
Balas Dendam Seorang Janda
Bab 3
Malam turun dengan cepat, seolah membawa kabar buruk bersama kegelapan. Angin berhembus kencang di desa kecil itu, menggoyangkan pohon-pohon hingga menimbulkan suara mencekam. Di rumah reyot pinggir hutan, Lyra Elvine duduk di dekat jendela, matanya menatap jauh menembus kegelapan.
Insting seorang prajurit tak pernah berbohong. Ada sesuatu yang bergerak di balik bayangan malam.
"Ethan," panggil Lyra pelan.
Pemuda berambut berantakan itu langsung menghentikan ketikan di laptopnya. "Apa? Aku sedang melacak jaringan gelap. Jangan ganggu aku di-"
"Matikan lampu. Sekarang."
Nada dingin Lyra membuat Ethan menurut tanpa banyak bicara. Rumah itu pun tenggelam dalam kegelapan.
Kaelen, Serene, dan Lyric yang sedang bermain dengan buku-buku lusuh mereka menatap bingung.
"Mama?" tanya Serene.
Lyra berbalik, wajahnya tenang namun sorot matanya tajam. "Dengar baik-baik. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari rumah. Mengerti?"
Ketiga anak itu mengangguk, meski wajah mereka pucat.
Tak butuh waktu lama. Dari kejauhan, terdengar derap kaki banyak orang. Suara berat sepatu bot menghantam tanah, bercampur dengan suara logam bersinggungan.
Ethan menelan ludah. "Itu... banyak sekali orang. Bersenjata penuh."
Lyra berdiri tegak, meski tubuhnya dalam fisik seorang wanita lemah. Tapi aura yang terpancar jelas berbeda-dingin, mematikan, penuh kewaspadaan.
Renard yang baru kembali dari luar membawa ramuan obat langsung membeku. "Astaga... itu tentara bayaran."
Puluhan pria bersenjata masuk ke desa, membawa obor dan senjata. Mereka jelas mencari seseorang. Dan Lyra tahu, target mereka hanyalah satu-dirinya.
Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka panjang di wajahnya, melangkah maju. Suaranya menggema, kasar dan penuh ancaman.
"LYRA ELVINE! Keluarlah, atau kami akan membakar desa ini sampai rata dengan tanah!"
Kaelen meraih tangan Lyra, menggenggamnya erat. "Mama... mereka datang untukmu."
Lyra menatap ketiga anak itu. Ada ketakutan, ada kebingungan, tetapi juga ada keyakinan di mata mereka. Mereka percaya padanya.
Lyra menghela napas panjang. "Jaga adik-adikmu," bisiknya pada Kaelen, lalu menatap Ethan dan Renard.
"Kalian, lindungi anak-anakku. Sisanya... serahkan padaku."
Ethan panik. "Hei, hei! Mereka jumlahnya puluhan! Kau mau bunuh diri?"
Renard juga menahan. "Setidaknya biarkan aku mendampingimu. Kau tidak bisa-"
Namun Lyra sudah melangkah keluar, tubuh rapuhnya menyatu dengan kegelapan malam.
Puluhan pasang mata menatapnya begitu ia keluar dari rumah. Seorang wanita muda dengan pakaian sederhana, tanpa senjata, tanpa pelindung.
Beberapa tentara bayaran tertawa. "Itu dia? Wanita lemah itu yang bikin kita repot?"
"Katanya dia bisa melawan, tapi lihat! Bahkan angin malam hampir menjatuhkannya!"
Namun pemimpin mereka tidak tertawa. Tatapan Lyra menembus mereka seperti pisau dingin. Ia pernah melihat tatapan itu di medan perang-tatapan seorang pembunuh terlatih.
"Kalian salah menilai," gumamnya rendah.
Pertarungan pun pecah.
Pria pertama yang mendekat dengan pisau di tangan tak sempat menyentuhnya. Dalam satu gerakan cepat, Lyra meraih pergelangannya, memutar, lalu menendangnya hingga tubuhnya terlempar ke tanah. Pisau itu kini berada di tangannya.
Tentara bayaran lain menyerbu. Lyra bergerak laksana bayangan. Meski tubuh Lyra lemah, teknik dan pengalaman Ardena mengambil alih. Ia memanfaatkan setiap kelemahan musuh, setiap celah dalam formasi mereka.
