Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Beautiful Nerd

Beautiful Nerd

Alena Farron menyembunyikan identitas ganda sebagai model ternama, Leanne Darrel. Rahasia ini terjaga rapat hingga Ray Dixon, siswa jenius sekaligus teman sekelasnya, mendadak muncul sebagai rekan kerjanya di dunia modeling. Kehidupan Alena yang tenang sebagai gadis kutu buku pun terancam kacau. Kini, ia harus berjuang ekstra keras demi menutupi jati dirinya yang sebenarnya, tepat saat Ray mulai masuk dan mengusik zona pribadinya di sekolah maupun panggung mode.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ray keluar dari supermarket yang berada tidak jauh dari rumahnya. Menenteng satu kantung plastik warna putih. Ia berjalan melewati jalanan setapak di pinggir jalan besar. Jaket tebal membungkus tubuh tegapnya.

Malam menunjukkan pukul tujuh saat itu. Di belokan terakhir menuju rumahnya, Ray melihat seorang wanita, umur sekitar 30 sedang diganggu oleh beberapa anak nakal. Sambil mendengus kesal, ia menghampiri wanita tersebut.

“Hey! Carilah orang lain untuk kalian ganggu!” seru Ray, matanya berkilat kesal.

Salah satu dari anak-anak yang menganggu wanita tadi mengangkat kedua tangannya. Merasa bahwa Ray bersama wanita yang diganggunya, laki-laki itu lantas menyuruh para teman-temannya untuk pergi. Kembali bercanda dan mengobrol seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu.

Ray menghampiri wanita tersebut. Tinggi dan memiliki bentuk tubuh yang ideal. Wajahnya yang cantik menandakan bahwa wanita tersebut memiliki otak yang pintar. “Anda baik-baik saja?” tanya Ray kemudian.

“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku.” Wanita cantik itu sempat menatap beberapa anak nakal yang tadi menganggunya. Lalu berpaling pada Ray. Bibirnya membentuk senyum lebar saat menatap Ray. “Kau punya wajah yang tampan,” komentarnya.

“Apa?” Alis Ray naik sebelah. Bingung dengan perkataan wanita tersebut yang terkesan terang-terangan.

“Iya, kau! Kau punya wajah yang tampan. Tubuh tinggi tegap dan penampilanmu juga lumayan.”

Ray terdiam, tidak mengerti.

Wanita itu tersenyum kecil. Mengerti dengan kebingungan Ray. Ia mengulurkan tanganya, memperkenalkan diri. “Namaku Susan Kaye.” Ray membalas uluran tangannya. Ia segera mengambil kartu nama di dalam dompetnya. “Ini kartu namaku. Aku sedang mencari wajah model baru untuk majalahku. Jika kau berminat, kau bisa menghubungiku.”

Ray mengambil kartu nama yang diberikan Susan. Menatapnya sejenak, lalu kembali menatap Susan. “Aku tidak tertarik dengan—”

“Pikiran saja dulu. Jika berminat, nanti bisa menghubungiku di nomor itu.” Susan tersenyum lembut. “Ah. Terima kasih lagi untuk yang barusan,” katanya, berlalu pergi.

Ray berbalik untuk melihat Susan berjalan pergi. Menatap kartu nama yang ada di tangannya. Model? Batinnya dalam hati.

Di dalam kamarnya, Ray duduk termenung di meja belajarnya. Memandangi kartu nama yang ada di atas meja. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja berulang-ulang hingga membentuk sebuah irama. Ia memikirkan sesuatu. Menatap kartu nama tersebut dan beralih pada ponselnya.

Menyambar ponsel, Ray menekan angka demi angka yang ada di kartu nama tersebut. Bunyi nada sambung terdengar di telinga Ray.

“Hallo, selamat malam. Dengan siapa ini?” Suara wanita terdengar dari seberang telepon.

Ray menghela napas panjang. “Maaf. Bisa bicara dengan Susan Kaye. Aku Ray Dixon, kami bertemu di jalan dan dia menyuruh—“

“Ah! Jadi kau yang tadi?” Suara Susan tampak girang saat tahu Ray menghubunginya. “Jadi, apa kau tertarik untuk menjadi model di majalahku? Aku bisa memberikan honor yang bagus untukmu, jika kau bersedia berkerjasama denganku.”

“Pekerjaan apa yang harus aku lakukan?” tanya Ray, langsung.

“Kau akan menjadi model di majalahku bersama dengan Leanne. Untuk tema majalah baru yang akan terbit nanti. Bagaimana? Apa kau setuju?” Susan terdiam sejenak, “Jika kau berminat, kita bisa bertemu di kantorku dan membicarakan semuanya.”

