Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balasan Setimpal Untuk Suami & Selingkuhannya

Balasan Setimpal Untuk Suami & Selingkuhannya

Kehidupan pernikahan yang semula damai hancur seketika saat pengkhianatan sang suami terungkap. Luka mendalam akibat perselingkuhan itu memicu tekad kuat dalam diri sang istri untuk bangkit dari keterpurukan. Ia tidak lagi tinggal diam meratapi nasib, melainkan menyusun rencana matang demi menuntut keadilan. Inilah perjuangan emosional seorang wanita dalam membalas rasa sakit hatinya dan memberikan ganjaran setimpal bagi mereka yang telah mengkhianatinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Mataku perlahan terbuka, melihat ke sekeliling. Aku sudah berada di ruangan yang berbeda. Dimana aku?

Terakhir yang aku ingat adalah menatap wajah mungil, dari bayi kecilku. Mengusap pipinya dan menikmati kebahagiaan yang membuncah bercampur haru.

Sekarang? Kenapa aku bisa ada di sini? Mana anakku?

Aku jadi gelisah, pikiranku jadi tak karuan. Bunyi pintu yang terbuka mencuri perhatianku.

Di ambang pintu aku melihat suamiku—Punda, melangkah masuk. Dia tersenyum. Senyuman yang dulu selalu aku rindukan. Jambang tipis yang membingkai sebagian wajahnya, mampu membuatku tergila-gila.

Akan tetapi, itu dulu. Sekarang aku jadi muak menatap wajahnya itu.

"Sayang, kamu sudah bangun? Aku kemarin khawatir, karena kamu pingsan setelah melahirkan. Terima kasih sudah melahirkan anak kita, Sayang."

Cup! Kecupan Punda mendarat di keningku. Sandiwaranya begitu sempurna. Setelah apa yang dia lakukan kemarin malam, dia masih bersikap seolah sangat peduli.

"Mana bayi ...."

"Punda di ruangan bayi, Sayang." Punda memotong pembicaraanku.

"Punda?"

"Ya, Punda kecil. Semua keluarga sudah sepakat, nama anak kita Punda."

Oh, God. Haruskah nama anakku sama dengan suamiku?

"Kenapa?"

"Kamu kenapa, Honey? Kamu tak suka?"

Cih! Honey? Panggilan menjijikkan itu, berani sekali kau  lontarkan padaku. Cukup wanita tak berprasaan itu saja yang kau panggil begitu. Aku tak sudi!

"Aku akan minta Lisa kemari," ucapnya kemudian, setelah aku diam dalam kejengkelan ini.

"Lisa? Oh, nggak usah. Nanti, aku minta Dialin saja yang ke sini."

"Dia tidak kerja?" Alis Punda sedikit terangkat.

"Dia itu sahabatku. Aku yakin, dia akan datang ke sini."

"Bukankah Lisa juga sahabatmu, Sayang? Aku yakin Lisa lebih telaten mengurusmu." Punda masih mendebatku.

Sahabatku? Ya, tetapi itu dulu. Sebelum kau hangatkan tubuhmu dengan tubuhnya.

Mengurusku? Aku atau kamu? Ah, terlalu berhargakah dia untukmu? Seakan tak bisa jauh darinya.

Tiba-tiba luka hatiku kembali berdarah. Sayatan kemarin malam baru saja terobati, oleh kehadiran Punda kecil. Namun, kembali dibuka oleh laki-laki yang ada di depanku ini.

"Jadi, gimana, Sayang? Kasihan Lisa di rumah, bahkan dia tidak tahu aku di sini."

Kau pulang sana! Temui wanitamu itu. Wanita yang sudah merenggut hatimu dariku.

"Kamu pulang saja dulu, Mas. Aku akan hubungi Dialin. Boleh aku pinjam ponselmu?"

"Kamu masih lemah, Sayang. Biar aku yang hubungi Dialin."

"Oh, baiklah."

