
Balas Dendam Seorang Janda
Bab 2
Malam itu langit mendung, tetapi tak lagi turun hujan. Rumah reyot di pinggir desa itu seakan menjadi saksi perubahan besar dalam kehidupan seorang wanita yang dulunya dianggap tak berguna. Lyra Elvine-atau lebih tepatnya Ardena Alverio dalam tubuh Lyra-mulai menemukan ritmenya di kehidupan baru.
Tiga anak kembar Lyra kini menjadi pusat kehidupannya. Mereka adalah alasan ia bangun setiap pagi, alasan ia menguatkan tubuh lemah ini, dan alasan ia berani melawan rasa takut akan dunia baru yang penuh misteri.
Ketiganya memiliki wajah mirip, tetapi sifat yang sangat berbeda.
Kaelen Elvine, si sulung, berusia delapan tahun. Wajahnya serius, matanya tajam, dan cara bicaranya selalu lebih dewasa daripada usianya. Kaelen sering berusaha menahan tangisnya agar adik-adiknya tidak khawatir. Dalam dirinya, ada tanggung jawab besar sebagai anak laki-laki tertua.
Serene Elvine, si tengah, juga delapan tahun. Ia cerdas, suka bertanya, dan penuh rasa ingin tahu. Rambut panjangnya selalu diikat dua, dan meski hidup miskin, senyumnya mampu mencerahkan suasana. Serene adalah tipe anak yang tak bisa diam, selalu ingin tahu apa yang disembunyikan orang dewasa.
Lyric Elvine, si bungsu, adalah kembar identik Serene. Namun berbeda dengan kakaknya, Lyric jauh lebih sensitif. Ia cepat menangis, cepat takut, tetapi juga yang paling manja kepada Lyra. Hatinya lembut, dan ia sering mencari kehangatan dari pelukan.
Ardena melihat mereka dengan mata seorang prajurit-menilai kekuatan, kelemahan, dan potensi mereka. Namun di balik itu, ia merasakan sesuatu yang dulu asing baginya: kasih sayang seorang ibu.
Pagi itu, Lyra bangun lebih awal. Ia sedang memikirkan cara untuk mendapatkan uang. Hutang mendiang Lyra terlalu banyak, dan kejadian di pasar kemarin mungkin hanya awal. Tentara bayaran itu pasti akan kembali, dan kali ini dalam jumlah lebih besar.
Saat ia menyiapkan bubur tipis untuk anak-anak, Kaelen mendekat.
"Mama," katanya pelan.
"Hm?" Lyra menoleh.
"Aku tahu kau bukan Mama yang dulu."
Ardena membeku. Tatapan Kaelen membuatnya seolah terkuak. Bocah ini lebih peka daripada yang ia kira.
"Apa maksudmu?" tanya Lyra hati-hati.
Kaelen menunduk, tapi suaranya mantap. "Mama dulu... bisu. Mama dulu lemah. Tapi sekarang Mama bisa bicara, bisa melawan orang-orang jahat. Aku tahu Mama berubah. Tapi... aku tidak peduli. Aku hanya ingin Mama tetap di sini."
Jantung Ardena bergetar. Ia tidak pernah kalah oleh interogasi musuh, tapi tatapan anak kecil ini membuat hatinya terasa goyah.
"Aku akan selalu di sini," jawabnya akhirnya, menepuk bahu Kaelen dengan lembut.
Hari itu, sebuah insiden baru terjadi.
Saat membawa anak-anak berjalan di tepi kota, Lyra tanpa sengaja melewati sebuah gedung tua. Dari luar tampak seperti bangunan terbengkalai, tetapi dari dalam terdengar suara mesin berdengung. Rasa curiga membuatnya berhenti.
Serene menarik tangannya. "Mama, itu tempat apa?"
Lyra menajamkan pendengaran. Suara ketikan keyboard terdengar samar. Insting militernya segera aktif. Itu jelas suara sistem komputer tingkat tinggi.
Tiba-tiba, pintu gedung terbuka. Seorang pemuda dengan rambut berantakan dan kacamata bulat keluar dengan panik, membawa laptop di pelukannya. Matanya terbelalak saat melihat Lyra berdiri di depan pintu.
"Kau! Bagaimana kau bisa ada di sini?" serunya waspada.
Lyra menatapnya datar. "Aku hanya lewat."
Namun pemuda itu menatapnya lebih lama, seolah sedang menganalisis sesuatu.
"Mata itu... tidak mungkin," gumamnya.
"Apa maksudmu?" tanya Lyra.
Pemuda itu mendekat setengah berlari. "Aku mengenal tatapan itu. Tatapan milik seseorang yang pernah menembus jaringan militer dengan tangan kosong! Jangan bilang... kau 'Phantom Zero'?"
Ardena terkejut. Phantom Zero adalah nama samaran yang dulu digunakan saat ia menyamar dalam operasi cyber. Hanya segelintir orang yang tahu nama itu.
"Aku tidak tahu yang kau bicarakan," elaknya cepat.
Namun pemuda itu malah tersenyum lebar. "Aku benar-benar tidak salah lihat! Aku selalu mengagumimu! Namaku Ethan Cross, seorang hacker kelas dunia. Dan kau... idolaku!"
Anak-anak menatap bingung. Serene berseru, "Mama punya penggemar?"
Lyra hanya menghela napas panjang. Dunia ini tampaknya tidak akan memberinya waktu untuk tenang.
Tak lama setelah itu, muncul masalah lain.
Sore hari, saat Lyra mencari ramuan obat untuk mengobati luka kecil Lyric yang terjatuh, seorang pria muda dengan jubah putih menghampirinya. Tatapannya tajam, namun penuh semangat.
"Aku melihat bagaimana kau merawat anakmu," katanya.
Lyra menoleh. "Dan?"
Pria itu menunduk sopan. "Namaku Dr. Renard Vale, seorang dokter muda. Aku ingin belajar darimu."
Lyra mengernyit. "Belajar dariku?"
Renard mengangguk. "Aku melihat caramu menghentikan pendarahan dengan metode sederhana tapi efektif. Itu teknik yang tidak diajarkan di akademi medis mana pun. Itu teknik militer, bukan? Tolong... izinkan aku menjadi muridmu!"
Serene bertepuk tangan. "Mama hebat! Ada yang mau jadi murid Mama!"
Lyric menatap penuh kekaguman. "Mama... benar-benar berbeda sekarang."
Kaelen hanya diam, tetapi sorot matanya menunjukkan kebanggaan.
Lyra menatap Renard lama, lalu berkata dingin, "Aku bukan guru siapa pun."
Namun Renard bersikeras. "Kalau begitu biarkan aku mengikuti di belakangmu, mengamati, belajar. Aku bersumpah akan menjaga rahasiamu."
Ardena menghela napas. Dua orang baru muncul begitu saja-seorang hacker jenius dan seorang dokter muda-dan keduanya menaruh perhatian besar padanya. Kehidupan tenang tampaknya semakin jauh dari genggamannya.
Malam itu, ketika anak-anak sudah tertidur, Lyra duduk di depan meja kayu usang, memikirkan semua yang terjadi.
Dalam satu hari, ia harus menghadapi ancaman tentara bayaran, pengungkapan identitas lamanya oleh seorang hacker, dan seorang dokter muda yang ingin jadi muridnya.
"Aku hanya ingin melindungi anak-anak ini," gumamnya pelan.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu: dunia tidak akan membiarkannya hidup damai. Dan mungkin, kehidupan baru ini hanyalah awal dari pertempuran yang lebih besar.
Anda Mungkin Juga Suka





