Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.

Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.

Banyu menerima surat misterius yang menyatakan dirinya terpilih sebagai avatar setelah pengamatan enam bulan oleh tim rahasia. Meski bingung dan curiga, ia diminta datang ke Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di samping kantor MNG Group, untuk mendapatkan penjelasan lengkap melalui sesi wawancara. Didorong rasa penasaran sekaligus takut, Banyu akhirnya memutuskan memenuhi panggilan tersebut. Keputusan nekat ini menjadi awal mula petualangan besar dalam hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ah, sialan sudah pagi lagi rupanya. Sepertinya waktu sekarang begitu terasa cepat berputar. Mau melakukan apa aku hari ini?. Beginilah nasib pengangguran, serba bingung. Sekitar dua bulan yang lalu aku lulus kuliah. Telat satu setengah tahun dari orang-orang kebanyakan. Sekarang aku hanya jadi beban untuk orang tuaku saja. Setidaknya ini adalah sepuluh bulan terakhir sebelum tamat sudah aku Kembali kekampung halaman jika tidak kunjung juga dapat pekerjaan. Oh, tidak. Tidak bisa kubanyangkan jika aku harus jadi petani. Aku bilang begitu bukan karena aku meremehkan atau merendahkan petani, karena aku juga seorang anak petani yang dibesarkan dan disekolahkan lewat jeri payah keringat hasil sawah bapak. Tapi perlu kalian tahu, pekerjaan petani sangatlah berat. Semuanya harus dikerjaan manual. Misal musim tandur, aku pernah ikut tandur sampai setengah hari. Bayangkan kau harus jongkok berjam-jam dan berjalan pelan kebelakang. Alhasil ketika sampai rumah pinggangku kaku semua. Aku juga kadang heran kepada bapak sama petani-petani lainnya yang sanggup melakukan hal-hal demikian dan masih bisa tersenyum. Apakah aku saja yang kurang bersyukur? Mungkin iya. Buktinya sekarang aku hanya bisa meracau dan mengeluh. Setiap lamaran yang aku tunda keperusahaan semuanya gagal walaupun belum sepenuhnya semua sih, masih ada beberapa lagi yang belum ada jawaban. Tapi ya sudahlah, apalah dayaku yang hanya bisa menunggu. Setidaknya jika memang begini akhirnya aku ingin menghabiskan sepuluh bulanku dengan kebahagiaanku dikosan sebagai pengangguran. Hehehehe.

Aku bangkit dari Kasur busa, aku masuk kekamar mandi dan menggosok gigi, cuci muka lalu menyalakan layar laptop untuk mengecek surel, siapa tahu ada email masuk dari salah satu perusahaan yang aku lamar. Memang begitu keseharianku sangat monoton sekali. Rutinitas yang bisa diblang sangat membosankan. bunyi mesin laptop berdesing, walaupun terbilang sudah sangat jadul dan ketinggalan zaman laptop ini sangat membantu dalam kegiatanku. Aku masuk pada kontak surelku, aku masukan password dan…… masih tidak ada balasan surel masuk. Karena penasaran aku coba refresh sampai lima kali dan hasilnya masih tetap sama. Tidak ada apapun dalam surelku. Heuh, mungkin besok. Hiburku dalam hati.

Akhrinya aku putuskan untuk keluar cari sarapan. setidaknya walaupun pengangguran juga harus tetap makan kan?

Udara pagi ini sangat segar dengan siraman cahaya Mentari yang mentereng cerah. Setidaknya ini sangat berbeda dari yang kemarin-kemarin. Karena lima hari terakhir hujan mengguyur tiada henti. Membuat semua aktifitas agak sedikit terhambat. Terkadang aku suka lucu melihat para pengendara motor yang memakai jas hujan dan helm, itu terlihat seperti orang-orangan sawah yang sering aku temui dikampungku. Menggelembung dan unik. Ketika hendak aku membuka pintu untuk keluar, dibawah kolong pintu ada sebuah amplop coklat. Aku ambil lalu aku baca. Tertulis untuk Banyu, tulisan yang ditulis menggunakan spidol hitam. Dengan penasaran akhirnya aku buka isi didalam amplop itu. Terdapat selembar surat dengan kertas warna putih. Aku masih berharap bahwa itu adalah surat dari salah satu perusahaan, yaitu surat panggilan untuk interview atau semacamnya.