Aku memalingkan wajah ke sisi lain. Punda keluar dari ruangan hanya karena ingin menghubungi Dialin—sahabatku.

Entah, dia juga sekalian menghubungi Lisa—selingkuhannya itu.

Beberapa menit berlalu, Punda kembali masuk ke ruangan.

“Dialin akan ke sini setengah jam lagi, Sayang. Aku pulang dulu, kebetulan siang nanti aku ada rapat penting.”

“Ya. Aku akan tunggu Dialin, Mas.”

Punda langsung tersenyum. Mungkin dia senang, karena bisa bebas di rumah bersama Lisa.

Nikmati kebahagiaan kalian sebelum kehancuran datang menerpa. Kalian yang menancapkan bendera perang. Biarkan aku yang mencabik-cabiknya, untuk menyudahi kekalahan kalian.

Itulah balasan yang pantas, untuk kalian yang sudah mencabik gairah hidupku. Camkan itu!

***

Seperti yang dikatakan Punda. Dialin datang setelah setengah jam berlalu. Wanita berambut pendek itu langsung mendekat memelukku.

Ada rasa haru di kedua bola matanya. Manik hitam kecoklatan itu mulai berkaca-kaca. Tanpa terasa, aku pun ikut larut dalam suasana haru.

"Maaf ya, Zu. Gua nggak tahu kalau lu melahirkan," ucap Dialin menggenggam tanganku.

"Biasa ajalah, Lin. Gua senang lu udah datang. Lu adalah sahabat gua yang paling baik."

"Lisa nggak datang, Zu? Elu udah kabarin dia?" Dialin mengusap ujung matanya. Aku pikir wanita tomboy yang ada di depanku, akan sulit untuk menangis. Namun, ternyata dugaanku salah. Selama ini, Dialin-lah yang selalu memberikan semangat kepadaku.

"Lisa?" Aku menggeleng.

Sebenarnya aku ingin mengungkap semuanya. Namun, itu tidak aku lakukan.

"Si Punda ke mana, Zu? Perasaan dia deh yang nelpon gua tadi." Dialin menatap ke sekitar ruangan.

"Dia sudah pulang."

"Ya ampun, Zu. Harusnya kan dia nunggu gua datang dulu. Masa pangeran tampan lu tega ninggalin begitu saja?" Dialin  protes.

Pangeran tampan? Ya, itu dulu. Akan tetapi, sekarang tidak lagi. Bagiku dia adalah  malaikat maut, yang sudah mencabut semua cita-cita dalam hidupku.

Cita-cita membangun rumah tangga yang indah itu, kini telah sirna. Semua kepercayaanku terhadapnya sudah hilang.

"Zu, gua bukain buah ya," ucap Dialin. Dia segera mengambil buah apel lalu mengupasnya.

Aku perhatikan setiap gerakan  lincah tangan Dialin, memainkan pisau. Entah kenapa luka kemarin malam kembali berdarah. Setiap sayatan pisau itu mengenai kulit apel, yang terasa perih adalah hatiku. Seakan-akan hatiku-lah yang sedang dikuliti.

Rasanya aku tidak percaya atas apa yang menimpaku. Akan tetapi, itulah kenyataan yang terjadi.

Bulir bening terasa hangat membasahi kedua pipi ini. Aku biarkan ia mengalir sejauh yang ia bisa. Ya, aku tak malu menampakkan kesedihan di depan Dialin.

"Nah, udah selesai. Gua suapin ya," ucap Dialin mengalihkan fokusnya padaku. Senyumannya yang tadi mekar seketika meredup. Mungkin karena dia melihat air mata ini jatuh.

"Lu nangis, Zu? Gua ada salah bicara?" Pertanyaan Dialin justru membuat tangisanku semakin dalam. Aku terisak, menahan sesak di dada.

Dialin kembali meletakkan pisau dan apel. Wanita yang ahli ilmu bela diri itu, lalu merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.

