pink terang.

" Woah...nggak nyangka ternyata kepopuleran kak Adam tersebar hingga ke luar kampus," seru Nina kegirangan sendiri. Medina yang melihat hanya memutar bola matanya malas.

" Kakak adiknya kak Adam kan? Aku titip ini buat dia, hari inikan valentine. Aku mau kak Adam tahu perasaan aku di hari kasih sayang ini," papar Lia dengan senyum semringah.

Bukannya senang mendapati kakaknya punya penggemar cantik dan di beri coklat di hari valentine, Medina malah berdecih dengan wajah kesal," Eh dengar ya adek manis nan unyu, kakak gue nggak ngerayain valentine, dan dia nggak suka coklat," beber Medina sambil mengambil coklat yang tadi Lia sodorkan.

" Tapi kenapa coklatnya tetap di ambil, kak?" tanya Lia takut – takut.

" Kakak gue nggak suka coklat. Tapi gue suka. Terima kasih ya." Medina dengan santainya membuka bungkus coklat dan kemudian memakannya. Jangan lupakan Nina si penggila coklat yang juga turut larut menikmati coklat bermerk mahal itu.

" Ta – tapikan kak, itu buat Kak Adam." Lia tampak hampir menangis gara – gara ulah Medina yang seenaknya.

" Gue Medina. Gue adiknya. Anggap aja lo udah ngasih coklatnya ke Kak Adam. Toh...kalau lo kasih dia, ujung – ujungnya bakal di makan sama gue juga." Medina bersikap semakin menyebalkan.

" Tahu nih, lo bawel banget sih. Pulang sono," usir Nina terang -  terangan, sebenarmya ia bukan tipe cewek yang kasar. Hanya saja jika itu berkaitan dengan merebut perhatian Adam, ia tidak suka.

Sekedar informasi Nina memang sudah menyukai Adam sejak ia mengenal Medina, tapi ia tak pernah punya kesempatan mendekati laki – laki itu lantaran kegalakan Medina yang berusaha melindungi kakaknya dari cewek – cewek genit nan menyebalkan. Menurut Medina, Nina salah satunya.

Remaja SMA berwajah manis itu, beranjak pergi dengan perasaan kesal. Reputasi Medina yang terkenal biang rusuh dan seganas macan, membuatnya urung memperpanjang masalah.

" Happy Valentine macanku sayang." Kehadiran Nando dengan coklat berrpita merah di tangannya semakin merusak mood baik Medina hari ini. Belum juga kemarahan dengan Lia hilang, Nando sudah nongol dengan wajah menyebalkannya.

" Harus berapa kali gue bilang? Gue nggak ngerayain Valentine. Pergi Lo!" Bentak Medina dengan mata melotot.

" Ya elah, masih kecut aja tu muka. Masih kesel soal kemaren?" papar Nando dengan tersenyum jahil. " Gue itu cuma iseng Na. Lagian lo gampang banget di bohongin, mana ada penerbit besar yang ngajakin ketemu di rusun."

Lelah mendengar celotehan Nando yang kembali menguras emosinya, Medina melayangkan tatapan dingin pada cowok berkacamata itu," Lo bisa jauh – jauh nggak dari gue? Dari kehidupan gue. Kalo perlu lo transmigrasi aja ke Merkurius sana." Raut wajah dan ucapan Medina terdengar datar.

Hening sesaat, Nina yang biasanya heboh mendapati kedatangan Nando kini terlihat lebih sibuk dengan ponselnya. 

" Nggak," jawab Nando pada akhirnya dengan senyum semringah. Bukan Nando namanya jika tidak membuat kesal Medina dengan segala tingkahnya.

" Erghh...lo tu ya-," Medina bersiap ingin mencakar wajah menyebalkan itu, tapi kemudian pergerakannya terhenti saat suara Nina mengisi ruang di antara keduanya.

" Na, gue punya berita penting!!"

" Berita apa'an?" kesal Medina karena kembali gagal membalas Nando. Sementara Nando mengelus dada, lega karena  wajah tampannya selamat dari cakaran macan ngamuk.

" Kak Adam nolak beasiswa S2  yang di tawarin profesor," ungkap Nina usai membaca obrolan grup chat kampus yang memenuhi ponselnya.

" Apa? Beasiswa?" Air muka Medina seketika berubah kaget.

" Lo tahu kenapa kak Adam nolak beasiswa ke Amerika itu?"