Untuk: Banyu

Dari: kami

Selamat kamu adalah orang yang terpilih, setelah pengamatan selama enam bulan dari tim kami, kamu akan jadi avatar kami selanjutnya. Aku tahu asti ini membingungkan bagimu, tetapi simpan saja bimbangmu karena segala pertanyaan akan dijelaskan saat kau telah dating dikantor kami. Datanglah pada alamat jl. Lembayungkuning no 17 sebelah kantor MNG group.

Selamat pagi, maaf mengganggu waktumu.

Tulisan itu amat singkat dan absurd. Seketika kebingungan membanjiri kepalaku. Aku lipat lagi kertas itu dan aku putuskan untuk mencari sarapan dahulu. Disepanjang jalan akuterus kepikiran isi dari kalimat surat itu. Ini sangat mengganggu. Akhirnya aku putuskan untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku akan mendatangi alamat itu. Jika surat itu berbohong setidaknya aku bisa berfikir bahwa itu adalah tulisan orang iseng dan segera aku bisa melupakannya. Karena aku sendiri tidak yakin pernah meletakan surat lamaran pada perusahaan tersebut.

Siangnya sekitar pukul 13:00 setelah waktu sholat dhzuhur aku memutuskan untuk menuju alamat yang tertera pada surat itu. Aku naik angkot dengan kurang lebih setengah jam. Aku sampai pada jalan raya utama dan turun sebalah kiri. Terlihat ada tulisan Jl lembayungkuning no 17 dan sebelahnya kantor multinasional MNG group. Aku masuk kedalam jalan tersebut. Jalan yang luasnya kira-kira dua meter itu dipenuhi perumahan elite dengan bangunan-bangunan mewah. Sepertinya ini adalah tempat orang-orang kaya. Aku baru tersadar, harus kemanakah Langkah kaki ini. Aku sampai lupa bahwa tidak ada alamat khusus yang ditujuhkan. Ah, sepertinya aku dikerjain. Sudah sekitar setengah jam aku muter-muter komplek perumahan ini, tidak ada satu orang pun yang aku temui. Jalanan aspal ini sangat sepi. Lima menit yang lalu ada penjual mie ayam yang sepertinya tahu kalau aku sedang kebingungan. Ia menegurku.

“mas, cari siapa yah?” tanyannya sangat sopan

Mendengar ucapannya itu membuatku jadi kikuk sekaligus bingung.

“hmm, aku juga tidak tahu pak. Tadi pagi aku dapat surat dan disuruh ke sini” ucapku sambal memperlihatkan surat yang aku dapat tadi pagi.

“kok, Cuma nama jalannnya doang mas, nggak ada alamat spesifiknya?” ucapnya keheranan

“iya pak, aku juga bingung, kayaknya aku dikerjain nih sama orang yang ngirim surat ini” sambal menggaruk-ngruk kepalaku yang tidak gatal

“kalau begitu mah susah mas” jawab si bapak “ada nomor telepon yang bisa dihubungi nggak mas?” sambungnya

“nggak ada pak, saya juga heran. Apa sebaiknya saya pulang lagi aja ya pak?” ucapku.

“iya mas, sebaiknya ih begitu” jawab bapak penjual mie ayam setuju.

“yaudah, terimakasih ya pak” ucapku sambal menganggukan kepalaku.

“iya mas, sama-sama” jawabnya yang juga ikut menganggukan kepalanya.

Seperinya memang benar, aku dikerjain seseorang nih. Ah, sialan. Setelah bergelutsetengah jam akhirnya aku putuskan untuk Kembali. Kembali lagi pada awal jalan ini. aku duduk dibatu bulat yang terbuatdari semen yang terletak dipinggir jalan. Sambal munggu angkot , aku buka tas gendongku, aku ambil sebuah roti dan air mineral yang sempat aku beli sebelum menuju kesini. Setidaknya untuk ganjal perut ini cukup.

“gimana? Capek?” suara perempuan terdengar dari belakang. Sontak itu membuatku kaget dan tersedak oleh air yang aku minum.

“siapa kamu?” tanyaku bingung.

“sudah…. Habiskan dulu makananmu” ucap sang perempuan itu. Tanpa sadar aku menurut dengan napas yang dia ucapkan. Atau mungkin aku memang sangat lapar dan capek, jadi tanpa sadar melanjutkan sisa rotiku.