Aku semakin terisak dalam pelukan Dialin.

Rasa perih di bagian intimku tidak sebanding, jika kusandingkan dengan rasa perih hatiku.

"Zu, jangan nangis gini, dong. Lu kalau ada masalah cerita ke gua," ucap Dialin mengusap rambutku.

Aku masih terus terisak, hingga Dialin membiarkan aku menangis sepuasnya.

Aku meanangis dalam pelukan Dialin, sepuas yang aku inginkan. Rasa sesak di dada lumayan berkurang. Aku coba untuk kembali tersenyum.

Setidaknya aku masih punya sahabat, yang ada di sisiku. Walaupun, di satu sisi aku dikhianati oleh sahabatku yang lain.

Aku--Diana Zulia, tidak akan membiarkan dua sejoli itu hidup bahagia.  Tekatku sudah bulat!

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKSARA HUJAN
7.9
Julie mendedikasikan hidupnya sebagai penari pole dance di klub malam demi masa depan Gemma, adik tercintanya. Namun, segala pengorbanan dan kerja keras Julie seolah tak berarti saat Gemma justru menggoreskan luka mendalam melalui tindakannya. Di tengah perjuangan mencari kebahagiaan, Julie harus menghadapi kenyataan pahit atas pengkhianatan sang adik. Apakah Gemma akan menyadari kesalahannya, atau malah semakin menjerumuskan Julie ke dalam penderitaan?
Sampul Novel Dendam Putri Liar Sang CEO
9.3
Dijual oleh ayahnya sendiri kepada Fahreza Murni, seorang CEO dingin, sang putri liar mengira ia dicintai hingga pengkhianatan menyakitkan terjadi. Fahreza justru memberikan pusaka ibunya kepada Elok, wanita manipulatif yang ia bela meski telah menghina warisan tersebut. Setelah diseret ke rehabilitasi, cinta berubah menjadi dendam membara. Saat Fahreza kembali memohon maaf, ia menerimanya hanya untuk menghancurkan Murni Group dari dalam sebagai pembalasan yang setimpal.
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Sampul Novel Mencari Cinta Sejati
8.7
Anggita Anggraini mendambakan sosok yang mampu mencintai dirinya apa adanya tanpa syarat. Namun, rentetan kegagalan dalam asmara justru membuat Gita kian menutup diri dan membangun tembok perlindungan demi menghindari luka baru. Di tengah rasa trauma yang mendalam, ia harus berjuang menghadapi keraguan hatinya sendiri. Akankah Gita berhasil meruntuhkan benteng tersebut dan menemukan seseorang yang tulus? Ikuti perjalanan emosional Gita dalam menjemput cinta sejati.
Sampul Novel MINE
8.9
MINE
Hidup Ana berubah drastis setelah berselisih dengan pengusaha dingin yang menjadi pembicara di kampusnya. Meski kesal, Ana terpaksa terus berurusan dengan pria menyebalkan itu. Tanpa disadari, sosok tersebut adalah pria yang selama ini ia nantikan kehadirannya. Perubahan sifat sang pria membuat Ana bimbang antara benci dan puja. Di tengah perasaan yang berkecamuk, hubungan mereka justru dihantam berbagai teror berbahaya. Mampukah mereka bertahan menghadapi ujian?
Sampul Novel Nafkah dua puluh ribu darisuamiku
8.4
Memiliki suami dengan karier mapan dan kondisi finansial yang stabil ternyata tidak menjadi jaminan kebahagiaan bagi seorang istri. Meski sang suami mampu menyediakan fasilitas hidup yang sangat layak dan serba berkecukupan, kenyataan pahit justru menghampiri rumah tangga mereka. Ia terpaksa berjuang sendirian untuk menghidupi dirinya sendiri di tengah kemewahan yang ada. Sebuah kisah tentang perjuangan batin dan kemandirian di balik bayang-bayang kemapanan.