Kepala Ray terangkat, menatap langit-langit. Menjadi model dan berpose dengan model cantik Leanne yang tidak disukainya. “Maaf. Tidak jadi. Mungkin lain waktu saja,” katanya kemudian.

***

Ray menatap Alena yang duduk sendirian di kursi panjang taman. Membaca buku sendirian, seperti biasanya. Gadis itu lebih suka menyendiri dan membaca buku setiap kali ada waktu luang di sekolah. Berbeda dengan teman-teman lain yang justru sibuk mengobrol, bercanda, dan membicarakan banyak hal. Gadis itu unik, tapi banyak orang yang menyebutnya kutu buku, gadis naif yang tidak tahu apa-apa tentang trend masa kini. Seperti memiliki dunianya sendiri, dan tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya.

“Ray!”

Ray tersentak kaget, bebalik cepat ke samping dan mendapati Jill —teman dekatnya— sedang tersenyum jahil. “Apa yang kau lakukan di sini?” ketus Ray.

Jill tertawa renyah. Tangannya ia taruh di bahu Ray. “Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau terus saja menatap gadis kutu buku itu?” Matanya melirik Alena yang fokus pada bukunya. Kaca mata bertengger di wajahnya.

“Aku tidak melihatnya.” Ray membuang tangan Jill di bahunya dan berlalu pergi.

“Jangan melarikan diri, Ray!” seru Jill. Tawanya lebar saat mengikuti langkah kaki tegas Ray yang meninggalkan tempat itu.

“Pergilah. Aku tidak ingin diganggu,” kata Ray.

Jill mempercepat langkahnya. Merangkul pundak Ray hingga tubuh laki-laki itu terhuyung ke depan. “Mengaku saja, kau menyukai gadis kutu buku itu kan?” goda Jill.

“Bicara apa kau.” Ray menyingkirkan tangan Jill dari bahunya dan Jill kembali melakukannya lagi.

“Ayolah, aku tahu kau menyukainya.” Jill tertawa. “Sepertinya, seleramu terhadap wanita itu harus dirubah,” katanya mengejek, “kau benar-benar buruk dalam memilih wanita.”

Ray mendengus. Ia tak pernah menang melawan Jill dalam berdebat. “Terserah kau saja. Aku sedang tidak ingin bercanda.”

“Kenapa? Apa kau terlalu banyak memikirkan gadis itu, sampai-sampai kau tidak fokus melakukan segala sesuatu?”

“Bukan. Dua hari yang lalu, seseorang menawariku sebagai model.” Ray menatap Jill sejenak untuk membaca ekspresi wajah Jill.

“Oh, itu bagus—“ Jill melongo, menatap Ray tak percaya. “Apa?! Mo-model? Kau yakin?”

Ray memutar bola matanya, kesal. “Bicaralah lebih pelan, Jill. Aku tidak mau ada orang yang tahu soal ini,” ancam Ray.

Jill nyengir, tak berdosa. “Apa tadi itu sungguhan? Jika iya, kau harus menerimanya. Itu kesempatan yang bagus untuk lebih mendongkrak popularitasmu di kalangan para gadis. Aku yakin, mereka akan semakin menggilaimu.”

“Kau yang gila.”

“Aku serius, bodoh. Dengarkan perkataan temanmu ini. Kau harus menerimanya. Dan mungkin saja, kau bisa bertemu dengan model cantik Leanne. Malaikat yang sedang digandrungi para laki-laki.” Kepala Jill terangkat ke atas. Membayangkan wajah Leanne yang cantik. “Ya Tuhan. Leanne sungguh gadis yang sangat cantik.”

Ray menggelengkan kepalanya, berlalu meninggalkan Jill. Laki-laki berambut pirang itu mengejarnya sambil berteriak memanggil namanya.

***

Di taman, Alena asik membaca buku, berjalan tanpa melihat ke sekeliling. Tiba-tiba seseorang berteriak menyerukan sesuatu. Dan di detik berikutnya, ia mendengar suara ‘duk’ tepat di depannya.

Alena melotot tak percaya. Ray, berdiri di depannya, tangannya terangkat ke udara, melindunginya dari bola yang hampir saja mengenai kepalanya. “R-ray?!”

“Perhatikan sekitarmu,” Ray berjongkok untuk mengambil bola. Melemparkannya ke lapangan. Salah seorang yang bermain bakset berteriak maaf padanya.

