
Because of Mistake
Bab 3
Akhirnya Eudora selesai menghabiskan makanannya dan mengembalikan piring kotor itu ke meja. Rasanya lega karena ia bisa mendapatkan makanan yang rasanya lezat.
"Perutku akhirnya terisi juga! Tetapi, tunggu sebentar! Astaga! Ponseku! Aargh! Dia pasti juga mengambil ponselku! Bagaimana bisa aku menghubungi keluargaku jika seperti ini?!" gumam Eudora yang baru sadar jika ia tidak melihat ponselnya.
Sekarang Eudora tidak bisa melakukan apapun selain berdiam diri di dalam kamar. Namun Eudora tidak mau jika menjadi tahanan sementara ia tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya.
"Aku harus mencari cara agar bisa keluar dari sini! Tetapi, bagaimana bisa aku keluar dari borgol ini?!" keluh Eudora. Ia tak bisa lepas jika tak mendapatkan kunci borgolnya.
Eudora mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan itu. Begitu beruntungnya dia saat ia menemukan sebuah benda yang kecil namun begitu bermanfaat.
Rupanya itu adalah jepit rambut milik Eudora yang semalam ia kenakan. Eudora rasa Legolas begitu ceroboh sehingga membiarkan benda kecil itu berada di dekat Eudora.
"Apakah ini artinya Tuhan mengizinkan aku untuk lolos?" gumam Eudora.
Dari pada Eudora hanya mematung dan menjadi peliharaan di sana, Eudora memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Ia mengambil jepit rambut yang sedikit mencap di ranjang.
Setelah mengambilnya, Eudora mencoba untuk membuka borgol yang melingkar di tangan kirinya secara perlahan. Dengan usaha keras dan kesabaran akhirnya satu borgol berhasil ia lepaskan.
"Hebat! Aku akan segera keluar dari sini!" ujar Eudora percaya diri.
Eudora melanjutkan aksinya untuk melepaskan ketiga borgol yang tersisa. Sayangnya aksi itu ternyata dilihat oleh Bones yang berjaga di luar kamar. Tentu saja Bones tidak akan membiarkan Eudora kabur.
Bones juga sengaja untuk membiarkan Eudora melakukan ini untuk memberikan peringatan padanya. Seberapa besar usaha Eudora untuk kabur pada akhirnya ia tetap akan gagal.
Setelah bersusah payah akhirnya keempat borgol itu berhasil Eudora tanggalkan. Terdapat bekas kemerahan di tempat yang dilingkari oleh borgol itu karena usaha Eudora untuk melepaskan dirinya sebelumnya.
"Aku harus berhati-hati! Dia pasti tidak akan membiarkan aku kabur dengan mudah!" gumam Eudora lalu beranjak dari tempat tidurnya dengan mengendap-endap.
Perlahan namun pasti, Eudora kini telah melangkah hingga tiba di pintu kamar. Eudora menengok ke luar kamar, ke kanan dan ke kiri dan tak menemukan siapapun.
Eudora pikir hari baiknya telah tiba dan ia berpikir jika ia bisa keluar dari rumah yang seperti penjara itu. Ia tak mau melewatkan kesempatan ini untuk kabur.
Namun sayangnya saat Eudora hendak keluar tiba-tiba saja Bones berdiri tepat di depan pintu dan menghadangnya. Bones tersenyum lebar pada Eudora.
"K-kamu?! Bagaimana kamu bisa ke sini?!" tanya Eudora yang terkejut.
"Apakah anda ingin melarikan diri, Nona?" tanya Bones yang mengabaikan pertanyaan Eudora.
Eudora mencoba memikirkan alasan yang masuk akal supaya Bones tidak curiga. Untung saja Eudora langsung mendapatkan Ilham di benaknya.
"Eumm, aku ingin ke toilet! Aku benar-benar tidak bisa menahannya," jawab Eudora yang langsung menghimpit kedua tangannya di kakinya untuk berpura-pura kebelet.
"Oh, begitu, rupanya! Tetapi kamar mandi ada di dalam kamar, bukannya di luar kamar! Mari, saya antar!" Bones langsung menunjukkan jalan pada Eudora dan terus mengawasinya.
Setibanya di kamar mandi Eudora langsung masuk ke dalam dan menutup pintunya. Eudora yang tadinya berpikir bisa lolos ternyata hanya angan-angan saja.