Medina menggeleng pelan, wajah cemas menyelimutinya saat ini. Jangankan alasan Adam menolak beasiswa. Perihal Adam di tawari beasiswapun dia tak tahu menahu. Bagaimana mungkin kakaknya itu tidak menceritakan apapun padanya?

Nina dan Nando yang bisa membaca kecemasan pada wajah Medina hanya diam dan saling berpandangan, saling menuntut penjelasan tentang kegelisahan gadis berlesung pipi itu. Dan hanya berakhir saling mengangkat bahu, pertanda keduanya tak mengetahui apapun yang ada di pikiran Medina saat ini.

" Gue cabut dulu," Medina memanggul ranselnya dan membenahi posisi topinya.

" Lo mau kemana?" tanya Nina heran.

" Tahu nih, gue juga baru nyampe. Sodorin minum dulu kek," timpal Nando tak tahu diri toh tidak ada yang mengundangnya datang.

" Ndo lo sayangkan sama gue?" tanya Medina bernada serius. Nando mengangguk cepat dengan tersenyum manis. " Kalau gitu bayarin makanan gue. Bye."

Senyum manis Nando berubah kecut mengiringi kepergian Medina dari kantin. Sementara Nina adalah orang yang paling puas tertawa memandangi wajah BT Nando. 

" MPOK LEHA, Berapa'an nih makannya tu bocah?" seru Nando memanggil nama si empunya kaantin masih dengan wajah cemberut. 

Sementara Nina masih tertawa geli melihat wajah kecut Nando sekaligus nasib Nando yang selalu kebagian jatah membayar semua makanan yaang Medina pesan setiap ke kantin. 

" Sabar ya Ndo, anggap aja ini pengorbanan lo buat ngedapetin hatinya Medina," dukung Nina dengan terkikik geli.

" Untung aja sayang. Kalau nggak ogah deh gue ngebayarin dia makan, yang porsinya kayak kudanil itu."

Nina kian tergelak mendengar celotehan Nando. Suasana kantin yang sepi kini hanya di dominasi oleh gelak tawa Nina yang seakan tak mau berhenti. 

***

Medina nyaris putus asa, karena tak menemukan kakaknya di manapun. Ia sudah menjelajah hampir seluruh lorong dan ruangan yang ada di kampus, tapi ia masih tak menemukan tanda Adam di sana.

" Hadeuh...kak Adam kemana sih? Dia nggak mungkin bolos. Bakal jadi sejarah baru kalau dia bolos," rungut Medina yang mulai kesal karena tak kunjung menemukan kakaknya.

Ia menghempaskan tubuhnya di kursi yang di letakkan memanjang mengisi setiap lorong kampus. Ia berniat tidur sebelum kelasnya di mulai. Tapi belum juga matanya terpejam pekikan seorang perempuan yang meneriakkan namanya membuatnya terperanjat.

" MEDINA!!"

Dentuman sepatu hak tinggi yang beradu pada lantai kian mengganggu ketenangannya. Ia mengusap wajahnya kasar, mendapati seorang perempuan dengan rambut blonde dan pakaian serba minimalisnya datang mendekat kearahnya. Dan suara teriakan persis kucing kejepit itu adalah suaranya.

Dia Tasya, seniornya di kampus, mahasiswi tingkat akhir, satu angkatan dengan Adam, yang sudah mengincar Adam sejak jaman mereka ospek tapi tak pernah berhasil mendekati Adam.

" Apa'an sih? Nggak bisa apa kasih gue waktu buat tenang sedikit?" omel Medina dengan wajah masam.

" Nih." Cewek cantik yang populer di semua angkatan itu menyodorkan coklat berpita pink terang dan kotak berbentuk persegi panjang yang telah di bungkus rapi pada Medina. 

Medina tak langsung menerimanya, ia memandangi wajah tirus dihadapannya dengan seksama," Lo nggak pikun kan? Perasaan saban tahun udah gue kasih tahu. Kak Adam nggak ngerayain valentine. Dan dia nggak suka cokelat. Bandel amat sih," sungut Medina yang selalu kehabisan cara menghadapi para fans Adam yang selalu datang menemuinya. 

Wajar mereka terus mendatangi Medina, karena Adam bukan tipe cowok yang sering berinteraksi dengan lawan jenis untuk hal yang tidak penting. Kakaknya yang taat agama itu tentu lebih memilih mendekam di masjid sambil tilawah ketimbang bertemu dengan cewek – cewek kurang belaian yang pakaiannya serba kurang bahan itu. Bisa rusak mata kakak gue, kalau ketemu sama yang model begini. Begitulah yang selalu muncul dalam pikiran Medina saat bertemu dengan para penggemar kakaknya.