“Terima kasih, sudah— Ray, tanganmu!” Syok melihat tangan Ray memerah, Alena langsung melangkah maju. Hampir saja menyentuh tangan Ray kalau saja ia tak ingat siapa dirinya.

“Tanganku hanya memerah. Jangan khawatir.” Ray menyembunyikan tangannya ke belakang.

“Maafkan aku.”

“Sudah kubilang ini tidak apa-apa,” ucap Ray, kesal.

“Tapi….”

“Gadis keras kepala.”

Ray memperhatikan Alena yang mengambil dua kaleng soda di mesin minuman. Memberikan satu untuknya. Gadis itu duduk di sampingnya, memberi jarak. Pasrah saat gadis itu memaksa untuk membelikan kaleng soda sebagai rasa terima kasih.

Ray membuka kaleng soda miliknya, dan memberikannya pada Alena, mengambil kaleng soda Alena untuk dirinya.

“Terima kasih,” ujar Alena, malu.

Ray meneguk kaleng sodanya, memperhatikan Alena yang diam seribu bahasa. “Apa kau selalu seperti ini?”

“Apa?” Alena menoleh, bingung.

“Diam saat bersama seseorang.”

“Oh, aku....”

“Kau sadar, ini pertama kalinya kita berbicara setelah 3 tahun berada di kelas yang sama,” kata Ray.

Alena tersenyum samar dan menjawab. “Benar.”

Ray tertawa kecil, mendengar respon Alena yang singkat. Ia menaruh kaleng soda di samping tempat duduknya dan bersandar di dinding. “Benar?” tawanya renyah.

“Apa aku mengatakan hal yang salah?”

“Tidak, tidak juga. Hanya merasa kau terlalu pendiam. Membuatku bingung,” aku Ray.

Alena mendongak, menatap Ray yang memejamkan kedua matanya. Bulu mata Ray tebal dan hitam. Ia tertegun saat sebelah mata Ray terbuka secara tiba-tiba, menatapnya lurus.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Ray, “apa yang kau pikirkan saat ini?”

Alena segera menundukkan kepalanya, malu. “Aku tidak tahu. Hanya merasa kau terlalu sulit ditebak. Membuatku bingung.”

Tawa lepas Ray terdengar cukup keras. Laki-laki itu sampai membungkuk untuk menahan tawanya yang keluar tanpa mau berhenti. “Kau sedang mengejekku ya?”

Itu pertama kalinya Alena melihat tawa Ray. Tampan, terlihat seperti orang yang ramah.

“Tidak,” bantah Alena, “kau sendiri yang memulainya.”

“Ya, kau benar.” Ray tersenyum lagi. “Cukup untuk hari ini. Aku harus pergi. Terima kasih untuk minumannya.”

Sepulang sekolah, Jill berdiri tegak di ambang pintu kelas Ray. Menunggui Ray yang tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Matanya menangkap sosok Alena yang duduk bersebelahan dengan meja Ray.

“Lihat apa kau? Berubah pikiran untuk mengejarnya?” goda Ray, membalas apa yang dilakukan temannya itu kemaren. Ia berjalan melewati Jill, laki-laki itu mengikutinya dari belakang dan mensejajarkan langkah mereka.

“Mustahil. Dia bukan tipeku sama sekali.”

“Jadi, bagaimana tipe gadis yang kau sukai?”

Jill berpikir, tangannya berada di dagu. “Hmm ... Cantik dan seksi.” Bibirnya membentuk senyum lebar. “Yah, seperti Leanne kurasa.”

Ray tak mengacuhkan ucapan Jill, dan tersenyum mengejek.

“Hey. Bagaimana dengan tawaran menjadi model kemarin? Kau benar-benar menolaknya?” tanya Jill.

“Hmm.”

“Pertimbangkan lagi, sialan. Itu untuk kebaikanmu sendiri. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada di depan matamu,” gerutu Jill kesal. Jika ada pemukul baseball, mungkin, ia akan langsung memukulkannya ke kepala Ray agar kepala temannya itu sedikit waras.

Ray mendengus. Jill yang cerewet, seperti itulah. “Akan kupertimbangkan,” katanya kemudian.

“Kau yakin? Yah! Kenapa tidak melakukannya sejak kemarin.” Jill memukul punggung Ray pelan. Lalu merangkul pundak Ray, gembira. “Dengar, setelah ini hubungi orang itu dan katakan padanya kau bersedia menjadi model.”

“Akan aku lakukan kalau kau menutup mulutmu itu, Jill.”

***

Ray membuka ponselnya dan menghubungi Susan kembali. Menekankan ponsel ke telinga, suara nada tersambung berbunyi. Tak selang beberapa detik, suara Susan mulai terdengar dari seberang telepon.