“perkenalkan namaku Susan. Aku adalah orang yang telah mengawasimu, dan yang telah mengirimi surat pagi tadi.” Ucapnya santai tanpa beban. Sedangkan aku masih focus dengan roti ditanganku lalu Kembali menyumpalkannya kemulutku. Hanya anggukan tanda mengerti untuk membalas ceritanya.

“ternyata benar yah…. Kau ini menyebalkan sekali” gerutunya tanpa beban.

“hah?” aku terkejut dengan pernyataannya barusan.

“iyah, lihat dirimu? Kau itu kumal, tidak terurus, berantakan , dan tidak punya sopan santun lagi denganku. Kau ini bisu atau gimana? Heuh, Seharusnya si-ibu menuruti usulku” ucapnya menjelaskan dengan mulut entengnya.

“bukankah kamu yang tidak punya sopan santun, menghina fisik orang dan bicara seenaknya tanpa disaring dulu, padahal aku baru tahu hanya sekedar namamu, bukan berarti kita sudah akrab yah…” ucapku sembarangan mengikuti gaya bicaranya.

“kalau kau sudah tahu posisimu, aku pastikan mulutmu tidak selancang barusan” ucapnya masih santai

“ya sudah, ayoo ikuti aku, biar kutunjukan tempatnya” sambungnya, lalu dia berjalan duluan. Aku dibelakang mengikutinya tanpa bicara.

Alhasil disepanjang perjalanan suasana kami berdua hening. Tidak ada percakapan yang keluar dari masing-masing, baik aku ataupun darinya. Heuh setidaknya ini lebih baik dari pada harus mendengarkan omongan sombongnya. Aku masih kagum dengan rumah-rumah ditempat ini. aku tengok sana, tengok sini memperhatikan dengan sangat mendetail. Tunggu dulu…. Sepertinya aku kenal jalan ini, bukankah aku barsan melewatinya?

“mbak Susan!!, bawa siapa tuh…?” sapa seseorang.

“ini pak Idham. biasa, orang suruhannya ibu” jawab Susan dengan gampangnya, seolah mereka sudah kenal lama.

“loh mas kan yang tadi muter-muter” ucap bapak-bapak itu.

“loh… bapak yang tadi yah…” balasku singkat.

Sialan, sepertinya aku dikerjain oleh perempuan sialan ini, gerutuku dalam hati. Awas aja nanti, dasar menyebalkan.

Aku akhirnya dibawah kesebuah kantor yang lebih mirip seperti rumah mewah. Sepertinya ini memang rumah salah satu kompleks yang sengaja disulap menjadi kantor oleh pemiliknya. Sepertinya ini adalah perusahaan rintisan. Aku menerka-nerka dalam hati. Tetapi dibalik rasa kesalku, ada Bahagia yang terselip. Karena aku sekarang akan bekerja, sudah tidak jadi pengguran lagi. Saat memasuki halaman rumah tersebut emosiku meluap seketika digantikan leh perasaan Bahagia yang tidak kentara. Grogi bercampur gugup bercampur cemas dan rasa ingin meledak kegirangan yang sepertinya sudah sampai diujung ubun-ubunku. Halamannya luas muat untuk parkir sepuluh mobil. Dindang rumah yang catdengan warna coklat cream membuat nuansa kalem, dengan pagar yang mengelilingi yang ditumbuhi tanaman menjelar, aku tidak tahu apa Namanya, dan beberapa pot bunga yang menghiasi rumah bagian depan. Ada yang digantung dan ada juga yang besar diletakan sebelum pintu masuk, seperti sengaja dipasang untuk ucapan selamat datang. Aku masuk keruang tamu, tempatnya lumayan luas dan ada sebuah meja Panjang dengan sekitarlebih dari sepuluh kursi yang melingkar. Dan diats dinding ada televisi dengan layer 88 inci, sepertinya ini digunakan untuk rapat. Gumanku dalam hati. Disamping ruang tamu ada ruangan seperti ruangan kerja yang setip sekatnya dibatasi dengan kaca bening. Jumlahnya sekitarsama dengan jumlah kursi yang ada diruang tamu. Terlihat ada enam orang yang sedang mengerjakan sesuatu ditempatnya masing-masing. Selebihnya kosong. Entah itu belum terisi atau pemiliknya sedang pergi. Aku masih mengikuti Langkah kaki Susan. Ia menaiki tangga ke lantai dua, aku masih membuntutinya dibelakang dengan ekspresi kagum dan tidak percaya bahwa aku bisa masuk dalam ruangan megah ini. memasuki lantai dua aku bertemu dengan seorang Wanita berusia setengah baya. Susan akrab memanggilnya dengan sebutan ibu. Menyambut kedatanganku ia senyum sangat hangat. Aku ditinggal oleh Susan, kini hanya kami berdua yang berada dalam ruangan ini. meja yang penuh dengan kertas entah itu dokumen apa. Aku duduk dikursi seperti layaknya hendak diinterieuw kerja. Keggupan Kembali melanda badanku, keringan dingin keluar tanpa disuruh mengalir dipelipis. Melihat hal tersebut tampaknya perempuan setengah baya itu menyadari kegugupanku. Ia beranjak pergi ketempat pemanas air