" Gue nggak pikun. Coklatnya buat lo. Kadonya buat Adam. Dan ini cuma kado biasa bukan kado valentine. Nih," terang Tasya hingga akhirnya meletakkan kedua barang itu di pangkuan Medina.

" Tapi lo ngasihnya di hari ini. Itu sama aja-" Medina ingin melayangkan protes tapi ucapannya tertahan saat namanya kembali di teriakan oleh beberapa mahasiswi yang berlari kecil ke arahnya sambil menenteng coklat dan kado.

Medina meringis, ia mengusap wajahnya kasar dan kemudian menghempaskan punggungnya di tembok, ia lelah jika harus menghadapi hal seperti tahun – tahun sebelumnya. Membawa pulang tumpukan kado dan mati – matian menghabiskan coklat yang berjibun.

Punya kakak populer apa harus serumit ini hidup gue?

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
8.9
Sepuluh tahun mengabdi dalam bayang-bayang, pengorbanan istri Daffa Prawirodirdjo hancur saat melihat suaminya pamer kebahagiaan dengan Leni, cinta lamanya. Puncaknya, Daffa tega menelantarkan Bintang yang terluka di hari ulang tahunnya demi membela putri Leni. Muak dengan pengkhianatan itu, sang istri membawa Bintang pergi dan memulai hidup baru sebagai seniman sukses. Saat Daffa kembali memohon ampun tiga tahun kemudian, pintu maaf telah tertutup selamanya.
Sampul Novel Aku Menikahi Paman Mantanku
8.8
Dikhianati Carsten Morgan di hari pernikahan demi perundung masa lalunya, hidupku hancur saat dia menekan kasus pelecehan yang kulaporkan. Aku menjadi sasaran hinaan karena luka fisikku dianggap menjijikkan olehnya. Carsten merasa tak terkalahkan berkat dukungan paman miliardernya. Namun, segalanya berbalik saat sang paman justru merangkulku. Dia menawarkan pembalasan dengan menjebloskan mereka ke penjara, asal aku bersedia menjadi miliknya selamanya.
Sampul Novel Cinta Dan Benci
8.1
Viona Anatasya tewas tragis setelah dikhianati keluarga dan tunangannya demi mendonorkan hati secara paksa. Kini, ia terlahir kembali dengan ambisi membalas dendam dan merebut haknya yang dirampas. Namun, rencananya terusik oleh kehadiran Randy Logan, CEO angkuh nan dingin yang mendadak terobsesi padanya. Di tengah misi pembalasan, pria kaya raya itu justru mengepung Viona dengan kelembutan posesif yang membuat sang wanita merasa sangat terdesak.
Sampul Novel Hasrat Membara Bos Baruku
9.5
Chika memulai karier barunya sebagai asisten Jack Jeagerjaques, seorang penulis novel roman ternama. Namun, ia justru menyaksikan sang bos sedang memadu kasih di dapur saat pertemuan pertama mereka. Insiden mengejutkan itu membuat Chika melabeli Jack sebagai pria mesum yang berbahaya. Kini, Chika harus ekstra waspada menjaga jarak agar tidak terjerat pesona maskulin Jack, atau ia akan menjadi target nafsu sang penulis berikutnya yang penuh gairah.
Sampul Novel Hot Daddy
8.4
Dominic Immanuel Horrison adalah duda kaya raya yang dikenal dingin dan tak kenal ampun. Meski sifatnya kaku, ketampanan luar biasa sang miliarder tetap memikat banyak wanita. Namun, Dominic sangat selektif dalam mencari sosok ibu bagi anaknya. Pilihan akhirnya jatuh kepada Arabelle, sekretaris setianya yang dianggap memiliki kepribadian paling tepat. Akankah hubungan profesional mereka berubah menjadi cinta sejati yang harmonis dalam rumah tangga?
Sampul Novel Janji yang Hancur, Cinta yang Tak Terucap
9.5
Bara mengabdi enam tahun demi Isabella, bahkan merawat ibu mertuanya saat sang istri membangun karier. Namun, Isabella justru mengkhianatinya dengan menyebut pernikahan mereka hanya utang budi. Saat ibu Isabella wafat, wanita itu malah bersama mantannya dan mengandung. Tragedi berlanjut hingga keguguran dan perceraian terjadi. Saat Bara nyaris ditabrak, Isabella mengorbankan nyawa demi melindunginya. Di detik terakhir, terungkap rahasia bahwa janin itu adalah darah daging Bara.