Satu, dua, tiga orang tumbang dalam hitungan detik.
Ethan yang mengintip dari celah jendela ternganga. "Itu... itu bukan manusia! Itu mesin tempur dalam tubuh wanita biasa!"
Renard hanya bisa menahan napas. "Dia... benar-benar monster di medan perang."
Namun jumlah musuh tidak sedikit. Mereka terus menyerbu, menutup semua arah.
Lyra menggeram, lalu memanfaatkan lingkungannya. Ia meraih tongkat kayu, mematahkannya, dan menjadikannya senjata. Gerakannya luwes, seolah setiap benda di tangannya bisa menjadi senjata mematikan.
Suara benturan, jeritan, dan dentuman memenuhi malam.
Tetapi lawan juga bukan amatir. Mereka mulai menggunakan formasi, menembakkan anak panah dan peluru. Lyra berlari, berputar, bersembunyi di balik reruntuhan rumah untuk menghindar.
Sebuah peluru melesat, hampir mengenai bahunya. Namun seketika Ethan berteriak dari dalam rumah, "Kiri, jam sebelas!"
Lyra refleks bergerak sesuai arahan. Peluru hanya lewat sejengkal dari kepalanya. Ia menoleh cepat-Ethan menatap layar laptop, jari-jarinya menari cepat.
"Aku sudah masuk ke jaringan komunikasi mereka! Aku bisa membaca posisi penembak dari koordinat GPS!" serunya penuh semangat.
Lyra mengerling. "Bagus. Jangan salah arahkan aku."
Sementara itu, Renard tidak tinggal diam. Seorang tentara bayaran yang terluka parah mencoba menyeret diri menjauh. Renard justru menghampiri, menghentikan pendarahannya dengan cepat.
Pria itu menatapnya heran. "Kau... mengapa menolongku?"
Renard menjawab tenang, "Aku seorang dokter. Tugasku menyelamatkan nyawa, bahkan musuh sekalipun."
Namun, dalam hatinya, ia juga punya tujuan lain-mendapatkan informasi lebih banyak tentang siapa sebenarnya Lyra.
Pertarungan semakin sengit. Lyra kini menghadapi sang pemimpin, pria besar dengan luka di wajah.
"Kau bukan Lyra Elvine biasa," katanya seraya mengangkat kapak besar. "Siapa kau sebenarnya?"
Lyra menatapnya tanpa gentar. "Aku adalah orang terakhir yang akan kau lihat malam ini."
Kapak raksasa itu meluncur. Lyra melompat menghindar, lalu menusukkan pecahan kayu tepat ke bahu pria itu. Ia meraung kesakitan, tetapi tidak tumbang.
Mereka saling serang, dentuman keras terdengar berulang kali.
Di dalam rumah, anak-anak bersembunyi. Serene menggenggam tangan Lyric yang gemetar.
"Tenang, Mama pasti menang."
Kaelen, meski wajahnya pucat, tetap menatap keluar dengan mata penuh keyakinan. "Mama... lebih kuat dari siapa pun."
Akhirnya, setelah pertarungan panjang, Lyra berhasil menjatuhkan pemimpin musuh. Dengan satu gerakan cepat, ia menekuk lengannya ke belakang, membuat pria itu berlutut di tanah.
Tentara bayaran yang tersisa panik. Mereka saling pandang, lalu satu per satu meletakkan senjata dan kabur.
Lyra berdiri di tengah medan, tubuhnya berlumur debu dan darah, tetapi matanya dingin dan tak tergoyahkan.
Ethan keluar dengan wajah terpesona. "Kau... benar-benar legenda hidup."
Renard menatapnya dengan kekaguman yang sama. "Aku semakin yakin, kau bukan wanita biasa."
Kaelen, Serene, dan Lyric berlari menghampirinya, memeluk erat pinggangnya.
"Mama! Kau menang!"
Lyra menatap mereka, lalu mengusap kepala mereka satu per satu. Dalam hati, ia tahu-ini baru permulaan.
Pengkhianat di negaranya dulu telah menyingkirkannya. Kini, musuh-musuh baru mulai bergerak.
Dan ia, yang terjebak dalam tubuh Lyra Elvine, harus bertarung bukan hanya demi dirinya, tetapi juga demi tiga anak kecil yang kini menjadi dunianya.
Anda Mungkin Juga Suka