“mau kopi, atau teh?” ucapnya dengan senyu yang tenang itu

“eh, hmm, kopi boleh bu” ucapku gelagapan.

Dua cangkir kopi panas telah berada didepan pandangan kami. Cangkir itu mengeluarkan asap yang menyeruak dan menghilang.

“silahkan diminum, biar sedikit lebih relax” ucapnya menyilahkanku sembari ia lebih dulu menyeruput cangkir miliknya

“terimakasih bu” jawabku dengan menganggukan kepala, lalu menyeruput sedikit kopi dalam cangkir. Ada rasa manis yang pas dengan kehangatan yang masuk dalam tenggorokanku. Rasa hangat dan aroma kopi seketika membuat gugupku sedikit berkurang.

“santai, aja. Ini bukan intervieuw. Malah sebaliknya silahkan tanyakan apapun yang kau ingin ketahui” lagi-lagi ia mengucapkannnya dengan senyum tenangnya. Melihat itu setidaknya aku jadi tahu bahwa ia orang yang ramah.

“bu, ngomong-ngmong ini perusahaan apa yah? Sepertinya aku tidak pernah meletakan surat lamaran pada perusahaan ini” tanyaku

“ini, bukan perusahaan Banyu. Ini adalah sebuah tempat yang kau butuhkan” ucapnya sambal menangkupkan tangannya

“aku masih tidak mengerti bu” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal

“kau akan tahu jika sudah brgabung dengan kami Banyu” ucapnya singkat

“sepertinya benar yang dikatakn oleh Susan, kondisimu terlihat buruk. Baiklah kami akan menyiapkan jadwal Latihan untukmu. Untuk meningkatkna kondisi tubuhmu setidaknya menjadi lebih baik” lanjutnya dengan santai

“tunggu, saya belum memberikan jawaban apakah aku akan bergabung atau tidak?” sergahku

“baiklah, sekarang apa jawabanmu Banyu?” balasnya dengan santai sambal Kembali meneguk cangkir kopinya

“bagaimana dengan jobdesknya?” tanyaku lagi

“kau bekerja sangat fleksibel. Semuanya akan diatur tergantung kondisinya. Bukankah air sangat fleksibel?” jawabnya dengan senyum lembut.

Sepertinya orang yang ada didepanku benar-benar tahu semuanya tentangku. Jika benar, siapa sebenrnya mereka ini. gumamku dalam hati

“apakah anda benar-benar mengamatiku enam bulan terakhir?” tanyaku tertegun.

“tentu saja, bukankah Susan telah menjelaskannya padamu”

“heuh, okey baiklah. Sepertinya ini memang jalan yang dituntun oleh takdir. Saya setuju” ucapku tegas. Meyakinkandiri sendiri bahwa aku tidak akan menyesali keputsanku.

“baiklah, kamu tanda tangan disini dan pakailah ini” ia menyodorkan selembar surat seperti kontrak tapi hanya tertera namaku dan Namanya saja. Dari situ aku tahu bahwa Namanya adalah Ningrum. Serta ada sebuah disk yang bertuliskan namaku. Beliau menyuruhku menyimpannya sebagai tanda pengenal, yang kemudian aku bikin menjadi kalung sehingga bisa dibawah kemana-mana. Setelah aku selesai menandatangani perjanjian tersebut aku akhirnya pulang dan disuruh datang lagi pekan depan.

