
Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
Bab 2
Layar monitor dengan lebar 17 inci yang menyala dipenuhi tulisan koding. Tulisan hijau itu terlihat sangat kentara diantara empat pasang mata yang sedang sangat fokus menatapnya. Terlihat dua perempuan dengan usia dua puluh delapan tahun dan yang satu lagi tiga puluh lima tahun. Perempuan tiga puluh lima tahun yang sepertinya adalah senior sedang berdiri dibelakang rekannya yang lebih mudah. Sedangkan sang rekan tanpa meninggalkan fokus, matanya menatap tulisan dilayar monitor tetapi tangannya cekatan mengklik tetikus yang dipegang disebelah kanan. Sedangkan disampingnya layar monitor sebesar 88 inci terpampang menampilkan gambar yang sama. Keduanya saling mengamati. Kadang-kadang sang senior berusaha mencocokan tulisan yang dipegangnya dengan gambar yang tertera pada layer monitor lebar itu.
“bagaimana?” ucap yang sang wanita umur tiga puluh lima.
“dari identitasnya sepertinya dia sangat cocok bu” ucap perempuan umur dua puluh delapan.
“Namanya Banyu, dia berumur dua puluh dua, telah lulus kuliah dan sekarang menganggur. Dari hasil pengamatan selama enam bulan terakhir dia berkepribadian introvert, lebih suka menyendiri. Hidupnya mengalir tanpa tujuan. pernah melamar sebanyak 56 kali diperusahaan dan semuanya gagal. Hidupnya tanpa ambisi sepertinya dia cocok untuk jadi avatar kita selanjutnya bu” tambahnya lagi.
Tangannya yang memegang tetikus kini telah selesai dan menekan tombol enter. Tulisan dilayar hijau itu kembali bergerak otomatis mengakses semua data-data dan angka kemudia muncullah sebuah foto lelaki muda dengan wajah tirus dan rambut ikal, warna kulitnya sawo matang, khas sepeti orang Indonesia.
“sialan penampilannya busuk sekali” gerutu sang perempuan muda.
“hehehehhe, sepertinya alergimu kumat lagi san” ucap seniornya sambil terkekeh.
“apakah kita ganti saja bu?” ucap Susan menimpali.
“kau gila ya, bukankah kita sudah mengamatinya, harusnya kamu juga tahu bahwa kondisinya seperti itu” ucap senior.
“aku kira tidak seperti ini bu, kurang jelas jika dilihat dari kamera” ucap Susan.
“mungkin mines mu bertambah, kamu harus periksa matamu lagi kedokter san” ucap sang senior.
Susan melepas kacamatanya lalu membersikan dengan kain putih yang dia ambil dari tepak optiknya. Mengabaikan apa yang dikatakan seniornyaitu Susan sedikit merasa tersinggung. “apa iya, min ku bertambah?” gerutunya dalam hati. Sang senior telah terlebih dahulu meninggalkan ruangan. Susan tilik jam dipergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul 12:12 sudah kelewat dua belas menit waktunya makan siang. Ia putuskan untuk ikut meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan layer monitor yang masih menyala menampilkan gambar laki-laki yang kusut tidak karuan.
Awan dilangit masih menyimpanmendung yang agak gelap. Sepertinya hujan akan turun tidak berapa lma lagi. Susan dengan santai melipir pada tukang mie ayam seberang jalan yang sudah biasa dia kenal sebagai langganannya.mang Idham Namanya. Pria berusia lima puluh tahunan yang sudah berjualan mie ayam kurang lebih dua puluh lima tahunan, saat beliau masih belum memiliki istri yang sekarang sudah punya dua anak gadis yang masih sekolah SMA dan SMP. kursi kayu warna-warni yang disediakan pak Idham sudah ada dua pelanggan yang sedang makan. Sepertinya mereka karyawan dari kantor lain. Kantor multi nasional yang haga sahamnya sedang diburu oleh para investor karena estimasi kuentungannya sangat menggiurkan. Heuh… orang-orang sepertinya sudah tidak waras, demi uang mereka sampai seperti orang kesetanan. Uang adalah jurang paling berbahaya bagi umat manusia. Sejak adanya uang sifat serakah manusia berada pada puncak kurva paling tinggi dari sebelum-sebelumnya. Ada dua hal yang membuat manusia melakukan demikian. Satu adalah kekuasaan dan yang kedua adalah uang. Dengan kekuasaan mereka bisa seenaknya berbuat apapun bahkan nyawa manusia bisa dianggap sebagai pion yang tidak terlalu penting dalam papan catur. Sedangkan uang membuat siapa saja bisa berlutut menyembahkan. Bagi mereka yang tergelincir uang adalah narkoba. Dengan banyak uang ia merasa kebahagian dan ketenangan ia dapatkan, tetapi sebenarnya itu adalah awal kehancuran bagi dirinya sendiri. Walaupun aku sendiri juga sadar bahwa dalam hidup manusia sangat butuh pencapaian dan pengakuan dari orang lain, serta bagaimanapun juga manusia tidak bisa lepas dari kedua hal tersebut. Lalu bagaimana? Adakah jawaban untus permasalahan ini? Aku rasa setiap manusia punya anggapan sendiri mengenai hal tersebut. Dan tidak ada jawaban benar atau salah dari setiap pendapat atau pikiran seseorang karena tanpa kecuali mereka melakukan hal demikian. Seseorang pernah bilang kamu tidak akan pernah paham dengan apa yang aku alami. Aku mencari uang mati-matian sampai sikut sana, sikut sini adalah demi kebahagiaan keluargaku, aku juga sebenarnya tidak mau berbuat jahat, tetapi keadaanlah yang memaksaku demikian. Lantas apakah itu salah? Bagiku tidak juga, tetapi hanya saja aku heran apakah sang orang tua tega melihat anaknya menyakiti manusia lain hanya demi kebahagiaannya semata? Tetapi begitulah faktanya, terutama dinegara kami. Negara berkembang, sebenarnya kata berkembang juga hanya Bahasa halus karena jika dikatakan negara terbelakang rasanya seperti menghina. Hahahaha lucu sekali bukan?
