
Balasan Setimpal Untuk Suami & Selingkuhannya
Bab 3
"Lin, apa yang akan lu lakukan? Jika melihat pasangan lu selingkuh di depan mata?" tanyaku masih dalam pelukan Dialin.
Dialin langsung menyentuh kedua pundakku, dia lepaskan dekapannya. Sorot matanya mengisyaratkan kebingungan sekaligus pertanyaan.
Aku pun menatap mata Dialin. Memberi tahu bahwa pertanyaanku serius.
"Zu, kenapa lu tiba-tiba nanya seperti itu. Jangan bilang kalau ...."
Dialin membuka lebar matanya. Mungkin dia sedang tegang, menanti kejelasan selanjutnya.
Aku menghela napas, lalu memalingkan wajah ke sisi lain.
Haruskah aku beritahu padanya saat ini juga? Bahwa, laki-laki yang sangat kucintai. Laki-laki yang dulu sangat memanjakanku, kini terbawa arus. Dimabuk cinta wanita lain.
Lebih menyakitkan lagi wanita itu adalah sahabatku sendiri. Setelah apa yang kami lewati bersama, justru itu yang dia lakukan.
Andai saja dulu, Lisa memang jujur menyukai Punda. Tentu aku lebih rela mengalah, tetapi tidak untuk saat ini.
Dia menunjukkan siapa dirinya sebenarnya, setelah aku merajut cinta dengan Punda. Itu benar-benar menyakitkan.
"Hei, Zu. Malah bengong. Jangan bikin gua penasaran kayak gini dong," ucap Dialin menyadarkan lamunanku.
Aku tersenyum. Aku pikir untuk saat ini, Dialin tidak perlu tahu mengenai semua itu.
"Bukan apa-apa, Lin. Gua cuma asal ucap saja tadi. Hmm, gua mau dong buahnya."
"Ish, hampir jantung gua copot," ucap Dialin kembali mengambil apel, yang sudah dikupasnya separuh.
"Makasih ya, Lin. Lu jadi repot-repot ngurusin gua."
"Hus, jangan bicara gitu, ah. Oh, iya, anak lu mana, Zu?" Dialin menyodorkan satu potong kecil ke mulutku.
"Masih di ruang bayi, Lin. Sebenarnya sih gua bisa pulang hari ini. Cuma ya, gitu deh. Kata Punda gua kemarin pingsan." Aku menjelaskan sambil mengunyah daging apel.
"What? Lu pingsan, Zu? Apakah melahirkan seserem itu?" Dialin membesarkan matanya. Mungkin dia ngeri membayangkan semuanya.
Bagiku sakit melahirkan tidak seseram dikhianati. Wanita di luar sana pun mungkin punya pemikiran yang sama. Namun, aku tak bisa membayangkan. Kenapa sebagian wanita tega menjadi pemisah? Apakah mereka tidak berpikir berkali-kali? Ada hati yang mereka sakiti.
Lalu, kenapa bisa laki-laki yang tadinya sangat mencintai. Kemudian, begitu mudah tergoda, terpedaya, dan berpaling.
Hukuman apa yang pantas mereka terima? Bukan hanya Si Penggoda, tetapi begitu juga dengan Si Tuan Rumah, yang begitu mudah membukakan pintu.
Tamu tak akan masuk, jika tidak dibukakan pintu. Dalam hal ini, aku pun turut andil. Ya, aku menyesal terlalu percaya pada Lisa, yang dulunya adalah sahabatku.
"Gua nanya loh, Zu. Malah bengong," Dialin ikut memasukkan potongan apel ke mulutnya.
"Eh, maaf Lin. Menurut gua sih tergantung, Lin. Buktinya banyak kan, para wanita yang pengen hamil dan melahirkan. Lu gimana?"
"Hmm, gua belum siap menikah, Zu. Boro-boro mikirin hamil. Handoko masih sabar kok nunggu gua siap."
"Hmm, menurut gua sih lu mantapkan dulu hati lu. Jangan sampai menyesal kayak ...."
"Kayak apa, Zu?"
Ups! Aku hampir keceplosan.
"Ya, kayak kebanyakan orang, Lin. Pas pacaran udah mantap. Eh, pas udah nikah malah memuakkan." Wajahku menegang kembali terbawa suasana.