Setelah intervieuw yang aneh itu akhirnya aku Kembali ke-kosanku. Untuk hari ini saja aku sudah lumayan capek. Apakah ini gara-gara aku introvert? Entahlah. Tapi setidaknya tulisanku kini telah mencapai angka tiga ribu lima ratus kata. Angka demikian sudah cukup Panjang jika dijadikan sebuah cerita pendek. Tapi, sepertinya ini baru awal bagiku. Sepertinya ceritanya masih akan Panjang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Broken Vessel
7.9
Di dunia di mana setiap orang memiliki kekuatan spesial bernama Arte, Trystan yang berusia 21 tahun justru terjebak dalam bahaya besar. Kekuatan langka miliknya memicu perburuan mematikan; banyak pihak ingin menghabisinya atau memanfaatkan kemampuannya. Hidup Trystan kini dipenuhi pengkhianatan, dendam, dan rasa kehilangan yang mendalam. Di tengah paksaan serta tanggung jawab besar, ia harus berjuang melindungi hal berharga sambil menghadapi musuh yang terus mengincar.
Sampul Novel Dendam Sang Pelukis: Cinta yang Ditebus
8.6
Alana Maheswari terjebak dalam pernikahan ketiga yang tragis. Damian, sang tunangan, justru menyiksanya demi menenangkan Elina. Setelah karier melukisnya dihancurkan dan tubuhnya ditinggalkan bersimbah darah di hutan, Alana menolak menyerah. Demi melindungi keluarga dan bisnisnya, ia menghubungi sosok misterius dari masa lalu. Ia sepakat menyerahkan seluruh asetnya dan melakukan pernikahan kontrak demi pelarian dan balas dendam yang setimpal.
Sampul Novel Dewa Alkemis
8.9
Tian Fan adalah pemuda berbakat dari keluarga bangsawan rendah yang bermimpi menjadi seorang alkemis hebat. Namun, kejeniusannya justru memicu kebencian para tuan muda dari kalangan atas yang terus menekannya. Di tengah berbagai kesulitan dan intimidasi tersebut, sebuah peristiwa besar menimpa dirinya dan mengubah segalanya. Kejadian tak terduga ini membuka jalan baru yang memperbesar peluang Tian Fan untuk mewujudkan ambisinya menjadi Grandmaster Alkemis.
Sampul Novel Ditolak oleh Jodohku, Direbut oleh Alfa Musuh
8.6
Sepuluh tahun mengabdi, impian Luna menjadi hancur saat Alpha Bara mengkhianatiku demi selingkuhannya, Dina. Bara memfitnahku mandul dan memerintahkan hukuman cambuk perak hingga aku sekarat di hutan. Di ambang kematian, aku justru terbangun sebagai tawanan Alpha Reno Mahesa, musuh bebuyutan kawanan kami. Sambil menatap lukaku, dia mengulang hinaan yang menghancurkan hatiku: benarkah aku hanya serigala betina tak berguna yang kini dibuang?
Sampul Novel En-PD168
8.1
Lucas berkhianat dengan sahabatnya, Sarah, tepat di pesta bujang mereka. Saat dikonfrontasi, Lucas justru meremehkan rasa sakit hati tunangannya, sementara Sarah mengejek statusnya sebagai yatim piatu. Muak dengan perilaku kotor itu, sang wanita membuang cincin tunangannya dan pergi. Mereka mengira dia akan kembali memohon, namun mereka salah besar. Tiga hari kemudian, dia datang bersama ayahnya, pemimpin pasukan serigala yang membawa lima puluh ribu prajurit.
Sampul Novel Gundik Alpha-ku, Makam Tak Bertanda Putraku
8.9
Kehancuran menyelimuti hatiku saat mengetahui Alpha Damian, pasanganku, menyembunyikan keluarga rahasia. Pengkhianatannya berujung maut; putraku tewas karena ketakutan melihat aksi bejatnya. Tak cukup membunuh anakku, Damian dan ibunya menyiksaku, membuang abu putraku, lalu membiarkanku mati di tangan Rogue. Aku berhasil selamat dari maut, namun alih-alih membalas dendam, aku memilih sihir terlarang untuk menghapus seluruh memori menyakitkan tentangnya.