“Pak biasa ya?” ucapku lalu duduk disalah satu kursi yang kosong.
“okey mbak, pake baso, mienya sedikir banyakin sawinya, sama tidak pakai msg kan?” Ucap pak Idham. Aku hanya mengangguk tanda setuju sambil memberekna rambutku dengan ikar rambut.
“padahal masakan lebih terasa lezat loh mbak kalo pake msg” ucap pak idahm dengan kesibukannya membuka panic dengan air mendidih lalu memasukan potongan sawi.
“kata orang-orang kalo keseringan msg bisa buat otak jadi bodoh pak hehehehe” ucapku sambal terkekeh
“oalah, baru tau aku hehehehe, kirain yang bikin bodoh itu hanya malas belajar ternyata msg juga toh hehehe” sahut pak idhma menimpali.
“harusnya sih emang gitu ya pak hehehehe” balasku sambil mengangguk setuju.
Selang beberapa menit.
“silahkan mbak” sambil hati-hati menaruh mangkuk mie dimejaku.
“ngomong-ngomong si-ibu kemana mbak?” tanyanya.
“tadi udah keluar duluan, kirain kesini pak, mungkin keruangan lain, masih ada beberapa hal yang perlu diurus kayaknya” ucapku santai sambil mengambil sumpit yang terletak diantara botol kecap dan saus.
“oalah, sepertinya lagi sangat sibuk ya mbak” sahut pakIdham lagi.
“kalo bapak ngajak ngobrol terus, saya kapan makannya nih pak” ucapku mendengus pelan.
“eh, maaf mbak, maaf. Silahkan dimakan mienya hehehe”
“nggak kok pak saya becanda doang hehehe”
Begitulah hubunganku dengan pak Idham. Agak sedikit aneh tapi begitulah faktanya. Bagiku obrolan dengan pak Idham adalah iburan tersendiri bagiku saat keadaan kerjaan sedang rumit. Dengan kalimat-kalimat polosnya yang terdengar seperti sarkas tetapi emang begitulah kepolosaanya bekerja.
Mie ayam telah tandas dari mangkuk masuk keperutku. sayangnya hujan telah lebih duluan turun sebelum aku membayar makananku. sepertinya mendung sudah tidak tahan lagi menahan bebannnya. Hujan yang cukup deras dengan cepat membasahi jalanan yang diaspal tipis itu, membuatnya cepat membentuk genangan, sepertinya aspal itu tidakrata karena sering ada mobil lewat yang membuat permukaan tanahnya cepat bergeser. Alhasil aku terjebak disini dengan pak Idham. hanya berdua saja.
“kalau didrama-drama korea harusnya kita romantis ya mbak hehehe” celetuk pak Idham saat aku hanya diam bengong menatap tetesan hujan yang tak kunjung redah.
“hah, gimana, gimana pak?” tanyaku kaget memasikan tidak salah dengar.
“iya yang seperti diserial-serial itu loh?” pak Idham memperjelas.
“bapak nonton juga pak, drama-drama korea?” tanyaku yang sekarang menyelidik lebih penasaran. Gila aja nih orang tua. Gumamku dalam hati.
“nggak kok mbak, hanya saja anakku yang paling gede, dia sampai lupa makan, lupa pekerjaan, lupa segalanya karena itu mbak”
“emang pak, film-film kora sekarang sedang naik daun” ucapku setuju.
“terlebih lagi mereka ganteng-ganteng loh pak, uunchh… gemesss deh, hehehe” tambahku sambal membayangkan wajah seong-jong-ki yang bertelanjang dada, dengan dada bidang dan perut seperti roti sobek.
“harusnya tiba-tiba datang cowo keren dan memberikan payung” gerutuku lagi.
“tapi sayangnya saya nggak punya payung mbak” sahut pak Idham.
“heh, siapa juga yang ngarepin bapak” ucapku mengelak.
“saya juga nggak mau mbak udah punya istri hehehehe”
Akhirnya tawa kami berdua pecah. Seperti mendung hari ini yang pecah oleh bebannya. Dengan obrolan absurd yang entah kenapa bisa tercipta. Dasar pak Idham.
“eh ngomong-ngomong cantikan mana pak aku, sama istri bapak?” tanyaku menggoda.
“kalo cantik, jelas cantik mbak, tapi saya cintanya sama dia hehehehe”
Kembali lagi tawa kami berdua pecah diantara deras hujan yang suaranya benar-benar mengganggu telinga. Untung saja hujan kali ini tidak ada petir. Hanya ada air. Iya air…..
Eh, tunggu bukankah nama agen yang diamati Namanya Banyu? Apakah ini?....
sebuah tanda.......
Anda Mungkin Juga Suka