Suara Susan terdengar tampak girang. “Well, apa kau berubah pikiran Ray?” tanya Susan secara langsung.

“Kurasa begitu. Aku bersedia melakukannya,” kata Ray.

“Bagus, sudah kuduga kau akan berminat dengan tawaranku. Kau punya wajah yang tampan untuk menjadi model, aku tidak pernah salah pilih.” Kata Susan percaya diri. Itu memang benar.

“Ya. Kapan aku mulai melakukannya?”

“Datanglah ke kantorku untuk membahasnya terlebih dahulu. Jika semuanya sudah sepakat, pihak kami akan menghubungimu untuk memberikan jadwal pemotretan yang akan kau lakukan. Oh, ya, bawalah satu wali untuk menemanimu saat kau menandatangani kontrak nanti.”

“Aku bisa membawa temanku ikut pergi?” tanya Ray, memikirkan wajah Jill yang muncul di pikirannya. “Dia sudah seperti saudara bagiku.”

“Ya, tentu. Apapun itu asalkan kau mau datang.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
9.6
Hidup eksekutif muda Davina Hadinata hancur setelah menjalin hubungan dengan Aria Wardana yang ternyata beristri. Aria memfitnahnya hingga ia menganggur, sementara bisnis ayahnya bangkrut akibat skandal sang kakak. Tragedi memuncak saat istri Aria bunuh diri, memicu dendam Rajata Bagaskara. Rajata menodai Vina hingga hamil sebagai balasan atas kehilangan keponakannya. Di tengah penderitaan dan kemiskinan, Vina berjuang bertahan hidup demi harapan yang tersisa.
Sampul Novel Cinta Dan Benci
8.1
Viona Anatasya tewas tragis setelah dikhianati keluarga dan tunangannya demi mendonorkan hati secara paksa. Kini, ia terlahir kembali dengan ambisi membalas dendam dan merebut haknya yang dirampas. Namun, rencananya terusik oleh kehadiran Randy Logan, CEO angkuh nan dingin yang mendadak terobsesi padanya. Di tengah misi pembalasan, pria kaya raya itu justru mengepung Viona dengan kelembutan posesif yang membuat sang wanita merasa sangat terdesak.
Sampul Novel Delayed Love
9.1
Lima tahun berlalu sejak Reina Valeria berjuang mengubur luka hati dan melupakan sosok pria dari masa lalunya. Namun, takdir berkata lain saat ia justru dipertemukan kembali dengan Rian Nataharja, yang kini menjabat sebagai manajernya di kantor. Pertemuan ini membangkitkan memori lama saat mereka masih sekolah. Apa rahasia di balik hubungan si siswa teladan dan siswi bodoh ini? Reina pun harus menghadapi kembali perasaan yang sempat tertunda.
Sampul Novel Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta
7.9
Demi kesembuhan ibunya, Alira Santika terpaksa menikahi Dimas Aditya Wiratama, pewaris ningrat yang butuh keturunan. Gadis 19 tahun ini harus meninggalkan kekasihnya, Raka, demi perjodohan tanpa cinta. Di rumah barunya, Alira menderita akibat kekejaman Cynthia, istri pertama Dimas yang penuh dendam. Tanpa pembelaan sang suami, ia berjuang sendirian melawan intrik keluarga. Akankah Alira mampu bertahan di tengah pengkhianatan dan tekanan demi cinta sejatinya?
Sampul Novel Kelakuan Papa Mertua
9.6
Kehidupan Riana mendadak kacau saat ia dipaksa menanggung konsekuensi atas tindakan sembrono papa mertuanya. Di tengah tekanan tersebut, ia mulai mencium gelagat aneh dari orang tuanya sendiri yang seolah mendukung situasi ini. Riana pun terjebak dalam teka-teki besar mengenai niat terselubung di balik sikap mereka. Apakah ada persekongkolan rahasia yang sengaja dirancang untuk menjebaknya? Kini ia harus mencari tahu kebenaran di balik drama ini.
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel menjalani hidup penuh hinaan sebagai menantu yang dipaksa memakan sisa hidangan keluarga istrinya di lantai. Penindasan kejam dari Shirley dan kerabatnya membuat Marcel putus asa hingga ia nekat menenggak formula rahasia peninggalan orang tuanya. Bukannya tewas, cairan itu justru membangkitkan kekuatan luar biasa dalam dirinya. Kini, sang ahli obat yang dulunya dianggap sampah telah bangkit untuk membalikkan keadaan. Akankah mereka yang merendahkannya bersujud memohon ampun?