"Eh, eh, ekspresi lu gitu amat. Hmm, gua jadi curiga nih. Apa jangan-jangan Punda selingkuh, Zu?"
Aku terkejut, jangan sampai Dialin mencium rahasia yang aku pendam. Ini terlalu awal untuk dia tahu. Aku takut dia tidak bisa menahan emosi. Bisa kacau semua rencanaku.
"Enggak, Lin. Bukan, kok, ya. Bukan," ucapku gugup menyembunyikan perasaanku.
Air mataku hampir jatuh sekali lagi. Jika Dialin mendesakku, mungkin pertahananku akan runtuh.
"Zu, kasih tahu gua," ucap Dialin mulai mendesakku.
"Nggak mungkin lu bahas itu. Punda selingkuh kan', Zu?" Dialin memegang kedua pundakku.
Aku sengaja tidak menatap mata Dialin. Akan tetapi, Dialin berusaha agar bisa melihat mata ini. Aku tidak tahan lagi, pertahananku runtuh. Air mata mengalir deras di pipi.
"Jadi, benar Punda selingkuh, Zu?"
Aku mengangguk pelan, dan kembali terisak.
"Berengsek!" cerca Dialin langsung memelukku.
"Nangislah, Zu. Menangislah sepuas yang lu mau. Gua akan ada untuk lu. Kapan pun lu minta."
Tepukan pelan penuh kasih sayang dari Dialin, membuat ketegaran ini bertambah. Dia sudah seperti ayah dan bundaku yang telah tiada. Kadang-kadang, seperti kakak laki-lakiku, Ardito--pemuda selengean yang kini satu-satunya kupunya.
Aku merasa Dialin-lah sahabat sejati yang sesungguhnya. Benar-benar ada setiap saat, dalam tangis ataupun tawa.
"Zu, lu tahu siapa wanita pelakor itu?" tanya Dialin mengakhiri tangisanku.
Aku melepaskan dekapannya, lalu mengusap air mata yang telah tumpah.
Kuperbaiki suasana hati ini dengan senyuman yang terpaksa. Setidaknya aku harus mengakhiri kebodohan ini.
Untuk apa aku terus menangisi orang, yang tidak bisa menghargai cintaku.
"Lu pasti sudah tahu kan, Zu? Siapa wanita gatal itu? Gua siap memberinya pelajaran."
"Ya, Lin. Gua tahu wanita itu."
"Kasih tahu gua, Zu. Gua siap mengirimnya ke neraka sana!" Sorot mata Dialin penuh amarah dan kebencian.
Kutatap lekat Dialin. Dia mengangguk dengan tegas. Tidak! Aku tidak mau membuatnya masuk penjara, hanya untuk menuntaskan sakit hati ini.
"Lu tau kan, Zu? Gua memang terkenal nakal. Tapi nakal gua nggak kayak wanita yang sudah melukai hati lu. Lu juga pasti masih ingat. Waktu gua masuk penjara cuma gara-gara membunuh bokap gua."
Aku mengangguk. Aku juga sangat tahu Dialin melakukan itu, karena ayahnya selingkuh.
Aku jadi ragu, haruskah aku katakan siapa wanita itu? Aku takut, Dialin bertindak gegabah dan menggagalkan semua rencanaku.
"Nggak, Lin." Aku menggeleng.
"Kenapa, Zu? Lu nggak mau kasih tahu ke gua?"
"Bukan gitu."
"Terus apa? Lu mulai nggak percaya sama gua? Lu sudah anggap gua orang lain?" Dialin terlihat kecewa.
"Tapi, Lin. Ini beda," ucapku tiba-tiba menjadi bingung.
"Masalah sahabat gua, adalah masalah gua juga, Zu. Kita itu ibarat satu tubuh. Lu yang dilukai, gua ikut merasakan perihnya."
"Gua takut lu nggak bisa nahan emosi. Gua juga takut lu terjerat masalah gua terlalu jauh, Lin."
"Kasih tahu gua, Zu. Gua janji nggak akan gegabah." Sorot mata Dialin penuh permohonan.
Haruskah aku beritahu nama wanita itu?
Aku tidak yakin Dialin bisa menahan diri, setelah tahu nama wanita itu. Aku menjadi bimbang dan ragu. Karena wanita itu adalah orang yang dekat dengan kami.
Bersambung ....
Anda Mungkin Juga Suka