"Padahal sedikit lagi! Bagaimana aku bisa ketahuan?" gumam Eudora lalu mengacak-acak rambutnya.
"Nona, ada satu hal yang ingin aku beritahukan padaku!" ujar Bones dari luar kamar mandi.
Eudora bisa mendengar dengan jelas suara Bones karena ia belum menyalakan kran air. Eudora juga penasaran dengan apa yang hendak Bones sampaikan padanya.
"Sebenarnya saya tahu dari awal jika Nona ingin kabur! Saya membiarkannya karena saya ingin membuat Nona untuk menyerah dari percobaan kabur!" ujar Bones.
Eudora tidak paham dengan maksud Bones karena perkataannya membingungkan dan sudah dipahami. Namun ia tak berani mengajukan pertanyaan pada Bones karena takut.
"Maksud saya, sekeras apapun usaha Nona untuk kabur, itu tidak ada gunanya! Jika Tuan menginginkan sesuatu untuk tinggal, maka dia harus tetap tinggal meskipun nyawanya sudah tak ada di raga orang itu asalkan raganya menetap itu sudah cukup! Kalau begitu saya akan menjaga Nona di luar kamar saja!" pamit Bones setelah memberikan penjelasan.
Eudora rasa Legolas ini adalah orang yang mengerikan. Eudora sudah paham dengan apa yang diucapkan oleh Bones.
Tidak masalah apakah orang itu hidup atau mati jika Legolas menginginkannya maka meskipun sudah menjadi mayat tetap akan ia tahan.
Bulu kuduk Eudora merinding, kakinya lemas sehingga membuatnya terduduk dan ketakutan. Baru kali ini dia menemukan manusia sekejam ini.
Dan masalahnya sekarang adalah dia menjadi tawanan atau lebih tepatnya menjadi peliharaan Legolas.
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa semuanya seperti ini? Bahkan jika aku mati jasadku pasti tidak akan bisa keluar dari sini!" Eudora ketakutan setengah mati.
***
Ini bukan pertama kalinya Syailendra mengajaknya pergi. Bahkan setiap Syailendra menemuinya ia pasti akan selalu mengajak Legolas pergi ke suatu tempat.
Legolas tidak suka pergi ke tempat ramai kecuali tempat itu berhubungan dengan pekerjaannya. Rasanya hal itu sangat membosankan.
Jadi Legolas selalu menghabiskan weekend dengan di rumah saja atau mengunjungimu Pi orang kepercayaan ayahnya yang sudah ia anggap seperti paman sendiri.
"Pergilah dengan temanmu. Aku masih memiliki urusan lain," tolak Legolas tanpa basa-basi.
Syailendra langsung murung karena tolakan Legolas. Selalunya Legolas akan seperti ini saat Syailendra mengajaknya keluar. Namun kali ini Syailendra tidak akan menyerah.
Dia ingin membuat seluruh dunia tahu jika ia adalah wanita terdekat dengan Legolas. Meski tampang dan kelakuan Syailendra terlihat polos namun sebenarnya dia tidak sebaik itu.
Air mata buaya saja sudah tidak mempan untuk membujuk Legolas jadi Syailendra sudah memikirkan cara lain sebelumnya. Ia ingin mengkombinasikan air mata buaya dengan dirinya sebagai senjata.
"Kalau seperti ini lebih baik aku mati saja saat tertimpa pot itu dari pada harus hidup namun Kak Legolas juga mengabaikan aku! Lebih baik aku pergi mati saja!" Syailendra berpura-pura menangis.
Hal itu tentunya membuat Legolas teringat akan kejadian masa lampau. Jika saja kewaspadaannya saat itu tidak lengah, ia pasti tidak perlu berhutang budi pada Syailendra sehingga tidak perlu repot-repot bertingkah seperti ini.
"Sudahlah jangan menangis lagi! Aku temani kamu pergi," jawab Legolas yang terpaksa menuruti permintaan Syailendra.
Ekspresi Syailendra langsung berubah 180° dari sebelumnya. Sekarang ia begitu bersemangat dan langsung meraih tangan Legolas untuk menggandengnya dengan begitu erat.
"Yeay! Terima kasih, Kak Legolas! Aku sangat senang sekali! Kalau begitu lebih baik sekarang kita..."
PLAK!
Anda Mungkin Juga Suka





